
Setelah membakar semangat teman-temannya Fatim kembali memutar otaknya untuk menyiasati pertandingan yang akan mereka ikuti sebentar lagi.
Mereka bersepuluh sudah duduk manis di barisan belakang, hampir tidak ada yang memperhatikan kehadiran mereka.
Kini suasana semakin panas, semua santriwati yang mengikuti lomba tilawah penampilannya sangat mengesankan. Zahwa melihat ke arah Fatim, gadis manis dengan hidung bangir itu tampak tenang. Nama kelompok mereka pun sudah dipanggil.
"Tim, kamu yakin?" Wajah Zahwa terlihat pucat pasi. Ia menyentuh tangan gadis itu yang terasa sedikit dingin.
"Insyaallah, Wa. Kita jangan menyerah sebelum berperang." Ia mencoba untuk tersenyum dan membalas pegangan Zahwa dengan menepuknya lembut.
Fatim dan Mila sudah berjalan menuju panggung pentas, riuh suara menertawakan kelompoknya. Tentu saja yang paling heboh adalah kelompok para gadis yang mencibir Fatim tempo hari, mereka pengangum Abas.
Wajah Mila tampak pias, tangannya bergetar. Fatim tentu saja menyadari hal itu, ia meminta gadis manis berjilbab krem itu untuk duduk bersamanya, berbeda dengan peserta sebelumnya yang membuat jarak antara yang membaca tilawah dengan yang membaca saritilawahnya.
Suasana yang rius seketika menjadi hening saat Fatim mulai mengucapkan taawuz. Zahwa dan para sahabatnya juga ikut ternganga.
Suara Fatim begitu tegas namun lembut dalam irama bayati yang syahdu. Kali ini ia akan membacakan surat al Hujurat ayat 12 yang menjelaskan tentang ghibah.
Sambutan lagu bayati yang dipadu dengan irama nahawand baru di barengi dengan irama hijaz dan akhirnya ditutup dengan irama jawab nahawand.
Hal ini sengaja Fatim lakukan, karena biasanya, hijaz digunakan setelah nahawand. Karena itu, maqom hijaz diawali dengan akhir nada jawab nahawand sebelumnya agar tidak sumbang.
Semua terkesima, tidak ada yang menyangka bacaan Qur'an Fatim di atas rata-rata para santri.
Kemudian Mila pun menjadi berani, suaranya keluar dengan lantang membacakan arti yang terkandung dalam surat al Hujurat yang Fatim bacakan.
Dalam surat Al-Hujurat ayat 12, menjelaskan bahwa ghibah atau menggunjing sama saja dengan memakan daging bangkai saudara kita sendiri. Allah S.W.T. berfirman pada Nabi Musa A.S, “Siapa saja yang meninggal dunia dalam keadaan bertobat dari perbuatan ghibah, maka dia adalah orang terakhir masuk surga.
Setelah Mila selesai barulah Fatim menutup penampilan mereka dengan ucapan shadaqallahul adzim.
__ADS_1
Semua terdiam tidak ada satu pun suara komen, suitan, atau tepuk tangan. Sampai akhirnya MC membuyarkan semua keheningan itu.
Kini akan dilanjutkan dengan pidato bahasa arab juga inggris. Lagi-lagi penampilan Hanin dan Rania begitu memukau, bakat terpendam keduanya bisa terekspose sempurna hari ini. Keduanya pun merasa tak percaya, mereka bisa tampil paripurna.
Sesi terakhir adalah nasyid. Kelompok Nur membawakan lagu La tahzan innallaha ma'ana yang dinyanyikan oleh Fatim. Suara gadis manis itu tak bisa dipungkiri sangat bening. Semua berdiri memberikan tepuk tangan dan ikut bernyanyi bersama kompok itu. Mereka terhanyut dalam keindahan lagu yang dinyanyikan.
Rangkaian demi rangkaian acara telah mereka lewati. Hari ini anak-anak buangan di asrama delapan bisa berdiri dengan menegakkan kepala. Dari semua cabang lomba mereka adalah juaranya. Tangis haru mereka tumpahkan dalam pelukan hangat bersama penyemangat mereka, Fatimah Ananbra.
Rombongan Rukhayah terbungkam, rasa malu memenuhi relung hatinya. Tak pernah ia bayangkan jika dirinya akan dikalahkan oleh anak yang bukan berlatar pondokan. Tadinya ia adalah qoriah terbaik di pondok ini.
Sejak hari itu tidak ada lagi yang merendahkan anak-anak asrama delapan, mereka pun mulai percaya diri untuk berkecimpung di kegiatan pondok. Fatim merasa senang bisa membuat mereka kembali pada tujuan awal mereka mondok. Ia pun telah kembali ke rumah Abi Rahmat.
"Bagaimana? Betah mondok?" Abi Rahmat menatap hangat menantumya yang menjadi pembicaraan hangat di pondok karena kemahirannya membaca al qur'an.
"Lumayan betah, Bi. Tetapi aku sempat heran juga ternyata di pondok juga ada anak-anak yang suka merendahkan orang lain," ungkap gadis itu sambil mengupas kulit kacang rebus yang baru saja Maryam sunguhkan.
"Iya, Bi. Semoga saja mereka bisa menjadi santri yang berakhlak mulia," cicit Fatim sambil tersenyum.
"Aamiin," ucap Abas yang tiba-tiba saja sudah duduk di samping kekasihnya itu.
Mereka menikmati suasana malam di kota Bandung yang dingin dengan ditemani kacang rebus hangat dan wedang jahe yang menghangkatkan.
*****
Keesokan harinya Fatim dan Abas sudah bersiap untuk pulang ke Jakarta, semalam mereka ditelepon jika Nadya kurang sehat dan harus segera dirujuk ke rumah sakit. Dan gadis itu sudah meminta pak Momon untuk membawa mamanya ke rumah sakit.
Sebelum berangkat keduanya pamit dulu pada teman pondok mereka. Anak asrama delapan sudah menunggu kedatangan Fatim tetapi mereka tidak tahu jika teman mereka itu akan pulang bersama Abas, idola pondok.
"Assalamu'alaikum," ucap Fatim lembut dengan senyum terkembang di wajah cantiknya.
__ADS_1
"Wa'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," jawab mereka serempak dan berdiri untuk menyambut Fatim.
"Kamu beneran mau pulang ke Jakarta, Tim?" Nur berjalan mendekat.
"Kok cepet sih, apa kamu nggak pengen mondok bareng kita?" Zahwa memegang tangan Fatim.
Rania, Nisa, Mila dan lainnya juga ikut berdiri, mereka memeluk Fatim, air mata perpisahan tak kuasa mereka tahan. Padahal belum genap sepuluh hari mereka bersama tapi rasanya sudah seperti bertahun-tahun.
Kebersamaan singkat mereka terjalin dengan indah, kemudian mereka memberikan sebuah bingkisan buat gadis itu. Mereka ingin Fatim akan selalu mengingat kebersamaan yang terjalin di antara mereka.
Setelah saling melepas dengan ikhlas barulah mereka benar-benar berpisah. Fatim melambaikan tangan pada mereka, kebersamaan ini pasti akan selalu diingatnya.
Fatim sudah naik ke dalam mobil, di sana sudah ada suaminya tercinta yang menyambut dengan senyum penuh cinta.
"Sudah siap, Dek Loli?"
"Insyaallah, Kak Pop." Gadis itu mengedipkan matanya yang membuat jantung Abas berdesir halus.
Mobil pun mulai melaju meninggalkan pondok, mereka membelah kesejukan suasana pagi dengan kecepatan sedang.
'Rasanya aku sangat beruntung bisa merasakan jadi santri biar pun cuma sebentar. Mereka teman yang menyenangkan, semoga suatu saat kami bisa bertemu lagi.'
"Hei, kenapa melamun?" Abas mencolek hidung bangir istrinya.
"Nggak kok aku nggak melamun cuma lagi bernostalgia bersama Zahwa dan teman-temannya." Fatim berkelit, ia malu karena ketahuan sama suaminya.
Abas hanya tersenyum, ia tahu dengan pasti siapa istrinya, rona memerah di pipinya tak bisa membohongi apa yang sedang kekasihnya itu alami.
Abas meminta istrinya untuk tidur agar dia tidak merasa capek saat nanti sampai di Jakarta. Mereka pasti akan bergadang dan harus siap dua puluh empat jam untuk menjaga Nadya, ibu dari gadis yang sangat dia cintai.
__ADS_1