
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
Rumah Abas ....
Kita tunggu saja ya, Nak. Hanya abimu yang berhak untuk menyampaikannya bukan umi." Maryam menata putranya sambil tersenyum.
Abas hanya bisa menghela napas sebagai ungkapan perasaanya yang kesal karena merasa penasaran, dan saat ini ia merasa sangat khawatir kalau- kalau sang ayah memintanya untuk segera bertunangan, sedangkan ia menyukai gadis lain.
Hampir satu jam Abas dan ibunya menunggu kedatangan Rahmat. Dan akhirnya yang ditunggu datang juga.
"Assalamu'alaikum!" Rahmat memberi salam di depan pintu rumahnya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Abas dan Maryam bersamaan.
"Maaf kalau kalian nungguin abinya lama, soalnya tadi di masjid masih ada tamu." Abas melepaskan sandalnya kemudian meletaknya di rak.
"Alhamdulillah," Rahmat mendudukan tubuhnya di kursi kayu jati bermotif bambu, sederhana namun terlihat elegan.
"Apa Abi mau makan dulu aja?" Maryam menawari suaminya.
"Oh tidak usah, Umi. Nanti saja kita makannya sama-sama dengan anak-anak pondok yang lain, mereka bencana ngeliwet nanti siang."Rahmat melepas pecinya. Tampaklah rambutnya yang sudah mulai memutih.
Abas yang sedari tadi diam sekarang ikut membuka suara.
"Hmm Abi, sebenarnya ada masalah apa sehingga memanggil Abas untuk pulang, sepertinya ini sangat mendesak?" tanya Abas penasaran.
"Kamu benar, ini sangat penting. Masalah ini menyangkut sekolah dan masa depanmu." Rahmat memperbaiki posisi duduknya menghadap ke Abas sekarang.
Abas terlihat sangat tengang sekarang, begitu juga dengan ibunya, Maryam. Kedua orang tuanya merasa khawatir kalau tiba-tiba Abas menolak atau membatalkan semua rencana sekolahnya ke Al azhar.
"Begini, Bas. Satu minggu yang lalu, abi menerima sepucuk surat dari Al Azhar, sekolah yang sudah sejak lama ingin kau tempuh. Ini menyangkut beasiswamu. Alhamdulillah kamu ke terima hanya saja ada syaratnya." Rahmat diam sejenak.
"Alhamdulillah," ucap Abas tampak gembira sekaligus bingung. Mengenai syarat apa yang harus dia penuhi.
"Syaratnya apa, Bi?" Maryam mulai kepo, tentu saja yang namanya wanita sangat ingin tahu akan segala hal apalagi ini menyangkut kehidupan anak atau suaminya.
"Hmm iya, apa syaratnya, Bi. Kok aku jadi deg-degan." Abas mencoba setenang mungkin agar rasa kekhawatirannya tidak tampak.
"Syaratnya cukup membuat abi merasa khawatir dan tidak tenang." Rahmat tersenyum tipis melihat putranya.
Abas dan uminya, Maryam. Keduanya hanya saling pandang. Mereka tak mau mencela ucapan Rahmat yang terjeda.
"Syaratnya kamu belum boleh menikah sampai pendidikan kamu selesai." Rahmat tampak mengela napasnya.
"Kok begitu, Bi?" Maryam juga terlihat kesal.
Berbeda dengan Abas, ia merasa senang. Dalam hatinya ia bersyukur karena akan terhindar dari ikatan suci dengan orang yang belum dia kenal apalagi cinta.
"Jadi bagaimana, Bi?" Maryam juga terlihat khawatir. Mereka ingin segera mengikat Abas dan Fatim dalam ikatan suci agar tidak ada kemungkinan salah satu dari mereka yang akan jatuh cinta pada orang lain.
"Yah mau tidak mau kita hanya bisa melakukan kitbah aja sebelum Abas berangkat nanti." Rahmat terlihat kurang bersemangat.
*Umi dan Abi kenapa terlihat sangat ingin aku segera menikah, apa sebegitu tidak sabarnya mereka ingin menimang cucu, aku kuliah aja belum masa udah harua jadi seorang ayah?*
Abas diam-diam tersenyum, dia sangat berharap ini do'anya yang telah diijabah oleh Allah agar ia bisa berjodoh dengan Fatim, gadis yang disukainya. Bukan dengan gadis pilihan orang tuanya.
"Bagaimana menurutmu, Bas?"
"Ehm ...mmm kalau Abas terserah umi dan abi saja," ucap Abas dengan tersenyum. Saat ini kelebat bayangan Fatim melintas dikepalanya, yang membuatnya harus cepat-cepat beristiqfar.
__ADS_1
"Kamu istiqfar kenapa?" Rahmat heran melihat putranya.
"Bukan apa-apa kok, Bi." Abas merasa malu karena ketahuan sedang menghayal gadis lain yang menjadi tambatan hatinya.
"Kapan Abas akan berangkat, Bi?" tanya Abas pada ayahnya.
"Kurang lebih dua atau tiga bulan lagi. Kenapa?" Rahmat menautkan alisnya menanggapi pertanyaan putranya. Ia merasa heran, sejak berada di Jakarta Abas terlihat berubah lebih ceria.
"Mi, yuk siap-siap. Kita ngeliwet bareng anak-anak." Rahmat beranjak dari duduknya untuk menganti baju serta sarung.
"Kamu juga, Bas. Mana tahu nanti nggak bisa lagi makan bareng anak-anak pondok kita karena harus pulang lagi ke Jakarta dan bersiap pergi ke Al Azhar." Rahmat mengajak Abas untuk turut serta.
"Iya, Bi. Inshaa Allah." Abas juga masuk ke kamar untuk mengganti bajunya. Sampai di kamar ia mengecek ponselnya kalau-kalau ada pesan dari Fatim.
"Yah kok dek Fatim tidak membalas pesanku, hanya membacanya saja," gumam Abas pada dirinya sendiri.
Abas meletakkan kembali poselnya di atas nakas. Ia segera kembali setelah berganti pakaian untuk ikut makan ngeliwet bersama anak- anak pondok.
"Bas, kamu jadi ikut nggak?" sapa Maryam pada putranya.
"Iya, Umi. Ini sudah siap kok." Abas segera keluar dari kamarnya. Kemudian berjalan menghampiri Ibunya yang sudah menunggu di luar.
"Abi, mana?" tanya abas yang tak menemui sang ayah saat berada di luar.
"Abi sudah duluan, tadi Hanafi dan yang lainnya sudah kemari, memintanya untuk membaca do'a." Maryam menjelaskan pada putranya.
Mereka berduapun pergi menuju ke aula, tempat liwetan diselenggarakan. Smbil berjalan Abas mengajak ibunya mengobrol.
"Umi, apa Abas boleh tanya sesuatu?"
"Hmm boleh aja, kalau bisa umi jawab maka akan umi jawab." Maryam tersenyum pada putranya.
"Ini tentang perjodohan itu, Umi." Abas menatap sekilas pada ibunya.
"Hmm nggak kok, Mi. Hanya mau tahu saja, gadis seperti apa yang umi dan abi pilihkan untuk aku." Abas mulai menyelidik.
"Yang jelas dia manis, cantik, pintar, dan inshaa Allah shalihah juga. Tetapi dia belum begitu memahami agama secara dalam, maka itu tugas kamu yang akan membimbingnya nanti." Maryam menjelaskan.
Abas terdiam, dia bingung bagaimana harus jujur pada uminya perihal gadis yang disukainya, apa mereka akan kecewa dan marah jika ia menolak perjodohan ini.
*Seandainya aku punya saudara, mungkin aku bisa menghindari perjodohan ini tetapi sayang aku anak satu-satunya, dan itu satu hal yang mustahil. Asstaqfirullah, ampuni aku yaa Allah. Bukan maksudku tidak menyukuri nikmat-Mu.*
Abas mengusap wajahnya kasar yang membuat Maryam curiga.
*Jangan-jangan anakku ini memang sudah mencintai gadis lain, kalau ini benar bagaimana dengan Nadya dan Fatim? Ahhh aku nggak bisa membayangkannya. Meski aku tahu Nadya adalah wanita yang murah hati.*
Ibu dan anak itu larut dalam pikirannya masing-masing. Tak terasa kini mereka sudah masuk ke aula, acarapun sudah dimulai juga. Tampak di depan sana Hanafi sedang memberikan kultum sebelum makan bersama.
*****
SMA Unggulan ....
Hari ini Fatim kurang konsen mengikuti pelajaran, pikirannya hanya fokus pada satu hal yaitu kak Pop, sahabat sekaligus cinta masa kecilnya. Hal ini tentu saja membuat sahabatnya merasa sangat bingung.
"Fren loe lagi mikirin apa sih? Kayaknya dari tadi loe gelisah deh." Yati menyeruput es teh manis pesananya.
"Gue ehmm nggak biasa aja." Fatim berusaha menutupi kegelisahannya.
"Loe nggak usah bohongin gue, kita udah hampir satu tahun lagi bersama, dan gue sangat hafal semua tentang loe, gestur loe, pokonya semuanya tentang loe. Hanya satu yang belum gue tahu, rumah loe. Nanti gue mau main ke tempat loe." Yati tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
"Kalau masalah rumag gue, itu loe yang salah. Udah sering juga gue ajak loe selalu nolak." Fatim mencibir di depan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Iya-iya gue yang salah, tapi besok-besok kalau loe ajak gue mau kok." Yati memasang wajah tidak berdosanya.
"Udah yuk kita balik, bentar lagi udah bel masuk jam terakhir." Fatim mengajak YATI untuk pulang ke kelas. Namun saat akan membayar ke kantin mereka berdua bertemu dengan Gladis CS.
"Hei-hei lihat, siapa yang kita temui kali ini." Teriak Gladis sambil menyeringai penuh cibiran.
"Wauu loe benar, Dis. Sudah lama sekali kita tidak berurusan dengan dua curut ini, yang mulai sok cakep dan sok imut. Sampai-sampai cowok cool dan tampan yang baru masuk itu juga mau dia embat," cerocos Risks sahabat kental Gladis.
"Kayaknya mereka berdua ini sudah rindu ingin bermain dengan kita." Adel ikut menimpali.
Ketiganya tertawa sambil berkaca pinggang.
"Sudahlah, apa loe masih belum kapok dipanggil ke dewan sekolah, hah." Fatim menjawab dengan tak kalah seram.
"Auwww akiuuu( aku) takutttt." Gladis menampilkan ekspresi pura-pura takut yang diikuti dengan gelak tawa ketiga sahabtnya.
"Apa yang akan loe lakuin hah, gue nggak takut!" Gladis menarik jilbab Fatim hingga membuat gadis itu terpaksa ikut mendongkak ke atas.
"Tolong lepasin sebelum gue benar-benar marah!" Fatim masih berusaha sabar meski tarikan Gladis membuat rambutnya sakit.
"Loe nggak pantes pakai tutup kain busuk kayak gini." Riska hendak menarik jilbab Fatim dengan tujuan ingin membuangnya.
Namun belum sampai tangannya meraih jilbab yang ingin dia buang, Fatim sudah mencekal tangannya dengan sangat kuat. Begitu juga dengan tangan Gladis sudah ia remas dengan sekuat tenaganya yang membuat pegangnya pada jilban Fatim terlepas.
Yati sudah bersembunyi di samping meja kasir. Tak ada yang berani melerai kejadian ini. Mereka semua tidak mau berurusan dengan Gladis, anak kepala sekolah.
"Loe berani sama gue, hah. Tunggu saja gue akan buat loe dan curut itu keluar dari Unggulan ini." Gladis memaki karena tangannya sangat sakit akibat di remas oleh Fatim.
"Gue nggak takut, kita lihat saja siapa yang akan keluar dari sekolah ini. Bukan hanya kalian bertiga tetapi juga bapakmu juga akan ikut keluar dari sekolah ini." Fatim terlihat makin geram. Kesabarannya selama ini rasanya sudah cukup buat Gladis dan para sahabatnya.
"Ha ... ha ...belum tahu juga kamu siapa yang kamu ajak debat kini, kami adalah anak-anak donatur sekolah ini, dan ingat tak ada seorang pun yang bisa mengeluarkan kami dari sekolah ini karena tidak ada yang mau sekolah ini bangkrut." Shinta yang sedari tadi diam ikut bicara.
"Baiklah, kita lihat saja nanti siapa yang akan keluar, kami atau kalian. Dan satu hal yang perlu kalian ingat. Bukan aku yang meminta ini tapi kalian, dan SMA Unggulan ini tidak butuh para donatur kere yabg selalu menjilat kesana kemari untuk bisa tenar. Kita akan lihat tidak selamanya kalian berada di atas, sekali-sekali kalian harus coba bagaimana rasanya di bawah." Fatim mencibir ke lima orang yang sudah benar-benar membuat kesabarannya habis.
"Kamu!" Riska mengayunkan tanagannya hendak penampar Fatim namun yang terjadi sebaliknya.
"Plakkk!"
Lima jari Fatim menempel hangat di pipi Riska. Merasa temannya teraniaya Gladis hendak membalasnya.
"Plakkk!
Tangan hangat Fatim juga mendarat mulus di pipi Galdis yang membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Masih ada yang mau?" Semua terdiam mencekam. Seisi kantin menatap takjub pada Fatim. Sudah bertahun-tahun tidak ada yang berani bertindak demikian, mereka semua berharap Fatim akan selalu ada dan selamat untuk membela kaum yang lemah seperti mereka.
"Tidak ada lagi yang mau?" Fatim mengulang pertanyaannya.
"Kita cabut, Yati. Dan untuk kalian berlima sampai ketemu di dewan sekolah." Fatim berlalu dengan mengandeng tangan sahabatnya yang sudah pucat karena takut. Keduanya berjalan menuju kelas. Untuk sesaat ingatan Fatim akan Abas terabaikan.
Bersambung ....
Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula sudah setia membaca novel remahanku juga untuk Tap jempol serta komennya!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah ya dibawah ini:
Selain itu kalian boleh intip juga novel-novel yang menjadi favorit aku, cerita mereka juga nggak kalah seru lo, kalau nggak percaya coba aja untuk membacanya. ini nih novelnya.
__ADS_1
satu lagi yang ini, juga novel favorit aku pokoknya seru abisss.