
Mobil dua sejoli itu kini sudah sampai di perumahan Kelapa Gading Jakarta, perlahan Abas memasuki halaman rumah mertuanya. Mereka sampai hari sudah beranjak siang.
Dengan tergopoh Bi Inah membukakan pintu, ia menyambut kedua majikannnya. Tampak Abas membopong istrinya yang masih tertidur, sepertinya ia benar-benar kecapean, sehingga tidak terbangun meski digendong oleh lelaki itu.
" Bi, apa ibu sudah dibawa oleh pak Mon ke rumah sakit?" tanya Abas setelah kembali turun ke dapur untuk minum.
"Iya, Den. Soalnya ibu demam tinggi, mungkin beliau kecapean." Bi Inah menyodorkan segelas air putih pada suami anak majikannya.
Abas menerimanya dengan tersenyum, tidak lupa dia mengucakan terimakasih, kemudian menarik kursi untuk duduk.
Karena minum dengan keadaan duduk akan jauh lebih sehat bila dibandingan dengan minum berdiri. Dalam agama islam juga sudah dijelaskan tentang adab minum, harus dengan tangan kanan, dalam posisi jongkok atau duduk, dan diminum perlahan bukan dengan terburu-buru.
Ternyata secara medis juga membenarkan jika minum dengan posisi duduk atau jongkok maka klep penyaring yang ada di dalam ginjal akan tertutup sehingga akan mudah untuk menyaring racun atau bibit penyakit yang mungkin ikut terminum bersama air. Sedangkan jika berdiri maka klep penyaringnya akan terbuka, hingga air bisa mengalir bebas tanpa proses penyaringan.
Ini membuat kotoran yang ada di dalam air menumpuk di kantung empedu yang merugikan kesehatan ginjal.
Selain itu, minum sambil berdiri melarang nutrisi untuk mencapai hati yang tidak memuaskan rasa haus.
"Bi In, nanti aku dan Fatim sepertinya akan menginap di rumah sakit, jadi bibi nggak usah menyiapkan makan malam ya." Abas meletakkan kembali gelas yang masih ia pegang di tangannya.
"Iya, Den ... tapi bibi akan tetap memasak untuk bekal kalian nanti di rumah sakit," ucap bi Inah sambil tersenyum.
"Tapi Bi." Abas mencoba untuk mencegahnya agar bi Inah tidak repot.
"No kata tapi." Bi Inah berlalu sambil meraih gelas kosong yang ada di depan pemuda tampan dihadapannya saat ini.
Abas tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, ternyata tiga wanita beda usia yang ada di rumah ini punya hobi yang sama yaitu tidak menerima bantahan.
Lelaki itu kembali ke kamar untuk melihat keadaan istrinya, sudah bangun atau belum. Ia sangat mengkhawatirkannya, sejak turun dari mobil ia masih tertidur. Gadis itu sepertinya benar-benar kecapean, entah itu karena menempuh perjalanan yang jauh atau karena selama di pondok tidurnya tidak nyenyak.
Karena rata-rata anak pondok jika pulang liburan maka hal utama yang mereka lakukan adalah tidur, pastinya ini untuk menghilangkan kelelahan otak yang mungkin selama di pondok selalu digunakan untuk berpikir dan belajar.
Dengan pelan lelaki tampan itu membuka pintu kamarnya, ia tersenyum melihat wanita berhidung bangir kesayangannya masih tertidur nyenyak.
Ia masuk dan segera menuju kamar mandi, selain sudah gerah sebentar lagi juga sudah masuk waktu asar.
Saat keluar dari kamar mandi, seorang gadis manis sudah berdiri di depan pintu dengan senyum yang terkembang.
__ADS_1
"Sudah bangun rupanya," ucap Abas sambil mengosok rambutnya menggunakan handuk.
"Boleh aku peluk?" Gadis itu menaikturunkan alisnya.
"Aku sudah berwudu, Sayang." Abas menggelenggkan kepalanya.
"Tapi aku tak perduli." Fatim segera memeluk suaminya, lelaki itu tak bisa menghindar.
Dia tersenyum menang bisa membuat wajah suaminya cemberut, dengan santai is berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sementara itu, Abas akhirnya turun untuk berwudu di kamar tamu. Ia mau membaca al Qur'an sembari menunggu istrinya selesai mandi. Dari arah dapur tampak bi Inah berjalan tergopoh-gopoh dengan sebuah ponsel di tangannya.
"Den, ini telepon dari rumah sakit."
Abas menutup mushaf al Qur'annya dan menerima telepon.
"Assalamu'alaikum, ini siapa?" Abas menanyakan si Penelpon.
"Aku, Momon, Den." Momon menjelaskan dirinya, ia tahu Abas belum begitu mengenalnya.
"Oh iya, Pak Mon. Ada apa? Bagaimana keadaan ibu?" Abas terdengar sedikit panik.
"Berapa kantong, Pak?"
"Paling banyak dua kantong, di rumah sakit cuma ada stok satu kantong, jadi kurang satu kantong. Apa Nak Fatim bisa donor ya?"
"Nanti aku tanyakan ya, Pak. Sekarang dia sedang di kamar mandi. Insyaallah sehabis asar kami langsung berangkat."
Dengan cepat Abas kembali ke kamar, dilihatnya Sang istri sudah siap dengan perlengkapan salatnya. Tak lama suara azan pun terdengar, keduanya segera menunaikan salat asar berjamaah.
Setelah salat barulah Abas menyampaikan pesan dari pak Mon yang tadi diterimanya. Seketika wajah kekasihnya itu berubah memucat, jelas tergambar rasa khawatir di wajahnya.
"Kita berangkat sekarang ya! Kasihan mama."
Gadis manis itu segera melepas mukenanya dan melipatnya asal agar ia bisa segera berganti pakaian, ia ingin segera sampai di rumah sakit.
"Kamu jangan panik, Dek. Insyaallah Mama nggak apa-apa, setelah transfusi biasanya akan segera membaik."
__ADS_1
Abas mencoba untuk menenangkan kekasihnya, ia tidak ingin wanita yang dicintainya akan jatuh sakit juga karena psikismya terganggu.
Gadis itu tidak menjawab, entah mengapa sejak menikah ia lebih terlihat rapuh. Apa mungkin karena ia merasa ada tempat untuk bersandar dan berkeluh kesah sekarang. Ia mencoba untuk tersenyum pada kekasihnya itu untuk menutupi kegundahan hatinya.
"Kita berangkat?" Abas melirik kekasihnya dengan penuh cinta.
Keduanya segera turun dan menuju ke garasi, karena kali ini Fatim ingin pergi ke rumah sakit naik motor. Ia tetiba merindukan motornya, lelaki tampan bersamanya tak bisa menolak permintaan putri jelita di depannya.
"Den!" sapa bi Inah dengan membawa sesusun rantang makanan.
Keduanya saling lirik, berpikir bagaimana mereka akan membawa rantang makanan itu dengan menaiki motor sport milik Fatim.
"Tidak ada penolakan, ini makanan kesukaan ibu Nadya." Tatapan memaksa jelas tergambar di wajah wanita paruh baya yang menggenakan baju abaya jadul kesukaannya.
Wajah gadis di depannya segera memunculkan segurat senyum di bibir mungilnya, dengan tangan terulur tanda siap untuk menerima rantang pemberian wanita paruh baya di depannya.
"Bagaimana? Dek Loli bisa membawanya?" Abas terlihat kasihan pada istrinya
"Of course, why not. Yuk cabut!" Fatim memasang senyum terindahnya agar suaminya merasa yakin.
Wanita paruh baya yang ada di depannya tersenyum bangga, gadis manis dengan segudang talenta itu tak pernah mengecewakannya. Ia sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga Nadya dan putrinya Fatimah Ananbra.
Keduanya telah melaju menuju rumah sakit, jiwa petualangan Fatim seakan kembali berkobar, sudah lama ia tidak merasa seperti ini sejak menikah tempo hari. Keduanya menikmati perjalanan yang cukup singkat namun penuh kesan romantis meski dengan ditemani rantang makanan.
Abas memarkirkan motornya sementara Fatim menunggu di koridor rumah sakit, tampak beberapa pemuda sedang menggodanya meminta kenalan namun, gadis itu terihat cuek saja.
"Hai gadis shalihah, boleh kenalan dong."Salah satu dari lelaki itu mendekati Fatim yang masih terlihat tidak perduli.
Sangat jelas terlihat jika mereka adalah anak jalanan yang mungkin kerap menganggu para gadis di jalan. Melihat Fatim yang bergeming, tentu saja membuat mereka semakin penasaran.
Ketika tangannnya hampir menyentuh Fatim tiba-tiba seseorang telah menahan tangan itu, dan meremasnya dengan kuat. Fatim yang melihat hal itu tentu saja menjadi tercenggang.
Kira-kira tangan siapa ya yang mencengkram tangan lelaki usil itu? Hayooo penasarankan? Sama dong, tunggu di next episode ya!
Bersambung ....
Jangan lupa mampir juga ke novel ini ya yang pastinya seru banget deh, nggak percaya kui baca!
__ADS_1