Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
CBDM2 Part 17


__ADS_3

Akhhh!


Teriak seseorang yang tangannya diremas oleh seorang dengan perawakan sedikit sangar, ia mengenakan jaket hitam.


"Ampun Om, ampun!"


"Berani sekali kalian menggoda nona penyelamatku, minta maaflah padanya sebelum aku mematahkan tanganmu ini."


Mata lelaki itu menatap tajam pada para preman yang tadinya menggoda Fatim. Begitu juga dengan gadis itu ia juga sama herannya dengan para preman tadi.


"Ma ... maafkan kami, Neng shalihah. Kami hanya iseng saja tadi."


"Makanya lain kali jangan pernah iseng pada siapa pun. Sekarang pergi kalian! Kalau tidak aku akan mematahkan kaki kalian." Hardik lelaki itu dengan sedikit kasar yang membuat para prema itu kabur tunggang langgang.


Saat itulah Abas muncul dan menatap heran, kenapa ada segerombolan preman urakan yang lari kocar kacir. Ia segera berjalan lebih cepat untuk menghampiri istrinya.


Ia kembali terkejut saat melihat istrinya sedang bersama seseorang yang terlihat lebih sanggar dari para preman tadi.


"Kamu siapa?" Lelaki bertubuh kekar menatap Abas tajam.


"Maaf seharusnya saya yang bertanya, Anda siapa? Tapi baiklah, perkenalkan saya, Abas, saya su-."


Abas tidak bisa melanjutkan ucapannya karena mulutnya sudah ditutupi oleh Fatim dengan tangannya.


"Dia sudara eh saudara gue, begitu maksudnya. Om ini siapa?" Fatim menarik Abas ke sampingnya.


"Apa Dek Fatim tidak ingat lagi? Aku seseorang yang dulu mencoba untuk menjahati kamu, aku menyamar jadi tukang ojek gadungan waktu itu. Apa sekarang sudah ingat?"


Lelaki itu mencoba untuk tersenyum dan membuka topinya agar gadis manis itu bisa melihat wajahnya dengan jelas.


"Ah iya, gue ingat," seru Fatim senang.


"Dek, ingat jaga bahasamu, bapak ini bukan anak muda seumuran kita, jangan pakai bahasa loe gue," bisik suaminya lembut yang membuat rona gembira itu berubah sedikit asam.


"Iya deh, gue eh aku ulangi," ucapnyan pelan.


"Ah iya saya ingat sekarang, Pak ... pak ...." Fatim tampak memikirkan sebuah nama.


"Beno." Lelaki itu mengulurkan tangan pada Fatim, gadis itu terlihat ragu.

__ADS_1


Ia melihat ke arah suaminya, seolah untuk meminta izin pada suaminya. Lelaki itu mengangguk pelan. Setelah mendapat restu suaminya barulah ia menyambut uluran tangan pak Beno.


"Bagaimana kabarnya, Pak?"


"Alhamdulillah saya sehat, Neng. Setelah keluar dari penjara waktu itu, saya pulang dengan perasaan yang campur aduk namun, saat sampai di rumah saya benar-benar terkejut." Lelaki itu menghela napas perlahan sebelum melanjutkan ceritanya.


"Pak, sebaiknya kita cari tempat yang nyaman dulu ya, biar lebih santai mengobrolnya." Abas mencoba untuk beramah tamah.


"Baiklah," jawab pak Beno singkat.


Ketiganya berjalan beriringan, mereka menuju tempat Nadya dirawat. Tepat di depan pintu kamar ruangan Flamboyan, Fatim dan Abaa berhenti.


"Pak Ben, tunggu dulu sebentar ya, di sini. Aku dan Kak Abas mau jengguk ibu untuk memastikan keadaannya."


Lelaki itu mengangguk, ia duduk di sebuah kursi tunggu dengan satu botol air mineral di tangannya.


Apa sakit ibunya Neng Fatim parah ya? Apa aku bisa membantunya, sungguh jasa gadis itu tidak akan bisa aku bayar lunas meskipun dengan nyawaku sendiri.


Beno duduk dengan menyilangkan salah satu kakinya, sesekali ia meneguk air mineral yang sedari tadi dipegangnya. Ia masih dengan sabar menunggu gadis yang membuat hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat.


Klek!


"Maaf ya, Pak! Jadi lama ya nunggunya." Gadis hidung bangir itu menghampiri Beno lalu duduk di sebelahnya yang diiringi oleh Abas, suaminya.


"Enggak apa-apa, Neng, santai aja. Bagaimana keadaan ibunya, Neng? Apa beliau sudah sehat?" Beno menatap serius wajah gadis muda di depannya.


"Alhamdulillah, beliau sudah mendingan habis tranfusi tadi siang." Fatim tersenyum.


"Syukurlah."


Untuk sesaat suasan menjadi sedikit hening sampai akhirnya Beno meminta izin untuk melanjutkan kisahnya yang tadi terpenggal.


Lelaki itu menceritakan bahwa selama di dalam penjara ia banyak memperoleh pengalaman berharga, dia juga diberikan bekal yang dapat ia gunakan saat dirinya bebas, seperti saat ini tentunya.


Dia tidak pernah membayangkan jika gadis kecil seperti Fatim akan menepati janjinya dengan menafkahi anak dan istrinya saat beliau belum ada di rumah.


Saat keluar dari penjara tadinya ia berpikir kalau anak istrinya pasti sudah menjadi gembel jalanan ternyata dugaannya salah. Sebuah warung sederhana yang menjual aneka penganan sehari-hari berdiri tepat di depan rumahnya. Cukup ramai orang yang mampir di warung itu, ketika ia hendak memesan makanan ternyata itu adalah istrinya sendiri.


Pertemuan keduanya diselipi dengan rasa haru dan bahagia, kemudian istrinya menceritakan tentang Fatim dan semua yang telah dilakukannya. Mulai memberi modal usaha sampai nafkah bulanan yang sampai detik ini masih rutin ia kirimi melalui sebuah rekening atas nama istrinya.

__ADS_1


"Jadi maksud kedatangan saya ke sini adalah ingin mengucapakan ribuan terima kasih pada Neng Fatim, dan izinkan kami mengembalikan modal itu sekarang, dan untuk nafkah bulanan juga tidak usah dikirimi lagi."


Beno mengeluarkan satu amplop coklat yang cukup tebal. Kemudian ia meletakkannya di kursi depan gadis itu dan suaminya.


"Saya mohon diterima, Neng."


Gadis itu tersenyum sedangkan suaminya hanya diam, ia tidak ingin mencampuri urusan pribadi istrinya di masa lalu.


"Baiklah saya terima pemberian Bapak tetapi ...." Gadis itu diam sejenak kemudian melanjutkan ucapannya.


"Tetapi saya titip ini untuk anak dan istri Bapak, terus sisanya bisa kalian gunakan untuk mengembangan usaha yang telah ada supaya semakin berkembang, jika masih bersisa tolong gunakan untuk membantu orang lain yang mungkin keadaannya masih kurang beruntung." Gadis manis itu menyerahkan kembali amplop coklat yang tadi Beno sodorkan.


Ya Rabb, betapa beruntungnya aku bisa mendapatkan bidadari syurga yang nyata adanya di dunia ini.


Abas tersenyum haru sambil menatap mesra istrinya. Sementara itu Beno telah berkaca-kaca, ia tak pernah menyangka gadis belia ini begitu mulia.


"Jadi apa yang bisa saya lakukan untuk membalas semua kebaikan, Neng Fatim?" ucap Beno dengan nada penuh harap.


"Bapak serius?" Gadis manis itu menatap Beno dengan mata berbinar.


Lelaki itu mengangguk sebagai tanda ia serius dengan ucapannya.


"Baiklah, saya ingin Bapak mendoakan Mama saya agar segera sehat dan selalu sehat."


"Hanya itu?" Beno merasa tak percaya.


"Ya, hanya itu tetapi sebenarnya itu bukan hanya melainkan sesuatu yang melebihi segalanya buat saya." Fatim tersenyum.


Lelaki itu pun tersenyum, ia memohon diri untuk segera menuju mushala. Abas juga berniat untuk menemani Beno. Sebelum pergi pemuda tampan itu memegang tangan istrinya dan menciumnya lembut.


"Terima kasih sudah hadir di dunia ini, terima kasih sudah menjadi istriku, kau tahu betapa beruntungnya aku, teruslah menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain, karena sesungguhnya sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain." Lelaki itu tersenyum manis sebelum meninggalkan istrinya menuju mushala.


Note:


Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (H.R. Bukhari).


Semoga kita juga bisa memberikan manfaat untuk orang lain, aamiin Allahumma aamiin. Terima kasih sudah membaca semoga kalian semua selalu sehat dan dalam lindungan-Nya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2