
🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. Selamat Membaca.🌻
# Masih di tempat parkir My Cafe #
"Nggak boleh itu rahasia," ucap Fatim sambil tersenyum dan menstater motornya.
"Udah ah yuk naik."
"Fren buat orang penasaran itu dosa loe."
"Kalau buat loe nggak dosa tapi dapat pahala gue."
"Fatimmm," teriak Yati karena motor Fatim mulai melaju kencang menuju kediaman Yati.
Keduanya telah melaju membelah keramaian kota Jakarta menuju kediaman Yati. Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai dihalaman rumah Yati.
# Kontrakan Yati #
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga meski rambut gue dah kayak sayang lebah,"ucap Yati merapikan rambutnya.
"Makanya pake hijab dong kayak gue, rambutnya tetap amannn," ucap Fatim tersenyum.
"Turun yuk, mampir dulu," ajak Yati.
Sedang membuka helmnya tiba-tiba Fatim beristiqfar.
"Astagfirullah haladzim, Fren kita lupa mampir ke bawah jembatan." Menepuk jidatnya.
"Kenapa rupanya?"
"Tuh kotak yang loe pegang." Menunjuk kearah Yati.
"Oh iya kok kita bisa lupa ya." Menatap Fatim.
"Ya udah loe masuk aja dulu biar gue yang balik lagi nganterin nih bungkusan." Mengambil bungkusan dari Yati.
"Tapi Fren ini udah gelap loh."
"Nggap apa-apa gue bentaran doang kok."
"Sebaiknya kita masuk aja dulu, jadi loe nggak bolak-balik, langsung sekalian pulang."
"Tapi ...."
Ucapan Fatim terputus karena kedua orangtua Yati sudah menghampiri mereka berdua.
"Eh ada nak Fatim to, monggo masuk dulu Nak, kita makan malam sekalian."
"Eh iya Bu tapi ...."
"Nggak usah pake tapi loh Nak, ayo masuk dulu ibu Yati udah masak banyak, tadi Yati telepon katanya mau ngobrol masalah rumah itu loh," ucap ayah Yati.
"Emmm iya deh, Fatim masuk." Mengikuti Yati dan kedua orangtuanya masuk kedalam rumah.
Akhirnya Fatim terpaksa mengalah pada ibu Yati yang ngotot ngajak makan malam dulu, pada hal fikiran Fatim sudah terfokus pada adik-adiknya yang sedang menunggu makanan yang dia bawa bersama Yati.
"Ayo nak Fatim makan yang banyak," ucap ayah Yati.
"Iya Pak." Mengambil nasi.
"Loh kok sedikit sih makannya, nggak enak ya masakan ibu?"
"Oh bukan Bu, enak kok hanya saja sepertinya Fatim nggak bisa lama karena ada pekerjaan yang harus Fatim selesaikan." Menghabiskan makanannya.
"Oh begitu ya, tapi ... masalah rumah bapak dan ibu, bagaimana?"
"Alhamdulillah rumah bapak dan ibu sudah selesai, jadi sudah bisa ditempati lagi. Keluarga ibu sudah boleh kembali kesana kapan saja bapak dan ibu mau."
"Alhamdulillah ya Gusti Allah, atas segala rezeki yang telah Engkau berikan pada keluarga hamba melalui orangtuanya Fatim," ucap ayah Yati dengan air mata yang telah berlinang.
"Alhamdulillah ya Pak ... Bu, semoga betah dirumah yang baru, nanti foto rumahnya bisa dilihat di Hp Yati, sekarang Fatim permisi dulu ya." Menyalami kedua orangtua Yati.
Yati dan kedua orangtuanya mengantarkan Fatim sampai dipintu depan kontrakan mereka.
"Fren loe hati-hati ya."
"Inshaa Allah, makasih ya. Assalamualaikum." Berjalan menuju ke motornya.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," ucap ketiganya hampir bersamaan.
*Kenapa gue merasa berat ya melepas Fatim pergi, kok perasaan gue nggak enak, sedih banget liat Fatim pergi, batin Yati.*
Fatim mulai menghidupi motornya dan bergerak perlahan meninggalkan rumah Yati. Namun Fatim tidak menyadari ada bahaya yang sedang mengintainya.
Sepanjang perjalanan menuju kebawah jembatan Fatim tampak tenang, sampai menuju kejalanan yang mulai sepi. Dari spion motornya Fatim mulai mencurigai sebuah mobil yang sejak dari rumah Yati mengikutinya dari belakang.
Dengan cepat Fatim segera menekan teleponnya menjadi mode headset, ia segera menelpon Jefry dan John agar segera menghampirinya dijalan sepi menuju bawah jembatan.
__ADS_1
"Halo Kak Jef tolong segera hampiri Fatim diujung jalan menuju markas sepertinya ada mobil yang mencurigakan mengikuti Fatim, segera Kak ...." Ucapan Fatim terputus karena belum selesai Fatim berbicara dengan Jefry tiba-tiba motor Fatim telah ditabrak dari belakang.
"Bruckkkkk!" Benturan keras antara mobil dan motor Fatim terdengar.
Karena telepon Fatim yang masih tersambung membuat Jefry masih bisa mendengar suara tabrakan itu. Dengan cepat Jefry mengajak John dan kawan lainnya untuk segera menghampiri Fatim.
Dengan kecepatan tinggi Jefry memacu motornya sportnya kearah yang Fatim sebutkan, hanya dalam hitungan menit ia sudah sampai di tempat kejadian.
Tapi suasana sudah gelap dan hening. Dengan cepat Jefry turun dari motornya dan mulai menyisir keadaan sekitar, dan tak lama rombongan John pun tiba. Mereka segera berpencar. Tak jauh dari tempat Jefry anak buah mereka berteriak.
"Kak Jef kami menemukan makanan yang berhamburan." Melambaikan tangan.
Dengan cepat semua berlari menuju tempat salah satu anak buahnya melambaikan tangan. Dan benar saja kotak yang berisi makan malam untuk adik-adik dibase camb telah berhamburan, namun mereka belum menemukan motor Fatim.
"Cari lagi, Fatim pasti sedang membutuhkan kita," teriak Jefry yang terlihat kesal.
Semua segera kembali berkeliling, dan Jerfy segera ingat kalau disebelah jalan itu ada jurang yang tak terlalu dalam.
"Johnnn segera cek kejurang sebelah jalan itu." Menunjuk kearah kanan jalan yang ditumbuhi pepohonan yang lumayan lebat.
Dengan cepat John membawa anak buahnya yang lain untuk segera mengecek situasinya. Dan benar saja mereka menemukan motor Fatim.
"Kak Jef! Ada motor tapi bukan motor sport merah yang biasa dipakai Fatim, itu motor matic hijau orange," teriak John.
Dengan cepat Jef berlari kearah John.
"Segera cek, seingat gue Fatim punya motor matic hijau orange, dia pernah sekali memakainya membawa nasi ke markas."
"Oke kita turun," teriak John pada anak buahnya yang lain.
"Kalian hati-hati, gue akan telepon Momon," ucap Jefry.
Rombongan John sudah mulai menuruni jurang diseberang jalan, meski tidak terlalu dalam hanya sekitan 4 atau 5 meter tetapi jurang ini cukup berbahaya, banyak bebatuan dibawah sana.
"Tut ... tut ....!"
*Ayo angkat Mon, darurat ini, batin Jefry kesal.*
Berulang kali Jefry menelepon akhirnya diangkat juga.
"Halo siapa ini?"
"Mon ... ini gue Jefry."
"Eh hmm iya gue inget, loe temennya Non Fatim yang dibawah jembatan ya."
"Fatim kenapa, bahaya kah?"
Dengan detail Jefry menceritakan semua kejadian yang dialami Fatim, dan apa yang sedang mereka lakukan sekarang.
"Iya motor matic itu benar non Fatim, karena motor sport merahnya sudah dihancurkan seseorang, yang sudah saya kantongi siapa dalangnya, dia memang berniat melenyapkan Non Fatim, kalian cepat temukan Non Fatim, gue akan segera menyusul dan mengabari Mamanya Fatim." Mengakhiri panggilan telepon.
Dengan cepat Momon menghubungi Nadya. Dan tak butuh waktu lama telepon pun tersambung.
"Halo Mon assalamualaikum, ada apa tumben kamu telepon?"
"Bu ini gawat, Non Fatim."
"Fatim kenapa."
Detak jantung Nadya seakan telah berpacu seperti orang lomba lari maraton, saat mendengar semua penjelasan Momon, ia merasa sangat sedih.
# Kediaman Nadya#
"Ya Allah pantasan saja sedari sore perasaanku sangat tidak enak, dan foto Fatim yang jatuh tiba-tiba sebelum magrib tadi ... apa itu sebuah pertanda buatku," ucap Nadya terisak. Dengan cepat Nadya segera menghubungi asisten pribadinya yang memang mengurusi bagian ekstrim dalam hal kriminal.
"Roy ... segera lacak keberadaan putriku, nanti akan aku kirim kan koordinat terakhir percakapannya atau kamu juga langsung hadir di tempat kejadian."
"Siap Bos."
Nadya segera berkemas untuk menuju lokasi terakhir Fatim. Dalam hatinya ia bertekad kali ini tidak akan mengampuni siapa pun yang mencelakai putrinya.
#Lokasi Kejadian #
Rombongan John yang turun kejurang sudah sampai kedasar jurang, dan mereka mulai menyisir setiap jengkal tanah yang mereka lewati. Sudah hampir satu jam mereka didalam.
Rombongan Nadya dan Roy sudah datang juga, mereka meminta Hp Jefry untuk melacak koordinat Hp Fatim. Hanya dalam hitungan detik Roy berhasil menemukan koordinatnya. Dan itu ada didasar jurang.
Dengan cepat Jefry menghubungi John agar secepatnya menemukan Fatim.
Sekarang bukan hanya rombongan John, tapi Jefry, Momon, dan sejumlah anak buahnya juga ikut turun.
Jalanan yang sepi kini tampak ramai, banyak mobil polisi juga disana sehingga mobil rombongan santri yang menuju pulang ke Bandung ikut ditahan tidak boleh lewat.
"Maaf Pak kalau boleh tahu kenapa kami tidak boleh melintas?" Tanya Abas.
"Kalian harus kami periksa dulu karena terjadi kecelakaan yang menimpa seorang gadis yang menaiki motor itu." Menunjuk motor matic hijau orange.
__ADS_1
*Ya Allah bukankah itu motor Fatim, apa Fatim .... Batin Abas yang sudah merasa sangat shock.*
Dengan cepat Abas memberitahu rekan santri yang lain, dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk turun menbantu.
Semua sudah mulai menuruni sisi jurang yang lain, kini jurang yang kelam telah tampak terang karena cahaya lampu.
*Ya Allah lindungilah bidadariku, lindungilah calon makmumku, akupun tidak tahu kenapa aku merasa Fatim adalah jodoh yang telah Kau kirim untuk ku, aku merasa Fatim adalah gadis yang aku cari selama ini, meskipun dia bukan gadis itu tapi aku berharap satukanlah kami dalam ikatan suci jika waktunya telah tiba nanti, doa Abas dalam hatinya.*
Entah mengapa hati Abas mengatakan ia harus kesisi barat jurang itu, sedangkan yang lain memang belum mencapai sisi barat jurang.
Perlahan tapi pasti Abas memisahkan diri dari rombongan menuju sisi barat jurang yang sedikit curam, tubuh Abaspun telah banyak yang tergores. Namun akhirnya dengan berbekal lampu senter dari Hp nya Abas menemukan syal yang ia berikan pada Fatim.
"Ya Allah syal ku, dan ini artinya Fatim tidak jauh dari sekitar sini." Berjalan dengan cepat.
Hanya beberapa meter dari syalnya Abas menemukan sosok bidadari syurganya yang sangat mengenaskan, tubuh Fatim tertancap disebuah pohon dalam posisi tertelungkup, namun hijabnya masih melekat ditubuhnya. Air mata Abas sudah tak terbendung, dengan cepat ia menghampiri tubuh Fatim.
Darah sudah mengalir kemana-mana, namun saat Abas menyentuhnya denyut nadi Fatim masih ada namun sangat lemah.
"Subhanaallah, bertahanlah Fatim, kau wanita yang tangguh dan sholehah inshaa Allah, Allah akan melindungimu," bisik Abas ditelinga Fatim, meskipun sebenarnya hati Abas sangat hancur.
Dengan cepat Abas berteriak sekuat tenaganya.
"Aku menemukan Fatimmmmmmm!"
"Di arah baratttttttttt!"
Mendengar teriakan Abas semua segera bergegas, tim medis yang sudah stanby pun segera diturunkan. Dengan cepat mereka menemukan lokasi Abas.
Nadya sudah histeris melihat kondisi putrinya yang kritis.
"Ya Allah Fatimmmm, putrikuuuu ... Bertahanlah nak, kamu harus kuat, jangan tinggalkan Mama, Fatimmmm," teriak Nadya langsung tak sadarkan diri.
Dengan hati-hati mereka menarik tubuh Fatim yang telah lemas dan banyak kehabisan darah. Setelah berhasil ditarik dengan segera Fatim dilarikan kerumah sakit terdekat.
Jerfy ,John, Momon,dan semua rombongan mengucapkan banyak terimakasih pada rombongan santri yang telah membantu pencarian Fatim. Namun Abas tidak bisa tinggal untuk mengikuti Fatim kerumah sakit karena harus mengantarkan rombongannya pulang ke Bandung. Hanya doa yang dapat ia kirimkan untuk Fatim.
"Ya Allah selamatkanlah bidadari syurgaku," ucap Abas hampir tak terdengar oleh siapapun, dan segera melaju membelah keheningan malam menuju Bandung.
Ikuti terus kisahnya ya love you readers loversku😍
Bersambung....
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Nyanyian Takdir Aisyah.
dan karya apik author yang lain :
Fit Fithree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Shohibul Ikhsan
Putih Abu Abu
Kembar Tidak Identik
*Sudrun
Samudra
*Ergina Putri
My Heart Only For You
Melawan Rasa Takutku
*Sisca Nasti
Mafia In Love
*Almaira
My Secref Wife
My Love My Babysitter
*Envy Yo WesBen
MY Princes OG
*Cindyelvira
Ketika Muslimah Jatuh Cinta
__ADS_1
Istri Sholehah