
Karena terus menutupi wajahnya Fatim tidak tahu kalau ada seseorang yang mengikutinya. Merasa sudah aman Fatim membuka wajahnya.
"Alhamdulillah sudah aman," ucap Fatim.
"Jadi benar kamu sedang dalam masalah ya?"
Fatim yang kaget dengan suara tiba - tiba seseorang dibelakangnya terpekik kaget.
"Astagfirullah haladzim," teriak Fatim.
Dengan cepat ia berbalik.
"Eh loe !" Menunjuk pemuda itu.
"Kamu !" Memegang dadanya.
Fatim segera menutup mulutnya karena kaget dan tak percaya orang yang dihindarinya kini malah berdiri dihadapannya.
"Eh Kamu gadis yang kemarin kan, kok balik lagi kearah sini? Mau ke Lembang lagi?"
Lama Fatim terdiam, dia binggung mau jawab apa.
"Hei kamu kok diam sih, jawab dong!"
"Nggak usah sewot deh, gue emang mau ke Lembang tapi itu bukan urusan loe," ucap Fatim kesal karena merasa grogi.
*Haduh kenapa gue jadi salting sih didepan nih cowok, dah dihindari eh malah nonggol depan muka gue, jadi binggung deh gue, dan jantung gue kenapa lagi pake acara deg - degan gini, batin Fatim.*
"Loh kok ngegas sih jawabnya, aku kan tanya baik - baik, aku khawatir kalau kamu kenapa - kenapa lagi seperti waktu itu, makanya saat lihat kamu menutupi wajahmu aku ikutin takutnya kamu sedang sembunyi dari orang jahat gitu," jelas Abas.
Akhirnya Fatim luluh juga mendengar penjelasan Abas.
"Iya maaf, gue sebenarnya lagi nyariin sopir sama teman gue yang kayaknya ada ditaman ini," ucap Fatim mulai sabar dan sedikit tenang.
"Beneran, jadi bukan karena ada orang jahat kan?"
"Iya beneran kok nggak bohong gue," jawab Fatim.
"Ya udah yuk aku temenin nyari nya, kebetulan saya nggak rombongan kali ini tapi bersama Abiku dari membeli perlengkapan kebutuhan pondok," jelas Abas.
"Jadi loe anak pondok pesantren ya?"
"Ya begitulah, kenapa?"
"Apa nggak merasa kayak dipenjara gitu?"
"Ya nggak lah, dipondok itu sama kayak kamu diasrama atau sama aja kayak kamu di sekolahmu, cuma bedanya laki - laki dan perempuannya dipisah karena tidak boleh disatukan istilahnya ikhtilat, karena lelaki dan perempuan bukan mahromnya dilarang untuk saling bersentuhan," jelas Abas.
"Enggak faham gue," ucap Fatim polos.
Abas hanya tertawa mendengar jawaban Fatim dan ia mengalihkan pandangannya dari wajah Fatim.
"Ya sudah nanti lama - lama kamu akan faham kok, sekarang kita cari dulu sopirmu itu, yuk!"
Keduanya berjalan mengitari taman mencari Pak Mamat dan Pak Momon. Abas berusaha menjaga jarak dengan Fatim agar tidak melanggar aturan yang seharusnya.
"Loe jijik dekat gue, kok jalannya jauhan gitu?"
"Nggak kok aku suka jalan bareng kamu, cuma aku berusaha jaga jarak aja biar kita tetap berada diposisi aman, karena kita belum mahrom," jelas Abas.
"Dari tadi alasannya mahrom lagi mahrom lagi, emangnya mahrom itu apa sih?"
Sebenarnya kata mahrom itu nggak bisa digunakan untuk menyebut dua orang yang boleh menikah karena mahrom itu sebenarnya artinya yang nggak boleh dinikahi seperti ibu, adik atau kakak perempuan, namun orang lebih mengambil ke makna bersentuhannya artinya kalau mahrom boleh bersentuhan sedangkan kalau bukan mahrom tidak boleh bersentuhan, kayak kita gini makanya aku nggak mau bersalam denganmu," jelas Abas.
"Sedangkan mengapa aku sering melihat kearah lain bukan karena kamu jelek tetapi karena aku menjaga pandanganku seperti firman Allah berikut ini," ucap Abas.
“Katakanlah kepada laki – laki yang beriman :”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara ***********.” (QS. An Nuur: 30)
__ADS_1
Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” (QS. An Nuur: 31).
"Nah sekarang kamu mengertikan kenapa aku kamu bilang aneh?"
"Iya biar gue belum faham benar tapi ya sudah lah kalau udah bawa - bawa firman Allah gue percaya deh," ucap Fatim.
Lama keduanya mengitari taman akhirnya ponsel Abas berbunyi.
"Assalamualaikum Abi, ada apa?"
"Waalaikumussalam, kamu dimana Nak, ini Abi sudah selesai belanjanya, dan menunggumu di mobil," jelas Rahmat.
"Eh iya kebetulan Abi sekarang Abas sedang bersama ... (menoleh kearah Fatim) Siapa nama kamu?"
"Fatim," jawab Fatim berbisik.
"Bersama Fatim Abi, sekalian ya Abi kenalan," ucap Abas.
*Haduhhh gawat ini, pasti Fatim anaknya Nadya, bisa terbongkar sandiwara kita kalau begini, bantin Rahmat.*
"Ah nggak usah Bas, lain kali saja, kamu ngapain bisa bersama gadis itu?"
"Kebetulan ketemu tadi Bi, dia lagi nyariin sopirnya, dia ma kembali ke Lembang ada urusan katanya," jelas Abas.
"Ya sudah kamu temani dulu sampai ketemu setelahnya cepat balik ke mobil ya, Abi tunggu!"
"Iya Bi, Inshaa Allah, semoga cepat ketemu sopirnya Fatim, Assalamualaikum."
"Aamiin, waalaikumussalam," jawab Rahmat.
Setelah memutari taman hampir dua puluh menit akhirnya Fatim menemukan keduanya sedang asyik molor dibangku taman dibawah pohon rindang.
"Bas !"
"Kamu bisa panggil aku kakak kok jangan nama, soalnya aku kayaknya lebih tua dari kamu, aku udah 17 tahun lo,"
"Iya deh, gue 16 tahun, nggak apa - apa nih gue panggil kakak?"
"Ehmm ... Kak Abas ... orang yang kita cari udah ketemu , tuh lagi molor dibawah pohon." Menunjuk ke bangku yang ada dibawah pohon rindang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Beneran itu orang yang kamu cari, katanya satu sopir dan satu lagi teman, tapi kok kayak bapak - bapak semua?"
"Bener kok Kak Bas, keduanya memang sudah bapak - bapak, mereka Pak Mamat dan Pak Momon."
"Oh sykurlah, ups ...." Dengan cepat Abas menutup mulutnya.
Didalam hatinya cepat ia beristiqfar, karena senang orang yang menemani Fatim bukan seorang pemuda.
"Kenapa Kak Bas?"
"Enggak maksudnya kakak senang mereka sudah ketemu, kalau begitu kakak pamit ya, soalnya Abi kakak sudah menunggu."
"Oh ... eh ... iya Kak nggak apa - apa kok, makasih ya udah bantu nyariin tadi," ucap Fatim.
*Kenapa gue kayak nggak rela ya mau ditinggal sama Kak Abas, kayak sudah lama kenal saja, ehmmm sedih hati gue, aduhhh kok gue jadi lebah sih, jadi kangen Yati gue, bantin Fatim.*
"Ya udah Kakak pamit ya, Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam, hati - hati ya Kak, bye!" Melambaikan tangan.
*Ya Allah jantungku kayak habis maraton saja, kok sedih ya mau berpisah dengan bidadari syurga kali ini, rasanya pengen ngobrol lebih lama, tapi sayang nggak bisa, lagian aku nggak mau khilaf, ampuni aku.ya Allah, bantin Abas.*
Keduanya saling melambaikan tangan dan berjalan kearah yang berlawanan. Abas kedepan menemui Abinya sedang Fatim terus kebelakang taman menemui Pak Mamat dan Pak Momon.
Parkiran Taman ....
"Assalamualaikum Abi."
__ADS_1
"Waalaikumussalam Bas."
"Udah beres urusannya?"
"Udah Abi, yuk kita berangkat."
Rahmat sengaja tidak membahas masalah Fatim, karena takut rencananya terbongkar, Rahmat dan Nadya sepakat untuk membuat mereka saling suka secara alami bukan karena perjodohan.
Sementara itu di taman ....
"Pak Mamat ... Pak Momon ... ayo bangun dong, kapan kita berangkatnya ini?" Mengguncang bandan keduanya.
Dengan cepat Mamat dan Momon terbangun.
"Eh iya Neng Maaf," ucap Mamat.
"Iya Non Fatim, maaf kita ketiduran," ucap Momon.
"Udah ah yuk berangkat !"
Akhirnya mobil Fatim segera melaju menuju ke alamat yang mereka cari. Tak butuh waktu yang lama akhirnya mereka tiba di tempat yang mereka cari. Dan Fatim segera turun untuk bertanya pada ibu - ibu yang mereka jumpai.
"Maaf Bu saya boleh tanya, apa ini SDN. 5 Lembang?"
"Iya benar, ada perlu apa ya Nak?"
"Saya mau cari ibu - ibu yang namanya Bu Darmi."
"Oh Bu Darmi, iya dia tinggal dibelakang SD itu, kasihan beliau hidupnya melarat sejak putrinya menghilang karena berhutang pada rentenir," jelas ibu itu.
"Oh iya terimakasih banyak ya Bu." Tersenyum mengangguk.
Fatim bersama Momon segera menuju kerumah Bu Darmi.
"Assalamualaikum," sapa Fatim.
Keluarlah seorang ibu paruh baya dengan wajah kuyu dan pakaiannya yang kusut.
"Ada perlu apa ya? Apa saya kenal kamu Nak? "
"Apa saya boleh masuk dulu Bu, biar enak ngobrolnya?"
"Oh iya maaf, mari silakan masuk." Membuka pintu.
Keadaan rumah Bu Darmi sangat tidak beraturan, perabotannya hampir tidak ada.
"Saya kemari karena ingin menyampaikan amanah anak Ibu, Riska."
"Kamu kenal anak saya?"
"Kenapa dia lama tidak pulang? Dia kemana?"Menangis menutupi wajahnya.
"Maaf Bu, sebenarnya anak ibu sudah tiada, dan dia minta ibu mengikhlaskannya, dan dia minta juga hutangnya diikhaskan."
"Nggak mungkin, anak saya nggak mungkin sudah meninggal." Berteriak histeris.
"Ibu dengarkan rekaman suara ini baik - baik ya."
*"Gue tinggal di Lembang, nama emak gue Bu Darmi rumahnya dekat SDN.5 Lembang, loe harus cepat gue sangat tersiksa terjerat diantara dua dunia, tolong minta keikhlasan mak gue dan orang yang gue utangin ya, gue nggak diterima karena masih berhutang dan orangnya belum ikhlas."*
Setelah mendengar rekaman itu baru lah ia percaya, dan memgikhlaskan kepergian putrinya, dan masalah hutangnya Fatimlah yang melunasinya.
Fatim dapat melihat Riska tersenyum bahagia dan mengucapkan terimakasih, kini ia dapat kembali ke alam baka dengan tenang.
Fatim juga memberikan bantuan untuk Bu Darmi agar dapat memperbakiki kehidupannya.
Bersambung....
__ADS_1
Terimakasih ya sudah membaca karyaku ,jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Karyaku Nyanyian Takdir Aisyah dan novel favoritku : Arsitek Cantik, Cinta Untuk Dokter Nisa , My Secret Wife, Putih Abu - Abu, Melawan Rasa Takutku, My love, Mafia In Love , OB Kerudung Biru, Samudra, Sang Legenda, dan My Princess OG. Aku tunggu ya 😍.