Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
BERTEMU 2


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹


Selamat Membaca!


Mushala ....


Fatim merasa kaget karena pak Amrul mengajaknya untuk bertemu anak lelaki yang tadi ditabraknya namun sekarang mereka berdua. Mereka semakin dekat dan dada Fatim mulai berdesir melihat sosok didepannya.


*Yaa Allah, anak lelaki ini? Kenapa postur tubuhnya mirip Abas, tapi rambutnya berbeda. Apa dia Abas? Tapi tidak mungkin lah secara kan dia anak pondok!*


Kini Fatim sudah berdiri tepat di depan Abas, jantung keduanya sudah berdetak tak karuan. Abas segera menundukkan pandangannya.


"Fatim! Kenalkan ini Abas dan Hanafi, mereka berdua akan menjadi tim squat kita yang baru, untuk berjuang membuat SMA Unggulan kita ini bisa maju dalam hal agama. Selama ini perjuangan bapak serasa sia-sia, setelah sekian puluh tahun mengajar akhirnya ada kamh yang memutuskan untuk berhijab, sekarang setelah penantian panjang ada Abas yang bisa azan. Semoga kedepan akan ada banyak Fatim dan Abas di sekolah kita ini." Pak Amrul tersenyum bangga.


Melihat ketiga siswanya hanya diam dan saling menunduk, pak Amrul menjadi bingung sendiri.


"Tim! Fatim! Ayo kenalan!" Pak Amrul menepuk pundak siswinya itu.


"Eh-iya. Kenalkan nama saya Fatimah Ananbra biasa di panggil Fatim. Saya anak kelas 10 IPA 1." Akhirnya Fatim memberanikan diri untuk berkenalan dengan menangkup kedua tangannya di depan dada, ia tahu kalau pemuda ini Abas pasti dia tidak akan mau berjabat tangan.


"Saya Hanafi kelas 12 IPA 1." Hanafi menatap Fatim sekilas dan tersenyum. Ia merasa terkejut melihat wajah Fatim yang sangat cantik dan manis menurutnya.


*Apa dia gadis yang pernah Abas ceritakan, tak salah kalau sahabatku itu menyukainya, sayang Abas menyukainya kalau tidak aku pun pasti jatuh hati pada gadis ini, batin Hanafi.*


"Sa-saya Muhammad Abas, biasa di panggil Abas. Saya juga kelas 12 IPA 1." Abas akhirnya memperkenalkan diri.


"Jadi ini benaran elo, Kak!" tanya Fatim.


"He ... he ... iya. Ini saya." Abas semakin menundukkan kepalanya.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya pak Amrul.


"Iya Pak. Sudah lama lagi kenalnya, sama nih cowok," ucap Fatim nyengir pada pak Amrul. Guru agama yang baik, sudah seperti layaknya sahabat. Karena sekarang usaha pak Amrul untuk memajukan pelajaran agama di sekolahnya sering di bantu oleh Fatim.


"Bagus dong, itu artinya kalian akan dengan mudah dapat bekerja sama membuat program kerja untuk kita lakukan dalam waktu dekat ini," ucap pak Amrul penuh keyakinan.


"Inshaa Allah, Pak! Kami akan berusaha semampunya," jawab Abas dengan tersenyum.


*Duhhh, senyum mu kak. Serasa gue berada ditumpukan salju, ademmn. Batin Fatim.*


"Oke, sebentar lagi waktu istirahat habis. Kalian belum pada makan kan? Sekarang kita bubar dulu. Nanti pulang sekolah kalian bertiga tunggu saya di mushala ini ya!" pinta pak Amrul.


"Inshaa Allah, siap Pak!" jawab ketiganya kompak.


"Wuiiiih udah kompak aja, saya jadi bangga pada kalian. Saya semakin yakin kalau kita bisa." Pak Amrul segera meninggalkan ketiganya keluar mushala.


"Oke, gue cabut dulu ya. Bye!" Fatim hendak berlalu tapi di tahan oleh ucapan Abas.


"Bukan bye kali, tapi assalamu'alaikum," ucap Abas.


Langkah kaki Fatim terhenti dan ia balik lagi, berjalan mendekati Abas dan Hanafi.


"Oke gue ulang! Gue cabut dulu ya, Assalamu'alaikum!" Fatim tersenyum pada kedua lelaki yang ada di hadapannya.


"Tunggu!" ucap Abas lagi yang membuat Hanafi senyam senyum sendiri melihat tingkah sahabatnya yang sedang kasmaran.


"Apa lagi?" tanya Fatim yang juga merasa bingung.


"Apa kamu mau makan?" tanya Abas lagi.


"Iya! Kenapa? Kalian mau ikut?" tanya Fatim seakan mengerti.


"Emang boleh ikut makan bersama kamu?" tanya Abas hati-hati, karena ia sudah mengerti dengan sifat gadis yang ada didepannya saat ini.


"Ehmmm, ya udah deh boleh, tapi di warung sana ada temanku satu lagi perempuan. Dia Yati yang waktu itu ketemu loe di rumah sakit." Fatim menatap Abas dan Hanafi sekilas sebelum membuang tatapannya kesamping.


"Iya nggak apa-apa lah, kami ikut ya. Lagian di sini kami hanya punya kamu sebagai teman yang sudah kami kenal." Abas tersenyum meski Fatim tak melihatnya.

__ADS_1


Mereka bertiga pun melangkah menuju ke warung depan sekolah untuk makan siang. Sampai di warung Fatim segera menuju meja sahabatnya. Tentu saja Abas dan Hanafi juga mengikutinya.


Yati yang sedang menyeruput es jeruk tiba-tiba tersedak melihat Fatim yang datang diiringi dua orang lelaki tampan.


"Uhuk ... uhuk ...." Yati memegang tenggorokannya yang sakit.


"Kenapa? Kaget?" Fatim bertanya pada sahabatnya yang sedang tersedak sambil memberikan segelas air mineral yang ada didepannya yang lansung di seruput oleh Yati sampai tandas. Kemudian Fatim duduk di sebelah sahabatnyan itu dengan tersenyum.


Abas dan Hanafi duduk di depan keduanya. Tentu saja setelah memesan makanan yang sama dengan Fatim yaitu nasi soto.


"Loe dapet nih makhluk tampan dari mana?" bisik Yati pada Fatim setelah ia dapat bernafas dengan normal setelah tersedak tadi.


"Gue nemu depan mushala, kenapa loe mulai kumat?" tanya Fatim meledek sahabatnya.


"Ihhh loe mah gitu, emang gue penyakitan apa pake kumat-kumat segala, gue serius ini," cerocos Yati dengan sedikit jutek meski masih dalam kondisi berbisik.


"Iya, loe kan suka kumat ganjennya kalau 'liat yang bening-bening," ucap Fatim dengan sedikit tersenyum.


Tusss!


"Aww, sakit Oneng!" Fatim menggosok tangannya yang sedikit merah karena di cubit Yati.


"Abisnya loe tega ama temen sendiri." Yati memasang wajah juteknya.


Melihat keduanya tampak gerasak gerusuk membuat Abas dan Hanafi saling pandang lalu tersenyum.


*Alamaak mimpi apa gue tadi malam, senyumnya aw ... aw membuat hati adek meleleh bang, batin Yati.*


Melihat temannya yang mulai senyam senyum sendiri, membuat Fatim gemes. Dia tahu kalau sahabatnya itu pasti sedang menghayal.


Pletak!


Fatim menyentil pipi sahabatnya itu yang membuat Yati berteriak kecil.


"Sakit Fren!" Kini Yati benar-benar ngambek.


"Siapa suruh menghayal." Fatim segera menyeruput jus jeruknya yang masih setengah gelas, ia sengaja tidak lagi memesan makanan karena sudah kenyang makan bersama Yati.


"Ini kita udah selesai kok, kita balik bareng ya ke sekolah," pinta Abas.


"Oke! Yuk kita balik, bentar lagi udah bel masuk." Fatim segera berangkat dari duduknya sementara Yati masih asyik melamun dan duduk dengan menopang kedua tangannya di dagu.


Ketiganya sudah berjalan, namun Yati masih belum sadar juga yang membuat jiwa jahil Fatim mulai bereaksi.


"Kak! Kalian tunggu di sini dulu ya!" pinta Fatim.


"Kenapa?" tanya Hanafi penasaran.


"Tuh lihat temen gue!" Jari Fatim menunjuk ke arah mereka duduk tadi.


"Temen kamu kenapa, Dek?" tanya Abas yang ikut penasaran dan tanpa sadar ia memanggil Fatim dengan sebutan dek.


*Kenapa pas Abas yang manggil gue dengan Dek perasaanku berbunga-bunga ya? Tapi waktu yang manggil dokter Haris kok aku malah marah-marah? Ada apa denganku? Batin Fatim.*


Dengan cepat Fatim menguasai emosinya.


"Tuh lihat aja, dia masih asyik dengan pikiranya sehingga lupa untuk ikut kita jalan," ucap Fatim dengan tersenyum.


"Yah sudah kamu datangi aja, tapi jangan buat yang aneh-aneh kasihan temanmu itu," ucap Abas lagi.


Seketika jiwa jahil Fatim meredup, baru saja ia mau menjahili Yati udah dapat Warning nggak boleh, tapi anehnya jiwa Fatim nggak membantah. Dengan cepat ia berjalan menghampiri Yati.


"Loe masih mau di sini apa mau ikut gue masuk kelas?" tanya Fatim di telinga sahabatnya.


"Eh kelas eh bukan, anu-anu." Yati menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Loe panuan? Ana anu ... ana anu. Buruan bentar lagi bel! Kalau masih betah di mari ya udah gue tinggal." Fatim segera pergi, dia sengaja membiarkan sahabatnya itu tertinggal karena kalau tidak begitu pasti akan ada ocehan lain dari sang sahabat yang membuat mereka akan tertinggal lebih lama.

__ADS_1


"Frennnn! Tunggu in gue!" teriak Yati sambil berlari mengejar Fatim.


Kini mereka berempat sudah memasuki gerbang sekolah, mereka tak menyadari ada empat pasang mata yang menatap geram akan kebersamaan mereka.


Bersambung.....🌹


Terimakasih sudah membaca!


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa


Mengejar Cinta Ariel


Tabib Cantik Bulan Purnama


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


Ceo dingin dan Gadis Kampung


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


* Karlina Sulaiman


Ceo Somplak


*Laura V


Sang Pengoda


*Bintun Arief


Keteguhan Hati


*Novi Wu


Bos Come Here Please!


*Ricky Wijaksono


Api Dibumi Majapahit


*Samar


Cinta Di antara Dendam


* Syala Yaya


Istri kedua tuan Krisna


* Cherin Kauma


l Love My Army Wife

__ADS_1


*Oktavia Tresiani


Pacarku Hantu


__ADS_2