
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
*****
Kediaman Abas ....
Bagaimana, Nak? Apa kamu mau?" tanya Maryam.
Abas masih sibuk dengan pikirannya, dalam hatinya ia sangat bersyukur ini bukan perkara pernikahan. Dan ini sekolahnya di Jakarta, itu artinya suatu saat pasti dia bisa bertemu Fatim, gadis impiannya yang kedua setelah Loli, cinta masa kecilnya yang sekarang dia tidak tahu dimana berada.
Melihat putranya yang masih terdiam Maryam kembali bertanya kepada putranya "Sayang, bagaimana apakah mau pindah sekolah?"
Mendapat pertanyaan dari ibunya akhirnya Abas segera tersadar dari lamunannya dan membuatnya gelagapan.
"Hmm aku-hmm ... kalau Abas mana baiknya saja lah menurut abi dan umi," jawab Abas yang masih terlihat gugup.
"Apa yang kamu pikirkan, Nak?" tanya Maryam melihat putranya yang gugup.
Abas terdiam, dia tidak bisa menemukan alasan yang tepat, untuk menjawab pertanyaan ibunya.
Bagaimana, Bi?" tanya Maryam lagi.
"Abi dan umi tidak ingin memaksakan kehendak padamu, Nak. Jika memang kamu keberatan tidak apa-apa. Tapi tolong beri penjelasan yang tepat, agar abi atau umi bisa setuju dan memahami alasan penolakanmu," jelas Rahmat.
"Abi ... Umi, saya tidak bermaksud untuk mengecewakan kalian berdua, tapi sebelum aku menjawab pertanyaan abi dan umi, bolehkah aku tahu. Kenapa abi maupun umi ingin Abas pindah sekolah ke Jakarta?" Menatap sekilas pada kedua orang tuanya, sebelum akhirnya kembali menundukkan pandangannya.
"Baiklah, abi akan menjelaskannya. Begini, tahun depan kamu sudah akan berangkat ke Al Azhar, dan pengetahuan umum yang kamu miliki masih minim. Kalau pengetahuan agama ataupun bahasamu itu tidak abi ragukan lagi. Untuk itulah abi ingin kamu mengikuti pembelajaran disekolah pada umumnya selama satu tahun saja di salah satu sekolah umum," jelas Rahmat.
"Maksud, Abi. Aku akan masuk salah satu sekolah setaraf SMA di Jakarta?" tanya Abas penasaran.
"Iya, dan kebetulan ada teman sekolah abi yang punya sekolah SMA Unggulan, seperti yang sudah abi jekaskan secara singkat padamu tadi," jelas Rahmat.
"Nah, sekarang tinggal kamunya mau atau tidak. Kalau kamu mau abi akan segera mengurusnya, sehingga minggu depan kamu sudah bisa mulai bersekolah," jelas Rahmat lagi.
"Kalau seandainya Abas mau, kelas berapa nanti Abas disana?" tanya Abas lagi.
"Sesuai umur kamu, Nak. Maka kamu akan masuk kelas dua, namun kelasnya nanti bisa di atur," jelas Rahmat.
"Jadi bagaimana, Sayang? Apa kamu mau?" tanya Maryam penasaran dengan jawaban putranya.
"Mmm ... baiklah, Abas ikut kemauan abi dan umi saja," jawab Abas singkat.
"Alhamdulillah, yaa Allah. Akhirnya Abas akan ...." Shstttt." Rahmat meletakan jarinya dibibir sang istri, ia segera menghentikan istrinya yang hampir saja membocorkan rahasia besar mereka.
"Maaf, hampir saja." Maryam menutup mulutnya.
Melihat kedua orang tuanya yang aneh membuat Abas menjadi penasaran. Apa sebenarnya yang disembunyikan oleh kedua orang tuanya?
"Abi-umi, sebenarnya ada apa sih? Kok kayak senang banget Abas pindah sekolah?" tanya Abas pada kedua irang tuanya.
"Ya tentu saja kami senang, karena di sana lah nanti, keimanan mu akan di uji. Kamu akan bertemu anak-anak yang tidak faham agama, kamu akan belajar untuk menahan pandangan, menahan nafsu. Abi dan umi sangat berharap kamu dapat melewati itu semua, tanpa harus terpengaruh." Rahmat dengan detil menjelaskan pada putranya. Bukan Rahmat namanya jika tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk jawaban atas pertanyaan putranya.
"Baiklah, Abi. Urus saja semuanya. Inshaa Allah aku akan berusaha untuk tetap istiqamah dan belajar dengan baik," jawab Abas.
Tampak senyum cerah menghiasi bibir ranum milik Maryam. Ia merasa tak sabar untuk menyatukan Abas dan Fatim. Dalam benaknya ia sudah menghayal tentang pertemuan keduanya.
*Hmmm pasti seru, andai nanti aku dapat menyaksikan pertemuan anak dan calon mantuku, bantin Maryam.*
__ADS_1
Melihat ibunya yang senyam senyum sendiri membuat Abas menyikut ayahnya.
"Bi, Lihat! Kenapa umi senyam senyum begitu?" tanya Abas.
"Sudah, nggak usah diperdulikan. Sebaiknya sekarang kita bersihkan saja piring yang kita gunakan untuk makan bubur sumsum ini. Jangan perdulikan, umimu." Rahmat mengambil piring-piring kotor di meja, yang di bantu oleh Abas, putranya.
Saat Maryam tersadar kedua lelaki yang sangat dicintainya sudah tidak lagi bersamanya. Piring-piring di meja pun sudah bersih.
"Astagfirullah haladzim, aku kebanyakan melamun. Sampai-sampai aku tidak menyadari kalau anak dan suamiku sudah pergi kedapur." Menepuk jidatnya.
*****
Didapur Rahmat dan Abas sibuk mencuci piring bersama. Rahmat yang menyabuni, dan Abas yang membilasnya hingga bersih, kemudian menyusunnya di rak piring.
Diam-diam Maryam merekam kegiatan ayah dan anak itu, ia yakin suatu saat ia pasti akan merindukan kebersamaan dua lelaki yang sangat dicintainya.
Maryam segera masuk kekamarnya setelah membuat video keduanya. Ia merebahkan dirinya untuk menghilangkan penat disekujur tubuhnya yang mulai menua. Namun lama berbaring belum juga suaminya masuk kekamar. Karena penasaran ia kembali keluar kamar.
Maryam berjalan melintasi ruang dapur, namun ia tak menjumpai keduanya, ia berjalan lagi menuju keruang tamu. Namun pandangannya tertuju keruang kerja suaminya, karena lampunya menyala terang. Maryam pun berjalan mendekat. Ia melihat ayah dan anak itu membuka lemari yang penuh dengan kenangan masa kecil putranya.
Maryam memutuskan untuk mendengar percakapan keduanya dari luar ruangan saja. Ia ingin tahu apa yang keduanya bicarakan.
"Abi, apa album foto masa kecil aku masih ada?" tanya Abas.
"Iya, nih foto-foto mu sewaktu masih kecil. Mulai dari kamu dilahirkan oleh umi mu kedunia ini, sampai kamu sudah aqil baligh seperti ini. Semua masih tersimpan rapi." Rahmat memberikan sebuah album foto yang sampulnya mulai kusam termakan usia.
Abas menerimanya dengan hati-hati. Perlahan ia mulai membuka lembar demi lembar album foto itu. Sesekali senyumnya terkembang melihat foto masa kecilnya yang lucu, sampai tatapan matanya terhenti pada seorang gadis kecil berbaju merah, dengan rambut yang di kepang dua, di tangannya menggenggam sebuah permen lolipop.
Perlahan Abas mengusap foto gadis itu, dalam benaknya ia berkata entah dimana gadis itu berada sekarang, dan wajahnya seperti apa? Dalam hati kecilnya ia merindukan gadis kecilnya itu, namun ia meminta maaf karena tidak mencarinya, malah sekarang menyukai gadis lain. Abas masih ingat akan janjinya dengan gadis kecil itu kalau kelak mereka dewasa mereka akan menjadi sepasang pengantin seperti dalam dongeng.
*Maafkan kakak Loli, karena tidak mencarimu, sejak kamu pindah kita tak lagi saling mengabari, sekarang mungkin kamu sudah tumbuh menjadi gadis yang manis. Maafkan kakak karena sepertinya tidak bisa memenuhi janji masa kecil kita, kakak sudah menyukai gadis lain. Dia tomboy dan suka berkepang dua, sama sepertimu. Saat melihatnya aku juga merasa melihatmu, namun sekarang dia sudah berhijab. Sangat cantik. Andai kakak bisa bertemu denganmu maka kakak akan meminta maaf padamu, Loli. Batin Abas.*
"Umi?! Ngapain?" tanya Rahmat sambil menahan senyum. Ia sangat hafal dengan sifat istrinya yang suka kepo dengan apa yang dia lakukan.
"He ... he ... Abi, maaf!" Maryam menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Umi, selalu saja begitu." Rahmat menoel hidung istrinya.
"Yuk, ikut abi. Kita telpon Nadya untuk mengabarinya." Menarik tangan istrinya menjauh dari ruang kerjanya menuju keteras depan rumahnya.
Sampai di teras, Rahmat segera merogoh kantongnya untuk mengambil ponselnya, lalu segera menelpon Nadya.
"Tut ... Tut ...." suara sambungan telepon.
"Halo, assalamu'alaikum," ucap Nadya di seberang.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar, Nad? Semoga sehat selalu ya," ucap Rahmat.
"Alhamdulillah, saya dan Fatim sehat. Ada apa, Mat. Tumben malam-malam menelpon, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Nadya serius.
"Oh, alhamdulillah kalau kalian sehat. Maksud saya menelpon untuk mengabarkan kalau putra kami jadi pindah sekolah ke SMA Unggulan. Tetapi minggu depan, ya?" jelas Rahmat di ponselnya.
"Alhamdulillah, akhirnya. Baiklah saya akan urus segala sesuatunya, nanti Abas tinggal datang saja," jawab Nadya gembira. Karena calon mantunya akan segera bertemu putrinya.
🌹Bersambung.....🌹
Terimakasih sudah membaca.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
__ADS_1
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*Laura V
Sang Pengoda
*Bintun Arief
Keteguhan Hati
*Novi Wu
Bos Come Here Please!
*Ricky Wijaksono
Api Dibumi Majapahit
*Samar
Cinta Di antara Dendam
* Sylala Yaya
Istri kedua tuan Krisna
* Cherin Kauma
l Love My Army Wife
*Oktavia Tresiani
__ADS_1
Pacarku Hantu