
🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. Selamat Membaca🌻
🌻 Kamar Fatim 🌻
Merasa ada yang berjalan dipipinya reflek Fatim menepuk pipinya sendiri.
"Pok ! Aduhhhh sakittt." Mengusap - usap pipinya dan mulai bangun.
"Ih yang tadi apaan ya Ma, sakit pipi Fatim," ucap Fatim.
"Kecoa kali makanin pipi orang yang malas bangun subuh." mengerling pada Fatim.
"Mama kok gitu sih." Cemberut.
"Ha ... ha ... anak Mama jelek kalau cemberut."
"Udah gih sholat dulu, kita kan mau ke Yogyakarta hari ini."
"Eh iya, oke siap Mamaku sayang." bergegas untuk berwudhu.
Fatim segera menunaikan sholat subuh, sedangkan Nadya kembali ke kamarnya untuk mempersiapkan dirinya dan Fatim untuk ke Yogyakarta.
Persiapan untuk ke Yogyakarta sudah selesai Nadya siapkan dan kini dia sudah menunggu Nadya dimeja makan.
🌻Ruang Makan 🌻
Fatim yang sudah selesai sholat segera berganti pakaian dengan memakai kaos oblong putih berlengan panjang dengan gambar bunga mawar pink didadanya dengan celana jeans longgar berwarna biru laut, memakai jaket jin warna senada dengan celananya, dan rambutnya belum Fatim ikat karena itu sudah menjadi kebiasaan Fatim untuk meminta Nadya mengikat rambutnya. Dan tak lupa topi dan headset kesayangannya. Setelah selesai segera Fatim turun menuju ruang makan.
Seperti biasanya Fatim akan menyapa semua penghuni rumahnya.
"Assalamualaikum, pagi semuanya, bibi ... mamang ... yuk kita sarapan yuk," ajak Fatim dengan ceria seperti biasanya.
"Kita udah pada sarapan Neng," jawab mereka serempak sambil tersenyum.
"Baiklah Fatim sarapan dulu ya." Melambaikan tangan.
"Mama sayang maaf ya nunggunya lama."
"Nggak kok sayang, Mama baru aja nungguin disini."
"Yuk makan."
Fatim menarik kursi disamping Mamanya dan duduk dengan anggun, dan mulai memakan makanan kesukaannya yang telah Nadya dan Bik Inah siapkan.
Selagi Fatim asyik makan, Nadya dengan telaten mengikat rambutnya yang membuat Fatim semakin cantik.
"Sayang kamu sudah sarapannya?"
"Alhamdulillah, sudah Ma."
"Kita siap berangkat ?"
"Inshaa Allah Mamaku sayang." Menatap Nadya dengan penuh sayang.
"Yuk kita berangkat."
Nadya dan Fatim meninggalkan meja makan dan segera menuju ke parkiran.
"Pak Mat ... kita berangkat ya, tapi kita kerumah sakit dulu menjemput Mas Pram, setelahnya baru kita langsung menuju ke Yogyakarta," ucap Nadya.
"Iya Bu," jawab Pak Mamat.
Mobil segera melaju meninggalkan kediaman Nadya menuju rumah sakit.
🌻Rumah Sakit 🌻
Pram sudah siap menunggu jemputan, ia sudah merapikan pakaiannya, dan duduk ditepi ranjangnya.
Sementara mobil Nadya sudah memasuki area parkiran rumah sakit. Jantung Nadya sudah mulai berdetak tak menentu, walaupun ia sudah berusaha menyiapkan hatinya tetap saja semuanya jadi tak menentu.
"Ma ... apa Mama baik - baik saja," tanya Fatim.
"Iya sayang, Mama baik - baik saja kok."
"Mama yakin?"
"Inshaa Allah sayang." Menatap Fatim lembut.
Fatim tersenyum sambil menggenggam tangan Nadya.
"Kita turun Ma !"
"Iya sayang."
Keduanya turun menuju ruang perawatan Pramantio. Nadya sudah menyuruh Momon untuk mengecek semua kebenarannya dan ternyata semua adalah benar dan sekarang kondisi Bramantio sangat menghkawatirkan, dan Nadya sudah menyuruh Momon untuk mengirimnya kerumah sakit terbesar Di Yogyakarta.
Perlahan Nadya dan Fatim mendekati ruang perawatan Pram.
__ADS_1
"Klek."
Suara pintu terbuka, dan tampaklah seorang lelaki laruh baya yang masih tampan telah rapi duduk dipinggir tempat tidurnya.
Pram menyambut kedatangan Nadya dan Fatim dengan senyuman.
"Pagi Nadya ... pagi juga ponakan Om yang cantik," sapa Pram ramah.
"Pagi Mas Pram."
"Kamu bisa panggil aku Kang Mas saja Nadya, karena Bram itu adikku."
" Iya Kang Mas."
Fatim hanya tersenyum melihat kekakuan Mamanya. Dan itu sangat wajar setelah 16 tahun kini ada sanak saudara yang akhirnya bisa Fatim miliki.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Pram.
"Boleh," jawab Nadya.
"Perjalanan kita ke Yogyakarta akan memakan waktu 7 jam 54 menit itu pun kalau kita mengambil rute melalui jalan Tol Cikopo menuju Palimanan," ucap Pram.
"Apa kita bisa lebih cepat sampai?" Tanya Nadya.
"Sepertinya itu sudah maksimal, kenapa? Apa kamu sudah tidak sabar ingin melihat bojomu," canda Pram.
"Eh bukan aku hanya khawatir saja kalau kita datangnya terlambat, takut kena macet."
Semua tersenyum kecuali Nadya, karena ia sudah tahu kondisi suaminya sangat buruk, makanya ia sangat khawatir.
Perjalanan panjang mereka lalui dengan suasana yang hening. Semua penumpangnya sibuk dengan pikirannya masing - masing.
Fatim berbaring dipundak Nadya, pikirannya dipenuhi dengan khayalan pertemuannya bersama Bramantio yang tak lain adalah papapnya. Selagi asyik menghayal Fatim tertidur.
Sedangkan Nadya tampak gusar, perasaannya sangat sedih namun juga terselip sedikit rasa bahagia karena anak bertemu suaminya, dalam hatinya ia mendoakan kesehatan dan kesembuhan serta kekuatan untuk suaminya bertahan.
Namun Pram yamg duduk didepan bersama Pak Mamat wajahnya tampak masih pucat karena sebenarnya kondisinya juga sedang kurang sehat habis kecelakaan kemarin, namun ia sengaja menyehatkan diri demi perjuangannya untuk menyatukan sebuah keluarga meskipun sebenarnya ini sangat terlambat.
"Pak ! Bisakah kita sedikit lebih cepat? Aku merasa sedikit khawatir terhadap Bram?" Ucap Pram pada Pak Mamat.
"Inshaa Allah saya usahakan ya Pak," jawab Pak Mamat.
Perjalanan ke Yogyakarta terasa sangat panjang, apalagi Nadya mendapat pesan dari Momon.
*Ya Allah seharusnya kami naik pesawat saja biar cepat, kenapa malah memilih naik mobil, batin Nadya kesal.*
Setelah sekian jam akhirnya mereka memasuki kota Yogyakarta, dan Nadya segera meminta Mamat untuk menuju ke sebuah rumah sakit di Yogyakarta.
Mendengar permintaan Nadya tentu saja membuat Pram heran.
"Kenapa kerumah sakit Nad? Bukan langsung pulang kerumahku dulu?" Tanya Pram.
"Kondisi Mas Bram semakin memburuk, makanya aku langsung mengirimnya kerumah sakit." Menatap Pram sekilas.
Sedangkan Fatim yang masih dalam tidurnya kembali bermimpi didalam mimpinya lelaki yang sama dengan mengenakan pakaian putih - putih tampak merentangkan tangan seolah ingin memeluk Fatim.
🌻Mimpi Fatim 🌻
Fatim melihat lelaki itu tersenyum dengan linangan air mata tulus yang jatuh disudut matanya.
"Nak datanglah peluklah aku meski ini mungkin terlambat, maafkanlah aku ... hanya kamu yang bisa menyelamatkan aku ... aku tak mau jatuh lagi didalam lubang jurang yang gelap itu."
Fatim yang tampak tegang dalam mimpinya, ia juga tak ingin gagal kali ini, ia bertekad akan menyelamatkan lelaki itu kali ini.
"Bapak tenang saja, kali ini aku akan berusaha untuk menyelamatkan Bapak," teriak Fatim.
Lelaki itu tersenyum dan mulai mengulurkan tangannya.
"Sedikit lagi Pak, raihlah tanganku," ucap Fatim.
Lelaki itu sedikit lagi akan meraih tangan Fatim, namun ia kembali hampir terjatuh ke jurang dalam itu, saat kakinya mulai tergelincir dengan cepat Fatim melompat meraih tangannya.
"Bertahanlah Pak, aku akan menarik Bapak sekarang," teriak Fatim dengan peluh disekujur tubuhnya.
"Pak ... Pak ... bertahanlah," teriak Fatim yang segera tersadar dari tidurnya.
Peluh telah membasahi dahi Fatim, dan wajah Fatim tampak pucat.
"Sayang kamu kenapa?" Memeluk Fatim sambil menyeka keringat Fatim.
"Fatim bermimpi tentang lelaki itu lagi Ma, apa dia Papa? Kalau ia kita harus segera Ma, Papa membutuhkan bantuan kita," ucap Fatim terisak.
"Sayang ... kamu harus berdoa untuk Papa, semoga beliau segera sehat dan sembuh, hanya doa anak yang sholeh dan sholehah akan segera diijabah oleh Allah," ucap Nadya membelai rambut putri kesayangannya.
"Iya Ma," ucap Fatim menghapus air matanya.
Perasaan Pram ikut mengharu meyaksikan kedekatan batin antara ketiga orang yang saling menyayangi meski terpisah oleh ruang dan waktu.
__ADS_1
"Nad ... kita sudah sampai ini, yuk kita segera turun," ajak Pram.
"Iya Kang." Memperbaiki posisi duduknya.
"Sayang kita segera turun ya."
"Iya Ma." Melepaskan sitbeltnya.
Ketiganya segera berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ke pusat informasi untuk mengecek keberadaan suaminya.
Belum sampai mereka ke tempat informasi Momon telah menelpon Nadya.
"Tuuuuut."
"Tuuuuu."
"Halo Mon."
"Tuan Bram berada di ruang Melati Bu, kamar nomor 21, dari IGD lurus saja nanti belok kiri naik ke lantai dua, letak kamarnya nomor dua dari pintu masuk sebelah kanan," jelas Momon.
"Oke terimakasih Mon, kami segera sampai." Menutup telepon.
Setelah memberitahukan pada Pram dan Fatim tentang kamar Bram, ketiganya tampak berjalan tergesa - gesa.
Kini ketiga sampai pada kamar yang diceritakan Momon, namun mereka belum diperbolehkan masuk karena tim medis sedang keluar masuk dari tempat itu. Akhirmya Fatim memberanikan diri untuk bertanya.
"Maaf Sus kenapa kalian keluar masuk dari ruangan ini." Menunjuk Kamar Bram.
"Pasien sedang drop, kondisinya semakin memburuk," ucap perawat itu sambil kembali berlalu.
Ketiganya meminta izin untuk masuk, namun ditolak, sampai akhirnya Pram menceritakan kejadian yang sebenarnya barulah dokter mengizinkan.
Tubuh Nadya tampak bergetar saat memasuki ruang perawatan, dia perlahan mulai melihat sosok lelaki yang sangat dirindukannya terbaring lemah dengan banyak alat medis ditubuhnya yang kurus.
Ait mata Nadya sudah tak bisa dibendung, para tim medispun ikut Menagis melihat pertemuan haru itu.
"Mas!" Sapa Nadya dengan suara yang bergetar.
Hanya sepatah kata itu yang meluncur dari mulut Nadya.
Namun reaksi dari tubuh Bram sangat diluar dugaan, detak jantungnya kembali terpompa dengan cepat dan itu membuat para tim medis bersyukur atas mukjizat yang telah Allah berikan hanya melalui sebuah panggilan.
Air mata mengalir dari sudut mata Bram yang terpejam, entah apa yang dia alami saat ini, namun tubuhnya bereaksi sangat baik.
"Alhamdulillah masa kritis pasien baru saja lewat," ucap dokter.
Semua mengucapkan syukur terlebih Fatim, hatinya sangat hancur melihat lelaki kurus dengan sedikit uban yang telah memutih dikepalanya, terbaring tak berdaya di bed rumah sakit. Ingin rasanya ia memeluk lelaki itu dan berharap lelaki itu segera membuka matanya.
Bagaimana keadaan Bram, selamatkah dirinya nantikan di next episode ya....
Bersambung.....
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Nyanyian Takdir Aisyah.
dan karya apik author yang lain :
* Fit Fithree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
* Almaira My Secret Wife
My Love My Babysitter
* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu
Kembar Tidak Identik
Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
My Heart Is Only For You
Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Sudrun
Penjelah Malam
Samudra
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
__ADS_1
*Sisca Nasty
Mafia In Love