
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
*****
Kediaman Ustad Rahmat ....
Keduanya tampak saling pandang, mereka khawatir kalau-kalau Abas sudah mendengar semuanya.
"Abi-Umi! kok bengong sih?" ucap Abas lagi.
"Eh iya, anu ... kamu udah lama?" Tanya Abinya.
"Nggak kok, Bi. Barusan datangnya."
"Alhamdulillah," ucap keduanya serentak. Yang membuat Abas penasaran.
"Apaan sih, Umi!" tanya Abas bingung.
Dan keduanya kompak menjawab." Ada aja, kamu mau tahu aja atau mau tahu banget?" tanya keduanya yang membuat Abas makin penasran.
"Umi dan Abi, aneh deh. Nggak biasanya begini," ucap Abas menggelengkan kepalanya.
"Bagus dah."Rahmat menepuk pundak putranya sambil masuk kedalam bilik pribadinya, yang diikuti oleh Maryam, istrinya.
Loh, kok bagus? Apa abi salah minum obat ya? Kok jadi aneh gitu abias dari Jakarta? Batin Abas.
Dalam kebingungannya Abas juga masuk kebilik miliknya. Ya hari ini Abas akan menginap dirumahnya karena akan ada yang mau dibicarakan.
*****
Menjelang salat Isya ....
Keluarga Rahmat segera besiap untuk salat ke masjid.
"Bas!" sapa Rahmat.
"Iya, Bi. Ada apa?" Memakai sandalnya di depan pintu.
"Nanti habis salat isya, kamu segera kerumah ya." Ikut memakai sandal.
"Memang ada apa, Bi. Sepertinya penting sekali." Melipat sajadah dan mengalungkannya keleher.
"Ada deh pokoknya, nanti saja kita bicarakan. Sekarang yuk kita kemasjid sudah azan." Melangkah keluar menuju masjid yang di ikuti oleh putranya.
Dalam benanknya tentu saja Abas tetap penasaran, yang membuatnya pikirannya melayang layang.
*****
Setelah selesai salat, teman-teman Abas menghampirinya.
"Abas! Abis isya ini kita pergi kerumah ustad Anam yuk!" Hanafi mengajaknya.
"Wah, afwan Fi. Aku tidak bisa ikut kali ini." Merapikan peralatan salatnya.
"Kenapa rupanya kau tak bisa ikut, Bas?" tanya Maruli teman mereka yang dari Medan.
Semua tersenyum menatap sahabatnya itu. Karena sangat jarang Maruli mau ikut nimbrung saat sedang mengobrol. Biasanya dia akan lebih suka mendengarkan hafalannya di earphone.
"Kenapa pula kalian. tersenyum, hah? Apa karena terpesona dengan suaraku yang lembut?" timpalnya lagi.
Tak khayal semua tawa pecah diantara para santri pengahafal Qur'an tersebut.
"Ya sudah lah, aku diam saja. Lebih baik aku kembali kekamar saja." Hendak berangkat dari duduknya namun di tahan oleh Abas.
"Sabarlah Mar, aku baik-baik saja. Alasan aku tidak bisa ikut karena sesuatu yang ingin abi bicarakan, dan sepertinya ini sangat penting. Soalnya tidak biasanya abi atau umi ana bersikap demikian." terang Abas akhirnya sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
"Jangan-jangan antum mau segera dinikahkan, Bas?" celetuk Fajar.
__ADS_1
Semua segera menjadi heboh dan riuh, gegara celetukan Fajar. Dan seketika Abaspun menegang. Entah kenapa saat mendengar kata dinikahkan, pikiran Abas melayang. Terlintas bayangan Fatim, gadis yang diam-diam disukainya. Ada rasa nyeri dalam relung kalbunya. Ia merasa menjadi lelaki yang lemah, tak bisa memperjuangkan cintanya, demi membahagiakan kedua orang tuanya.
"Bas, kok malah melamun sih," sapa Ibrahim, kakak senior mereka.
"Eh ... iya, maaf," ucap Abas salah tingkah karena ketahuan melamun.
"Apa antum suka sama cewej yang kita ikuti waktu itu?" tanya akhi Ibrahim.
"Hmm begitulah, Akhi." Abas menundukkan kepalanya.
"Antum pulanglah sekarang, dengarkan dulu apa yang abi antum mau katakan, kalau tentang perjodohan atau pernikahan nanti ana akan bantu untuk bicara sama abinya, antum. Kalau memang antum mau," ucap akhi Ibrahim lagi.
"Tidak usah akhi, biarkan saja. Inshaa Allah ana akan baik-baik saja. Ana yakin pilihan abi dan umi pasti yang terbaik." Abas tersenyum hambar.
"Antum, yakin?" Menatap Abas.
"Inshaa Allah. Ana mantap." Kali ini Abas tersenyum manis.
"Alhamdulillah, berbahagialah kedua orang tua, antum. Memliliki anak yang sangat patuh pada perintah keduanya." Ibrahim menepuk pundak Abas.
"Kalau begitu, ana permisi dulu. Assalamu'alaikum," ucap Abas berpamitan.
Semua menjawab salam Abas dengan serentak. Sepeninggalan Abas mereka semua masih berbincang tentang perjodohan Abas. Karena tidak sedikit di antara mereka juga ada beberapa yang sudah dijodohkan.
*****
Sementara itu di kediaman keluarga Abas. Kedua orang tuanya sudah menunggu. Hari ini ustad Rahmat sengaja tidak mengisi pengajian karena sudah berjanji pada putranya akan membahas sesuatu tentang masa depannya.
Abas berjalan sedikit tergesa, ia tidai mau kedua orang tuanya menunggu terlalu lama. Kini Abaspun sudah memasuki pekarangan rumahnya.
*Kenapa aku merasa deg-deg kan? Apa benar abi akan menikahkan ana sekarang ya? Lalu cintaku pada gadis itu? Yaa Allah. Hamba serahkan pada-Mu segalanya. Jika kami memang berjodoh maka itu semua pasti akan ada jalannya. Batin Abas.*
Abas meletakkan sandalnya ke rak sandal. Kemudian dia mulai mengetuk pintu." Tok ... tok ... tok! Assalamu'alaikum!" ucap Abas sedikit keras khawatir kedua orang tuanya tidak mendengar salamnya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Rahmat dan Maryam bersamaan.
"Masuk aja, Nak. Sebaiknya kamu segera mencuci tangan lalu kita makan camilan yang sudah di buat oleh umi mu. Ini ada bubur sumsum, makanan kesukaanmu." Rahmat menatap putranya sambil tersenyum.
*Apa sih sebenarnya yang abi atau umi sembunyikan dari Abas? Sampai umi rela membuat makanana kesukaan Abas. Pastilah ini sesuatu yang sangat penting. Aku harus bergegas.*
Setelah mengganti pakaiannya dengan baju kaos dan celana training, Abas segera keluar kamar, tak lupa ia membawa sebuah buku kecil dan pena, kalau-kalau nanti diperlukan untuk menulis sesuatu yang penting.
"Abi-Umi, tumben membuatkan camilan kesukaan Abas, pasti ada yang sangat penting ya," ucap Abas setelah sampai di dekat kedua oramg tuanya. Kemudian dia segera menarik kursi dan ikut duduk bersama keduanya.
"Sini mangkokmu, biar umi ambilkan bubur sumsumnya." Maryam meminta mangkok yang sedang dipegangi oleh putranya.
"Nih, Umi!" Abas pun segera memberikan mangkoknya pada sang ibu, yang tetap masih terlihat cantik dimatanya, meski telah tampak beberapa kerutan diwajahnya yang mulai menuju sepuh.
Ada yang belum tahu apa itu bubur sumsum? Nih author kasih penampakannya dan sedikit penjelasan tentangnya.
Bubur sumsum adalah termasuk makanan tradisional yang memiliki sejarah tersendiri karena derajat bubur lebih rendah dari nasi, bubur di negara Indonesia lebih merujuk pada keterbatasan, sehingga rasanya sulit menemukan sejarah bubur yang memiliki campuran daging hewan pada masa itu. Lalu mengapa bubur beras ketan ini dinamakan dengan bubur "sumsum"? Karena bubur ini memiliki warna putih seperti warna sumsum tulang, maka penamaan dari penganan ini adalah bubur sumsum. Sekarang readers udah tahu ya asal usul nama bubur sumsum?
Bubur sumsum ini merupakan salah satu bubur khas Indonesia yang terbuat dari tepung ketan dan biasa disajikan bersama siraman gula merah dan santan. Bubur ini tak hanya menjadi favorit anak-anak, tapi juga remaja maupun orang tua. Termasuk juga keluarga Abas, dan author juga. He ... he ... Maaf bercanda biar nggak bosen. Oke kita lanjut!
Kini Abas dan Rahmat mulai menyantap bubur sumsum buatan Maryam yang sangat lezat. Tentu saja ini adalah saatnya Rahmat untuk memulai ucapannya.
"Bas, sebentar lagi kamu akan segera menyelesaikan hafalanmu, dan abi serta umi pun akan berusaha untuk mewujudkan mimpimu ke Al Azhar. Namun ...." Rahmat menggantungkan ucapannya.
"Namun apa, Bi?" tanya Abas penasaran.
"Abi ingin kamu pindah sekolah selama satu tahun ini, untuk melancarkan bahasa inggrismu, serta pengetahuan umum mu. Abi punya kenalan di Jakarta, dia memiliki sebuah sekolah SMA yang bertaraf internasional. Sekolah itu sekolah unggulan," jelas Rahmat.
Abas diam, mencerna setiap kata yang Rahmat berikan. Sehingga membuat Maryam yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia ikut buka suara.
"Bagaimana, Nak? Apa kamu mau?" tanya Maryam.
Abas masih sibuk dengan pikirannya, dalam hatinya ia sangat bersyukur ini bukan perkara pernikahan. Dan ini sekolahnya di Jakarta, itu artinya suatu saat pasti dia bisa bertemu Fatim, gadis impiannya yang kedua setelah Loli, cinta masa kecilnya yang sekarang dia tidak tahu dimana berada.
__ADS_1
Apakah jawaban yang akan Abas berikan tunggu di next episode ya, bye!
🌹Bersambung.....🌹
Terimakasih sudah membaca.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*Laura V
Sang Pengoda
*Bintun Arief
Keteguhan Hati
*Kauma
I Love My Army Wife
*Novi Wu
Bos Come Here Please!
*Ricky Wijaksono
Api Dibumi Majapahit
*Samar
Cinta Di antara Dendam
* Sylala Yaya
Istri kedua tuan Krisna
* Cherin Kauma
l Love My Army Wife
__ADS_1
*Oktavia Tresiani
Pacarku Hantu