Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
MENJENGGUK FATIM


__ADS_3

๐ŸŒปAssalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tip kalian buatku, karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin. Selamat Membaca!๐ŸŒป


#Parkiran Rumah Sakit#


"Siapa yang sakit Mas?" tanya Abas.


"Teman saya, yuk kalau mau ikut," ucap Wawan.


"Maaf Mas, temannya lelaki apa perempuan?" tanya Abas.


"Perempuan," jawab Wawan.


Setelah mendengar jawaban Wawan tentu saja Abas terdiam, dia belum memberikan jawaban.


"Kenapa diam, kamu nggak mau ikut? Tenang saja teman aku itu tomboy kok nggak kayak cewek kebanyakan yang suka genit sama lelaki," jelas Wawan.


"Oh gitu, ya udah deh aku ikut tapi sepertinya aku nggak bisa lama-lama takutnya orangtuaku bingung nyariin aku kalau nggak stay dimobil," jelas Abas.


"Iya nggak apa-apa kok aku ngerti, yuk aku nggak bisa lama-lama ninggalin temanku itu soalnya dia cuma ditemani teman kami yang satu lagi," ucap Wawan sambil mengambil kontak motornya.


Keduanya berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang perawatan Fatim.


Hanya butuh waktu kisaran sepuluh menit mereka sudah sampai. Disepanjang jalan menuju ke ruangan Fatim banyak gadis yang memandang takjub pada dua lelaki yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang terpahat hampir sempurna.


Namun keduanya terlihat santai dan terkesan cuek yang menambah rasa greget dan penasaran para gadis yang berpaspasan dengan keduanya.


Kini keduanya sudah sampai dikamar Fatim.


"Assalamualaikum," ucap Wawan sambil membuka pintu.


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," jawab Fatim dan Yati bersamaan.


"Yuk masuk," ajak Wawan pada Abas.


"Siapa Kak? Ada tamu ya?" tanya Yati.


"Iya tapi awas loe ganjen, dia anak pondok nggak suka cewek ganjen," ucap Wawan sambil menatap netra Yati yang bulat bening.


"Uhhh apaan sih kak Wawan," sunggut Yati kesal.


Kemudian Abaspun melangkahkan kakinya masuk kekamar Fatim.


"Assalamualaikum," ucap Abas.


"Waalaikumussalam Warohmatullahi wabarokatuh," jawab ketiganya.


"Bas kenalin ini sahabat gue yang sakit," Menarik Abas kearah tempat tidur Fatim.


Saat keduanya bertemu ....


"Elo ...!"


"Kamu!"


"Eh tunggu kalian saling kenal?" tanya Wawan kepo.


"Wahhhh tampannnn nyaaaaaaa," ucap Yati sambil senyam-senyum.


"Emmm iya, aku sudah kenal Fatim," ucap Abas tersenyum yang menampakkan lesung pipinya, yang membuatnya semakin tampan.


"Iya Kak, dia ini sering banget nolongin gue dia ini pahlawan bertopeng gue," ucap Fatim sambil tersenyum, yang membuat jantung Abas berdetak lebih kencang bagaikan genderang perang.


"Jadi dia pria yang loe ceritakan waktu itu, yang nolongin loe sewaktu di Lembang ya, kalau nggak salah."


"Iya Kak, tapi gue sering lupa namanya, tadi siapa namanya." Melirik Abas.


*Ya Allah ... gadis ini membuat jantungku olahraga tak kenal tempat dan waktu, aku sebaiknya tak usah lama-lama disini, bisa-bisanya nanti aku mati perlahan menahan jantungku yang tak menentu, batin Abas.*


"Aku Abas, Muhammad Abas."


"Ah iya dan gue selalu lupa, maaf ya Bas."


"panggil Ka-kak , aku lebih tua darimu satu tahun."


"Cuma satu tahun pun," bantah Fatim.

__ADS_1


Sedangkan Yati sudah tak bersuara, matanya menatap Abas tak berkedip, senyuman manis tersungging dibibir tipisnya. Sambil bertopang dagu diatas kedua lututnya.


Melihat gelaja alay Yati yang sedang melalang buana membuat Fatim tergerak untuk mengusili temannya kesayangannya itu. Meskipun sedang terbaring sakit dan tidak leluasa bergerak, Fatim tidak menyerah. Dengan sedikit berteriak ia membuyarkan lamunan Yati.


"Awas kodok!" teriak Fatim dengan keras yang membuat Abas dan Wawan bingung sedangkan Yati tidak usah ditanya, dia sudah meloncat naik ke kursi dengan segala kelatahannya.


"Eh kodok ... kodok ... dasar kodok mambu, mana ... eh mana kodok," teriak Yati latah.


"Nggak ada kodok deh kayahnya," ucap Abas sambil melihat sekeliling.


Wawan yang sudah hafal dengan ulah Fatim hanya tersenyum melihat tingkah Abas yang bingung dan Yati yang ketakutan.


"Fren ... mana kodoknya?" Memeluk bantal.


"Nggak ada," jawab Fatim.


"Lah tadi teriak kodok?"


"Buat nyadarin loe yang entah terbang kelangit khayalan tingkat berapa," ucap Fatim tersenyum.


"Jadi kamu bohong perihal kodok itu?" tanya Abas.


"Iya," jawab Fatim singkat.


"Kamu tahu kalau bohong itu nggak baik, dan berdosa?"


"Tahu kok pak ustad ... eh Kak, sorry!" ucap Fatim.


"Syukurin loe, kena batunya sekarang dan gue ... akhhh senangnya ada yang belain," Meletakkan kedua tangannya dipipi.


"Dasar Oneng, semua ini karena loe," sunggut Fatim kesal.


"Lah kok salah gue sih?" protes Yati.


"Ya iya lah, coba kalau loe nggak bengong dan senyam-senyum sendiri liat Kak Abas, gue nggak akan ngagetin loe pake tuh kodok," jelas Fatim.


Wawan dan Abas tersenyum melihat banyolan kedua wanita didepannya.


"Sudah-sudah yang kalian berdua lakukan itu sama-sama salah, Fatim berbohong itu salah, dan ini dijelaskan dalam hadis Bukhori Muslim," ucap Abas.


"Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada perbuatan baik, dan perbuatan baik menunjukkan kepada surga dan sesungguhnya seseorang yang membiasakan jujur ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan, sesungguhnya dusta menunjukkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa menunjukkan kepada neraka, dan sesungguhnya seseorang yang biasa berdusta ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.โ€ (HR. Bukhari Muslim).


"Kamu dengarkan penjelasan aku berikut ini."


Mata adalah sahabat sekaligus penuntun bagi hati. Mata mentransfer berita-berita yang dilihatnya ke hati sehingga membuat pikiran berkelana karenanya. Karena melihat secara bebas bisa menjadi faktor timbulnya keinginan dalam hati, maka syariat yang mulia ini telah memerintahkan kepada kita untuk menundukkan pandangan kita terhadap sesuatu yang dikhawatirkan menimbulkan akibat yang buruk.


Perintah untuk Menundukkan Pandangan


Allah Taโ€™ala berfirman,


ู‚ูู„ู’ ู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูŽุบูุถู‘ููˆุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุจู’ุตูŽุงุฑูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุญู’ููŽุธููˆุง ููุฑููˆุฌูŽู‡ูู…ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุฒู’ูƒูŽู‰ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุฎูŽุจููŠุฑูŒ ุจูู…ูŽุง ูŠูŽุตู’ู†ูŽุนููˆู†ูŽ


โ€Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,โ€™Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara ***********. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.โ€™โ€ (QS. An-Nur [24] : 30).


Ibnu Katsir rahimahullah berkata,


ู‡ุฐุง ุฃู…ุฑ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู„ุนุจุงุฏู‡ ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ุฃู† ูŠุบุถูˆุง ู…ู† ุฃุจุตุงุฑู‡ู… ุนู…ุง ุญุฑู… ุนู„ูŠู‡ู…ุŒ ูู„ุง ูŠู†ุธุฑูˆุง ุฅู„ุง ุฅู„ู‰ ู…ุง ุฃุจุงุญ ู„ู‡ู… ุงู„ู†ุธุฑ ุฅู„ูŠู‡ ุŒ ูˆุฃู† ูŠุบุถูˆุง ุฃุจุตุงุฑู‡ู… ุนู† ุงู„ู…ุญุงุฑู…


โ€œIni adalah perintah dari Allah Taโ€™ala kepada hamba-hambaNya yang beriman untuk menjaga (menahan) pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. Maka janganlah memandang kecuali memandang kepada hal-hal yang diperbolehkan untuk dipandang. Dan tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan.โ€ (Tafsir Ibnu Katsir, 6/41)


Menundukkan pandangan mata merupakan dasar dan sarana untuk menjaga ********. Oleh karena itu, dalam ayat ini Allah Taโ€™ala terlebih dulu menyebutkan perintah untuk menahan pandangan mata daripada perintah untuk menjaga ********.


Jika seseorang mengumbar pandangan matanya, maka dia telah mengumbar syahwat hatinya. Sehingga mata pun bisa berbuat durhaka karena memandang, dan itulah zina mata. Rasulullah bersabda,


"Nah sekarang apa kalian berdua mengerti, dan sekiranya sudah faham berusahalah untuk menerapkannya sedikit demi sedikit," ucap Abas.


"Wah ... Bas, loe hebat gue nggak nyangka loe bisa sehebat dan seluwes itu menjelaskannya," puji Wawan.


"Maaf aku hanya menyampaikan apa yang aku tahu, bukan bermaksud menggurui, sekali lagi maaf ya," ucap Abas.


Kedua gadis itu terdiam apalagi Yati, dia merasa kali ini benar-benar seperti terlempar kejurang dalam oleh perbuatannya sendiri, dia menjadi sangat malu.


Abas yang melihat ekspresi kedua gadis itu berubah, juga merasa sangat bersalah.


"Fatim ... Yati ... maaf ya kalau aku terlalu menggurui, tapi walaupun pahit aku harus menyampaikannya," ucap Abas sambil menunduk.

__ADS_1


Yati dan Fatim saling pandang, Fatim meminta Yati untuk bicara melalui isyarat matanya, namun dijawab gelengan kepala oleh Yati.


"G-u-e t-a-k-u-t," ucap Yati tanpa suara tetapi melalui peragaan mulutnya.


Melihat ekspresi Yati membuat Fatim ingin tertawa, mulutnya mangap-mangap mirip ikan kehausan. Namun semua berusaha dia tahan, semua karena Abas. ia tidak mau diceramahi lagi.


Karena suasana yang hening membuat Abas semakin tidak enak.


"Aku permisi saja ya, aku doakan semoga kamu segera pulih dan sehat kembali ya Fatim, sehingga bisa terus menebar kebaikan, dan kamu cantik pakai hijab, jangan dilepas lagi ya," ucap Abas yang masih menunduk.


*Kok aku merasa perutku seperti digelitik saja saat dia bilang aku cantik, dan pujian inilah yang aku rindukan dari papaku, hari ini sudah diwakili olehmu Kak Abas,batin Fatim.*


Kini Abas sudah diambang pintu, Wawanpun ikut mengantarkanya.


"Terimakasih Bas, kamu bisa membuat kedua gadis bawelku terdiam, biasanya aku capek melerai keduanya," ucap Wawan.


Abas hanya tersenyum, dalam hatinya ia masih ingin berlama-lama didekat Fatim, namun ia harus ekstra kuat untuk menjaga hati dan pandangannya. Dan itu membuatnya terpaksa harus bersabar dan beristiqfar.


"Aku pamit ya Wan, assalamualaikum."


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh."


#Sementara itu di Cafe#


Kedua sahabat lama itu pun selesai bercerita. Sebelum berpisah Nadya menyempatkan diri untuk bertanya tentang kepindahan Abas.


"Mat ... Maryam ... kapan rencananya akan memindahkan Abas kesekolahnya Fatim?"


"Rencananya minggu depan, tapi tuh anak belum mau katanya, tapi nanti kami coba bujuk lagi deh,"ucap Rahmat.


"Iya Nad, semoga Abas mau ya," ucap Maryam.


"Aamiin semoga Abas mau pindah,"


Ketiganya tertawa, rasanya sudah tak sabar ingin menyatukan Abas dan Fatim, kalau bukan karena usia mereka yang masih muda.


Bersambung.....


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Fithree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


* Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


*Cindy Elvira


Ketika Muslimah Jatuh Cinta


* Karlina Sulaiman

__ADS_1


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


__ADS_2