
🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. Selamat Membaca🌻
🌻Yogyakarta 🌻
Setelah berpamitan dengan keluarga Pram, akhirnya Fatim dan Nadya memutuskan untuk pulang, lagian masa fakultatif sekolah Fatim sudah berakhir.
Kini mobil Nadya dan Fatim telah meluncur meninggalkan Yogyakarta, Fatim membawa semua kenangan indahnya bersama Bram pulang, meski hanya sebentar cukup membuat Fatim merasa menjadi seorang anak yang paling bahagia pernah memiliki keluarga yang utuh.
Kedua ibu dan anak itu masih tampak berduka tak ada yang bicara, sesekali Fatim atau Nadya menyeka air matanya. Perjalanan mereka kali ini diliputi dengan kesunyian, karena keduanya masih diliputi duka yang mendalam, setelah sedikit kebahagiaan yang sempat mereka rasakan.
Tujuh jam sudah berlalu kini mereka telah memasuki kota Jakarta, hari sudah sangat larut. Pak Mamat segera menghubungi rumah untuk menyiapkan air hangat dan makanan untuk kedua majikannya yang masih dibalut kesedihan.
🌻Jakarta 🌻
"Halo Assalamualaikum, Minah kami sudah sampai diJakarta, mungkin tidak lama lagi kami akan sampai, jadi tolong kalian siapkan air hangat dan makanan untuk Ibu Nadya dan Non Fatim, kasihan mereka," ucap Pak Mamat.
"Baiklah Mat, kalian hati - hati semoga segera sampai dirumah, kami akan siapkan semuanya."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Sambungan telepon terputus, dan mobil melaju dengan kecepatan sedang. Karena sudah hampir dini hari Pak Mamat merasa mulai mengantuk, namun ia tidak berani untuk bicara pada majikannya yang sedang berduka, mobil yang dibawa Pak Amat mulai berjalan dengan tidak stabil.
Untunglah Fatim menyadari hal itu dengan cepat sehingga ia mulai menyapa Pak Mamat.
"Pak ... Pak Mat, apa Bapak baik - baik saja?"
"Eh ... iya Neng, maaf Bapak sedikit mengantuk."
"Sebaiknya Bapak istirahat dulu, biar Fatim yang bawa mobilnya," ucap Fatim.
"Nggak usah Neng, ini sudah tugas Bapak."
"Iya tapi Bapak sudah kecapeaan, kalau nanti pas bangun kita sudah dirumah sakit atau malah sudah nggak bisa bangun Bapak Mau?"
"Strreeet." Menginjak rem mendadak, mobil berderit.
"Maaf Neng ... maaf iya Bapak istirahat, Bapak nggak mau semua itu terjadi, Bapak masih pengen hidup buat nyaksiin kebahgiaan Neng Fatim dan Ibu."
"Ya sudah kalau begitu kita tukeran, biar Fatim yang bawa." Melepaskan sitbeltnya dan pindah ke depan.
Kini Pak Mamat duduk disamping Fatim katena kemudi telah Fatim ambil alih. Mobil kini perlahan mulai melaju, namun saat melintas dijalan yang cukup sepi tak jauh dari jembatan tempat Kak Jefry dan John mangkal mobil Fatim dibegal. Banyak preman yang menghadang mereka.
"Hei turun loe," ucap salah seorang preman.
Mobil Fatim telah terkepung, dan ia tak keluar dari mobilnya, Nadya dan Pak Mamat telah tertidur sehingga tidak menyadari bahaya yang ada didepan Mata. Dengan cepat Fatim segera menghubungi Momon yang baru saja berpisah dengan mereka diperempatan jalan.
"Halo Pak Mon, kami dibegal tidak jauh dari jembatan lokasi Kak Jef dan Jon, cepat kemari dan bawa pasukan, Fatim akan menghubungi Kak Jef juga."
"Baik Non segera ke TKP, kalian harus bertahan!"
Setelah menelpon Momon kini Fatim menelpon Kak Jefry.
"Halo Kak Jef kalian dimana?"
"Kakak ditempat biasa, jagain anak - anak, kenapa? Tumben telepon malam - malam, ada yang bisa Kakak bantu?"
"Iya Kak mobil Fatim dibegal, posisi kami tidak jauh dari bascamp Kakak, tolong ya Kak!"
"Nggak usah khawatir Kakak akan ajak yang lain bersiap."
"Terimakasih Kak!"
"Jangan sungkan Dek, kapan lagi kami bisa berguna buat kalian."
Panggilan telepon pun Fatim tutup, ia masih berdiam diri didalam mobil, karena jumlah preman yang membegal mereka lumayan banyak sekisaran belasan orang sedang ia sendiri mungkin akan kewalahan.
"Hei turun loe, kami butuh harta benda loe," ucap preman itu semakin kasar.
Demi melindungi mamanya dan Pak Mamat, akhirnya Fatim memutuskan untuk turun dengan berbekal tongkat base ball yang memang sering disediakan Fatim dimobilnya untuk perlindungan diri. Kemudian Fatim mengunci mobil agar keduanya aman.
Kini Fatim berada diluar mobil dan bersiap menghadapi mereka.
"Wih ternyata yang turun seorang putri, tampaknya loe aja cukup untuk kita malam ini nggak musti harta melulu," ucap preman yang tadi mengetuk kaca mobil sambil tertawa terbahak - bahak diikuti teman - temannya yang lain.
__ADS_1
"Bagaimana cantik? Loe siap jadi piala bergilir malam ini buat kita?" Lirik kanan dan kiri melihat teman - temannya.
"Cih ... tidak akan semudah itu, gue akan babat loe semua," ucap Fatim jengah.
Semua preman itu tertawa merasa omongan Fatim hanya gertakan saja. Dengan berani preman yang tadi mengetuk kaca mobil mendekat hendak memeluk Fatim, namun ...
"Happp ... buck." Tubuh preman itu terbanting ketanah.
Melihat reaksi Fatim yang diluar dugaan membuat mereka geram.
"Seranggggggg!" Menunjuk kearah Fatim.
"Buck ... pakkk ... bammm ...."
Perkelahian pun tak terhindarkan, meski sendiri Fatim masih bisa bertahan. Sudah lima atau enam orang yang berhasil Fatim banting ke tanah. Perkelahian semakin seru karena bala bantuan dari Jefry dan Jon sudah datang.
Hanya dalam hitungan menit semua preman itu telah berhasil dibekuk.
"Kalian Geng siapa?" Bentak Jefry.
"Kami Geng Lembah Kematian," jawab salah satu dari mereka.
"Tetapi kenapa kalian beroperasi didaerah kami?"
"Tadinya kami hanya sedang bersantai, tetapi melihat rezeki datang kami tak bisa menahan diri."
"Kalian tahu yang kalian begal siapa?"
"Nggak kami nggak tahu." Mengusap bibirnya yang berdarah.
"Dia Bos kita."
Mendengar Kak Jef menyebutnya bos Fatim segera melotot, namun Jefry pura - pura tidak melihatnya.
"Pantas saja dia hebat dan tidak takut, kami minta maaf Bos, kami tidak tahu kalau loe Bos preman juga soalnya masih muda dan cantik."
"Ampun Bos tolong jangan hukum kami, kami janji mulai malam ini kami akan berbakti pada Bos."
Sebenarnya Fatim hampir saja mau tertawa merasa ini terlalu berlebihan menurutnya.
"Oke kalau begitu untuk menjadi anak buah gue harus ada syaratnya." Melipat tangan didepan dadanya.
"Besok gue mau loe semua ikut sholat zuhur berjamaah dimasjid Panti Asuhan Al Barkah."
"Apa Bos sholat berjamaah?"
"Iya, kalau nggak mau ya sudah nggak usah jadi anak buah gue, loe semua gue serahin ke yang berwajib."
"Jangan Bos, iya kita mau tapiii ...." Serempak mereka terdiam.
"Besok temui Kak Jef untuk ambik baju koko dan sarung serta sajadah."
"Siappp Bos!"
"Oke Kak Jef, makasih banyak ya Fatim cabut dulu."
"Iya Dek, belanja besok pakai uang mana?"
"Bonus bengkel saja, bulan ini belum setor ke panti kan?"
"Iya Dek belum, siap laksanakn."
"Rombongan Kak Jef juga ikut ya."
"Inshaa Allah siap."
"Habis sholat nanti ajak mereka baksos,.dan pekerjaan mereka dibengkel, penuhi semua keperluan mereka, jika masih kurang hubungi Fatim saja ya."
"Siap laksanakn." Memberi hormat.
"Oke Kak, Fatim kembali ke mobil ya, kasihan Mama sama Pak Mamat di kunci dimobil."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
__ADS_1
Kini mobil Fatim telah kembali melaju menuju kerumahnya, dengan kejadian barusan membuat Fatim melupakan kesedihannya sejenak.
🌻Kediaman Fatim 🌻
Perlahan mobil Fatim segera memasuki halaman parkirnya yang luas. Setelah pas barulah Fatim segera turun, dan membangunkan Pak Mamat.
"Mama ... mama sayang, kita sudah sampai lo." Menepuk pipi Nadya dengan lembut.
"Pak ... Pak Mamat kita sudah sampai."
Kedua penumpang kesayangnnya perlahan mulai bergerak dan membuka matanya.
"Ini dimana Neng?"
"Dirumah kita Pak Mat."
"Eh sudah sampai ya, maaf Bapak ketiduran." Mengucek matanya.
Pak Mamat segera turun, dan menunggu diluar mobil.
"Hoammm," Menguap sambil Mengucek matanya.
"Mama sayang, kita turun ya!"
Perlahan Fatim membantu Mamanya melepaskan sitbelt dan membantunya turun dari mobil.
"Ma kita langsung ke kamar Mama saja ya, nanti biar makanannya Bi Minah antar saja ke kamar."
"Nggak usah sayang Mama nggak lapar." Berjalan mengikuti Fatim menuju kekamarnya.
"Mama harus makan biar sedikit, katamya besok mau ke sekolah Fatim mengurus masalah dibelakang sekolah kemarin."
"Oh iya Mama hampir lupa, baiklah tapi kamu temenin Mama ya."
"Inshaa Allah Ma, siap." Mencium pipi Nadya.
Keduanya mulai belajar untuk menata hati, agar tak larut dalam kesedihan, dan berharap esok kebahagian akan menjadi milik mereka.
Kebahagiaan akan kita peroleh jika kita bisa ikhlas dan bersyukur dalam menjalani semua tanpa berburuk sangka.
Bersambung.....
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Nyanyian Takdir Aisyah.
dan karya apik author yang lain :
Fit Fithree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
* Almaira My Secret Wife
My Love My Babysitter
* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu
Kembar Tidak Identik
Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
My Heart Is Only For You
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Sudrun
Penjelah Malam
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
__ADS_1
*Sisca Nasty
Mafia In Love