Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
MISI 1


__ADS_3

🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tip kalian buatku, karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin. Selamat Membaca!🌻


#RUMAH ABI RAHMAT#


Seketika wajah Abas menjadi cerah, mendung yang mengelayuti hatinya seolah telah pergi entah kemana. Karena Abas begitu bahagia mendengar kalau Fatim sadar dan melewati masa kritisnya. Dengan segera Abas permisi kekamarnya dan disana ia segera melakukan sujud syukur dan kembali bermunajad kepada Allah SWT.


"Alhamdulillah ya Allah terimakasih karena telah mengijabah doa hambaMu yang dhoif(lemah) ini," ucap Abas setelah selesai dalam sujud panjangnya.


Setelah selesai dengan tergesa Abas keluar dari kamarnya untuk segera bergabung kembali dengan teman-temannya yang mungkin sudah memulai murojaah dan mufrodat.


"Abi ... Umi ... Abas permisi mau kembali kepondok untuk bergabung bersama teman-teman yang lain," ucap Abas seraya memasangkan peci dikepalanya.


"Iya Nak, bimbinglah adik-adik kelasmu itu dengan baik, Abi sebentar lagi juga menyusul untuk memantau kegiatan kalian," ucap Rahmat tersenyum pada Abas.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," jawab Rahmat dan Maryam bersamaan.


Abaspun segera keluar rumah menuju kelas murojaah dan mufrodat. Sedangkan Maryam dan Rahmat tersenyum menatap kepergian putranya yang tampak ceria seperti biasanya.


"Umi ... sepertinya perjodohan ini akan berjalan lancar." Melirik Maryam dengan tatapan lembut.


"Iya Abi, aamiin inshaa Allah," jawab Maryam juga tersenyum.


Sementara itu disebuah gudang kosong ....


Tampak Momon yang sedang mondar-mandir didepan sebuah pintu markas.


"Bagaimana?" tanya Momon dengan wajah tampa senyum pada anak buahnya.


"Ini hasil laporannya Bos, ternyata dugaan Bos benar, mereka adalah orang yang sama yang telah merusak motor Non Fatim dan juga yang menyebabkan Non Fatim kecelakaan." Menyerahkan file berserta plashdisk.


"Terimakasih banyak, sekarang kita tinggal menciduk mereka dan bawa kegudang, aku akan mengabari Ibu Nadya sekarang." Menerima file dan plashdisk.


Anak buah Momon segera berlalu, dan Momon pun mengambil ponselnya untuk menelpon Nadya.


"Tut ... tut ...."


"Halo assalamualaikum Mon, ada apa?"


"Waalaikumussalam Bu ... saya hanya ingin mengabarkan kalau yang merusak dan mencelakai Non Fatim adalah orang suruhan yang sama, dan kami sudah mengantongi semua identitas kelima pemuda itu," ucap Momon serius.


"Alhamdulillah, pokoknya jangan kasih ampun mereka, kali ini aku tidak akan mentolerir lagi siapapun itu yang ada dibelakang layar atas semua yang terjadi pada putriku," ucap Nadya dengan suara bergetar karena menahan marah.


"Baik Bu, malam ini kami akan segera eksekusi, aku akan membawa pasukan bawah tanah," ucap Momon.


"Maksudmu pasukan bawah tanah itu apa? Kalian akan baku tembak dan menyebabkan kerusuhan?"


"Bukan begitu Bu, pasukan bawah itu artinya pasukan rahasia khusus untuk penculikan tanpa jejak, mereka orang-orang yang profesional dalam hal beginian, jadi tidak akan ada kerusuhan," jelas Momon.


"Ohh seperti itu, baiklah aku akan tunggu kabar baik dari kalian." Menutup telepon.


#Ruang Dokter#


Setelah menerima telepon dari Momon perasaan Nadya sedikit plong, pasalnya dalam waktu dekat ia akan mengetahui siapa yang telah mencelakai putrinya.


Kini Nadya tampak lebih santai menuju keruangan dokter untuk mengambil resep obatnya Fatim, dan sekalian menanyakan perkembangan Fatim.


"Tok ... tok ....!" Nadya mengetuk pintu.


"Masuk!" seru dokter Harry yang menangani Fatim.


Dokter Harry adalah dokter yang baru pindah kerumah sakit Pelita Harapan, dia masih muda dan sangat tampan, banyak suster bahkan dokter perempuan yang masih lajang berusaha menarik perhatiannya. Namun dia tidak menanggapinya sama sekali.


Dan baru kali ini dokter Harry merasa hatinya berdebar halus saat bertemu perempuan dan itu adalah Fatim. Gadis yang baru ditemuinya sabagai pasien karena kecelakaan.


Namun ia hanya akan berusaha dekat dulu dengan Fatim, dia tidak mau ceroboh dalam mengambil keputusan.


"Selamat siang Dok," sapa Nadya.


"Siang, mari silahkan masuk Bu," ucap dokter Harry.


Nadya segera menarik kursi yang ada didepan meja dokter Harry dan duduk.


"Ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya dokter Harry ramah.


"Begini Dok, saya mau mengambil resep yang kemarin Dokter bilang itu, terus yang kedua saya juga mau menanyakan perkembangan anak saya saat ini," ucap Nadya sopan.


"Oo iya, ini untuk resepnya nanti silahkan ibu tebus diapotek rumah sakit ini saja, kalau tidak ada stok baru ibu bisa tebus ke apotek depan ya, kalau masalah perkembangan anak ibu sepertinya alhamdulillah makin banyak kemajuan, seperti pagi ini semua tensi dan detak jantung sudah stabil, serta perkembangan luka dalamnya semakin membaik," jelas doktet Harry.


"Alhamdulillah kalau begitu Dok, saya permisi." Mendorong kursi hendak berdiri.


"Ehmm Bu, apa saya boleh bertanya tentang putri ibu?"


"Iya Dok, mau tanya apa?"


"Apa dia masih sekolah?"


"Iya Dok, dia baru kelas satu SMA, kenapa rupanya Dok?"


"Oh tidak apa-apa Bu, hanya sekedar ingin tahu saja,"


"Ada lagi Dok?"


"Emmm dia suka makan buah apa?"


"Untuk apa dokter tanyakan itu," tanya Nadya penasaran.

__ADS_1


"Untuk dicantumkan dalam menu makannya nanti."


"Oo iya, dia suka makan semua buah kecuali buah durian, karena dia tidak suka baunya," ucap Nadya tanpa curiga.


"Ada lagi Dok?"


"Untuk sementara cukup Bu, kalau ada yang lain akan saya tanyakan lagi nanti," ucap Dokter Harry.


"Baik Dok, saya permisi! Assalamualaikum," ucap Nadya.


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, Ibu terimakasih." Menganggukkan kepalanya.


Nadya segera keluar untuk menebus resep obat yang dokter Harry berikan.


# Sementara itu di Ruangan Fatim #


Sepeninggalan Nadya, dengan cepat Yati masuk kekamar rawat Fatim. Dilihatnya sahabatanya itu sedang tertidur. Perlahan dia mendekati tempat tidur Fatim dan menarik sebuah kursi agar mendekat ketempat tidur sahabatnya itu.


Yati segera duduk dikursi yang telah ia tarik didekat Fatim. Diperhatikannya wajah Fatim yang sedang tertidur. Dalam. Benaknya ia bergumam.


Ya Allah kami semua sangat bersyukur padaMu karena masih menjaga Wajah cantik sahabatku, masih melindungi sahabatku dari kematian yang teragis, wajah ini yang selalu aku rindukan senyumannya, tangan ini yang selalu rajin membantu kami yang lemah, dan hatinya itu yang selalu dihiasi kebaikan budi. Cepatlah sehat teman, kami merindukanmu, terutama aku.


Dengan cepat Yati menghapus air matanya, karena ada yang mengetuk pintu. Perlahan Yati bangun dari duduknya, ia tidak mau Fatim terbangun karena ulahnya. Karena ia tahu, dengan banyak istirahat luka Fatim akan cepat sembuh.


Yati berjalan menuju pintu, dan membukanya pelan-pelan.


"Eh elo, jadi bener dong ini kamarnya Fa-." Omongan Rangga terputus karena Yati telah memberi kode keras dengan menempelkan satu jari didepan mulutnya.


"Loe pada jangan berisik, dia lagi tidur," ucap Yati berbisik.


"Tapi kita jadi masukkan?" tanya Dimas.


"Iya boleh tapi no (tidak) ribut," ucap Yati serius.


"Iya kita nggak ribut kok," ucap Rangga sambil melihat Dimas yang diikuti anggukan oleh darinya.


"Oke gue percaya, yuk masuk." Membuka pintu.


Ketiganya segera masuk, Rangga membawa buket bunga dan parsel buah, yang didalamnya telah dia tulis dengan secarik kertas berisikan doa untuk kesembuhan Fatim.


Sedangkan Dimas juga membawa bingkisan boneka yang didalamnya berisikan coklat chunkybarr dark chocolate dan white chocolate . Dimas tahu Fatim sangat menyukai coklat.


"Nih buat Fatim," ucap Rangga sambil menyerahkan buket bunganya dan parsel buah.


"Makasih ya," ucap Yati sambil meletakkan buah tangan Rangga diatas nakas dekat tempat tidur Fatim.


"Dan ini dari gue," ucap Dimas juga sambik menyerahkan buah tangannya.


"Makasih ya Kak," ucap Yati tersenyum.


"Buat gue nggak ada nih?" tanya Yati.


"Eh Kak Wawan juga disini," ucap Yati merasa malu, karena Wawan mendengar ucapnnya.


"Iya Ti ... nih buat loe, tadi tante Nadya telepon kalau kamu masih disini dan belum makan." Menyerahkan kantong keresek berisi makanan dan camilan buat Yati.


"Terimakasih ya Kak, gue jadi ngerepotin kalian semua," ucap Yati sambil tersenyum.


"Kakak nggak merasa direpotin kok, dan oh ya ini tamu teman Fatim semua?" tanya Wawan.


"Oh iya lupa kenalin Kak, ini teman sekolah gue dan Fatim, tapi mereka kakak kelas," ucap Yati.


Rangga dan Dimas segera berdiri dan menyalami Wawan.


"Kenalin gue Rangga." Menyodorkan tangan.


"Gue Wawan."


"Gue Dimas."


"Wawan."


"Ngomong-ngomong bukannya loe yang ada di My Cafe ya?" tanya Rangga.


"Oh iya gue kerja disana." jawab Wawan.


"Cafe itu bukan milik loe?" tanya Rangga lagi.


"Gue hanya manjer Cafe, yang memiliki Cafe itu anak tante gue, kenapa?" tanya Wawan balik.


"Apa hubungan loe dengan Fatim?" tanya Rangga curiga.


"Gue sama Fatim? Hubungan kita kakak sama adik doang nggak lebih." jawab Wawan.


"Ooh syukurlah kalau begitu, gue dapat percaya sama loe, tolong jaga Fatim dan Yati saat dia kerja disana. Dan tolong jangan menerima langganan bernama Gladis dan teman-temannya itu, mereka sangat licik dan suka menjahili Fatim dan Yati," jelas Rangga.


"Iya tanpa loe minta juga gue akan jaga mereka kok, mereka udah gue anggep adek gue sendiri," ucap Wawan tersenyum.


Wajah Yati memerah mendengar ucapan Wawan yang hanya menganggapnya adik, sedangkan sebelum Fatim kecelakaan dia pernah menyatakan perasaanya pada Yati.


Uhhh sebel jadi karena gue nggak ngasih jawaban sekarang dia cuma anggap gue adik, awas ya loe Kak Wawan.


Ketiganya terlihat asyik mengobrol sementara Yati memakan makanan yang dibawa Wawan, karena memang dia sudah sangat lapar.


"Kreeettt," suara pintu didorong.


Tampak dokter Harry masuk kedalam ruangan Fatim.

__ADS_1


"Wah banyak tamu rupanya, tapi kalian jangan ribut ya, kasihan pasien harus istirahat," ucapnya menatap kurang senang pada ketiga pemuda itu.


"Iya Dok maaf, kita baru datang kok," ucap Dimas yang diam sedari tadi.


Dokter Harry mendekat dan mengecek infus Fatim dan kantong kencingnya.


"Oke saya tinggal tapi tolong jangan berisik atau mengajak pasien mengobrol terlalu banyak, itu kurang baik untuk kesehatan jahitan didalam perutnya," ucap Dokter Harry menatap ketiganya dengan wajah datar.


"Iya Dok," jawab mereka serempak.


Dokter Harrypun segera keluar.


"Siapa para pemuda itu, apa mereka juga menyukai Fatim? Mereka terlihat masih muda dan tampan, sepertinya aku butuh perjuangan yang keras untuk mendekati Fatim," gumam dokter Harry pada dirinya sendiri.


#Sementara itu Markas Momon#


Momon sudah standby menunggu kedatangan pasukan bawah tanahnya. Diapun sudah memakai seragam detektif ala koboy kebesarannya. Lengkap dengan topi khas koboy, kaca mata hitam, pena, kunci mobil, kotak data, jaket kulit selutut seperti jas, dengan sepatu khas koboynya yaitu taji (spur).


Setelah hampir menunggu setengah jam, datanglah sebuah mobil pajero sport hitam dengan perlahan memasuki halaman markas. Kemudian turunlah lima orang lelaki dengan pakaian jas serba hitam lengkap dengan kaca mata hitam, yang menambah sangar penampilan mereka.


Wajah kelima lelaki itu sangat tampan, dengan tubuh yang atletis dan tinggi yang ideal, kelimanya turun dari mobil dan segera menuju kearah Momon.


"Selamat siang Bos! Kami siap bertugas," ucap seorang lelaki yang berkumis tipis dia adalah pimpinan pasukan bawah tanah yang bernama Rion.


"Siang Rion, ini data kelima pemuda yang akan kalian jemput, Tapi ingat harus dalam keadaan hidup, setelah beres kirim mereka ke gudang itu, perlakukan mereka layaknya tamu hotel," ucap Momon penuh dengan seringai yang memberikan kesan sangat berbeda dengan keseharian Momon yang biasanya.


"Siap Bos, kita berangkat sekarang," ajak Rion pada anak buahnya.


"Bos ikut kita atau ...." Melihat Momon.


"Gue sendiri aja, biar lebih enak gerakan kita," ucap Momon.


"Sip!" Mengajungkan jempol.


Merekapun segera berangkat untuk menjalankan misi.


Akankah misi mereka berjalan lancar? Tunggu episode berikutnya ya.


Bersambung.....


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik :


*Fit three fitri


- Cinta Untuk Dokter Nisa


-Arsitek Cantik


-Mengejar Cinta Ariel


*Almaira


- My Secret Wife


-My Love My Babysitter


*Putri Tanjung


-OB kerudung Biru


*Sohibul Ikhsan


-Putih Abu Abu


-Kembar Tidak Identik


*Sudrun


-Samudra


-Penjelajah Malam


*Ergina Putri


-My Love Is Only For You


-Melawan Rasa Takutku


*Envy YoWes Ben


MY Princes OG


*Sisca Nasty


-Mafia In Love


*CindyElvira


-Ketika Muslimah Jatuh Cinta


-Tulang Rusukku AZahara


*Karlina Sulaiman

__ADS_1


-Mencintaimu Dalam Diam


__ADS_2