Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
LOLIPOP


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹


Selamat Membaca!


Ruang Dewan Sekolah ....


"Aku beri waktu sampai besok untuk kalian berbenah. Setelahnya jangan pernah lagi tampakkan batang hidung kalian dihadapanku." Nadya bicara tanpa menoleh sedikitpun pada mereka semua. Keduanya berjalan bergandengan meninggalkan gedung dewan sekolah yang menorehkan luka bagi lima orang gadis sekaligus orang tua mereka.


"Ma!" sapa Fatim pada Nadya.


"Kenapa?" Nadya menoleh pada putrinya.


"Apa kita tidak terlalu kejam?" tanya Fatim lagi.


"Nggak kok sayang, mama sudah pertimbangankan semuanya. Kesalahan orang tua mereka memang sudah melebihi ambang batas. Kelakuan anak-anaknya juga, bukan sehari dua mama memantau kelima anak itu tetapi sudah hampir satu tahun ini." Nadya keceplosan bicara kalau dirinya selalu memantau kegiatan anak gadisnya.


"Maksud Mama? Setiap hari mama nyuruh orang untuk mata-mata in Fatim di sekolah?" Fatim memancungkan bibirnya.


"He ... he ... Iya, maafin mama ya." Nadya tak segan menyodorkan tangannya pada Fatim untuk meminta maaf.


"Iya udah Fatim maafin kok, tapi ...." Fatim menggantungkan ucapannya.


"Tapi apa?" tanya Nadya penasaran.


"Yati!" Fatim menunduk dan memainkan ujung hijabnya.


"Biarkan dia menenangkan hatinya dulu, tadi mama sudah dengar apa yang dikatakan oleh papanya Yati. Jadi kamu yang harus sabar dan meminta maaf. Sepertinya Yati merasa kamu bohongi, makanya dia bisa marah seperti itu," jelas Nadya.


"Baiklah, Ma. Fatim akan coba untuk menunggu, tapi tidak untuk waktu yang lama ya soalnya Fatim nggak mau kehilangan seorang sahabat seperti Yati." Fatim tetiba merindukan keonengan sahabatnya.


"Ya sudah sekarang kita pulang ya!" ajak Nadya pada putrinya.


Fatim hanya tersenyum dan mengangguk, mereka berjalan menuju arah parkiran.


"Ma! Fatim naik angkot saja ya?" Fatim urung membuka pintu mobil.


"Kenapa? Masih ada yang mau dikerjakan?" Nadya bertanya balik.


"Nggak sih, cuma Fatim mau mampir ke satu tempat. Kalau mama ikut nanti pasti risih soalnya jalannya sedikit jelek," jelas Fatim.


"Iya boleh, hanya saja kamu pulangnya jangan terlalu lama. Ingat! Mama nunggu in kamu buat makan sore ini." Nadya terseyum pada putrinya dan masuk ke dalam mobil.


Fatim hanya melambaikan tangan saat mobil Nadya mulai bergerak meninggalkan parkiran sekolah. Ia sendiri berjalan menuju jalan raya, namun di tengah jalan ia teringat ingin menelpon Abas.


Gadis itu pun memilih menepi dan duduk di bawah rimbunnya pohon beringin. Dengan ragu ia menekan nomor lelaki yang menjadi cinta pertamanya karena sejak kecil hanya Abas yang dia kenal.


Bagi anak perempuan biasanya cinta pertama mereka adalah ayah, namun karena sejak lahir Fatim tidak bertemu ayahnya maka Abas adalah cinta pertamanya.


Tut ... tut!


Klik!


Suara penerima telepon telah diangkat. Ucapan salam dari seberang pun sudah terdengar. Namun Fatim masih terdiam, ia menjawab salam Abas dalam hatinya. Entah kenapa tetiba bibirnya terasa kelu untuk bicara.


"Assalamu'alaikum, Dek! Ini benaran kamu yang telepon kan? Halo ... halo ...." Suara Abas terdengar jelas di telinga Fatim.


"A-apa gue boleh tanya sesuatu?" Akhirnya keluar juga suara Fatim.

__ADS_1


*Yaa Allah, suaramu dek. Benar-benar membuat aku ingin selalu dekat denganmu, kadang aku berpikir kenapa baru sekarang lagi kita dipertemukan, perjodohan yang abi dan umi atur untukku sungguh tak kuasa untuk aku tolak, maafkan aku dek Fatim, batin Abas sedih.*


"Jawab salam dulu, Dek. Baru boleh bicara karena jawab salam itu wajib, hukumnnya." Abas melanjutkan ucapannya.


Fatim tertawa meski ia tahu orang dibalik layar ponsel itu tak bisa melihatnya. Ia selalu ingat sejak kecil kak Pop selalu menasihatinya


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," ucap Fatim menjawab salam sahabat yang menjadi cinta masa kecilnya.


"Alhamdulillah, nah begitu dong. Ada perlu apa kamu menelpon, Dek?" tanya Abas yang sebenarnya memendam rindu padanya.


"Maaf kalau pertanyaan gue nantinya akan membuat loe heran atau bingung. Gue hanya butuh jawab saja dengan jujur, jika ia katakan ia, jika bukan katakan bukan." Fatim menekankan ucapannya pada Abas.


Jantung Abas sudah berdetak hebat, ucapan Fatim barusan semakin membuat hatinya ingin bernyanyi lagu kerinduan, lantunan istiqfar berhamburan dari hati lembut lelaki tampan itu. Ia sedang berperang dengan perasaannya.


"Iya, Dek. Tanyakanlah kalau bisa akan aku jawab," ucap Abas dalam luapan rasa bahagia yang memenuhi rongga dadanya.


"Apa kamu kak Pop?" Fatim bertanya ragu namun penuh harap.


Deg!


Jantung Abas serasa mau copot, tak akan ada yang tahu nama itu kecuali Loli, dugaan dan harapannya seolah nyata, ingin rasanya ia melompat karena senang, namun itu hanya dalam khayalan. Karena nyatanya ia masih berdiri di tanah saat ini.


"Kak! Ayo jawab!" Terdengar suara Fatim penuh dengan rasa yang namanya penasaran.


"Iya!" jawab Abas singkat, namun bisa meluluh lantakkan benteng pertahanan Fatim. Ingin berteriak, ingin menangis, ingin tertawa, ingin berlari, semua tercampur hebat. Bayangin sendiri aja deh ya gimana rasanya jadi Fatim saat ini. Author aja bingung gimana rasanya he ... he ....


"Kamu bisa tahu itu dari mana?"


"Sewaktu memgambil surat izin kemarin."


"Jadi kamu, Loli?"


"Ada banyak cerita yang ingin gue bagi dengan loe, Kak Pop." Nada suara Fatim bergetar.


"Kakak juga ingin rasanya kita seperti dulu, tapi ingat sekarang kita sudah dewasa bukan anak kecil lagi. Kakak nggak bisa leluasa untuk memeluk atau menjahilimu seperti dulu. Saat ini sudah ada abad yang harus kita jaga dalam pergaulan." Abas mulai berceramah, nada suaranya terdengar ringan dan menyenangkan.


"Iya, gue ngerti. Kapan kakak pulang ke Jakarta?"


"Belum tahu, Dek. Soalnya masih banyak urusan di sini."


"Baiklah, gue akan sabar menunggu seperti selama ini gue nungguin kita dipertemukan oleh Allah." Fatim tersenyum hambar, ada gelenyar sedih saat mendengar dirinya belum akan bisa bertemu Abas.


"Dek! Kamu masih di sana, kan?"


"Hmm ia, kenapa?"


"Apa kamu masih ingat janji masa kecil kita?"


"Tentu, bahkan gue masih mengingat setiap detilnya. Kalau gue adalah pengantinmu tapi apakah itu akan mungkin sekarang?"


"Entahlah, Dek. Kita serahkan semuanya pada Allah, jika sudah kehendaknnya kita pasti bisa mewujudkannya, seperti saat ini. Kita bisa bertemu kembali setelah sekian tahun." Abas meyakinkan kekasih masa kecilnya yang saat ini ia pun ternyata jatuh hati padanya.


"Baiklah Kak, gue tutup dulu teleponnya. Nanti kita sambung lagi. Itu angkot gue datang, gue pergi dulu. Assalamu'alaikum!" Pamit Fatim pada Abas.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Abas pelan. Sebuah senyum tergurat di bibir merah muda Abas. Ia sangat senang saar ini. Ia telah jatuh cinta pada gadis masa kecilnya, namun satu hal yang masih menjadi beban pikirannya. Apa ia bisa memenuhi janji masa kecilnya untuk menjadikan Fatim pengantinnya kelak?


Sementara itu Fatim sudah duduk manis di dalam angkot, sesekali ia senyam senyum sendiri. Tentu saja membuat salah seorang penumpang angkot menjadi penasaran dan menegurnya.

__ADS_1


"Loe, waras?" tanyanya usil.


"Waraslah," jawab Fatim sambil mendelik kesal.


"Kenapa? Apa gue terlihat kayak orang nggak waras?" tanya Fatim balik dengan kesal.


"Iya, abisnya loe senyam senyum sendiri. Apa lagi coba kalau nggak waras?" cerocos lelaki berseragam putih biru di depannya.


"Mulut loe ya kayak nggak sekolah aja, kualat entar loe. Nggak ada sopan-sooannya sama orang tua." Fatim merutuk kesal.


Anak tanggung itu terkekeh, itu namanya loe lagi fall in love, ya kan?" tanyanya lagi.


"Anak kecil mau tahu aja, udah ah diem loe." Fatim memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi berhenti mendadak. Tentu saja penumpang didalamnya sudah saling tubruk kayak jenis kopi aja.


"Aduhhh kenapa ngerek mendadak sih, Pak!" Fatim protes lebih dulu yang diikuti oleh para penumpang lainnya.


"Maaf tapi lihat itu?" Pak sopir menunjuk kearah depan. Tampak lima orang preman sudah berkacak pinggang.


Semua melihat ngeri kedepan mobil yang mereka tumpangi.


"Bapak kenal mereka?" tanya anak lelaki berseragam putih biru yang tadi menggoda Fatim.


"Iya, soalnya kemarin bapak belum setoran pajak lewat karena tarikan sepi." Lelaki berkulit gelap itu tertunduk lesu.


"Masa lewat aja bayar pajak?" tanya Fatim.


"Begitulah, Dek. Kadang bapak jadi takut mau narik." Lelali itu tertunduk.


"Memang berapa bayarnya, Pak?" tanya Fatim lagi.


"Lima puluh ribu."


"Oke nanti biar gue yang bayar," ucap Fatim sambil tersenyum.


"Uwihhh ada sultan tajir ternyata." Anak lelaki itu tersenyum manis pada Fatim.


"Sultan sultin, diem loe!" bentak Fatim kesel.


"Cantik-cantik galak ternyata," ucap anak lelaki itu.


Kelima preman itu sudah mendekat dan menarik kerah baju sang sopir untuk memaksanya keluar, namun Fatim tentu saja tidak anak tinggal diam.


"Lepasin bapak itu!" teriak Fatim geram yang membuat kelimanya menyeringai sinis.


Udah dulu ya, kita sambung besok inshaa Allah. Author harus pergi dulu bye ... bye .


Bersambung ....


Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula sudah setia membaca novel remahanku juga untuk Tap jempol serta komennya!


Maaf aku telat Up karena saudara sepupu ku meninggal ini baru lepas tujuh hari, semoga beliau husnul khotimah.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah ya dibawah ini:


__ADS_1


Selain itu kalian boleh intip juga novel-novel yang menjadi favorit aku, cerita mereka juga nggak kalah seru lo, kalau nggak percaya coba aja untuk membacanya. ini nih novelnya



__ADS_2