Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
HADIAH TAK TERNILAI


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹


Selamat Membaca!


Kediaman Yati ....


"Kejutan buat non Fatim bagaimana?" Momon menoleh pada Nadya.


"Semua sudah siap di rumah, biarkan dia merasakan kemenangan atas perjuangannya." Nadya tersenyum menatap putrinya.


*Andai loe itu putri gue, Fatim. Pasti gue akan bangga banget tapi sayang itu hanya akan terjadi dalam khayalan gue, batin Momon sambil menjalankan mobilnya menjauhi kediaman Yati.*


Mobil yang ditumpangi Nadya mulai melaju menuju ke kediamannya, ia sengaja membiarkan Fatim untuk menemukan pemecahan atas Masalahnya sendiri dan itu berhasil.


Fatim dan Yati saling berjanji untuk selalu bersama dalam suka dan duka. Setelah puas bermain hujan-hujanan keduanya masuk kerumah dan membersihkan diri.


"Loe mau pakai baju gue?" Yati tersenyum menatap sahabatnya yang sangat dia sayangi dengan sepenuh hatinya.


"Boleh tapi pilih yang gedean dikit ya, jangan kayak tempo hari baju loe sobek gara-gara gue jatuh." Fatim mengingat kejadian lucu yang penuh kenangan bersama Abas kala itu.


"Oke!" Yati segera membuka lemarinya, setelah mencari namun ia tak menemukan pakaian stelan yang pas buat Fatim. Ia merasa tak ada yang cocok buat temannya yang bertubuh seksi itu pasalnya badan Yati lebih kurus dan lebih pendek dari sahabatnya itu.


"Kenapa?" Fatim tersenyum manatap sahabatnya.


"Kayaknya nggak ada yang pas buat loe," ucap Yati sambil nyenggir kuda.


Tiba-tiba ibunya Yati masuk ke kamar dengan satu stel daster motif bunga-bunga hitam dengan dasar kain berwarna hijau daun.


"Nih, kamu pakai ini aja Fatim!" Ibu Yati memberikan baju daster itu pada Fatim.


Dengan sedikit canggung Fatim menerima pemberian ibunya Yati, yang diiringi senyum tertahan dari Yati.


"Bu kok Fatim di kasih daster sih, kayak emak-emak aja," protes Yati pada ibunya.


"Nggak apa-apa dong, kan kalian juga calon emak-emak nantinya." Ibunya Yati tersenyum menggoda kedua gadis yang saling pandang.


Fatim menerima daster pemberian ibu Yati. Dengan ragu ia mulai memakainya. Dia menatap dirinya dalam balutan daster.


"Loe cantik juga pakai daster, nggak kayak emak-emak kok," ucap Yati jujur.


"Tapi rasanya aneh-aneh gimana gitu." Fatim merasa lucu. karena ini baru pertama kali ia memakai daster.

__ADS_1


"Apa loe "PD" pulang pakai daster begitu?" tanya Yati penasaran.


"Why not? Siapa takut yang penting gue pakai baju dan menutup aurat gue," jawab Fatim sekenanya yang membuat Yati semakin menyayanginya.


"Oke, ini dah menjelang sore, gue telepon kak Wawan dulu untuk mengabarkan kalau kita tidak ke My Cafe." Fatim merogoh ponselnya yang tersimpan dalam tas sekolahnya.


Yati hanya mengangguk dan tersenyum. Ia tak pernah menyangka kalau sahabatnya ternyata owener My Cafe yang sangat laris. Ia bekerja layaknya pegawai biasa. Dan saat ini hanya Yati dan Wawan yang tahu jati diri Fatim yang sebenarnya.


"Oke semua sudah beres, sekarang gue cabut ya," ucap Fatim sambil memakai kaos kakinya.


"Singkong kali main cabut aja," ucap Yati mencandai Fatim.


"Ha ... ha ...." Keduanya tertawa lepas.


Fatimpun pamit, ia minta di jemput oleh pak Amat, sopir keluarganya. Sambil menunggu jemputan keduanya duduk di depan teras rumah Yati.


"Jadi kapan loe main ke rumah gue?" tanya Fatim mencairkan susana yang beku seperti es dalam prizer.


"Nanti kalau gue sudah siap," jawab Yati sambil memainkan ujung rambutnya.


"Oke, kita ketemu besok ya di sekolah. Ingat belajar yang giat senin kita sudah ulangan kenaikan kelas." Fatim menepuk lembut tangan sahabatnya.


Mobil pak Amat sudah terparkir di depan rumah Yati. Fatim pun segera pamit pada sahabtnya dan juga kedua orang tuanya.


"Kenapa, Pak?" tanya Fatim heran melihat pak Amat yang menatapnya lain dari biasanya.


"Eh nggak apa-apa," jawab pak Amat tersendat merasa ia tertangkap basah menatap nona mudanya dengan aneh.


Merasa sadar dengan keadaanya Fatim segera memperbaiki suasana canggung diantara keduanya.


"Bapak heran lihat Fatim pakai daster?" tanya Fatim sambil menunjuk ke baju yang ia kenakan saat ini.


"Hmm iya sih," jawab pak Amat jujur.


"Ini baju ibunya Yati. tadinya mau pinjem bajunya Yati tapi nggak ada yang muat kesempitan semua tahu sendiri Yati jungkring begitu, jadi deh Fatim pakai baju daster emaknya Yati." Fatim tersenyum mengingat kejadian saat pertama ia memakai daster di rumah Yati.


"Oh gitu," jawab pak Amat singkat.


Mobil yang dikendarai oleh pak Amat tiba-tiba berhenti.


"Loh, kok berhenti?" tanya Fatim bingung.

__ADS_1


"Ya iyalah kita berhenti, kan kita udah sampai." Pak Amat menurunkan kaca mobil agar Fatim bisa melihat sekelikingnya.


"Eh udah sampai ya, kok nggak berasa gitu." Fatim menertawakan kehebohannya.


"Oke aku turun ya, Pak!" Fatim membuka pintu mobil dan segera turun. Sedangkan pak Amat lanjut memarkirkan mobilnya ke garasi.


Fatim melangkah memasuki pintu utama karena pak Amat menurunkannya di pintu utama, biasanya ia masuk lewat pintu samping.


"Assalamu'alaikum," ucap Fatim sambil membuka handle pintu yang disambut teriakan riuh oleh anak-anak bawah jembatan dengan riuh.


"Supriseeeee!"


Fatim tersenyum bahagia melihat adik-adik asuhnya berkumpul dirumahnya.


"Kenapa kalian ada di sini?" Fatim memeluk mereka satu persatu.


"Kami ingin kakak tutup mata," ucap salah satu anak yang berkepang dua, mirip kunciran Fatim semasih di sekolah menengah.


Fatim hanya bisa pasrah saat adik-adik itu menutup matanya dengan kain, mereka membawa Fatim menuju tempat parkir.


"Oke, Kak. Sekarang kita sampai, buka matanya," ucap anak yang berkepang dua tadi pada Fatim.


Dengan perlahan Fatim membuka matanya dan ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya, sebuah motor sport warna merah sama persis seperti miliknya yang lama, yang dihancurkan orang-orang suruhan sahabatnya dulu.


"Mama, motor ini?" tanya Fatim dengan perasaan haru.


"Iya sayang. Itu untukmu dan asal kamu tahu kalau motor ini bukan mama yang beli," ucap Nadya sambil berjalan mendekati putrinya.


"Maksud Mama?" tanya Fatim penasaran.


"Motor itu hasil patungan adek-adek bawah jembatan, adek panti, dan juga Kak Jef bersama teman-temannya juga sedikit sumbangan dari calon mertuamu." terang Nadya yang membuat senyum manis Fatim sedikit memudar.


Seketika pikirannya melayang pada Abas, ada segores luka tertoreh di relung hatinya. Dalam benaknya ia masih berharap agar Yang Maha Kuasa mempersatukan mereka kelak suatu hari.


"Yaa Allah, aku sungguh terharu. Terimakasih semuanya atas hadiah yang tak ternilai ini." Fatim bersuka cita menerima sebuah kunci yang berhiaskan inisial namanya huruf "FA" yang berarti Fatimah Ananbra, meskipun sebenarnya Nadya memesan inisial "FA" itu untuk Fatim Abas.


Bersambung ....


Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula sudah setia membaca novel remahanku juga untuk Tap jempol serta komennya!


Aku sengaja Up dua kali sebagai permintaan maaf dariku untuk kalian pembaca setiaku. Semoga suka ya, karena ini sudah mendekati akhir di sesi satu.

__ADS_1


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah ya dibawah ini:



__ADS_2