
Olahraga Pagi
Tebaran bintang fajar memenuhi langit yang cerah, dengan belaian desir angin yang cukup syahdu. Mengajak dedaunan saling berbisik tuk menyemarakkan pagi yang akan menjelang. Suara merdu ayam jantan saling bersahutan seolah berlomba dengan suara azan, yang mulai menyapa seluruh penghuni alam mimpi agar segera melepas diri dari pelukan hangat yang semu.
Seperti dua orang insan yang sedang tidur berselimutkan mimpi pagi ini.
"Dek ... dek ... ayo bangun ini sudah subuh." Abas mengusap lembut wajah kekasih halalnya.
"Ehmmm ... bentar lagi, Ma. Dingin banget ini." Fatim menjawab asal, ia belum sepenuhnya sadar jika yang membangunkannya bukanlah mamanya, Nadya.
Apa dia selalu dibangunin oleh mama Nadya untuk salat subuh? Bidadari syurgaku, sekarang aku yang akan membangunkanmu meski cuma hari ini, semoga di tahun-tahun berikutnya aku akan selalu ada untukmu, aamiin.
Abas tersenyum melihat istrinya, wajah teduh nan cantik yang masih terbalut hijab. Hal ini karena keduanya tertidur begitu saja karena kelelahan, dan ia belum melihat istrinya tanpa hijab.
Dengan sabar ia kembali membangunkan istrinya."Dek Loli, sudah subuh. Ayo kita salat." Ia menepuk pipinya lembut sambil sesekali ia mencium keningnya.
"Uhh Mama, tumben baik banget. Biasanya ngebangunin Fatim pakai air atau nggak pakai mikropon." Ia tersenyum meski matanya masih terpejam.
Emang mama Nadya begitu ngebanguninnya? Kasihan kamu, Dek. Pasti dingin ya disiramin mama pakai air atau kaget gitu diteriakin pakai microfon. Tapi ... Apa dek Loli emang susah bangun ya? Aku akan membangunkanmu dengan kasih sayang, Dek.
Abas kembali menepuk pipi Fatim dengan lembut, sesekali ia berbisik ditelinganya."Ayo bangun, Dek. Subuh! Kita salat berjamaah, yuk!
Merasa sedikit geli ditelinganya Fatim mulai mengerjapkan matanya dan ia sangat kaget melihat ada seorang laki-laki dikamarnya.
"Akhhhhhhhh, pencuri!" teriak Fatim dengan sekencang-kencangnya yang membuat Abas juga terkejut dan jatuh terduduk.
Dengan sigap Fatim memukulkan bantal yang dipegangnya pada Abas, lekaki itu menutup wajahnya agar terhindar dari pukulan istrinya.
"Ampun, Dek ... aduh ... aduh ... ini aku, Dek," teriak Abas yang semakin kewalahan dengan kekuatan pukulan istrinya. Dengan susah payah Abas berusaha untuk bangun dan bermaksud memeluk istrinya namun di luar dugaan.
Bukhh!
Sebuah bogem mentah hangat berhasil mendarat tepat di wajah Abas." Astaqfirullah," pekik lelaki itu sambil memegang hidungnya. Seketika darah segar mengucur dari hidungnya.
Mendengar suara istiqfar Abas baru lah Fatim berhenti dan mengerjapkan matanya. Loe siapa loe ... loe ... eh ... ya Allah, kak Pop. Maaf-maaf, aduh maaf!"
"Sakit nggak?" Fatim berusaha meraih tangan Abas, eh ini udah halal kan ya?" tanyanya lugu.
"Iya sudah," jawab Abas meringis menahan perih di hidungnya.
Dengan cepat Fatim meraih tisue lalu memegang wajah kekasihnya itu, kemudia ia membersihkan darah yang mengalir dari hidung Abas pelan.
"Pelan-pelan, Dek." Abas mengingatkannya.
__ADS_1
"Iya, ini udah pelan kok. Maaf ya, aduh pasti sakit ya?" Fatim ikut meringis.
Darah yang keluar dari hidung Abas sudah berhenti, Fatim segera berdiri dan mengulurkan tangannya.
Dengan tersenyum Abas meraih uluran tangan istrinya. Namun ia juga masih menjaga jarak mengingat kekasihnya itu masih harus sekolah.
"Kita salat?" tanya Abas lembut yang disambut dengan anggukan oleh Fatim.
Keduanya bergiliran untuk berwudu, kemudian bersiap untuk salat subuh berjamaah. Kini Abas sudah mengumandangkan takbiratuihram, kemudian tak lama mulai terdengar lantunan Alfatihah yang sangat merdu diiringi dengan surat Ar Rahman. Fatim tanpa sadar dalam salatnya meneteskan air mata haru bercampur rindu. Haru bisa mendaparkan imam yang shalih seperti Abas, dan rindu seakan ingin segera ke tanah suci.
Salat subuh sudah ditunaikan, Abas memutar badannya untuk menyalami istrinya, kemudian dilanjutkan dengan tadarusan bersama.
"Dek, kita olahraga yuk!" ajak Abas pada Fatim sambil melipat sajadahnya.
"Boleh, tapi kak Pop, janji ya jangan mengeluh kalau capek." Fatim tersenyum lebar, ia akan membuat suaminya kalah lari kali ini. Dulu semasa kecil ia selalu menang. Dan kali ini juga berharap masih bisa menang.
"Oke siapa takut, mau lomba nih kayaknya?" Abas menaik turunkan alisnya.
"Seratus, jawabannya binggo, kita lomba lari!" Fatim tertawa menyeringai.
"Oke siapa siapa takut." Abas ikut tersenyum manis, semanis es cream cornello yang membuat hati seorang Fatim meleleh.
Kini keduanya sudah berganti seragam olahraga, yang pastinya Abas mengenakan training dan baju kaos milik Fatim, untung saja banyak yang model cowok jadi bisa pinjem pakai.
Dengan kompak keduanya turun untuk berolahraga dulu baru nanti ikut sarapan. Mereka sudah izin pada Nadya yang telah resmi punya dua anak sekarang. Ia melepas kepergian keduanya dengan senyum yang terkembang. Berharap kebersamaan serta kebahagiaan akan selalu menaungi keluarganya.
Dua sejoli yang lebih mirip kakak adik ketimbang suami istri itu telah bersiap untuk berlari. Mereka menuju ke taman yang sedikit sepi, karena itu pilihan Abas, ia tidak mau banyak orang yang akan menikmati wajah cantik istrinya.
"Oke, Kak Pop udah siap?" Fatim memberi kode kalau dia sudah bersiap dilintasan.
Abas hanya memgangkat jarinya membentuk huruf 'O' yang menandakan kalau dirinya pun sudah siap.
"Oke dalam hitungan ketiga ya, satu ... dua ... tiga ...." teriak Fatim kencang seraya mulai berlari sekuat tenaganya untuk memenangkan pertandingan, dan tak tanggung-tanggung perjanjiannya yang kalah harus menggendong yang menang.
Mereka lawan yang cukup seimbang, meski Abas anak pondokkan bukan berarti ia tak pernah olahraga, setiap hari ia pasti akan menyempatkan diri untuk berlari. Dulu ia melakukannya untuk mengingat Fatim, sekarang impiannya terwujud, tetapi ada konsekuensi yang harus dia bayar, jika kalah menggendong kekasih masa kecilnya itu yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Keduanya berlari sama kencang, tidak ada gejala yang menunjukkan salah satunya akan kalah.
*Busyet, dia kuat juga ternyata. Aku harus menang, seringai Fatim dalam hatinya.*
*Ya Allah napasku rasanya mau putus, kapan Loli bisa aku kalahkan, kali ini aku tak boleh kalah apalagi aku imamnya sekarang, senyum Abas dalam kalbunya.*
Garis finis sudah di depan mata keduanya masih seimbang, sampai detik terakhir menyentuh garis finis kaki Abas tersandung batu, tubuhnya oleng dan hampir jatuh tetapi dengan cepat Fatim menarik bajunya, hingga dia tidak terhempas ke tanah. Namun karena Abas reflek ia membalikkan badannya membuat Fatim jadi tak seimbang sehingga ....
__ADS_1
Bamm!
Tubuh keduanya terbaring di atas rerumputan dengan tubuh Abas terjatuh duluan dan Fatim terbaring diatasnya.
"Innalillahi, ya Allah." Abas memeluk tubuh Fatim, jelas tersirat rasa khawatir pada wajahnya.
"Kamu nggak apa-apa, Loli?" Abas ingin segera berangkat tetapi tidak kuat karena Fatim berbaring diatasnya.
Tak ada pergerakan meskipun napas Fatim masih ada dan terdengar cepat karena pasti masih lelah setelah berlari.
"Dek, kamu pingsan atau bagaimana?" Abas berusaha menggeser tubuh Fatim.
*Uhh belum sarapan saja tubuhmu berat juga, Dek.*
Abas menepuk-nepuk pipi istrinya setelah ia berhasil duduk ia masih menyandarkan Fatim dalam dekapannya.
"Dek ... Dek Loli, bangun. Kamu jangan menakutiku." Abas mulai panik dan saat itu lah Fatim membuka matanya.
"Kak Pop, aku mau pingsan rasanya," ucap Fatim dengan terbata.
"Dek kamu harus tetap sadar jangan pingsan." Abas semakin panik. Namun ia terkejut tiba-tiba sebuah kecupan lembut mendarat dipipinya.
"Aku mau pingsan di hatimu, Kak," bisik Fatim seraya berdiri lalu berlari kecil meninggalkan Abas yang mematung.
Wajah Abas terasa panas, ia tak pernah menggombali dan digombali oleh perempuan, ini yang pertama buatnya dan itu ulah istrinya sendiri. Tanpa sadar ia di wajah tampannya tertarik sebuah lekukan, ia mulai menyukai gombalan kekasihnya.
*Ternyata selain cantik dan tomboy, kekasihku itu mahir dalam menggombal, dasar bidadari syurgaku, sungguh aku beruntung bisa menikahimu, meski sebentar lagi kita akan terpisah oleh ruang dan waktu yang berbeda.*
Ada rasa sedih yang menyelinap dalam keteduhan hati seorang Abas, semakin berat rasanya untuk meninggalkan kekasihnya itu.
Namun tak mau larut dalam kesedihannya, ia segera bangkit dari duduknya dan mencoba untuk sedikit berlari untuk mensejajari langkah wanita yang merupakan sahabat, kekasih, dan juga cintanya.
"Dek Loli, tunggu!" Abas ikut berlari untuk menyusul Fatim.
Muhammad Abas ....
Mengapa semua terasa semakin berat, apa aku harus membatalkan cita-citaku sejak kecil? Aku ingin meraih impianku tetapi aku juga tak ingin berpisah darimu kekasihku, maafkanlah bila aku egois kali ini ya Robb. Doaku semoga Engkau menyatukan cinta kasih kami hingga ke janahMu ya Robb. Aamiin.
Fatimah Ananbra ....
Ku ingin membuat kenangan indah bersamamu sebelum kita berpisah, meski aku tahu ini akan menjadi kesedihanku. Aku harus belajar ikhlas untuk melepasmu, semua demi masa depan kita, semoga kisah cinta kita bisa abadi tuk selamanya, dunia dan akhirat. Aamiin.
Belaian udara pagi membawa dua jemari yang saling bertautan melangkah pasti dalam untaian cinta.
__ADS_1
Bersambung ....
Terimakasih sudah membaca maaf jika belum sesuai dengan apa yang kalian inginkan. Ini aku persembahkan untuk kalian semua yang sudah setia menanti novel remahanku. Semoga suka!