
🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tip kalian buatku, karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin. Selamat Membaca!🌻
#Rumah Sakit#
Fatim masih bengong dan terdiam.
"Kamu belum waktunya untuk pergi Nak, begitu banyak doa yang dikirimkan untukmu, sehingga Allah mengijabah doa mereka yang tulus menyayangimu, kembali lah ke ragamu," ucap lelaki itu tersenyum dan sesuatu pun terjadi.
"Subhanallah, Dokterrr pasien telah sadar dan membuka matanya," teriak suster jaga.
Dengan cepat tim dokter yang menangani Fatim segera mengecek kondisi Fatim.
"Subhanallah," ucap dokter Harry.
"Cepat panggil ibunya." Memeriksa tubuh Fatim.
*Sungguh luar biasa, aku benar-benar menyaksikan mukjizat Allah itu nyata, gadis ini, siapa dia? Aku semakin penasaran, wajahnya sangat cantik meski terlihat sangat pucat, aku harus merawatnya, siapa kau gadis berhijab?.*
Dengan cepat suster jaga segera membuka pintu ICU dan memanggil Nadya.
"Keluarga Fatim!"
Mendengar nama anaknya disebut Nadya segera berdiri dan menghampiri suster dengan wajah yang ketakutan. Nadya berusaha menguatkan mentalnya untuk mendengarkan jawaban apapun itu dari perawat.
"Iya Sus, saya ibunya." Berdiri didepan suster.
Semua yang masih menunggu didepan ruang ICU, juga ikut berdiri dengan cemas.
"Ibu ... alhamdulillah pasien sudah sadar," ucap suster.
Nadya diam terpaku air matanya sudah mengalir, perasaannya mengharu biru. Duka berselimut bahagia.
Sementara semua yang masih menunggu segera mengucapkan rasa syukur mereka bersama-sama.
"ALHAMDULILLAH!" ucap semuanya hampir bersamaan dan langsung melakukan sujud syukur.
"Ibu silahkan masuk," ajak perawat.
"Kami Sus?!" tanya Yati.
"Yang lain nanti ya kalau pasien sudah diruang perawatan, dan itu pun harus bergantian soalnya pasien belum boleh terlalu banyak bicara atau terlalu capek," ucap Suster.
Nadya berjalan dibelakang suster masuk keruang ICU. Nadya terpaku melihat putrinya yang sudah membuka mata, baru dua hari mata itu terpejam, tapi rasanya sudah dua tahun bagi Nadya.
Tampak dokter sedang melepas beberapa alat medis ditubuh Fatim, kini hanya tinggal infus saja yang melekat ditangan Fatim.
"Bagaimana Dok keadaan putriku?" tanya Nadya.
"Ini sungguh diluar dugaan Ibu, kondisi putri ibu membaik secara drastis, dan hampir dapat dikatakan pulih 75 persen, saya juga sampai berpikir kalau saya selama ini masih sangat kurang dalam hal ibadah, dan mukjizat yang anak ibu alami membuat saya sangat malu dihadapan Allah, karena sering merasa sombong, dan lebih pintar," ucap Dokter tersenyum pada Nadya.
"Apa saya boleh menemuinya?"
"Boleh, tetapi jangan ajak bicara yang berat-barat dulu ya Bu," mengajak Nadya mememui Fatim.
"Assalamualaikum kesayangan Mama!"
Fatim berusaha mengangkat bibirnya membentuk seguratan senyum meski sedikit.
"Kamu ingat Mama Sayang?" tanya Nadya ragu.
"Ma-ma," ucap Fatim lirih.
"Alhamdulillah ya Allah, kamu ingat Mama Sayang." Memegang tangan Fatim yang mulai menghangat.
"Oke sepertinya kondisi pasien semakin baik dan stabil, mungkin sekarang waktunya kita pindahkan keruang perawatan," ucap dokter sambil melihat catatan kesehatan Fatim.
*Sungguh gadis yang luar biasa, aku semakin penasaran.*
Persiapan pemindahan Fatim keruang perawatan pun dilakukan. Rencananya Fatim akan dirawat diruang kencana. Namun Nadya meminta dipindahkan ke kamar Paviliun kelas utama, agar Fatim benar-benar dapat beristirahat dengan baik.
Kini bangker yang ditempati Fatim telah didorong keluar ruangan ICU teriakan bahagia para sahabatnya pun terdengar sangat ramai riuh. Seolah-olah yang mereka sambut adalah artis yang menjadi idola mereka.
"Frenkuu in gue, loe harus segera sehat, gue rindu dibonceng oleh loe Fren," teriak Yati.
Dalam hatinya Fatim merasa sangat bahagia sahabatnya Yati begitu peduli padanya. Fatim hanya dapat menjawab seruan Mereka dalam hatinya.
*Emang gue tukang ojek apa? gerutu Fatim.
"Fatim kami bersamamu," Teriak Wawan.
*Itu Kak Wawan.*
"Fatimmm we love youuu," teriak teman pegawai My Cafe.
*Sahabat My Cafe, aku sangat hafal suara mereka, tersenyum dalam hatinya.*
"Dek Fatim, cepat lah pulih, kami merasa sepi tanpamu," ucap Jef terseyum.
*Itu Kak Jef.*
"Cepet sehat Dek Fatim, gue bawa pasukan kita," ucap john bangga.
*Kak John, emm dia selalu nggak bisa sendiri.*
"Non GWS (Get Well Soon) ya, eh salah nggak ya aku ngucapinya," ucap Momon.
__ADS_1
*Uhh Pak Mon keren dah bisa bahasa Inggris.*
"Neng semoga lekas kembali sehat yo (ya)," ucap pak Mamat.
*Aamiin, itu Pak Mamat.*
Dokter Harry senyam senyum sendiri disepanjang jalan mendampingi pemindahan Fatim keruang perawatan. Ia merasa Fatim adalah gadis yang istimewa. Begitu banyak fans nya, mulai dari remaja, pria dewasa, sampai bapak-bapak.
Mereka semua mengikuti rombongan medis yang membawa Fatim. Sehingga untuk sesaat mereka menjadi tontonan para pengunjung rumah sakit, karena tampak sangat heboh yang membuat penasaran para pengunjung yang lain. Sehingga mereka menjadi kepo dan ikutan juga dibelakang rombongan .
Seketika suasana dirumah sakit menjadi seperti pertunjukan sebuah konser, yang membuat dokter terpaksa meminta satpam untuk membubarkan kerumunam orang-orang itu.
"Ayo semunya bubar ya, ini bukan panggung konser, tapu hanya seorang pasien yang sedang butuh istirahat dan ketenangan agar cepat pulih," teriak satpam.
Akhirnya kerumunan itupun bisa dibubarkan setelah hampir lima orang satpam yang turun membubarkan kerumunan massa. Teriakan kesal dan marah dari orang-orang itu keluar mulus dari mulut mereka yang memang penasaran dengan Fatim.
# Ruang Paviliun utama#
Setelah sempat bersitegang, akhirnya Fatim bisa beristirahat dikamar paviliun kelas utama miliknya dengan tenang dan lega.
Namun hanya Nadya saja yang diperoleh kan untuk menjaga Fatim sedangkan jadwal besuk baru besok diperbolehkan. Karena dokter ingin Fatim beristirahat.
Akhirnya setelah pamit dengan Fatim, satu persatu mereka mulai meninggalkan rumah sakit. Hanya Yati yang masih tinggal, karena ayah dan ibunya sudah pulang duluan.
Nadya berjalan keluar dan melihat Yati yang masih setia duduk didepan ruangan Fatim.
"Yati ... kamu belum pulang Sayang?" tanya Nadya.
"Eh iya Tan, soalnya belum ada yang jemput , dan he ... he ... Yati nggak bawa uang karena buru-buru kemari," jawab Yati lugu.
Mendengar jawaban polos Yati membuat Nadya tersenyum.
"Kenapa nggak bilang dari tadi, sekarang kamu mau pulang apa masih mau disini?" tanya Nadya.
"Sebenarnya sih masih mau disini, tapi kalau nggak boleh pulang juga nggak apa-apa," jawab Yati tersipu.
"Ya ampun Nak Yati, kamu ngegemesin banget, persisi seperti yang Fatim ceritakan pada tante," ucap Nadya tertawa renyah.
Keduanya pun tertawa.
"Ya sudah kamu ikut masuk saja ya, sekalian jagain Fatim sebentar karenan tante harus mengambil resep obat ke tempat dokter yang menangani Fatim," ucap Nadya.
"Tan ... mau ketemu dokter yang tadi nganterin Fatim Ya?" tanya Yati cengar-cengir.
"Iya, kenapa?"
"He ... he ... Yati mau titip salam, soalnya dokter itu ganteng banget." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ingin rasanya Nadya tergelak mendengar permintaan Yati, namun semua itu dia tahan, sebab Nadya tidak mau Yati malah jadi malu atau tersinggung.
"Iya deh nanti tante sampaikan, sekarang kamu masuk ya temenin Fatim," Menepuk pundak Yati.
"Assalamualaikum Frenku," sapa Yati.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," ucap Fatim pelan.
"Fren l miss You," ucap Yati.
"Ganjen, apa lagi tadi gue denger loe titip salam segala sama pak dokter," ucap Fatim meski masih terdengar lemah.
"Alhamdulillah ya Allah terimakasih, temen gue dah sehat, tuh buktinya udah bisa nyeramahin gue," ucap Yati tersenyum lebar.
Fatimpun tersenyum sambil meringgis karena daerah perutnya masih terasa sakit.
"Masih sakit ya? Loe jangan ketawa dulu ya." Tersenyum pada Fatim.
"Nggak nih enak kok rasanya, udah tahu sakit masih pake nanya," sewot Fatim.
"Iya deh maaf, udah jangan cemberut nanti loe tambah sakit," ucap Yati dengan bibir yang sudah tersenyum.
Keduanya tampak saling diam dan melemparkan senyum.
#Sementara itu diBandung tepatnya ponpes Al Islam #
Serombongan santriwan baru keluar dari masjid sehabis sholat dhuhah. Mereka belum kembali ke asrama melainkan masih duduk diserambi masjid.
Termasuklah Abas salah satunya yamg berada diantara mereka. Wajahnya tampak murung, tatapan matanya kosong, seolah pikirannya entah berkelana kemana.
"Akhi Abas! Anta kenapa?" tanya Hanafi.
"Entahlah perasaanku seperti tak menentu, aku tidak bisa konsentrasi tadi saat murojaah bersama Akhi Hambali," ucap Abas lesu.
"Apa karena gadis itu?" ucap Akhi Iqbal.
"Aku rasa demikian," ucap Akhi Rizal yang menimpali ucapan Akhi Iqbal.
Abas hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Kalau demikian sebaiknya mintalah Abi Rahmat untuk melamar gadis itu Bas," ucap Akhi Rizal lagi.
"Ana belum berani, secara hitungan usia kita memang sudah bisa, tapi ana belum kerja ... mau ana kasih makan apa anak gadis orang nanti, mana sepertinya gadis itu anak orang terpandang, lihat saja saat musibah kemarin," ucap Abas menjelaskan.
"Antum benar, tapi tidak ada salahnya dicoba dulu," ucap Akhi Hambali lagi.
Sedang asyik membicarakan Fatim, datang seorang santriwan yang lebih muda dari mereka dengan nafas tersenggal.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap santriwan tersebut.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," jawab mereka semua hampir serentak.
"Akhi Abas dipanggil Abi Rahmat, katanya ada yang mau dibicarakan," ucap santriwan itu lagi.
"Maaf ya semuanya ana permisi dulu assalamualaikum," pamit Abas.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," jawab semuanya serentak.
"Akhi Abas sangat beruntung jika gadis itu juga menyukainya nanti," ucap Akhi Hanafi.
"Sudah-sudah jangan mulai untuk bergosip nanti akan jadi ghibah dan itu dosa," ucap Akhi Iqbal menimpali.
Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke asrama sebelum memulai murojaah dan mufrodat adik-adik kelas mereka.
#Rumah Abi Rahmat#
Dengan cepat Abas berjalan menuju rumahnya untuk memenuhi panggilan Abi Rahmat.
"Assalamualaikum Abi!" ucap Abas.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, masuk Nak!" perintah Abi Rahmat.
Abaspun masuk dan duduk disamping ibunya.
"Ada apa Abi sampai memanggil Abas?"
"Begini Bas ... Abi dan Umi barusan menerima telepon dari Jakarta katanya ibu ini mendapat nomor kami dari seseorang dan dia mau mengucapkan terimakasih pada anak lelaki yang telah menolong putrinya kemarin menolong," ucap Rahmat.
"Terus bagaimana kondisi anaknya Abi?" tanya Abas penasaran.
"Alhamdulillah anakknya sudah sadar dan sudah melewati masa kritisnya," ucap Rahmat.
"Alhamdulillah kalau sudah sadar," ucap Abas.
Seketika wajah Abas menjadi cerah, mendung yang mengelayuti hatinya seolah telah pergi entah kemana. Karena Abas begitu bahagia mendengar kalau Fatim sadar dan melewati masa kritisnya. Dengan segera Abas permisi kekamarnya dan disana ia segera melakukan sujud syukur dan kembali bermunajad kepada Allah SWT.
Bersambung.....
Terimakasih sudah membaca.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik :
*Fit three fitri
- Cinta Untuk Dokter Nisa
-Arsitek Cantik
-Mengejar Cinta Ariel
*Almaira
- My Secret Wife
-My Love My Babysitter
*Putri Tanjung
-OB kerudung Biru
*Sohibul Ikhsan
-Putih Abu Abu
-Kembar Tidak Identik
*Sudrun
-Samudra
-Penjelajah Malam
*Ergina Putri
-My Love Is Only For You
-Melawan Rasa Takutku
*Envy YoWes Ben
MY Princes OG
*Sisca Nasty
-Mafia In Love
*CindyElvira
-Ketika Muslimah Jatuh Cinta
-Tulang Rusukku AZahara
__ADS_1
*Karlina Sulaiman
-Mencintaimu Dalam Diam