
🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. Selamat Membaca.🌻
🌻Gerbang Sekolah 🌻
Fatim kini telah meninggalkan ruang kontrol CCTV, dia segera meminta Momon untuk menjemputnya sekalian meminta untuk menyelidiki video yang terekam diCCTV sekolahnya.
"Halo Pak Mon tolong jemputin Fatim ya, Fatim tunggu digerbang sekolah." Menutup panggilannya.
Dengan santai Fatim berjalan menuju gerbang sekolah untuk menunggu jemputannya.
Sambil menunggu jemputannya Fatim memainkan Hp nya, saat sedang asyik datang sebuah mobil sport hitam yang berhenti didepan Fatim. Perlahan seseorang itu menurunkan kaca mobilnya dan ternyata dia adalah Putra, Playboy cap Kakap disekolah Fatim.
"Hai Fatim, loe belum pulang?"
"Iya gue belum pulang masih menunggu jemputan."
"Loe mau pulang bareng gue?"
"Eh enggak usah, makasih banyak."
"Kalau gue maksa bagaimana?"
*Ya Allah, nih orang stress kali ya apa hobinya kali suka maksain orang, dah tahu gue nggak suka dipaksa, awas aja loe berani maksain gue, jagan salahin gue kalau nanti jadi nggak bisa kontrol emosi gue, batin Fatim kesal.*
"Maaf Put, gue nggak suka dipaksa." Membuang pandangannya kesembarang arah.
"Ha ... ha ... gue suka gaya loe, dan itu makin membuat gue bersemangat untuk maksain loe." Membuka pintu mobilnya dan berjalan mendekati Fatim.
Melihat Putra yang berjalan mendekatinya membuat Fatim menjadi waspada.
"Fatim sayang, ayolah ikut gue pulang." Hendak memengang tangan Fatim.
Namun dengan cepat Fatim menepis tangan Putra, dan itu membuat Putra semakin agresif.
"Uhhh ternyata loe liar juga Fatim, dan itu membuat gue semakin bergairah." Menatap nakal kearah Fatim.
Fatim menatap tajam kearah Putra, dengan wajah yang sudah sedikit kesal.
"Loe jangan paksa gue, kalau terjadi sesuatu pada loe jangan salahin gue," ucap Fatim penuh penekanan.
"Awww gue atuttt," ucap Putra sambil tertawa terbahak - bahak.
Fatim tetlihat semakin kesal, namun ia masih berusaha untuk sabar.
"Fatim loe itu cantik, seksi, dan gue suka sama loe. Cuma gue nggak suka kain jelek itu menutup kepala loe, dan baju panjang yang kolot itu membuat gue nggak bisa menikmati tubuh loe yang sempurna." Menelan salivanya.
Melihat gelagat Putra yang semakin kurang ajar membuat Fatim semakin kesal, ingin rasanya ia membuat Putra menjadi rujak sambal asam manis kesukaannya.
Putra tiba - tiba bergerak cepat hendak melepas jilbab Fatim, namun dengan cepat Fatim menghindar dan ...
"Bamm!" Tubuh Putra sudah terbanting ke lantai.
"Akhhh ... sittt!" Mengusap pantatnya.
Dengan cepat dia berdiri dan bersiap mendekati Fatim kembali.
"Uhhh ternyata loe sangat liar Fatim, dan itu membuat hasrat gue semakin memuncak, loe harus jadi milik gue Fatim." Hendak memeluk Fatim dengan paksa.
Dengan cepat Fatim menghindar dan hanya dalam hitungan detik tubuh Putra telah kembali terbaring dilantai.
"Ohhh GOD." Meringgis menahan sakit.
Putra merasa sangat kesal karena baru Fatim lah satu - satunya wanita yang menolah pesonanya. Selama ini belum ada satupun wanita ataupun pacarnya yang berani menolak semua keinginannya meskipun itu perbuatan terlarang. Dan penolakan Fatim adalah penghinaan terbesar yang Putra rasakan.
Putra merasa sangat senang baru kali ini kerjasama yang ia sepakati dengan seseorang sangat menantang dan tentu saja menguntungkan baginya.
"Maaf gue udah peringatin loe, kalau gue nggak suka dipaksa, dan itu mobil jemputan gue sudah datang." Berjalan meninggalkan Putra yang masih terbaring dilantai.
"Loe lihat aja Fatim, gue nggak akan menyerah sebelum loe jadi milik gue, gue akan buat loe memohon untuk gue nikahi," Tersenyum jahat.
Mobil Fatim perlahan mulai menghilang dikelokan ujung jalan, Fatim meminta Momon segera mengantarnya pulang untuk mengambil motor matic kesayangannya.
🌻Rumah Fatim 🌻
__ADS_1
Mobil Momon telah memasuki komplek peruahan elit milik keluarga Fatim, perlahan ia memarkirkan mobilnya didepan gerbang utama.
"Non kita sudah sampai."
"Makasih Pak Mon, jangan lupa Fatim tunggu kabar baiknya tentang video itu." Menyerahkan sebuah rekaman video yang telah direkamnya dalam sebuah plasdisk.
"Siapp Non, Pak Mon usahakan secepatnya."
Mobil Momon pun segera meluncur meninggalkan kediaman Fatim menuju ke kantornya untuk mengecek isi video.
Sepeninggalan Momon, Fatim segera masuk kedalam rumahnya untuk berganti pakaian dan bergegas hendak ke My Cafe menyusul Yati.
Sedang asyik dikamar mandi Hp Fatim berdering.
Mulia indah cantik berseri
Kulit putih bersih merahnya pipimu
Dia Aisyah putri Abu Bakar
Istri Rosulullah.
Mendengar Hpnya berdering dengan cepat Fatim menyelesaikan ritual mandinya. Namun saat keluar kamar mandi suara Hpnya sudah berhenti.
"Hemm siapa ya yang telepon, cek dulu deh." Membuka Hpnya.
"Ohh ternyata Si Oneng, ada apa ya tumben nelepon, pasti ada sesuatu yang sangat urgen," ucap Fatim tetdenyum.
Dengan ceat Fatim mengecek kotak pesan yang ternyata ada beberapa chat dari Yati.
Yati : "Fren loe dimana? Kok belum datang sihhhh?!"
Yati : "Fren cepet ya sepertinya ada serombongan pemuda yang sengaja mau bikin ulah."
"Yati :" Gue takut My Cafe rusuh, cepet datang ya, kasihan Kak Wawan.
Membaca pesan Chat Yati membuat Fatim merasa tidak tenang.
*Apa ini semua ada hubungannya dengan Gladis ya? Kok gue bisa mikir kesana ya, astagfirullah ya Allah gue suudzon aja sama tuh anak, ya sudah gue harus segera sampai di My Cafe biar semuanya tidak terlambat, batin Fati.*
"Oke gue udah siap, berangkat sekarang." Mencium foto Bram dan Nadya bergantian.
🌻My Cafe 🌻
Fatim segera menuruni anak tangga menuju keparkiran, dilihatnya motormatic kesayangannya yang dibeli Nadya sebagai hadiahnya karena lulus seleksi disekolah SMA Unggulan dengan perasaan senang bercampur sedih.
"Mulai sekarang gue akan pake loe, kemanapum gue pergi." Mengusap motornya sebagai tanda sayang.
Perlahan tapi pasti Fatim mulai menstater motor maticnya menuju My Cafe.
Tak butuh waktu yang lama Fatim sudah tiba di My Cafe. Ia segera memarkirkan motornya dan berlari masuk kedalam cafe.
"Maaf Kak sebenarnya ini apa yang terjadi? Gue panik baca chat Yati." Menunjukkan chat Yati.
"Iya itu benar, para pemuda itu duduk dimeja arah jam 12."
"Oke nanti gue Cek Kak."
Fatim berjalan menuju ke arah jam 12 untuk mengecek kebenarannya. Dari kejauhanpun Fatim sudah dapat melihat kalau mereka sengaja mau bikin ulah.
"Maaf ada yang bisa saya bantu?" Tanya Fatim lembut.
"Gue nyarik pegawai yamg namanya Fatim?" Menatap ke Fatim.
*Sepertinya mereka sedang mabuk, dan mereka pasti dibayar untuk mengobrak abrik Cafe gue, tapi siapa yang suruh ya apa gue tanya aja ya, batin Fatim merasa binggung.*
Melihat sahabatnya yang sudah datang Yati segera berlari menghampirinya.
"Fren loe sudah datang, sebaiknya loe pergi dari sini, mereka nyariin loe," bisik Yati.
"Udah Loe tenang aja gue akan baik - baik saja kok."
Fatim berjalan mendekati mereka, namun sebelumnya Fatim sudah menelpon gangnya Jefry dan John agar segera menuju My Cafe.
__ADS_1
"Gue Fatim, kenapa loe nyatiin gue?"
Mendengar seseorang menyebut dirinya Fatim, kelima pemuda itu sontak tertawa.
"Gue nggak habis pikir kenapa Bos meminta kita untuk menghabisi gadi lugu dan sholehah ini." Memandang Fatim sambil tertawa.
"Tertawa aja loe sepuasnya karena besok loe nggak akan lagi bisa melihat matahri."
Mendengar ucapan Fatim membuat mereka. tertawa terbahak - bahak.
"Loe ikuti aja kemauan kita gadis cantik maka Cafe ini akan aman."
"Cih nggak sudi gue." Melihat tajam kearah lima pemuda yang duduk dimeja dua belas.
" Sialan loe, nih rasa in salam perkenalan dari gue." Melempar sandalnya kearah Fatim.
Dengan gesit Fatim mengindar, dan baku hantampun tak terelakkan. Sedang asyik berkelahi bantuan dari tim kak Jefry sudah datang segera membantu Fatim.
Tak butuh waktu lama kelima lelaki itu berhasil diringkus oleh Fatim dan pasukan kak Jefry.
"Siapa yang nyuruh loe rusuh di My Cafe?" Bentak Fatim.
*Brengsek ternyata gadis ini gesit juga, dan punya backing para preman kelas kakap, misi gue pasti gagal dan gue nggak akan dapat bayarannya. Batin salah satu pemuda yang membuat rusuh di My Cafe.*
"Enggak ada yang nyuruh gue," ucap lelaki berkumis itu santai.
" Loe nggak usah bohong, karena gue tahu siapa yang nyuruh loe," ucap Fatim menyeringgai.
Namun kelimanya masih tutup mulut juga, mereka masih menjunjung tinggi yang namanya kesetiaan.
Sebenarnya siapakah yang menyuruh mereka? Ikuti kelanjutannya ya!
Love you readers loverku 😍
Bersambung.....
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Nyanyian Takdir Aisyah.
dan karya apik author yang lain :
Fit Fithree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Shohibul Ikhsan
Putih Abu Abu
Kembar Tidak Identik
*Sudrun
Samudra
*Ergina Putri
My Heart Only For You
Melawan Rasa Takutku
*Sisca Nasti
Mafia In Love
*Almaira
My Secref Wife
My Love My Babysitter
__ADS_1
*Envy Yo WesBen
MY Princes OG