
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
*****
Rumah Sakit ....
"Tan, kami permisi ya. Titip salam buat Fatim." Kelimanya segera menjauh dari Nadya yang sudah tersenyum melihat perubahan wajah kelima bocah ingusan itu.
"Kalian akan tunggu waktunya, aku akan membongkar semua apa yang telah kalian lakukan pada putriku. Tidak hanya kalian, semua keluargamu akan ikut merasakan akibat perbuatan yang kalian lakukan," gumam Nadya.
Kelima gadis itu segera pergi. Tentu saja dengan membawa rasa kecewa dan perasaan gundah terutama Gladis. Ia menjadi sedikit ciut untuk meneruskan misinya yang sudah beberapa kali gagal.
*****
Setelah jauh meninggalkan Nadya, kelima gadis itu sampai di parkiran rumah sakit.
"Dis!" sapa Riska sambil merapikan rambut sebahunya yang sedikit ikal.
"Kenapa, Ka?" tanya Gladis sambil merogoh kunci mobil di dalam tas brandetnya.
"Gue sedikit ngeri dengan ibunya si Curut, masa dia pake acara nyindir kita gitu? Ucap Riska sembari melirik keempat temannya seolah mencari pembenaran atas pernyataannya.
"Iya, gue juga nggak nyangka kalau ibu itu ternyata nyokapnya Si Curut yang sok belagu itu," jawab Gladis sambil membuka pintu mobilnya.
"Udah ah, nggak usah di bahas juga. Nggak penting banget. Mending sekarang kita happy-happy aja, yuk!" ujar Sinta salah satu Gladis CS.
Kelima gadis itu segera mencari Cafe untuk bersenang-senang dengan uang sumbangan teman-teman sekelasnya.
*****
Sementara itu Momon sudah datang kerumah sakit. Ia segera menghubungi Nadya namun ponselnya tidak di angkat. Hal ini tentu saja membuat seorang Momon khawatir.
Dengan cepat Momon berlari hingga tanpa sadar ia menabrak seorang wanita. Seketika keduanya hampir terjatuh. Namun Momon dengan sigap segera menangkap tubuh sang gadis, posisi mereka layaknya drama korea, jatuh saling berpelukan, kedua mata saling berpandangan dan Momon memeluk pinggang sang gadis dengan erat. Khayalan Momon sudah terbang kelangit biru.
*Mata indah bola pimpong, suruh siap kamu cantik yang membuat aku tertarik, nyanyian hati Momon.*
Momon yang sudah senyam senyum dalam lamunannya segera tersadar saat seseorang menpuk pundaknya.
"Mas ... mas ... lepasin emak gue, dia buta nggak bisa lihat. Makasih ya udah nolongin emak gue." Seorang remaja laki-laki tersenyum kearah Momon.
Dengan cepat Momon menarik tubuh wanita yang dikiranya seorang gadis dan mendirikannya kembali.
"Terimakasih, Mas," ucap wanita itu sambil meraba tangan Momon hendak menyalaminya.
"Iya, Bu. Sama-sama," jawab Momon dengan senyum hambar.
"Baik, Mas. Kami permisi," ucap remaja laki-laki yang tadi mengatakan kalau itu Ibunya.
Keduanya segera meninggalkan Momon yang terbenggong seorang diri.
"Apes bener diri gue. Baru aja menghayal, gue akan dapat pacar gara-gara tabrakan dengan gadis cantik, tahu-tahunya udah emak-emak. Mana pake acara nggak ngeliat lagi tuh mata pantesan aja gue senyumin dari tadi nggak di bales." rutuk Momon pada dirinya sendiri.
"Oh, Tuhan. Kapan gue bisa lepas jadi jones," ucap Momon layaknya orang sedang berdo'a.
Dengan hati yang kesal, Momon kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamar Fatim. Ia kembali menghkawatirkan bu Nadya yang ponselnya tidak bisa dihubungu.
Tok ... tok ... tok ...
Momon mengetuk pintu, namun sepi tidak ada jawaban. Perasaan Momon menjadi tidak enak. Dengan segera ia memdobrak pintu.
Brakkkk
"Aaaaaaaaa ...." teriak Yati sekuat tenaganya, dengan cepat ia melempar Momon dengan rantang kosong yang sedang dipegangnya.
Plengggg
Suara rantang tepat menghantap jidat Momon yang langsung meringis menahan ciuman rantang yang dahsyat.
"Aduhhhhh, stop. Siapa sih yang lempar gue pake rantang?" teriak Momon. Seketika jidatnya merah dan bentol.
Fatim dan Nadya yang baru keluar dari kamar mandi segera tertawa melihat kejadian yang sangat langka. Seorang Momon sang bodyguard ternama jidatnya bisa bentol di cium oleh rantang.
__ADS_1
"Kenapa, Mon?" tanya Nadya di sela tawanya.
"Nih jidat gue ketimpuk rantang." Momon mengusap jidatnya yang mulai bentol.
"Lagian siapa sih yang nimpuk gue?" tanya Momon menyisir seluruh ruangan. Dan tentu saja pandangannya tertuju pada seseorang yang sedang bersembunyi dibelakang lemari pakaian Fatim selama di rumah sakit.
"Siapa loe? Keluar!" bentak Momon.
Dengan gemetar Yati keluar dari persembunyiannya.
"Maaf, tadi gue kira orang mau maling." Yati menunduk takut.
"Kamu ya ...." Momon menggaruk kepalanya yang tiba-tiba berasa gatal.
"Maaf, abisnya om cuma ngetuk pintu doang, nggak ngucapain salam. Kira in orang jahat lah, wong kita lagi sembunyi tadi karena ada Mak Lampir," ucap Yati membela diri.
"Udah salah, masih aja ngeles." Momon kesal pada Yati. Bagaimana tidak kesal, hari ini nasibnya benar-benar apes. Tadi tabrakan dengan wanita buta, sekarang malah di cium oleh panci, mending yang nyium gadis beneran nggak akan merasa dirugikan.
"Sudah-sudah, sini duduk." ajak Nadya pada Momon. Dia bermaksud mengobati kepala Momon yang benjol. Namun Momon menolaknya dengan halus.
"Nggak usah, Bu. Nanti saya bisa sendiri. Lagian masak bos yang ngobatin anak buahnya," jawab Momon.
Sedangkan Yati yang merasa bersalah sesekali melirik kearah Momon yang masih mengusap usap keningnya yang benjol.
Momon sudah duduk di kursi plastik yang ada di samping tempat tidur Fatim, ia tidak mau duduk di dekat Nadya karena merasa sungkan.
"Jadi maksud ibu meminta saya datang ke mari, apa ya?" tanya Momon sambil menerima kompres dingin yang diberikan Nadya.
"Saya ingin kamu yang mengantarkan Fatim pulang kerumah, karena saya masih ada jamuan makan malam bersama klien," ucap Nadya sambil merapikan tas yang akan di bawa pulang.
Mendengar ucapan Nadya tentu saja membuat Fatim terkejut, pasalnya Nadya belum mengatakan kalau dia boleh pulang sekarang.
"Mama serius?!" tanya Fatim merasa tak percaya.
"Iya, Sayang. Kita pulang sekarang." Nadya tersenyum menatap putrinya.
"Alhamdulillah. Terimakasih yaa Allah, akhirnya gue bisa pulang." Fatim segera memeluk sahabatnya itu, karena ia tidak bisa menyembunyikna rasa bahagianya.
"Fren, lepas dong. Gue masih normal," ucap Yati berbisik.
Dengan cepat Fatim melepaskan pelukannya." Loe pikir gue lesabian? Gue juga masih normal kaleee. Gue peluk loe karena gue bahagia, tapi karena loe nggak mau ya udah, gue peluk guling aja." Dengan cepat Fatim memeluk guling kesayangannya.
"Maaf, sini peluk gue lagi." Yati merentangkan tangannya.
Namun hanya di jawab dengan cibiran bibir oleh Fatim, yang membuat Nadya dan Momon tertawa melihat ulah keduanya.
Dari balik jendela ada seseorang yang merasa sedih karena Fatim akan pulang. Namun dengan melihat senyum bahagia Fatim bisa mematahkan kesedihan yang dia rasakan. Setelah puas menyaksikan kegembiraan Fatim, ia segera berlalu untuk kembali bertugas.
*****
"Semua sudah siap?" tanya Nadya pada putrinya.
"Iya, Ma semua siap." Fatim tersenyum gembira.
"Bagaimana Yati? Kamu mau ikut pulang kerumah Fatim atau langsung pulang kerumah mu ?" tanya Nadya.
"Maaf Tan, aku langsung pulang aja kek nya soalnya tadi Mama telepon untuk minta dibelikan mie ayam, tapi ...." Yati menggantungkan ucapnya.
"Tapi apa, Fren?" tanya Fatim.
"Gue nggak bawa dompet, karena tadi buru-buru datang kerumah sakit." Yati memunduk malu.
"Ooalah nih anak, nggak usah sungkan lagi. Tuh om Momon banyak duitnya," seloroh Fatim.
"Nggak mau gue, tadi aja loe timpuk pake rantang," canda Momon yang yang membuat Yati meringis menahan perasaan nggak enak hatinya.
"Udah, nanti biar tante ynag bayar." Nadya segera memesan gofood untuk membeli pesanan orang tua Yati.
"Makasih ya, Tan." Fatim ikut tersenyum.
Kini mereka bersiap untuk pulang kerumah masing-masing.
__ADS_1
*****
Katakanlah sesuatu itu dengan kejujuran meski pun akan terasa pahit, namun akhirnya rasa manis dan bahagialah yang akan engkau dapatkan. Dimanapun, kapan pun, utamakanlah kejujuran. Tak terlihat namun sangat besar manfaatnya buat diri sendiri dan orang lain.
🌹Bersambung.....🌹
Terimakasih sudah membaca.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*Laura V
Sang Pengoda
*Bintun Arief
Keteguhan Hati
*Novi Wu
Bos Come Here Please!
*Ricky Wijaksono
Api Dibumi Majapahit
*Samar
Cinta Di antara Dendam
* Sylala Yaya
Istri kedua tuan Krisna
* Cherin Kauma
l Love My Army Wife
*Oktavia Tresiani
Pacarku Hantu
__ADS_1