
Suasana temaran dengan taburan bintang di langit malam kota Bandung menemani dua insan yang sedang pacaran dengan posisi Abas berbaring dipangkuan istrinya. Mereka membentang tikar lesehan direrumputan dekat taman.
"Dek lihat deh, langitnya begitu indah." Abas menunjuk ke atas, tempat hamparan jutaan bintang bertaburan.
"Iya tapi tak seindah hatiku saat ini." Fatim terlihat cemberut.
"Kok bibirnya maju lima centi, minta diservice?" Abas mencolek bibir istrinya.
"Bukan minta diservice cuma minta potong aja, biar langsung kelihatan gigiku kayak gini." Fatim menipiskan bibirnya sambil menamerkan giginya yang membuat Abas tertawa terbahak-bahak.
"Kamu ini, Dek. Buat perutku sakit, terus gerahamku juga pegal tertawa mulu." Abas memegang kedua pipinya sendiri.
"Kak Pop!" Fatim membelai rambut suaminya.
"Hemm, kenapa?"
Abas mengambil jemari Fatim dan mengenggamnya lembut.
"Kenapa aku merasa tak ingin melepasmu ke Arab Saudi? Aku takut rumah tangga kita hancur dan kandas," cicit Fatim penuh sesal.
"Apa karena mimpimu tempo hari?"
Lelaki itu bangun dari tidurnya dan duduk menghadap istrinya. Ia meraih kekasihnya itu dalam pelukannya.
"Yakinkan hatimu, pasrahkan semuanya pada Allah. Jika kita bisa menjaga rasa saling percaya dan yakin Allah maha melihat, inshaa Allah dengan izinNya semua akan baik-baik saja."
Ia berusaha meyakinkan istrinya, bukan hanya dia, dirinya pun sungguh merasakan hal yang sama. Namun, ia berusaha tegar dan kuat agar tak terlihat rapuh di depan makmumnya. Ia tak ingin menjadi imam yang gagal.
Dari kejauhan Rahmat dan Maryam merasa bersyukur melihat kemesraan anak dan menantunya, mereka juga akhirnya kepikiran tentang keberangkatan Abas yang tinggal menghitung hari.
"Bagaimana, Bi? Apa kita batalkan saja keberangkatan Abas?" Maryam terlihat gusar.
"Bismillah saja, Umi. Inshaa Allah anak-anak bisa melakukannya. Ini juga untuk masa depan mereka berdua." Rahmat menepuk pundak Mayam sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk berbincang di ruang baca.
*****
Sementara itu di My Cafe ....
Malam ini begitu ramai orang yang berkunjung membuat mereka hampir kalang kabut karena banyaknya pesanan yang menunggu.
"Ayo semuanya gerak cepat, kasihan banyak pelanggan yang sudah menunggu." Wawan terlihat sedikit panik, saat yang lain sibuk mengerjakan tugasnya ia tak melihat Yati. Entah di mana gadis itu.
__ADS_1
Ia menanyakan keberadaan gadis itu pada rekan-rekannya namun semua menjawab tidak tahu yang membuat lelaki itu merasa semakin kesal. Dengan tergesa ia membantu rekan yang lain, pada saat itu lah ia melihat kekasihnya itu sedang sibuk menelpon entah dengan siapa. Tanpa bertanya dan pikir panjang Wawan segera menghampirinya.
"Yati!" hardiknya dengan nada emosi.
Gadis itu menoleh, wajahnya pias. Tak biasanya lelaki itu memanggilnya dengan nama dan nada kasar seperti itu.
"I-iya, Kak," jawab Yati pelan.
"Kamu masih mau kerja apa enggak, hah?" Wajah Wawan terlihat memerah.
Gadis itu tak menjawab hanya air matanya yang keluar, ia menunduk semakin dalam.
"Sekarang kalau masih mau kerja cepat bantu yang lain." Wawan meninggalkan gadis itu dalam isakannya.
Yati menyeka air matanya, ia segera menelpon kembali ibunya yang tadi menelpon. Setelah pamit untuk kembali bekerja ia mematikan teleponnya. Saat memasuki cafe ia juga kaget ternyata tamu yang berkunjung membludak.
*Wajar saja ternyata dia marah, tapi aku tetap saja kesal karena memarahiku tanpa tahu alasannya.*
Yati segera membaur dengan yang lain, keringat seketika membasahi seragam kerjanya. Setelah semua terlayani dengan baik, semua beristirahat.
Waktu pulang sudah tiba dan dia memutuskan untuk pulang sendiri tanpa menunggu, Wawan. Gadis itu merogoh ponselnya dan ia menekan nomor Fatim.
Tut!
Tut!
"Wa'alaikukussalam warahmatullahi wabarakatuh, apa aku menganggu waktu bulan madumu?" tanya Yati asal.
"Bulan madu yang ada juga nih gue lagi datang bulan," jawab Fatim garing diseberang sana.
"Jorok," timpal Yati dengan sedikit berteriak.
Terdengar tawa Fatim, riang seperti biasanya. Ada secuil rindu yang menelisik dalam benak gadis itu.
"Kenapa? Mau curhat?" Fatim seolah bisa membaca suasana hati temannya itu.
"Kamu dah kayak cenayang aja, pinter menebak perasaan orang lain," sungut Yati kesal.
"Gue gitu loh, kamu ada masalah apa?"
Fatim masih setia membelai kepala suaminya sambil teleponan. Namun, lelaki itu seolah mengerti. Ia berangkat dan duduk kemudian memberi kode untuk istrinya agar rebahan dipangkuannya, supaya bisa berbicara dengan leluasa.
__ADS_1
Saat akan berbaring, kepalanya kepentok ayunan yang membuatnya reflek berteriak.
"Haduh! Sakit, Kak." Ia meringgis menahan nyeri dikepalanya. Dengan cepat Abas menggosok bagian kepala Fatim yang kepentok ayunan.
"Fren! Loe lagi gituan?" Yati tiba-tiba saja berpikir kearah yang lain.
"Dasar Oneng, pikirannya mesum melulu. Kepala gue nih kepentok ayunan, sakit." Fatim merutuki sahabatnya yang jauh di mata tetapi dekat di hati.
Suara tawa Yati terdengar menggelegar yang membuat Fatim terpaksa harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Seneng loe ya denger gue susah," cicit Fatim sambil memancungkan bibirnya, ia tidak menyadari jika perbuatannya membuat Abas merasa jantungnya maraton.
Untuk sesaat suasana menjadi hening. Fatim sengaja menunggu Yati untuk bicara. Ia sangat tahu, jika sampai ia menelpon artinya masalah yang dia hadapi cukup serius.
"Fren .... bapak gue ... beliau harus segera kami rujuk ke rumah sakit, kata dokter kemungkinan batuk yang bapak derita sejak lama sudah menjadi flek di paru-parunya." Terdengar suara isakan diseberang sana.
"Kata ibu ... kondisi bapak akan semakin patah jika tidak segera ditangani. Tadi ibu menelpon ... ia meminta gue untuk menghubungioe, apa kamu mengizinkan jika rumah yang kamu kasih itu kami jual untuk biaya pengobatan bapak." Isakan Yati semakin kuat.
Merasa ini benar-benar serius, Fatim segera duduk dan meminta Abas untuk tidak dulu membelainya.
"Terus apa ada lagi yang lain?" tanya Fatim untuk meminta Yati menumpahkan segala rasanya.
"Gue ... gue ... dimarahi kak Wawan, dia menanyakan apa aku mau dipe-cat," suara gadis itu tercekat.
"Alasannya?" Fatim semakin penasaran.
"Gue sedang menerima telepon ibu di halaman belakang, tiba-tiba ia datang dan marah-marah. Saat gue masuk memang tamu kita malam ini alhamdulillah, membludak. Jadi wajar saja kalau dia marah, hanya saja gue kecewa karena dia nggak tanya dulu gue teleponan sama siapa atau ada masalah apa, gue ... gue 'kan jadi kebawa perasaan jadinya." Akhirnya tangis Yati pecah.
"Oke jadi gini, pertama rumah itu jangan loe jual. Karena kalian mau tinggal di mana kalau tak punya rumah. Kedua bawa bapak loe ke rumah sakit besok, untuk biaya loe nggak usah mikirin. Gue akan bantu loe. Lalu yang ketiga, loe minta maaf deh sama kak Wawan, lalu ceritakan apa yang terjadi. Oke?" Fatim menekankan kata terakhirnya.
"Tapi ...!" Yati tak bisa melanjutkan ucapannya karena sudah dipangkas oleh Fatim.
"No tapi but only yes." Fatim menutup teleponnya setelah ia memgucapkan salam dan mencium jauh sahabatnya itu.
*Kamu memang sahabat sejati, betapa beruntungnya aku bisa memilikimu.*
Abas memeluk kekasihnya itu, keduanya beranjak menyusuri tepi kolam yang berkilat tertimpa cahaya bulan.
"Hayo Abas, kamu memegang tangan wanita yang bukan mahrammu, dan itu haram hukumnya." Seseorang tiba-tiba saja berteriak dari pintu ruang tengah. Dibelakangnya juga turut berdiri Rahmat dan Maryam yang lupa jika Anaknya sedang bersama menantu mereka.
Wkwkk nah lo, siapa dia? Dan bagaimana reaksi mereka semua? Tunggu di next episode.
__ADS_1
Bersambung ....