
Masih terlelap dalam tidur nyenyaknya Fatim bermimpi jika perpisahannya dengan Abas nanti akan menyebabkan prahara dalam rumah tangga mereka, keduanya harus berjuang agar dapat kembali bersama.
Dalam mimpinya bukan hanya Abas tapi dirinya pun tak luput dari godaan. Saat itu lah sebuah jurang tiba-tiba saja muncul yang memisahkan keduanya. Berbagai macam cara telah diupayakan untuk melewati jurang terjal itu sampai akhirnya sebuah pelangi melintasi jurang membentuk sebuah jembatan. Baru lah keduanya bisa bersama kembali dan bertemu di atas jembatan pelangi.
Seketika Fatim terjaga dan ternyata benar ia sedang menangis. Dilihatnya saat itu sudah jam tiga pagi. Ia beristiqfar dan duduk, air matanya masih saja mengalir. Ingin rasanya ia memeluk Abas yang masih terlelap. Namun diurungkannya.
*Syukurlah ternyata cuma mimpi tapi aku merasa itu seperti sangat nyata, aku sangat takut ya rabb. Jangan pisahkan aku dengan suamiku, entah bagaimana jika aku harus hidup tanpanya?*
Fatim kembali menyeka air matanya, ia tidak menyadari jika suaminya juga sudah bangun. Lekaki itu memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di pundak Sang istri.
"Kenapa? Apa kamu sakit?" Abas membalikkan tubuh istrinya, ia tahu jika kekasihnya itu sedang menangis.
Fatim memutar tubuhnya dan sekarang mereka saling berhadap-hadapan." Aku takut, Kak. Aku tidak mau kehilanganmu." Gadis itu menunduk sedih.
"Kamu bermimpi burukkah?" Abas memegang dagu kekasihnya agar mata mereka bisa saling tatap.
"Hemmm," jawab Fatim pelan.
"Lakukan hal ini yang pertama meludah lah tiga kali ke kiri , lalu ucapkanlah ta'awuz tiga kali yang artinya kita berlindung kepada Allah dari gangguan syetan, dan terakhir rubah lah posisi tidurmu. Begitu lah sekiranya yang diajarkan oleh Rasulullah SAW." Abas memeluk istrinya.
Fatim melakukan apa yang telah diberitahukan oleh suaminya dan ini ilmu baru untuknya."Terimakasih Kak Pop, tapi aku sungguh takut." Gadis itu memeluk erat suaminya.
"Pasrahkan semuanya pada Allah, inshaa Allah akan ada yang terbaik untuk kita. Asalkan selalu ingat pada-Nya, kita pasti akan bisa jaga diri. Sekarang kita tahajud dulu yuk! Masih ada sedikit waktu sebelum syuruk." Abas melepaskan pelukannya dan segera menuju kamar mandi untuk berwudu dan tentu saja diikuti oleh makmumnya, Fatim.
Setelah selesai tahajud keduanya kembali berbaring sembari menunggu waktu subuh tiba, pagi ini mereka berdua akan berangkat ke Bandung untuk bertemu kedua orang tua Abas.
Gadis itu kembali tertidur dalam pelukan suaminya. Abas dengan seksama memperhatikan pahatan sempurna di wajah istrinya. Hidung bangir, mata jernih, bibir mungil yang merah jambu, membuatnya selalu ingin berlama-lama pada bagian itu.
Ia melafadkan surat demi surat dengan lembut untuk menemani tidur istrinya sambil membelai rambut panjang kekasihnya itu.
*Ya Rabb, sungguh sempurna Kau ciptakan gadis dalam pelukanku ini, terimakasih telah menjadikannya teman hidupku. Tautkanlah cinta kasih kami dunia dan akhirat. Izinkanlah kami sehidup sesurga. Aamiin.*
Abas mencium lembut kedua mata istrinya yang terpejam, sesekali gadis itu menggeliat untuk mencari posisi yang nyaman. Turun naik napasnya seirama dengan belaian yang lelaki tampan itu berikan. Ia pun terlelap sambil mendekap kekasihnya itu.
Suara Azan subuh sudah berkumandang, Nadya merasa pagi ini ingin mengecek keadaan anak dan menantunya, ia khawatir setelah bergadang malam tadi membuat keduanya telat untuk bangun subuh.
Tok ... tok ...!
Nadya telah berulang kali mengetuk pintu namun, hasilnya nihil. Saat mencoba membuka pintu ternyata tidak dikunci. Dengan hati-hati ia memutar knop pintu lalu mendorongnya pelan. Nadya sungguh terharu melihat pemandangan yang ada didepannya saat ini.
__ADS_1
Seolah tak ingin momen yang indah ini terlewatkan, ia segera mengabadikannya melalui jepretan ponsel keduanya kemudian ia save ke mode private agar keduanya tidak tahu kalau ada foto momen indah mereka yang menjadi pasangan pengantin baru . Nadya ingin foto itu menjadi kejutan untuk keduanya suatu saat nanti.
Setelah puas cekrak cekrek baru lah Nadya membangunkan keduanya untuk salat subuh. Abas merasa sangat malu karena ia harus dibangunkan oleh ibu mertuanya sedangkan Fatim ia cuma cengar cengir saat dibangunkan oleh mamanya.
Kedua insan itu pun segera menunaikan kewajibannya untuk salat subuh, setelah itu bersiap untuk sarapan dan mengemas barang-barang yang akan mereka bawa ke Bandung.
"Bagaimana persiapannya, Nak? Apa sudah beres?" Nadya sengaja bertanya untuk menghilangkan rasa canggung yang sedang menantunya alami.
"Alhamdulillah sudah,Bu." Abas mencoba untuk tersenyum.
"Irit amat jawabnya, Kak Pop. Mama kan nanyanya ada dua, masa jawabnya cuma satu." Fatim menatap suaminya dengan pandangan yang menggemaskan membuat wajahnya terlihat sangat imut.
"Fatim!" Nadya memelototkan matanya yang membuat anak gadisnya itu segera mengangkat dua jarinya sebagai ungkapan untuk berdamai.
Abas tak bisa menutupi rasa kagumnya pada dua wanita cantik berbeda usia yang ada dihadapannya, mereka kini sudah menjadi bagian dari hidupnya. Keduanya lebih tampak sebagai sahabat dari pada ibu dan anak.
"Ma kami permisi dulu ya, mau merapikan bawaan yang belum dimasukkan koper." Abas berusaha untuk melindungi istrinya dari tatapan horor Sang mama mertua.
"Ah iya boleh, nanti mama juga titip oleh-oleh ya buat ibumu, Maryam." Nadya tersenyum tulus yang disambut hangat oleh Fatim.
"Merdeka kamu ya sekarang." Nadya memyindir putrinya.
Nadya tertawa melihat tingkah putrinya, ia memandang tak berkedip pada gadis itu hingga ia hilang dibalik dinding penyekat ruang keluarga mereka.
*Rasanya baru kemarin aku harus berlari mengejarmu untuk mandi, membawa korban berantemmu kerumah sakit, harus memata-mataimu saat balapan liar, menyisir rambutmu lalu mengikatnya, tapi kini kau sudah menikah saja. Waktu begitu cepat berlalu ... aku pasti akan merindukan masa kecilmu yang tak akan pernah terulang. Semoga kau selalu bahagia, putriku.*
Nadya mengusap air matanya yang meluruh, ia segera beranjak menuju kamarnya. Sebenarnya ia sedih anak gadisnya akan menginap di rumah mertuanya namun, ia tidak boleh egois. Lambat laun semua pasti akan terjadi. Tentu saja ini adalah bagian dari proses sebuah pernikahan, ia juga pernah mengalaminya. Mungkin dulu ibunya juga merasa seperti dirinya.
*****
"Ma, Fatim berangkat ya. Jaga kesehatan mama selalu." Fatim mencium pipi wanita terhebat dalam hidupnya.
Keduanya berpelukan yang membuat Abas harus sabar menunggu dua wanita hebat ini untuk bisa saling melepas satu sama lain.
*Apa semua ibu begini ya jika akan berpisah dengan anaknya? Apa umiku juga begitu ya? Apa Dek Fatim juga begitu nanti kalau aku jadi berangkat?*
Abas hanya bisa bersabar, ia juga merasa sedikit sedih melihat pemandangan di depan matanya saat ini. Setelah keduanya selesai mengurai rasa, baru lah Fatim masuk ke mobil. Wajah yang tadi terlihat mendung kini sudah secerah sinar mentari pagi ini.
"Udah siap berangkat?" Ia melihat kekasihnya yang menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Yap," jawab Fatim singkat.
"Biasakan menjawab dengan inshsa Allah dulu baru pakai Yap." Lelaki itu mengingatkan istrinya.
"Iya deh aku ulangi." Fatim memperbaiki posisi duduknya," inshaa Allah sudah siap suamiku sayang." Ia sengaja memasang senyum manisnya yang membuat Abas tak bisa menahan tawanya.
"Udah ah ketawanya mending kita berangkat, entar kering loh giginya kalau nyenggir terus." Fatim memasang sitbeltnya dan segera melihat kedepan dengan wajah yang serius. Hal ini membuat Abas semakin terpinggal-pinggal.
"Astaqfirullah ya Allah perutku sakit, Dek." Abas memegang perutnya.
Fatim menoleh dan membuat wajah sok panik, ia benar-benar wanita yang kocak."Baiklah, Pak. Bagian mana yang harus saya periksa?" Kini ia berperan sebagai dokter yang meraba perut suaminya yang membuat Abas kembali menahan senyum.
"Kamu memang sempurna, segala peran bisa kau jalani. Asalkan nanti jangan kau pakai untuk membohongi aku dan cinta kita." Akhirnya Abas bisa menguasai perasaannya.
'Ihhh Kak Pop ya enggak lah, aku tipe wanita setia. Buktinya sejak aku menyukaimu waktu kecil sampai sekarang pun juga masih sama." Fatim memanyunkan bibirnya yang membuat kekasihnya itu tak kuat menahan hasratnya untuk memberinya sedikit sentuhan.
Saat itu lah ponsel Fatim berdering. Dengan cepat gadis itu mengangkat teleponnya.
"Assalamu'aikum, Ma. Ada apa?" Fatim memasang wajah serius.
"Udah hampir setengah jam loh kalian di dalam mobil yang nggak jalan-jalan. Apa tidak jadi berangkatnya? Mau menginap di mobil saja?" Nadya memperhatikan keduanya dari atas balkon.
"Mama kok gitu sih, jadi kok kita berangkatnya. Dasar mamaku cantik tapi ju-." Abas sudah menutup mulut kekasihnya itu.
Terdengar suara tawa Nadya diseberang telepon, ia tahu itu pasti ulah Abas yang tidak mau Fatim berucap kurang sopan padanya.
"Kak Pop apaan sih main tutup mulut aku, kan mama merasa menang jadinya." Fatim terlihat kesal.
"Kamu mau ngatain mama jutek atau judes? Itu nggak baik, Sayang. Hormati ibumu, jaga perasaannya." Abas menangkupkan kedua pipi istrinya dan mencium keningnya lembut. Seketika dadanya yang bergemuruh karena kesal kini tenang kembali.
"Kamu paham?" Abas menepuk pipi istrinya lembut.
"Inshaa Allah paham." Fatim tersipu malu.
"Alhamdulillah kamu cepat belajar dan pandai menyenangkan hati suami. Sekarang kita berangkat ya sebelum disemprot sama mama lagi." Fatim hanya mengangguk dan mobil pun mulai melaju meninggalkan kediaman mereka menuju Bandung.
Bagaimana kisah Fatim saat di pondok? Tunggu di next episode ya. Terimakasih sudah membaca jangan lupa, like, komen, dan vote atau hadiahnya.
Semoga yang baca, like, komen, dan kirim hadiah diberikan nikmat sehat dan kelancaran rezrki. Aamiin ya rabbal'alamin.
__ADS_1
Bersambung ....