Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
MULAI BERHIJAB


__ADS_3

๐ŸŒปTerimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. Selamat Membaca๐ŸŒป


"Mama harus makan biar sedikit, katamya besok mau ke sekolah Fatim mengurus masalah dibelakang sekolah kemarin."


"Oh iya Mama hampir lupa, baiklah tapi kamu temenin Mama ya."


"Inshaa Allah Ma, siap." Mencium pipi Nadya.


Keduanya mulai belajar untuk menata hati, agar tak larut dalam kesedihan, dan berharap esok kebahagian akan menjadi milik mereka.


Kebahagiaan akan kita peroleh jika kita bisa ikhlas dan bersyukur dalam menjalani semua tanpa berburuk sangka.


Kini Fatim menemani Nadya dikamar, ia berusaha menjadi tumpuan penguat bagi Mamanya yang sedang terpuruk.


Sedang asyik memijit tangan Nadya, terdengar ketukan pintu.


"Tok ... tok ... Bu saya nganterin makanan nih," ucap Bi Minah.


"Masuk aja Bik nggak dikunci kok pintunya," jawab Nadya.


"Kreiiit." Membuka pintu dan masuk kedalam kamar.


"Letakkan diatas nakas itu aja Bik." Menunjuk kearah nakas.


Dengan perlahan bibi meletakkan makanannya.


"Dimakan ya Bu ... saya permisi dulu." Meninggalkan kamar.


"Terimakasih Bik."


"Nah sekarang kita makan ya, biar Fatim yang suapin Mama, setelah itu baru Mama istirahat ."


"Aaaa ... ammm."


"Sayang ... Mama bukan anak kecil lagi, nggak usah bilang begitu."


"Nggak apa - apa Ma, dulu sewaktu Fatim kecil kan Mama suka gitu, biar Fatim selalu ingat jasa Mama tiada taranya."


Air mata Nadya kembali memetes, ia sangat terharu dan bahagia memiliki putri seperti Fatim.


"Udah Mama kenapa nangis lagi." Menghapus air mata Nadya.


"Mama terharu Nak, semoga kamu terus menyayangi Mama hingga akhir hayat Mama."


"Mama ... jangan ngomong seperti itu, cukup Papa saja yang meninggalkan Fatim, jangan Mama juga." Memeluk Nadya.


"Malam ini kamu tidur sama Mama ya!"


"Iya Ma, tapi sekarang Fatim kembali ke kamar dulu ya."


"Iya sayang, jangan lama - lama."


Fatim segera keluar kamar Nadya dan memuju ke kamarnya yang ada dilantai dua.


๐ŸŒปKamar Fatim ๐ŸŒป


Sampai dikamarnya Fatim segera membersihkan diri dan berganti pakaian kemudian berwudu dan melakukan sholat sunat hajat, dikarenakan ia sangat merindukan Papanya.


Setelah selesai sholat Fatim pun berdoa.


ุงู„ู„ู‘ู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุงุฑู’ุญูŽู…ู’ู‡ู ูˆูŽุนูŽุงููู‡ู ูˆูŽุงุนู’ูู ุนูŽู†ู’ู‡ู ูˆูŽุงูŽูƒู’ุฑูู…ู’ ู†ูุฒูู„ูŽู‡ู ูˆูŽูˆูŽุณู‘ูุนู’ ู…ูŽุฏู’ุฎูŽู„ูŽู‡ู ูˆูŽุงุบู’ุณูู„ู’ู‡ู ุจูู„ู’ู…ูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽู„ู’ุฌู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุฑู’ุฏู ูˆูŽู†ูŽู‚ู‘ูู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทูŽุงูŠูŽุง ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูู†ูŽู‚ู‘ูŽู‰ ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุจู ุงู„ู’ุงูŽุจู’ูŠูŽุถู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏู‘ูŽ ู†ูŽุณู ูˆูŽุงูŽุจู’ุฏูู„ู’ู‡ู ุฏูŽุงุฑู‹ ุงุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฏูŽุงุฑูู‡ู ูˆูŽุงูŽู‡ู’ู„ู‹ุง ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุงูŽู‡ู’ู„ูู‡ู ูˆูŽุฒูŽูˆู’ุฌู‹ุง ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฒูŽูˆู’ุฌูู‡ู ูˆูŽุงุฏู’ุฎูู„ู’ู‡ู ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ูˆูŽุงุนูุฐู’ู‡ู ู…ูู†ู’ ุนูŽุฏูŽุงุจู ุงู„ู’ู‚ูŽุจุฑู ูˆูŽููุชู’ู†ูŽุชูู‡ู ูˆูŽู…ูู†ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู


Allahummaghfir lahu warhamhu wa โ€˜aafihi waโ€™fu โ€˜anhu wa akrim nuzulahu wa wassiโ€™ madkholahu, waghsilhu bil maa i wats-tsalji walbarodi wa naqqihii minal khothoo ya kamaa yunaqqots- tsawbul abyadhu minad danas, wa abdilhu daaron khoiron min daarihii wa ahlan khoiron min ahlihii wa zawjan khoiron min zawjihi, wa adkhilhul jannata wa a โ€˜idzhu min โ€˜adzaabil qobri wa fitnatihi wa min โ€˜adzaabin naar.


Artinya : wahai Allah, ampunilah dan rahmatilah, bebaskanlah, lepaskanlah dia. Dam muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih dan sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan seperti baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnahnya, dan siksa api neraka.


Dengan berlinang air mata Fatim menutup doanya dengan menyapu kedua tangannya kemukanya.


Perlahan ia membuka Hpnya dilihatnya foto kenangan terakhir bersama Bram dengan baju koko putih dan celana putih serta kopiah hitam, tampak terukir senyum yang indah dan tulus meski sebenarnya beliau memendam sakit yang teramat parah.


"Papa ... Fatim mencintaimu, doa Fatim akan selalu menyertai Papa dan Mama, mengenai permintaan Papa agar Fatim berhijab akan segera Fatim tunaikan, Fatim nggak mau Papa masuk neraka karena Fatim." Mencium foto di Hpnya.


Kemudian Fatim segera melepas mukenanya dan bergegas ke kamar Nadya, ia tidak ingin Mamanya terlalu sedih meski sebenarnya diapun sangat sedih.


"Tak ... tok ... tak ... tok ...." Suara sandal Fatim menuruni anak tangga.


Sampai diujung tangga Fatim melihat ruang kerja Mamanya menyala, karena penasaran ia pun mendatanginya.


Perlahan Fatim memasukkan kepalanya melihat kedalam karena memang pintunya tidak terkunci. Dan ia mendengar Nadya berbicara ditelepon.


"Iya ... kalian atur saja bagimana baiknya, saat ini saya belum bisa konsen untuk mengurus perusahaan karena saya baru kemalangan, untuk satu atau dua minggu kedepan tolong kamu cancel semua jadwal meeting saya ya, oke!"


"Baiklah saya tutup, sebelumnya terimakasih banyak."


Saluran telepon ditutup dan Nadya kaget saat berbalik karena Fatim sudah bersiri didepannya.


"Astagfirullah halazim." Memengang dadanya.


"Ya Allah Fatim kamu ngagetin Mama saja."


"Maaf Ma, tadinya mau langsung ke kamar Mama tapi melihat ruang kerja Mama terbuka dan lampu menyala jadi deh penasaran."


"Kamu kebiasaan ya, suka ngagetin Mama."


"He ... he ... iya Ma, maaf."


"Siapa yang telepon Ma?"


"Sekretarisnya Mama, minta dia yang urus semua perusahaan dulu, Mama rasanya belum bisa konsentrasi."


"Ya sudah Mama nggak usah mikir yang macam - macam dulu, cukup fokus untuk istirahat dan nenangin pikiran Mama.


"Iya dokter kecilku, terimakasih anjurannya." Memeluk Fatim.


"Yuk kita balik ke kamar Mama."


Keduanya pergi menuju ke kamar Nadya.


๐ŸŒปKamar Nadya ๐ŸŒป


"Klek." Membuka pintu.

__ADS_1


"Ayuk Sayang." Menarik tangan Fatim.


Keduanya berjalan menuju tempat tidur yang bernuansa putih yang sangat luas.


"Sayang yuk berbaring disini dekat Mama."


"Iya Ma." Naik ketempat tidur.


"Matikan saja lampunya Sayang."


"Ma!"


"Kenapa Sayang, kamu nggak mau lampunya Mama matikan?"


"Bukan Ma, tapi ...." Fatim tidak melanjutkan ucapannya.


"Tapi kenapa Sayang?"


"Apa Mama ingat pesan Papa yang terakhir?"


"Iya ingat Papa mau kamu menerima perjodohanmu."


"Ih Mama bukan yang itu, tapi yang satunya lagi."


"Apa kayaknya Mama lupa deh." Mengaruk keningnya pura - pura lupa.


"Beneran Mama nggak ingat?"


"Ehmm apa ya?"


"Papa ingin kita berdua berhijab Ma." Melirik Nadya.


"jadi bagaimana menurutmu?"


"Fatim sayang Papa, Fatim nggak mau Papa masuk neraka karena kita berdua nggak. berhijab." Menatap Nadya dengan wajah yang serius.


Lama Nadya mendandangi putrinya dan ia tersenyum.


"Sebenarnya berhijab bukan hanya permintaan Papa Sayang namun itu wajib bagi kita umat muslim, seperti ayat yang Mama baca," ucap Nadya.


ูŠูŽุงุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ู‚ูู„ู’ ูู„ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูŽ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชููƒูŽ ูˆูŽู†ูุณูŽุงุกู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูุฏู’ู†ููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุฌูŽู„ุงูŽุจููŠุจูู‡ูู†ู‘ูŽ


Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. (QS al-Ahzab [33]: 59).


"Karena sudah memgetahui itu maka iya sayang kita akan mewujudkan keinginan Papa, kita akan berhijab."


"Mulai kapan Ma?"


"Besok!"


"Tapi bagaimana Fatim sekolah?Baju Fatim? Trus nanti Fatim akan jadi tontonan karena aneh sendiri?" Dengan wajah bingung.


"Tadi katanya sayang Papa?"


"Iya Ma tapi ...."


"Kalau sayang Papa seharuanya semua maslaah yang ada tidak akan menjadi halangan, Mama yakin dengan mengingat Papa kamu pasti bisa melewati semuanya."


Sedangkan Nadya hanya tersenyum, ia membayangkan wajah Fatim yang cantik memakai jilbab pasti akan semakin cantik. Dengan cepat Nadya memesan baju sekolah baru untuk Fatim ke tukang jahit langganan sekolah mereka yang besok pagi harus sudah jadi.


"Halo maaf menganggu, saya ingin anda segera menjahitkan baju sekolah muslimah untuk salah seorang siswi disekolah kita pakai ukuran tubuh Fatimah Ananbra, dan besok jam 07.00 wib pagi sudah dikirim ke alamat rumah saya, maaf kalau kali ini saya merepotkan kalian." Menutup telepon.


Kini Nadya ikut berbaring disamping putrinya yang telah tertidur dengan wajah bingung.


๐ŸŒปPagi Menyapa ๐ŸŒป


Suara azab subuh sudah berkumandang membelah keheningan fajar yang mulai menyingsing.


"Sayang ... Sayang!" Menepuk pipi Fatim.


Namun seperti biasa Fatim akan sangat susah untuk bangun.


Nadya segera berwudu dan ia mengusap sisa air wudhu yang ada diwajahnya ke wajah Fatim.


"Ehmmm dingin, masak sih kamar Mama bocor juga," ucap Fatim sambil menggaruk kepalanya.


"Iya kamar Mama bocor dan akan semakin. deras airnya kalau kamu tidak bangun," ucap Nadya tersenyum.


Dengan cepat Fatim membuka matanya lebar - lebar, dan segera berteriak karena melihat Nadya telah membawa air satu gayung.


"Ampun Ma ... ampun, ia Fatim segera berangkat dan sholat." Tersenyum dengan terpaksa.


Dengan malas Fatim segera berangkat memuju ke kamar mandi, dan segera berwudu.


"Sayang kita jamaah yuk?"


"Emang Mama bisa?"


"Inshaa Allah bisa Sayang."


Jadilah keduanya hari itu sholat berjamaah, dan Fatim tentu saja sangat bersyukur bisa jamaah bersama Mamanya.


๐ŸŒปRuang Makan ๐ŸŒป


Setelah sholat subuh bersama, kini Fatim telah kembali ke kamarnya sendiri, ia bersiap mandi untuk segera kesekolah karena masa fakuktatif mereka sudah habis, dan malahan Fatim udah absen dua hari masuk sekolah yang seharusnya sudah hari Senin kemarin.


Sedang asyik memakai seragam sekolahnya yang biasa tiba - tiba pintu Kamarny diketuk.


"Tok ... tok ...."


"Neng ini seragam barunya,"ucap Bi Minah.


*Seragam baru? batin Fatim.*


Dengan cepat Fatim segera membuka pintu.


"Klek." Membuka pintu.


"Nih Non bajunya." Menyodorkan bungkusan kresek.


Fatim menerima kresek itu dengan tanda tanya yang besar. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk membukanya.

__ADS_1


"What baju baru? Kapan Mama belinya? Apa Mama sudah tahu permintaan Papa?Haduhhh bagimana ini?" Memantaskan baju barunya.


Dengan terpaksa Fatim mengganti pakainnya dengan yang baru yaitu sebuah seragam atasan tangan panjang dengan baju seperti baju kurung selutut dan sebuah rok lipat berwana abu sebatas mata kaki, serta tak ketinggalan kain putih segi empat yang cukup lebar.


"Kok gue kelihatan kayak anak MAN sih, dan nih kain gimana makainya?"


Dengan cepat Fatim membuka google tutorial hijab kain untuk sekolahan.


"Hemm ini namanya jilbab, dan makainya begini, gue perlu bitingin ini disini dan disini, lalu ... taraaaa selesai," ucap Fatim pada dirinya sendiri.


Fatim mematut dirinya dicermin.


"Kayak bukan gue aja, cantik, manissss," ucap Fatim senyam senyum sendiri.


"Oke gue siap turun, bissmillah gue pakai ini karena kewajiban gue pada Allah, bukan karena siapa - siapa," ucap Fatim meluruskan niat berhijabnya.


Setelahnya Fatim segera turun menuju keruang makan untuk sarapan.


๐ŸŒปRuang Makan ๐ŸŒป


Semua asisten rumah tangga Fatim yang berjumlah sepuluh orang juga sudah berkumpul diruang makan, hari ini Nadya sengaja memgajak mereka semua makan bersama untuk memberikan semangat baru bagi dirinya dan Fatim yang inshaa Allah hari ini telah mantapkan niat untuk berhijab.


Nadya tampak cantik dengan balutan jilbab kaos berwarna hijau daun senanda dengan atasan kaos selutut yang pakainya dengan celana kulot berwarna hitam.


Namun semua mata tertuju kepada asal suara.


"Assalamualaikum, selamat pagi semuanya, ayo sarapan bersama," ucap Fatim ceria seperti biasa.


Tak ada yang menjawab salam Fatim, katena semua terpesona dengan penampilan Fatim yang baru.


"Kok semua bengong sih? Nggak ada yang mau jawab salam Fatim?"


"Uhmm waalaikumussalam," ucap Nadya dan yang lainnya serempak.


"Subhanallah, Non Fatim cantik sekali," puji Pak Mamat.


"Iya." jawab Bik Minah dan diikuti oleh ART yang lainnya.


"Sayang kamu sangattttt cantik, Mama sampai pangling lihat kamu."


Fatim memasang senyum termanisnya menyambut pujian semua orang dirumahnya.


"Terimakasih, apa sekarang kita boleh makan, sebentar lagi Fatim mau berangkat lo."


"Sayang ... Mama jadi kangen mau mengikat rambutmu."


"Nih Mama perbaiki ya, Fatim tadi asal aja mengikatnya takut copot."


Semuanya makan bersama dan setelahnya Nadya memperbaiki ikatan rambut Fatim agar tidak terlepas.


"Ma ... Fatim berangkat ya." Mencium pipi Nadya.


"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh."


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabatokatuh."


"Sayang kamu naik apa?"


"Motor Fatim yang biasa Ma."


"Tapi kamu kan pakai rok sekarang, naik mobil saja ya?"


"Nggak mau."


"Rok mu bagaimana?"


"Nih." Mengangkat roknya karena didalamnya Fatim telah memakai celana panjang.


"Ya Allah Nak, cuma penampilan aja yang berubah, sifatnya mah belum." Menepok jidatnya.


Sedangkan Fatim sudah meluncur dengan motor kesayangannya menuju kediaman Yati sahabat yang sudah sangat dirindukannya, dan ia sengaja tidak Menelponnya biar jadi kejutan buat Yati.


Bersambung.....


Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Nyanyian Takdir Aisyah.


dan karya apik author yang lain :


Fit Fithree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


* Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


My Heart Is Only For You


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Sudrun


Penjelah Malam


Samudra


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


*Sisca Nasty

__ADS_1


Mafia In Love


__ADS_2