Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
MASIH DIRUMAH SAKIT


__ADS_3

🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. Selamat Membaca🌻


🌻Rumah Sakit 🌻


Fatim melihat kesetiaan dan ketelatenan ibunya dalam merawat Papanya, membuat Fatim tersenyum bahagia, ia membayangkan nanti kehidupannya akan sempurna dengan kehadiran sosok Papa dalam hidupnya. Sedari kecil ia mengiginkan sosok lelaki yang akan dia sapa setiap pagi dan sekarang Allah telah mengabulkannya.


"Terimakasih ya Allah untuk semua ini, ampunilah kami jika terkadang kami lalai untuk bersyukur padamu dalam keadaan sulit ataupun senang," ucap Fatim tersenyum.


Setelah selesai membersihkan tubuh Bram Nadya dengan telaten menyuapinya makan, dan Fatim segera masuk kedalam ruangan Bram.


"Klek." Membuka pintu dan masuk kedalam kamar.


Seketika wajah Bram dan Nadya menoleh kearah pintu. Kemudian Bram menatap Nadya dan menganggukkan kepalanya.


"Sayang ... kemarilah." Melambaikan tangannya dan menepuk tepi ranjang Bram.


Fatim tersenyum dan berjalan mendekati tempat tidur Bram. Setelah dekat Fatim segera meraih tangan Bram dan menciumnya.


"Aku Fatim Pa, putrimu," ucap Fatim dengan buliran bening yang menetes disudut matanya.


Dengan seketika wajah Bram menampakkan guratan senyum meski hanya sedikit, cukup menggambarkan kalau dirinya merasa bahagia bertemu Fatim. Perlahan Tangannya menyentuh wajah Fatim yang mulus. Fatim sangat terharu, selama ini ia hanya bisa berkhayal bisa dibelai seorang ayah, namun semua itu kini menjadi kenyataan yang sangat indah buat Fatim.


*Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah telah mempertemukan kami dalam indahnya kebersamaan, sehatkanlah papaku, agar kami bisa merasa lebih bahagia lagi, tuk mengganti kebersamaan kami yang hilang selama 16 tahun silam, batin Fatim.*


" Pa ... cepat pulih ya, nanti kita pulang kerumah, Mama masih menyimpan semua kenangan Papa dengan rapi disana, dan tidak ada yang berubah." Masih menggenggam tangan Bram.


Bram hanya bisa mengangguk dan tersenyum, tanda ia menyetujui permintaan puyrinya. Dan Nadya pun ikut tersenyum melihat kedekatan keduanya meski baru pertama kali mereka bersama dan bertemu sejak 16 tahun lalu.


Sedang asyik melepas rindu dokter segera datang untuk menyampaikan hasil Lap kesehatan Bram.


"Tok ... tok ....!"


"Pemisi."Sambil membuka pintu.


"Eh iya Dok silahkan masuk." Berdiri menghargai kedatangan dokter.


"Saya ingin menyampaikan hasil Lap tuan Bramantio."


"Bisa kita bicara diluar saja Dok?"


"Oh ya boleh." Mengikuti Nadya keluar.


Sedangkan Fatim menunggu Bram dengan memijit kakinya.


🌻Diluar Kamar Bram 🌻


"Jadi bagaimana hasil Labnya Dok?"


"Hasil Lap tuan Bram, menunjukkan kalau beliau terkena penyempitan pembuluh jantung yang sudah akut, dan paru - paru yang telah kempis satu serta terendam banyak cairan, dan tindakan untuk penyedotan cairannya harus segera kalau tidak beliau


bisa sesak atau drop tiba - tiba seperti kemarin," jelas dokter.


Nadya sangat shock mendengar hasil lap suaminya, ia sempat menunduk dan menutup mulutnya.


"Apa bisa kalau segera kami bawa pulang ke Jakarta Dok?"


"Bisa tetapi harus didampingi tim medis dari sini."


"Oke Dok, kalau begitu besok pagi - pagi kita berangkat Dok, kalau sekarang saya masih menunggu saudaranya yang ada disini juga."


"Oke Bu kalau kami ikut apa maunya pasien saja, besok akan kami kabari lagi jam keberangkatannya."


"Kalau bisa kita ambil penerbangan pagi Dok, saya akan menyiapkan pesawatnya."


"Maksud Ibu?"


"Saya akan boking pesawatnya hanya untuk kita saja, biar lebih nyaman."


"Baiklah Bu kalau begitu atur saja waktunya biar kami bisa menyiapkan keperluan yang kita butuhkan, kalau begitu saya permisi dulu."


"Terimakasih Dok."


"Sama - sama Bu." Berjalan meninggalkan Nadya.


Dengan cepat Nadya masuk kembali ke kamar untuk menemui suami dan anaknya.


"Klek." Membuka pintu dan masuk.


"Bagaimana Ma? Apa kata Dokter?" Tanya Fatim.


"Alhamdulillah kondisi Papamu mulai stabil, besok sudah bisa kita pindahkan ke Jakarta. Kita akan naik pesawat penerbangan pagi sehingga nanti akan mudah mengurus keperluan Papa di Jakarta," ucap Nadya menutupi semua kebenaran dari Fatim dan Bram, karena ia tak mau mereka bersedih.


"Alhamdulillah, Pa ... akhirnya besok kita bisa pulang." Memeluk Bram.


Saat sedang memeluk Bram tiba - tiba kondisinya kembali sesak.


"Ma ... Papa sesak," teriak Fatim.

__ADS_1


Dengan cepat Nadya menekan bel diatas bed Bram, dan tak butuh waktu lama tim medis segera datang untuk menagani Bram.


"Ya Allah selamatkanlah Papa Fatim," ucap Fatim terisak.


Nadyapun tak dapat berkata - kata, air matanya telah keluar hanya merengkuh tubuh Fatim untuk saling menguatkan .


Keluarga Pram pun sudah datang mereka pun tampak shock melihat kondisi Bram yang sedang ditangani oleh Dokter.


"Dek ... kamu yang sabar yo, semoga semua segera membaik," ucap istri Pram.


"Inshaa Allah Mbak Yu, terimakasih," balas Nadya.


Kedua anak Pram pun ikut keduanya perempuan, Desty lebih tua satu tahun dari Fatim dan Melly lebih muda satu tahun dari Fatim. Ketiganya memilih duduk di sofa yang ada didepan tempat tidur Bram.


Setelah ditangani hampir setengah jam akhirnya keadaan Bram kembali stabil.


"Maaf Bu Nadya, sepertinya kita tidak bisa menunggu besok," ucap dokter.


"Lakukanlah yang terbaik Dok untuk suami saya," ucap Nadya pasrah.


"Kita harus segera melakukan operasi kami khawatir kalau terjadi penyumbatan seratus persen pasien bisa plus tiba - tiba."


"Iya Dok, lakukanlah apa yang terbaik buat suami saya, saya ikhlas asalkan suami saya busa selamat," ucap Nadya dengan penuh keyakinan.


"Baik Bu, kami akan menyiapkan semuanya sekarang." Meninggalkan ruangan Bram.


Pram yang merasa khawatir segera menanyakan kondisi Bram pada Nadya.


"Nad ... sebenarnya apa yang Bram alami?"


Akhirnya Nadya menjelaskan semuanya pada Pram seperti apa yang dokter jelaskan. Mendengar semuanya membuat Fatim tak kuasa menahan kesedihan hatinya.


Saat sedang bersedih itulah ia mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenal.


Mulia indah cantik berseri


Kulit putih bersih merahnya pipimu


Dia Aisyah putri Abu Bakar


Istri Rosulullah


"Halo Assalamualaikum," ucap Fatim.


"Waalaikumussalam."


"Maaf dengan siapa ini?"


"Kalau tidak ada yang penting teleponnya gue tutup ya."


"Eh tunggu, apa kamu lagi ada masalah? Suaramu seperti sedang menangis?"


"Iya loe bener, Papa gue sedang sakit sekarang kondisinya sedang tidak baik, makanya kalau nggak penting udahan aja teleponnya."


"Apa aku boleh kasih saran?"


"Apa cepetan."


"Sebagai seorang anak disaat genting seperti ini, doamu sangat mustajab, makanya segeralah berwudhu dan sholat hajat, mintalah kepada Allah untuk kesembuhan dan kesehatan Papamu."


"Ehmm iya, kenapa gue nggak kepikiran, maksih ya sudah ngingetin gue, sekarang teleponnya gue tutup ya, sekali lagi terimakasih. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh."


*Alhamdulillah ternyata benar ini nomor Fatim bidadari syurgaku, tetapi kenapa ada dibuku telepon Abi, apa Abi mengenal Fatim ya? batin Abas.*


Setelah mendapat telepon dari Abas pikiran Fatim terasa plong, dia segera berwudhu dan hendak mencari mushola.


"Ma ... Fatim ke mushola ya, Fatim ingin sekali mendoakan Papa." Memeluk Nadya.


"Iya sayang hanya doa anak yang sholeh - sholehah yang akan cepat diijabah oleh Allah, doakan Papa segera sehat dan operasinya lancar."


"Iya Ma, Fatim pergi ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Fatim segera keluar mencari mushola.


"Maaf Sus, mushola dimana ya?"


"Oh mushola, adek lurus saja dari sini nanti belok ke kanan, nah disebelah kantin itu musholanya."


"Oke terimakasih banyak Sus, permisi."


🌻Mushola 🌻


Sampai dimushola Fatim berwudhu ulang, daj mulai memakai mukena, Fatim segera sholat dengan khusuk untuk bermunajat ke pada Sang Khaliq.

__ADS_1


Dalam sujudnya Fatim memohon kesembuhan untuk papanya.


*Ya Allahu ya Rahman ya Rohim, aku datang padaMu jika papaku Bramantio masih engkau beri kesempatan untuk sembuh tolong segera angkat semua penyakitnya dan sehatkanlah ia seperti sedia kala ya Robb, namun jika berpulang padaMu adalah yang terbaik maka permudahkanlah jalannya,aamin.*


Fatim segera duduk dan melakukan tahyat akhir,air mata Fatim telah berlinang dalam kesayahduan hatinya.


"Assalamualaikum warohmatullahui wabatokatuh." Menoleh ke kanan.


"Assalamualaikum warohmatullahui wabatokatuh." Menoleh ke kiri.


Setelah selesai sholat Fatim kembali bermunajat, ia memohonkan sembuhan dan kelancaran untuk operasi papanya yang akan berlangsung sebentar lagi.


Selesai sholat Fatim segera keluar mushola hendak kembali ke kamar Bram. Tetapi didepan mushola berdiri seorang pengemis dengan pakaian yang sudah compang - camping.


"Sedekahnya Nak !"


"Iya Nek, tunggu ya." Memakai sepatunya.


Setelah selesai Fatim segera membawa nenek itu menuju kantin yang tidak jauh dari mushola.


"Nenek mau makan disini apa mau dibungkus?" Tanya Fatim sambil memengan pundak si nenek.


"Bungkus saja, kasihan cucu nenek belum makan juga."


"Ya sudah Nenek mau berapa bungkus?"


"Cucu nenek ada dua orang jadi minta tiga bungkus saja."


"Baiklah nenek tunggu disini ya."


Fatim segera memesan makanan untuk nenek yang ditemuinya di mushola, selain itu Fatim juga memesan puluhan nasi bungkus untuk ia bagi - bagi pada keluarga pasien.


"Nek ini punya Nenek." Menyerahkan enam nasi bungkus.


"Loh kok banyak Nak, Nenek kan cuma butuh tiga bungkus."


"Iya Nek yang tiga bungkus untuk Nenek makan nanti malam, lauknya udah dipisahin biar nggak basi."


"Dan ini sedikit uang untuk Nenek kalau - kalau Nenek butuh membeli yang lain." Menyerahkan lima lembar uang seratus ribu pada Nenek.


"Subhanallah sungguh mulia hatimu Nak, semoga Allah mengijabah semua doamu."


"Aamiin ya Mujib, terimakasih Nek doanya." Memeluk si Nenek tanpa jijik.


Setelah nenek itu pamit Fatim segera membagikan nasi bungkus yang ia pesan untuk para keluarga pasien yang sedang menunggu disepanjang koridor rumah sakit.


Banyak doa yang Fatim terima dan Fatimpun berharap doa mereka juga diijabah oleh Allah.


"Ya Allah semoga Papaku masiih Kau izinkan untuk kembali sehat, aamiin." Menatap kelangit senja yang mulai memerah.


Bersambung.....


Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Nyanyian Takdir Aisyah.


dan karya apik author yang lain :


Fit Fithree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


* Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


* Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


My Heart Is Only For You


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Sudrun


Penjelah Malam


Samudra


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.

__ADS_1


*Sisca Nasty


Mafia In Love


__ADS_2