Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
PESAN ABAS


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹


Selamat Membaca!


Keesokan Hari ....


Keadaan Fatim sudah membaik, ia meminta Nadya untuk menemaninya jalann pagi. Badannya terasa pegal semua, makanya ia ingin merilekskan otot-ototnya yang terasa kaku.


Namun ia harus menahan keinginannya karena Nadya menolak untuk membawanya jalan santai. Tetapi bukan Fatim namanya jika ia akan menyerah begitu saja.


"Ma, ayolah! Aku udah sehat kok. Semalaman aku tiduran pegel semua jadinya. Lagian besok udah bagi rapot juga pasti banyak di rumah, please deh, boleh ya?" Fatim memasang wajah imutnya yang membuat hati Nadya meleleh.


*Hmmm hampir saja aku tergoda, dasar anak pintar, batin Nadya.*


"No dan tetap no." Nadya meninggalkan putrinya. Namun belum lima menit ia segera kembali karena tiba-tiba saja ia teringat akan satu hal yang pas untuk menekan putrinya.


Klek!


Pintu kamar Fatim kembali terbuka dan alangkah kagetnya Nadya saat melihat putrinya sudah mau turun lewat jendela.


"Eh-eh, wait Fatim! Kamu ya, anak gadis manjat jendela, sini balik nggak!" Nadya berjalan mendekati balkon kamar putrinya.


"He ... he ... iya Ma, maaf!" Fatim menurunkan kakinya kembali ke lantai dan berjalan mendekati sang mama.


"Udah mau dinikahkan tapi tingkahnya masih kayak anak SD saja," ucap Nadya sambil menjewer kuping putrinya.


"Aw ... aw ... sakit, Ma!" teriak Fatim sambil menggosok telinganya.


"Habisnya mama nggak mau di ajak jalan pagi." Fatim memancungkan bibirnya sebagai tanda protes pada Nadya.


"Oke mama akan temani kamu, tapi ada syaratnya." Nadya tampak tersenyum penuh arti.


"Pake syarat segala, kayak mau lamaran cpns aja," rutuk Fatim kesal. Meski begitu ia tetap penasaran akan syarat yang diajukan mamanya." Syaratnya apa,?" tanya Fatim lagi.


"Hmmm cukup mudah, untuk acara tunangan sekaligus pernikahanmu kita majukan jadi dua hari lagi. Bagaimana sayang?" Nadya tersenyum manis pada putrinya.


"Ihh, Mama! Itu bukan syarat tapi pemaksaan namanya, ogah ah. Masa Fatim baru naik kelas dua juga udah mau dinikahkan. Mama! Itu namanya pernikahan dini." Fatim memasang wajah juteknya.


"Lah kok jadi pernikahan dini sih, wong mbak Dininya aja belum mau nikah. Ya pernikahan Fatim lah masa pernikahan Dini." Nadya membalas ucapan putrinya dengan guyonan yang langsung di sambut teriakan kesal putrinya.


"Mamaaaaaaa!"


Nadya langsung ngacir menuju ruang keluarganya, ia tahu Fatim pasti mengejarnya. Hal semacam ini pasti akan sangat dirindukannya nanti saat putrinya itu benar-benar sudah menikah dan tinggal satu rumah dengan suaminya.


Pasangan ibu dan anak itu lebih mirip Tom and Jerry sekarang. Main kejar-kejaran di sekeliling rumah dan halaman belakang.

__ADS_1


"Cukup Sayang! Mama capek, kita istirahat ya." Nadya duduk di kursi taman belakang rumah mereka.


"Iya Ma, Fatim juga capek." Fatim ikut mendudukan tubuhnya bersandar pada punggung sang ibu.


"Jadi kamu setuju?"


Belum Fatim menjawab seseorang telah menjawab peetanyaan Nadya.


"Oke gue setuju!" Yati berjalan mendekat.


"Ihhh loe apaan sih, Oneng. Orang baru datang juga udah main setuju aja.


"Frenkuuuu, ternyata rumahmu seperti istana, you are a sultin, tajirrrrrr melintir. Tapi kok gaya loe di sekolah nggak mirip anak sultin sih?" Yati berputar- putar melihat takjub bangunan megah yang ada disekelilinya.


"Kok sultin sih orang-orang kan biasa bilangnya sultan bukan sultin?" Fatim tampak bingung sementara Nadya sudah menahan tawanya, untuk sesaat hal pernikah dini teralihkan dengan kedatangan Yati.


"Bener kali gue bilang sultin, 'kan loe itu perempuan bukan laki-laki? Nah kalau sultan itu untuk laki-laki, paham kagak loe?" Yati tersenyum melirik sahabatnya.


"Kagak," jawab Fatim asal yang membuat sahabatnya itu tersenyum sendiri.


"Bodo' loe mau paham atau kagak itu terserah loe, tenyata sejak mau dijodohkan loe berubah jadi Oneng kayak gue." Yati tertawa lepas bersama Nadya, sementara Fatim sudah menatapnya dengan pandangan setajam silet.


"Sorry ya gue bukan Oneng karena gue nggak mau jadi istri ketiganya Bajuri." Fatim mencubit kedua pipi Yati dengan gemes.


"Aw ... aw ... sakit, Fren!" Yati menggosok pipinya.


"Loe jangan ngomong kuat-kuat dong, gue malu sama mama loe," bisik Yati pada sahabatnya.


"Eh masih punya urat malu rupanya, kira in udah putus," ucap Fatim akhirnya.


"Sayang! Ajak Yati masuk gih atau masih mau ngobrol disini?" Nadya melihat pada dua gadis cantik yang ada dihadapannya.


"Kita disini aja deh, Ma." Fatim tersenyum pada Nadya.


"Oke, mama tinggal dulu ya. Masih ada urusan kantor yang harus mama selesaikan." Nadya meninggalkan keduanya yang sudah mulai asyik bercerita.


Sepeninggalan Nadya keduanya pindah ke taman belakang rumah karena di sana lebih teduh dan asyik, bisa duduk atau tiduran sambil menatap kolam ikan dan air mancur.


Tak terasa karena asyik mengobrol hari sudah siang, setelah makan siang bersama dan salat zuhur. Kini Yati mohon pamit karena sebentar lagi akan pergi kerja ke My Cafe. Dan tentu saja Fatimpun mendapatkan ide untuk keluar rumah.


"Fren, gue pamit ya!" Yati beranjak dari duduknya.


"Gue antar ya?" pinta Fatim.


"Nggak usah, gue udah minta kak Wawan untuk jemput." Yati terihat tenang dan santai sampai sesuatu terjadi padanya.

__ADS_1


Bukk!


Fatim menimpuk Yati menggunakan bantal.


"Aduhhh kenapa lagi sih?" Yati menggambil bantalnya dan balas menimpuk Fatim.


"Loe telepon kak Wawan bilang kalau gue yang antar, cepet." Fatim terlihat mengancam melalui tatapannya yang horor.


"Tapi ...."


"Loe mau gue pecat?" Fatim melirik sahabatnya itu.


"Sadis!" Yati mengambil ponselnya dan menelpon kekasihnya.


"Bagaimana?" tanya Fatim lagi.


"Oke!" jawab Yati singkat.


"Sip, kita berangkat!" ajak Yati pada sahabatnya.


Mereka berdua pun turun untuk meminta izin pada Nadya yang dengan berat hati terpaksa memberikan izin karena kasihan Yati tidak ada yang mengantar.


Dengan segera keduanya segera meninggalkan rumah Fatim dan meluncur menuju ke My Cafe. Fatim sengaja menyibukkan diri agar bisa melupakan permintaan sang mama agar dirinya segera bertunangan dan menikah.


Sedang sibuk melayani para tamu tiba-tiba ponsel Fatim berdering secara terus menerus yang membuat Wawan risih sehingga ia memberanikan diri untuk mengangkat telepon itu, namun karena menurutnya itu hal penting buat Fatim maka ia merekamnya.


Saat Fatim sudah santai barulah ia mendekati bos sekalian adik amgkatnya itu.


"Tim ... tadi ada telepon tapi karena terus saja berbunyi aku berpikiran kalau itu pasti telepon penting jadi maaf kakak mengangkatnya. Nih kakak sudah merekamnya untukmu." Wawan menyodorkan ponsel Fatim dan menyetel hasil rekamannya.


"Assalamu'alaikum, Dek! Ini kak Pop, maaf jika ini mungkin terakhir kali kakak bisa bicara denganmu karena ... karena lusa kakak sudah akan menikah, maafkan kakak karena datang terlambat kemarin tapi ketahuilah kakak datang waktu kita kecil dulu juga kakak datang namun kita tidak bertemu juga. Percayalah kakak akan menyimpan semua kenangan indah kita dalam relung hati kakak. Meski kita mungkin tak bisa saling memiliki setidaknya kita masih bisa saling mendo'akan. Semoga kamu bisa bahagia dengan pendamping hidupmu kelak. Assalamu'alaikum."


Air mata Fatim seketika berderai, Wawan yang sudah mengetahui rekaman itu segera menghampirinya.


"Nih!" Wawan menyodorkan tisue untuk Fatim.


"Kamu yang sabar dan ikhlas, kamu juga harus yakin jika dia memang benar jodohmu maka tidak ada yang tidak mungkin, pasrahkan semuanya pada yang mengetahui yaitu Allah, SWT." Wawan berusaha untuk menguatkan Fatim.


Bersambung ....


Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula sudah setia membaca novel remahanku juga untuk Tap jempol serta komennya!


Maaf ya cuma bisa Up segini besok inshaa Allah aku up lagi. mataku udah nggak kuat ngantuk berat.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah ya dibawah ini:

__ADS_1



__ADS_2