
๐ปAssalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tip kalian buatku, karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin. Selamat Membaca!๐ป
#Markas Momon #
"Iya maafkanlah aku, inshaa Allah aku akan menunggu kedatangan kalian," ucap Nadya tulus.
"Tapi aku nggak bisa lama mengobrol, maaf ya karena aku masih ada urusan," ucap Nadya mengakhiri panggilan telepon keduanya.
#Gudang#
Kini mereka telah kembali berjalan menuju gudang.
"Mon ... apa menurutmu mereka akan buka mulut?" tanya Nadya sambil berjalan.
"Entahlah Bu, tapi sepertinya ada harapan kalau dilihat dari ekspresi mereka melihat video yang kita putar." Mendahului Nadya karena sudah dekat dengan pintu gudang.
"Aamiin, semoga saja. Dan kalian harus pastikan keselamatan dan kesejahteraan keluarga mereka semua terjamin," ucap Nadya.
"Meskipun mereka tidak buka mulu?" tanya Momon penasaran.
"Iya! Meskipun mereka tidak mau buka mulut." Mengekori Momon dari belakang.
*Sungguh mulia hatimu bu Nadya, masih saja perduli pada orang lain meskipun orang itu sudah menzdaliminya, batin Momon.*
"Klek!" daun pintu terbuka.
Aroma yang sama kembali menyeruak menusuk indera pencium semua yang ada disana.
Perlahan Nadya mendekati kelima lelaki yang terikat dikursi.
"Bagaimana? Apa ada yang mau bersuara?" tanya Nadya dalam seringainya.
Kelimanya masih membungkam. Suasana pun jadi semakin mencekam.
"Aku akan hitung sampai hitungan kelima, jika kalian ingin berubah pikiran silahkan bersuara sebelum hitunganku habis." Menatap sadis kearah kelima lelaki itu.
Tanpa basa-basi Nadya mulai menghitung dan saat hitungan kelima Nadya meminta Momon untuk mengeksekusi salah satu dari mereka.
"Satu!" Masih hening.
"Dua!" hening tak ada suara atau pergerakan.
"Tiga!"
"Empat!"
"Lima!"
"Doooorrrrrrr!" suara letusan senapan yang dipegang oleh Momon diiringi suara erangan seorang lelaki yang duduk terikat diposisi paling kanan. Dia adalah lelaki bujangan mantan santri.
"Akhhhhhhhhhh," teriaknya histeris. Sebuah timah panas telah bersarang dikakinya.
Darah segar mengalir perlahan membasahi celana jeansnya yang sobek.
"Kalian masih ingin bungkam?!" tanya Nadya.
Suasana mulai terasa panas karena ada sedikit pergerakan dari kelima lelaki itu.
"Akhhhh, sakitttttt," teriak mantan santri.
Nadya berjalan mendekatinya.
"Apa kau ingin bicara?" tanya Nadya.
"Cuhhh! Ia meludahi Nadya, beruntung Momon yang sigap melindungi Nadya sehingga terhindar dari ludahannya.
"Gue nggak akan bicara apapun padamu, pergi saja kau ke neraka," ucapnya sambil tertawa.
Nadya semakin geram dibuatnya, namun ia berusaha untuk sabar.
"Kresss." Nadya menginjak luka pada kaki lelaki itu.
__ADS_1
"Akhhhhhh! Sakitttt! Dasar wanita tua tak tahu diri," umpatnya.
"Yang tidak tahu diri itu kamu, mengkhianati orangtua sendiri, apa kamu ingin jadi anak durhaka hah." teriak Nadya tak kalah sengit.
"Mon putar video orangtua anak tak tahu diri ini," ucap Nadya sembari menjauh dari mantan santri tersebut.
Saat video diputar tampak seorang lelaki sedang terbaring diruang perawatan sebuah rumah sakit dengan seorang wanita paruh baya yang sedang menangis.
"Bapak yang sabar ya, semoga anak kita yang ada dipondok akan segera pulang, bapak pasti akan bangga nanti saat dia selalu mendoakan kita Pak, bapak nggak usah khawatir, ibu akan kerja untuk mengumpulkan uang agar ananda kita bisa pulang, karena setiap malam aku selalu medoakannya agar menjadi anak yang sholeh," ucap wanita itu dengan air mata terurai.
Doa Agar Anak Menjadi Sholeh Dan Sholehah
ุงูููููููู ูู ุงุฌูุนููู ุฃูููููุงุฏูููุง ุฃูููููุงุฏูุง ุตูุงููุญููููู ุญูุงููุธููููู ููููููุฑูุขูู ููุงูุณูููููุฉู ููููููุงุกู ููู ุงูุฏูููููู ู ูุจูุงุฑูููุง ุญูููุงุชูููู ู ููู ุงูุฏููููููุง ููุงููุขุฎูุฑูุฉู
(Allahummaj โal awladana awladan sholihiin haafizhiina lil qurโani wa sunnati fuqoha fid diin mubarokan hayatuhum fid dun-ya wal akhirah)
โYa Allah, jadikanlah anak-anak kami anak yang sholih sholihah, orang-orang yang hafal Al-Qurโan dan Sunnah, orang-orang yang faham dalam agama dibarokahi kehidupan mereka didunia dan di akhiratโ
Sedangkan lelaki yang terbaring tersebut meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya dengan erat, sebuah senyum terukir diwajah tuanya.
Wajah anak lelaki mantan santri itupun sekertika berubah, tanpa ia sadari sebuah krital bening mengalir dari sudut matanya. Dan itu adalah untuk pertama kali dalam hidupnya.
Kini Nadya kembali bertanya.
"Bagaimana? Masih ingin bungkam?!"
"Baiklah aku akan kembali menghitung lanjutannya, dan siap saja untuk kursi kedua merasakan akibatnya." Menyiapkan hitungannya.
"Enam!"
"Tujuh!"
"Delapan!"
"Stop!" teriak lelaki yang bernama Baron.
"Oke, kami akan bekerjasama tetapi apa kami bisa memegang ucapanmu?" ucapnya.
Momon pun segera memutar video keluarga kedua lelaki yang sudah menikah, tampak anak istrinya sedang berdoa keselamatan untuknya dan memohon rezeki yang halal.
Setelah suaminya berangkat Kerja mereka berdoa seperti ini " Ya Allah, mudahkanlah dan lancarkanlah rezeki suamiku hari ini, jika rezeki itu jauh dekatkanlah, jika dekat, rapatkanlah, jika masih tergantung di langit, turunkanlah, jika tersembunyi dalam perut bumi, keluarkanlah, jika sedikit, banyakkanlah, jika caranya susah untuk sampai kepada kami maka mudahkanlah. Sesungguhnya hanya Engkaulah yang Maha Memberi Rezeki, Maha Mengetahui dan Maha Sayang pada hamba-hambaNya. Hamba akui bahwa hamba belumlah menjadi hamba yang sempurna, anak yang berbakti, istri yang baik, ibu yang amanah pada anak-anaknya, masih berlumuran dosa dan kekurangan tapi selalu Engkaulah tempat kembali hamba. Tempat kembali untuk menuntun ke jalanMu. Maka tuntunlah kami ke jalanmu, tuntunlah kami menuju rezeki halalmu, tuntunlah hati kami menemukan cahayaMu. Lindungilah suamiku dimanapun berada. Amiin."
Kedua lelaki itupun juga menangis, rasa bersalah menyelinap direlung hatinya yang paling dalam, karena merasa bersalah telah menempuh jalan yang salah dan rezeki yang tidak halal.
Begitu juga dengan kedua lelaki yang broken home, disana tampak orangtua mereka meski sudah hidup terpisah tetapi nyatanya masih sangat perduli terhadap mereka, dimana tampak orangtuanya berusaha mencari mereka kemana-mana sampai memasang pengumuman keluarga yang hilang.
Kedua orangtua mereka bekerjasama untuk menemukan buah cintanya.
Menyaksikan keduanya membuat mereka juga merasa terharu, selama ini anggapannya terhadap kedua orangtuanya salah.
"Bagaimana? Kalian setuju?"
"Iya, kami akan bekerjasama tetapi tolong sebelum menyerahkan kami ke polisi, izinkan kami bertemu keluarga kami, sudah hampir satu tahun kami tidak bertemu," ucap Baron tertunduk sedih.
"Oke, itu tidak masalah, sekarang cepat katakan siapa yang menyuruh kalian dan apa motivasinya orang tersebut ingin membunuh putriku," ucap Nadya.
"Oke ... yang menyuruh kami adalah Putra, dia adalah teman sekolah putrimu, sebenarnya dia tidak menyuruh kami untuk melenyapkan putrimu, dia hanya meminta kami menculik putrimu karena dia sangat menyukai putrimu, setelah kami menculiknya maka dia akan meniduri putrimu dengan demikian pasti putrimu akan mau menikah dengannya," ucap Baron.
"Tetapi karena kami mengalami kesulitan untuk menculik putrimu maka kami berinisiatif untuk melenyapkannya saja, dan nanti akan melapor pada Putra kalau gadis itu mengalami kecelakaan," ucap Baron lagi.
"Oke terimakasih." Berjalan menjauh dan segera meminta Momon untuk melacak semua informasi tentang putra.
"Mon kamu urus semuanya, dan pastikan mereka berlima kalian obati dan siapkan sebaik mungkin untuk pertemuan mereka dengan keluarganya, aku akan pergi karena temanku sudah menunggu di cafe dekat rumah sakit Fatim dirawat," ucap Nadya.
"Siap Bu, akan kami lakukan sesuai perintah," ucap Momon.
Kini Nadya sudah bersiap meninggalkan markas Momon, menuju kembali kerumah sakit, karena sahabatnya Rahmat dan Maryam sudah menunggu dicafe dekat rumah sakit.
Namun sebelum pergi Nadya mencuci bersih tangannya dan menstrilkan pakainnya. Namun Nadya masih tetap mengenakan daster rumahan pemberian Bu Aniah.
Kini Nadya telah meluncur menggunakan mobil keluarganya yang dikemudikan oleh Mamat supir pribadi keluarganya.
__ADS_1
Tidak lama Nadya telah sampai dicafe yang ditunjuk oleh Maryam. Mamat yang melihat penampilan nyonyanya hanya tersenyum, dia sangat bangga pernah bertemu dan bekerja pada Nadya. Sosok wanita yang begitu baik dan rendah hati pada siapa saja.
"Pak ... langsung pulang saja ya, aku nanti nggak pulang tetapi langsung kerumah sakit nungguin Fatim," ucap Nadya.
"Iya Bu, siap!" ucap pak Mamat.
Kini Nadya sudah memasuki cafe dan mencari sahabatnya.
#Sementara itu diparkiran rumah sakit Pelita Harapan#
Seorang pemuda yang tak lain adalah Abas tampak sedang duduk manis didalam mobil menunggu kedua orangtuanya yang sedang bertemu sahabat lamanya. Ia masih bingung harus kemana dan melakukan apa, karena ini pertama kalinya ia menolak ikut pertemuan kedua orangtuanya karena merasa tidak enak sebab merasa sudah bukan anak-anak lagi.
Untuk mengusir kejenuhannya Abas mendengarkan kaset murotal didalam mobilnya. Sedang asyik mendengarkan kaset murotal tiba-tiba pintu mobilnya diketuk oleh seorang pemuda.
"Tok ... tok ...." Wawan mengetuk kaca mobil.
Dengan cepat pemuda itu menurunkan kaca mobilnya.
"Maaf kenapa Mas?" tanya Abas.
"Ini Mas, saya mau mindahin motor tetapi mobil Mas sedikit menghalangi," ucap Wawan.
"Oh iya maaf, tunggu saya mundur dulu," ucapnya.
Kemudian segera memundurkan mobilnya. Setelah selesai barulah Wawan bisa memindahkan motornya.
"Oke Mas, sudah maksih ya," ucap Wawan.
"Iya sama-sama," ucap Abas.
"Oh iya, Mas kenapa sendirian dimobil?" tanya Wawan.
"Oh saya sedang menunggu kedua orangtua saya yang ada pertemuan dengan teman lamanya dicafe depan," ucap Abas sambil tersenyum.
"oh gitu, Mas boleh kenalan nggak?" Tanya Wawan.
"Tentu boleh, kenalin aku Abas." Mengulurkan tangannya.
"Wawan." Menyambut tangan Abas.
"Apa Mas mau ikut saya agar nggak bosan?" tanya Wawan.
"Kemana?" tanya Abas penasaran.
"Tuh!" Menunjuk kerumah sakit.
"Siapa yang sakit Mas?" tanya Abas.
"Teman saya, yuk kalau mau ikut," ucap Wawan.
"Maaf Mas, temannya lelaki apa perempuan?" tanya Abas.
"Perempuan," jawab Wawan.
Setelah mendengar jawaban Wawan tentu saja Abas terdiam, dia belum memberikan jawaban.
Akankah Abas mau ikut Wawan bertemu dengan sahabatnya itu? Tunggu di next episode ya ....
Bersambung.....
Terimakasih sudah membaca.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
__ADS_1