Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
KONSPIRASI 2


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tip kalian buatku, karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin. Selamat Membaca!🌹


#Ruang Observasi#


"Ya Allah, Nany! Apa kamu tidak takut dosa menghilangkan nyawa orang lain dengan sengaja?"


"Ampuni saya Dok, saya takut dosa." Menangis terisak.


"Kamu jangan minta ampun kepada saya, tapi minta ampunlah kepada Allah, saya juga hanya manusia biasa, sama sepertimu Nany." Melepas tangan Nany yang memegang tangannya.


"Sekarang beritahu saya, siapa yang menyuruh kamu?"


Nany terdiam, dia sangat takut kini. Sebab kalau dia membocorkannya satu nyawa akan melayang, dan itu adalah putrinya tersayang. Yah kini putri Nany sedang terbaring dirumah sakit tapi bukan rumah sakit tempatnya bekerja, dan orang yang membayarnya kini sedang membantu pengobatan putrinya. Begitulah yang Nany tahu.


"Katakan Nany! Kenapa diam?"


"Maafkan saya Dok, saya tidak bisa mengatakannya." Menunduk sambil terisak.


Tak lama Nadya datang dengan tergesa karena ingin bertemu putrinya."Brakk!" Daun pintu terbuka paksa.


"Dimana putriku? Apa yang terjadi pada putriku? Fatimmm! Fatim kesayangan mama, mana kamu Nak?"


Haris berjalan mendekati Nadya, dan berusaha menenangkannya."Ibu yang sabar ya, alhamdulillah sekarang kondisinya sudah kembali stabil, hanya saja Fatim harus dirawat intensif dulu, kalau bisa jangan biarkan siapapun datang menjengguknya." Membimbing Nadya untuk melihat Fatim.


*Ya Allah, kasihan putriku. Mengapa banyak sekali orang yang mengiginkan nyawa putriku? Apa salahnya? Apa dosanya? Atau ini karma karena dulu aku melupakanmu Mas Pram?*


Nadya terisak, dia bingung sekarang. Apalagi setelah diceritakan dokter Haris yang sebenarnya terjadi.


Dan dokter Harispun mempertemukan Nadya dengan Nany, perawat yang telah meracuni Fatim.


"Apa kamu Nany?"


"Iya Bu, maafkanlah saya. Saya salah, saya akui itu tapi tolong jangan laporkan saya kepolisi, kasihan putriku dia akan sendiri." Menangis dan memohon dikaki Nadya.


"Katakan Nany siapa yang menyuruhmu?"


"Maafkan aku Bu, aku tidak bisa mengatakannya, nyawa putriku dalam bahaya."


"Apa maksudmu aku harus peduli dengan putrimu, sementara kamu tidak memperdulikan putriku? Aku juga singgle parent, suamiku juga sudah meninggal, kita berada diposisi yang sama. Kalau kau jadi aku apa yang akan kau lakukan hah?" ucap Nadya sedikit kesal.


"Apa yang harus aku lakukan Bu untuk menebus semua kesalahanku?"


"Katakan siapa yang menyuruhmu? Jika kau mau jujur, mungkin aku akan membantu proses perawatan putrimu sebagai imbalan."


"Benarkah yang ibu katakan?"


"Inshaa Allah jika kau mau jujur maka akupun akan memenuhi janjiku."


"Sebenarnya akupun tidak tahu siapa perempuan itu, kami bertemu diruang informasi rumah sakit ini. Wanita cantik itu menanyakan pasien bernama Fatim Ananbra. Saat itulah aku menerima telepon dari sekolah putriku kalau dia sakit keras dan harus segera dilarikan kerumah sakit. Waktu itu aku sangat panik dan binggung karena sedang tidak punya uang. Dan wanita itu dengan santai menawariku pekerjaan ini, yang akan dibayar dengan uang untuk perawatan putriku."


"Lalu?"


"Karena sedang kalut dan panik, aku menyetujuinya. Dia wanita itu langsung memberikan aku amplop coklat yang berisi uang 5 juta, dan sisanya akan dia bayar setelah aku melakukan tugasku. Jadi sementara ini dia sedang menunggui putriku dirumah sakit Sejahtera."

__ADS_1


"Apa kamu sudah melapor padanya?"


"Belum Bu." tertunduk lesu.


"Oke kalau begitu kita kerjasama saja, sementara kamu jangan melapor dulu, aku akan memeriksa keadaan putrimu dirumah sakit." Mengambil ponsel dan menghubungi Momon.


Setelah memberitahukan kepada Momon, Nadya segera menyimpan ponselnya. "Kita tinggal menunggu laporannya." Duduk disofa dekat tempat tidur Fatim.


Sementara Nany duduk disofa tepat didepan Nadya. Wajahnya sangat murung, sesekali ia menyeka air matanya. Sedangkan dokter Haris berdiri didekat jendela Fatim, dan sesekali ia juga memperhatikan ketiga wanita yang dilanda dilema berada tepat dihadapannya.


Selang lima belas menit ponsel Nadya berdering. Dengan cepat Nadya mengangkatnya dan ternyata itu Wati, ibu pengurus panti.


"Assalamualaikum Bu Wati, ada apa?"


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, maaf Bu menganggu. Saya ingin mengabarkan kalau besok kami ingin mengunjungi nak Fatim, soalnya sejak tahu kejadian yang menimpa nak Fatim, semua merasa sedih, bahkan ada anak panti yang nggak mau makan sebelum ketemu nak Fatim, sampai harus kami bawa ke Puskesmas karena maagnya kambuh," jelas bu Wati.


"Sebenarnya kemarin Fatim sudah baikan, bahkan rencananya sudah mau pulang, namun siang tadi terjadi sesuatu yang diluar dugaan, sehingga Fatim harus dirawat lagi dengan intensif." Menyeka air matanya.


"Bu Nadya yang sabar ya, nanti inshaa Allah kami akan bantu doa untuk kesembuhan nak Fatim."


"Terimakasih Bu Wati, iya aamiin. Inshaa Allah semoga segera dikabulkan."


Panggilan telepon keduanya berakhir, dan Nadya kembali kesamping putrinya. Ditatapnya wajah Fatim yang kemarin sempat ceria dan tertawa, namun kini wajah itu kembali terpejam dan pucat. Sungguh sangat membuat hatinya terluka.


Sedang memandang wajah putrinya, ponsel Nadya kembali berdering, dan kali ini memang telepon yang sedari tadi dia tunggu. Yah itu telepon dari Momon.


"Assalamualaikum Mon, bagaimana?"


"Kami sudah menyelidiki semuanya, dan tidak ada siapapun disini, dan biaya rumah sakitpun masih melompong. Seperti perintah ibu kami sudah memindahkan anak itu kerumah sakit tempat ibunya bekerja. Sekarang kami sedang dalam perjalanan. Wanita itu sepertinya hanya orang suruhan. Nomor ponsel yang dikasih perawat itu sudah tidak aktif, kemungkinan dia sudah mengganti nomor ponselnya dengan yang baru."


"Ibu ... maafkanlah aku ... aku hampir saja membunuh putrimu, andai aku dapat memutar waktu, aku mungkin akan memilih kehilangan putriku daripada harus terjun kelembah dosa." Memeluk kaki Nadya.


"Sudahlah Nany yang sudah terjadi biarlah terjadi sekarang yang terpenting kamu bisa mengambil hikmah dari semua ini, agar menjadi pembelajaran untuk kita semua. Agar kita jangan mudah percaya pada orang asing, apalagi sampai ingin menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan kita." Mengangkat Nany dan memeluknya.


"Aku sudah memaafkanmu, kalau aku dipoisismu mungkin aku juga akan berbuat hal yang sama, dan seandainya kamu diposisiku kamu juga akan melakukan hal yang sama pula." Menepuk pundak Nany.


"Ya Allah ... aku sangat malu, hati ibu begitu mulia, seandainya aku diposisi ibu belum tentu aku bisa memaafkan dengan tulus seperti bu Nadya." Memeluk Nadya erat dengan linangan air matanya.


"Sudahlah kita lupakan semuanya, dan sekarang lebih baik kita bersiap menerima kehadiran putri kecilmu, masalah biaya biarlah aku yang akan menyelesaikannya. Aku yakin Allah itu tidak tidur. Kalau belum sekarang pasti suatu saat kita akan berhasil mengungkap siapa dalang dibalik semua ini. Dan aku tidak akan menyerah semudah itu." Nadya meyakinkan Nany.


Tersirat senyum ketir diwajah Nany, seumur hidupnya baru kali ini, ia benar-benar mengalami sendiri kalau Allah itu Maha Pemurah, dan akan menolong hambanya dari pintu mana saja. Dan ini membuat Nany semakin mantap untuk terus yakin dan sungguh-sungguh dalam beribadah yang selama ini sering dilalaikannya demi pekerjaan.


Melihat keluasan hati Nadya membuat dokter Harispun semakin kagum dengan keluarga Fatim. Dan keinginannya untuk menjadikan Fatim sebagai bagian dari hidupnya semakin mantap.


Sementara itu Kedatangan anak gadis Nany sudah dinanti para tim medis. Saat mobil Momon tiba mereka segera membantu dan membawanya keruang IGD.


Dalam hatinya Nany berjanji akan menemukan wanita itu entah bagaimanapun caranya. Hanya itu yang dapat dia lakukan untuk membalas kebaikan hati Nadya.


🌹Bersambung.....🌹


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.

__ADS_1


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


* Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


* Sudrun


Samudra


Penjelajah Malam


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


*Cindy Elvira


Ketika Muslimah Jatuh Cinta


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*Laura V


Sang Pengoda


*Bintun Arief


Keteguhan Hati


*Kauma

__ADS_1


I Love My Army Wife


__ADS_2