Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
TRAGEDI


__ADS_3

Kini Fatim juga sudah duduk disamping Rangga tak lupa memasang headsetnya yang membuat Rangga kembali muram karena alamat akan dicuekin sama Fatim dimulai , mobil mereka telah meninggalkan Lembang menuju Jakarta. Goodbye Lembang yang punya sekelumit cerita buat Fatim.


Mobilpun telah perlahan bergerak meninggalkan Lembang tepatnya kampung Teropong Bintang yang menjadi salah satu situs kebanggaan Indonesia. Fatim sibuk dengan lagu yang didengarnya, sehingga ia tidak memperhatikan keadaan sekitarnya, sedangkan Rangga yang mulai merasa bosan akhirnya memutuskan untuk tidur.


Cuaca yang tadinya cerah tiba - tiba kini diselimuti awan hitam yang pekat udara mulai terasa dingin. Pak sopir segera berbicara melalui microfon mobil untuk meminta semua penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman. Mendengar instruksi pak sopir Rangga segera terbangun, ia segera mengecek kondisi kawan - kawan yang menjadi peserta Karya Wisata. Hanya Fatim yang terlihat masih santai dan cuek dalam tidurnya karena ia mengenakan headset.


Akhirnya setelah memeriksa keadaan yang lain Rangga kembali kekursinya dan duduk disebelah Fatim, ditatapnya wajah cantik yang tanpa beban tertidur pulas disampingnya.


*Ah wajah cantik loe Fatim membuat gue semakin penasaran dan ingin memiliki loe bagaimanapun caranya, dan gue akan nembak loe nanti disaat ulangtahun loe.*


Dengan perlahan Rangga menepuk bahu Fatim, ia takut Fatim marah saat terganggu tidurnya.


"Fatim... Fatim.. bangun dong kita sedang dalam kondisi kurang baik saat ini." Ucap Rangga pelan dan mesra.


"Krik.. krikk... krikkk."


Masih hening, belum ada pergerakan dari gadis cantik disebelahnya.


"Fatim... Fatim.. bangun dong !"


"Ehmmm, kenapa sih kak?" Ucap Fatim serak.


"Kenakan sabuk pengaman, kondisi cuaca diluar sedang ekstrim."


Dengan cepat Fatim memperbaiki posisi duduknya.


"Es krim, mana kak? Mau gue! "


"Apaan sih loe Fatim, orang kakak bilang ekstrim bukan es krim! " Ucap Rangga tersenyum.


"Jadi nggak ada es krim? "


"Ya nggak lah! "


"Ya udah kalau nggak ada es krim gue tidur lagi aja."


"Eh jangan Fatim, loe lihat deh keadaan sekitar kita." Pinta Rangga.

__ADS_1


Akhirnya dengan malas Fatim bangun dan mulai memperhatikan sekitarnya, barulah ia menyadari situasi yang mereka alami begitu menghkawatirkan. Fatim menyaksikan teman - temannya sudah terdiam dengan wajah yang pucat dan takut.


Mobil berjalan dengan perlahan, cuaca semakin tak bersahabat, hujan mulai turun dengan lebatnya diiringi sahutan petir yang menggelegar, ditambah dengan kuatnya hembusan angin. Semua terasa mencekam, tak ada yang berani berbicara, semua sibuk melapaskan doa sesuai agama mereka masing - masing.


"Suit.... suuuittt" Suara angin yang semakin bergemuruh. Lalu terdengar suara sahutan petir. Anak - anak perempuan mulai berteriak karena takut.


"Tret... tretttt.. duarrrrrr."


"Akhhh... ya Allah lindungilah kami". Teriak mereka hampir bersamaan.


Mobil yang bergerak perlahan terpaksa berhenti karena hujan yang sangat lebat mempengaruhi jarak pandang pak sopir. Suasan menjadi semakin tegang tak kala badan mobil mulai bergoyang - goyang tertiup angin.


Pak sopir mengingatkan mereka semua sebaiknya segera keluar dari mobil dan mencari perlindungan lain saja, karena sepertinya posisi mereka saat ini merupakan perlintasan angin ****** beliung yang memang sudah diprediksikan oleh BKMG wilayah setempat. Namun pak sopir tidak menyangka badainya akan terjadi pagi menjelang siang, karena perkiraannya akan terjadi siang menjelang sore.


"Sebaiknya kalian semua keluar nak, dan mencari perlindungan ketempat yang lebih aman."Ucap pak sopir.


"Ayo teman - teman kita keluar, untuk mencari perlindungan disekitar kita." Ucap Rangga.


Namun semua tidak ada yang mau keluar, karena hujan sangat lebat, ditambah kilatan petir yang menggelegar, membuat semua semakin takut.


"Tapi kalian harus keluar, ini jalur perlintasan badainya! "


Melihat kawan - kawannya yang sudah ketakutan, Fatim memberanikan diri untuk mengajak teman - temannya turun.


"Teman - teman semua ayo kita turun, gue akan turun duluan."Ucap Fatim segera berdiri.


Namun saat itulah sebuah sapuang angin yang dahsyat mendorong mobil mereka bergerak menuju kepinggir jurang, dan mereka tidak tahu kalau itu adalah tepi jurang. Tubuh Fatim yang tidak lagi terikat sabuk pengaman terpelanting menghantam kaca depan sopir, dahinya mengeluarkan darah. Semua menjadi panik dan histeris saat mobil mereka mulai terlempar kedalam jurang dan...


"Brukkk, pranggg."


Mobil mereka menghantam kayu besar dan tertahan disana, kaca mobil pecah berderai banyak yang histeris karena terluka oleh serpihan kaca.


"Ya Allah tolong kamiiii". Teriak mereka didalam mobil.


Kini mobil mereka menyangkut dipohon besar yang dibawahnya tentulah jurang. Posisi mereka aman dari terpaan angin sekarang tetapi tidak aman untuk keselamatan mereka yang kini terancam akan jatuh kejurang sedalam sepuluh atau belasan meter. Tubuh Fatim yang tak terikat sabuk masih bergerak merangkak melihat kondisi teman - temannya. Banyak yang terluka karena pecahan kaca mobil.


"Kalian harus tenang, kalau panik akan menambah rasa khawatir dan itu nggak baik untuk kondisi kita sekarang, sebaiknya kalian jangan banyak bergerak, pertahankan posisi mobil kita agar tetap seperti ini sampai nanti bala bantuan datang ."Ucap Fatim menenangkan temannya - temannya.

__ADS_1


Isak tangis menghiasi suasana mobil, namun ada satu isakan yang membuat Fatim melupakan sejenak rasa takutnya.


"Ya Gusti Allah, gue belum mau mati, gue masih jomblo, gue mau nikah, gue mau punya anak yang ganteng dan cantik, hu... hu... ayah... ibu... tolong Yati." Ucap Yati dalam tangisnya.


"Dasar loe oneng, kita udah kritis kayak gini loe masih mikir kawin."Ucap Fatim sambil tersenyum.


"Kan sayang fren gue masih perawan juga."


"Yang penting sekarang loe berdoa biar kita cepat selamat, kalau kita nyemplung dalam tuh jurang, ilang dah tuh perawan, mau loe? "


"Enggak ."


"Ya udah tetep diem diposisi loe, gue akan cari bantuan." Sambil meninggalakan sahabatnya itu.


Perlahan Fatim merangkak didalam bus yang sudah berbau anyir darah, isak tangis teman - temannya membuat seorang Fatim harus kuat demi mereka. Rangga pun dengan berat hati harus merelakan Fatim keluar mobil untuk memanjat tepi jurang mencari bantuan untuk mereka. Pak sopir telah mematikan mesin mobil untuk mengurangi resiko meledak, dan ia meminta Fatim untuk mengambil sebuah tali tambang dibagasi belakan mobil, perkiraannya dengan berat badan Fatim harusnya tidak memengaruhi kondisi mobil saat ini.


Dengan hati - hati Fatim keluar merangkak dibadan mobil untuk menuju bagasi belakang yang telah terbuka untuk mengambil tali tambang yang akan digunakan untuk mengikat mobil siapa tahu nanti terlepas dari pohon mereka tidak akan langsung jatuh kejurang melainkan masih terikat dipohon.


Setelah berjuang cukup berat Fatim berhasil mengambil tali tambang tersebut, perlahan Fatim mengikat tambang tersebut ke pohon yang menopang mobil mereka saat ini. Setelah dirasa cukup kuat Fatim segera merangkak menyusuri tepi jurang untuk naik keatas untuk mencari bantuan, karena semua alat komunikasi mereka telah rusak dan basah karena mobil terjatuh waktu itu.


Beruntungnya Fatim mempunyai fisik yang kuat karena ia rajin berolahraga. Dengan sudah payah Fatim berhasil mencapai puncak tepi jurang dan mulai naik, meski berkali - kali ia harus terperosok karena licin, tubuh fatim telah dipenuhi luka lecet, namun semua tak diperdulikannya demi dua puluh enam nyawa yang sedang menantinya dibawah sana.


Akhirnya Fatim yang sudah berlumuran darah dan lumpur berhasil mencapai jalan raya, karena badai tidak ada kendaraan yang melintas, tempat kejadian perkaranya telah Fatim tandai dengan mematahkan beberapa pohon, agar ia tak lupa posisi mobil mereka. Cukup jauh Fatim berjalan karena memang posisi mereka waktu kejadian sedang ditanjakan dekat hutan dan jurang.


Setelah berlari menyusuri jalan raya, muncul dua buah mobil yang saling beriringan dan ini memberi sebuah harapan buat Fatim dan para sahabatnya. Mobil truk yang syarat dengan penumpang pria yang berseragam loreng berhasil dihentikan Fatim , melihat kondisi Fatim mobil minibus sebuah pondok pesantren pun ikut berhenti.


Fatim segera menceritakan semuanya kepada para tentara itu, dan mereka segera berlari menuju arah yang Fatim ceritakan. Begitu juga dengan penumpang minibus pondok itu berisikan santri laki - laki, mereka juga keluar dan ikut membantu.


Rombongan tentara itu segera menghubungi mobil derek untuk membantu mengeluarkan bus yang syarat dengan penumpang. Dengan perjuangan yang berat, akhirnya mobil bus yang mereka tumpangi berhasil dikeluarkan. Dan semua penumpang telah dievakuasi kerumah sakit terdekat tak terkecuali Fatim. Ia tak menyadari kalau dalam rombongan santri itu ada seseorang yang tempo hari juga menolongnya dihutan.


*Ah... dia.. kan gadis yang waktu itu ehmmm siapa ya.. ehmmm eh iya aku ingat dia Fatim, sungguh bidadari tangguh berhati malaikat, berani mempertaruhkannya nyawanya demi banyak nyawa. Ah kenapa jantungku setiap melihat atau menyebut namanya selalu berdetak lebih kencang. Fatim... oh Fatim, semoga dilain waktu kita bertemu lagi.*


Bersambung....


Terimakasih telah membaca karyaku, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu, tinggalkan jejak like dan komennya ya karena itu sangat berarti untuk author.


Mampir juga ya ke karyaku Nyanyian Takdir Aisyah, dan ke novel favoritku Cinta Untuk Doktet Nisa dan Arsitek Cantik, aku tunggu ya. 😍

__ADS_1


__ADS_2