
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
*****
Gerbang Sekolah ....
"Loe siap-siap aja bentar lagi pangeran loe datang. Tolong bilang nanti gue belum pulang karena masih rapat dengan pak guru agama kita ya. Loe gue tinggal soalnya ini pak Amrul udah nunggu in." Fatim menepuk lembut pundak sahabatnya.
Akhirnya Fatim berjalan meninggalkan sahabatnya, setelah ia melihat mobil kak Wawan mulai memasuki halaman sekolah. Ia segera berlari menuju mushala, sampai di ujung koridor mushala ia melihat ada anak-anak lain yang bukan murid sekolah mereka dengan pakaian bebas, seperti sedang menunggu seseorang.
*Mereka anak mana? Nunggu in siapa? Sepertinya mereka bukan warga sekolah Unggulan? Ah nanti saja gue cari tahu sekarang ke tempat pak Amrul dulu, bantin Fatim.*
Fatim melanjutkan perjalannya dan kini ia melintasi anak-anak itu. Melihat kedatangan Fatim tentu saja mereka menjadi heboh.
"Hei lihat, ada cewek cantik bro!" teriak salah satu dari mereka.
"Cantik-cantik tapi aneh, mau aja ditutupi kain jelek kayak gitu." Salah satu dari mereka berujar di depan Fatim. Namun bukan Fatim namanya jika akan terpengaruh dengan hal-hal murahan semacam itu.
Dengan santai Fatim melewati mereka menuju ke tempat tujuannya tanpa memandang mereka sama sekali.
"Cih! Sombong banget tuh cewek, gue jadi penasaran dia punya rambut nggak ya dikepalanya atau jangan-jangan dia botak?"ucap salah satu dari mereka yang di sambut gelak tawa oleh yang lainnya.
"Tapi kalau gue 'liet tuh body pasti mantep, putih mulus dalemnya," sambut anak yang lainnya.
Ucapan mereka sayup-sayup masih dapat Fatim dengar yang akhirnya bisa membuat dia sedikit kesal.
"Awas aja loe-loe semua kalau ketemu gue lagi, gue akan buat loe semua menyesal dengan ucapan loe," gumam Fatim sampai di depan mushala.
"Assalam'ualaikum!" ucap Fatim sampai di depan mushala. Di sana sudah menunggu pak Amrul.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, masuk Fatim!" Pak Amrul meminta Fatim untuk masuk.
"Maaf ya, Pak! Fatim agak telat." Fatim mendudukan dirinya di karpet hijau daun mushala sambil menyapu pandangannya sekeliling mushala.
"Kamu cari Abas dan Hanafi?" tanya pak Amrul.
"Mereka belum datang, mungkin masih ada pelajaran tambahan." Tanpa di minta lak Amrul menjelaskan ketidak hadiran Abas dan Hanafi.
Fatim tersenyum mengangguk kemudian mengambil berkas yang sudah diletakkan pak Amrul di depannya.
*****
Sementara itu di kelas 12 IPA 1 anak-anak mulai tampak gelisah, banyak yang mengeluh isiannya belum pada selesai. Namun dengan tenang Abas dan Hanafi berjalan mendekati sang guru lalu menyerahkan kertas ulangannya.
"Kalian benaran sudah selesai?" tanya wali kelas mereka.
"Inshaa Allah, benar Bu!" jawab Abas dan Hanafi serentak.
Seketika kelas mereka heboh. Bagaimana mungkin anak baru bisa menjawab semua soal yang diberikan, paling-paling kalau nggak isi sembarangan mereka nggak jawab semuanya, begitulah menurut pemikiran mereka.
"Oke kalian boleh pulang!" perintah sang guru.
"Terimakasih Bu! Kami permisi Assalamu'alaikum!" pamit keduanya pada sang guru.
"Iya, Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab sang guru.
*Senang rasanya masih punya generasi yang sopan begini, batin sang guru.*
Setelah keluar kelas keduanya segera bergegas menuju mushala, namun setelah sampai di koridor yang tadi Fatim lewati mereka bertemu juga dengan sekumpulan anak-anak yang Abas dan Hanafi kira anak sekolah di Unggulan juga. Jumlah mereka kurang lebih ada sepuluh orang.
Melihat kedatangan Abas dan Hanafi mereka saling pandang dan salah satu dari mereka langsung merogoh ponselnya yang berdering.
"Halo, ada apa Bro?" Terdengar suara diseberang ponsel menjelaskan tentang seseorang yang akan mereka jumpai.
Setelah mendengar penjelasan dari temannya yang menerima telepon, mereka bergegas meninggalkan sekolahan. Tentu saja membuat Abas dan Hanafi menjadi bingung. Kenapa saat melihat mereka semuanya langsung pergi.
"Sudahlah, Fi! Kita langsung ke mushala saja kasihan pak Amrul sudah menunggu lama." Abas mengajak sang sahabat untuk bergegas.
Sampai di mushala keduanya langsung memberi salam yang di segera disambut oleh pak Amrul dan Fatim. Mendengar suara Fatim saja jantung Abas sudah berdebar dengan cepat ia segera beristiqfar untuk menenangkan hatinya.
__ADS_1
"Ayo Bas-Fi, segera masuk kita sudah membuat rancangan kegiatan yang akan kita laksanakan untuk menyambut Muharram yaitu tahun baru islam. Selama ini sebelum ada kalian, acara yang sudah bapak rancang tidak ada yang berhasil semua gatot." Pak Abas menunduk lesu.
"Pak, gatot itu siapa? Apa dia yang membuat rencana bapak berantakan?" tanya Hanafi polos.
"Ha ... ha ...." Fatim tertawa lepas mendengar penuturan Hanafi dan segera ia menutup mulutnya karena mendapat tatapan peringatan dari Abas.
"Ups, maaf!" Fatim segera menunduk entah kenapa hatinya bergelenyar aneh saat matanya bertemu dengan tatapan Abas yang tajamnya, seolah-olah Langsung menembus jantungnya.
"Kenapa kamu tertawa dek Fatim? Aku salah bicara ya?" tanya Hanafi yang bingung.
"Gatot itu bukan nama orang," jelas pak Amrul."Melainkan singkatan dari gagal total." Beliau tersenyum menatap sang siswa yang terlihat Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ooo gitu ya, Pak. Pantesan saja dek Fatim tertawa." Mereka semua tertawa bersama untuk menghilangkan kecanggungan Hanafi.
"Baiklah sekarang kita susun saja agenda acaranya tentang apa yang akan kita laksanakan untuk memperingatinya." Pak Amrul mengajak ketiga siswanya untuk berdiskusi.
Setelah berdiskusi hampir satu jam mereka pun Selesai. Rencana yang akan mereka lakukan akan diajukan oleh pak Amrul ke pihak sekolah jika disetujui baru akan mereka publiskan ke seantero sekolah.
"Oke, nanti jika sudah di ACC oleh pihak sekolah baru kita susun planing berikutnya. Semoga semua dapat berjalan lancar." Pak Amrul menatap penuh keyakinan pada tim barunya.
"Aamiin ya mujibasailin." jawab Abas dan Hanafi.
"Aamiin." jawab Fatim kemudian.
Sekali lagi mata Abas dan Fatim bertemu yang membuat desiran di dada Fatim maupun Abas berubah menjadi detakan tak beraturan.
Mereka akhirnya bersiap untuk pulang dan sampai di gerbang sekolah Fatim berhenti.
"Kak! Rumah kakak udah pindah ya, dimana? Jauhkah dari sekolah kita? Atau kakak jadi anak kos?" tanya Fatim memulai percakapan diantara mereka untuk mengatasi kecanggungan.
"Rumah kakak belum pindah hanya saja sekarang kami berdua tinggal tidak jauh dari sini, kami jalan kaki kok ke sekolah. Kamu betul kami jadi anak kos di sini." jelas Abas.
"Kamu?" Hanafi bertanya pada Fatim.
"Gue tinggal masih jauh dari sini, kurang lebih setengah jam kalau naik mobil. Gue menunggu jemputan. Sejak kecelakaan tempo hari mama belum kasih gue naik motor sendiri." Fatim tersenyum pada keduanya.
*Subhanallah, sangat manis, batin Abas.*
Abas dan Hanafi pun segera berpamitan pada Fatim. Setelah mengucapkan salam keduanya mulai berjalan menyusuri jalan aspal yang mengarah ke persimpangan sekolah mereka.
Tepat di ujung perempatan jalan yang menghubungkan jalan utama dengan sekolah mereka, Keduanya dihadang oleh sekumpulan remaja. Tentu saja Abas dan Hanafi bingung, dalam benak keduanya mungkin ini adalah anak-anak jalanan yang suka malak atau apalah itu.
"Berhenti!" ucap salah seorang dari mereka menghadang tepat di depan Abas.
"Kalian siapa?" tanya Hanafi.
"Loe lebih baik minggir, karena ini tidak ada hubungannya dengan loe. Ini urusan kita sama teman loe yang sok tampan itu." Salah satu dari mereka mendorong Hanafi menjauh.
"Kalian apa-apaan sih? Kami tidak merasa punya musuh, kenal juga enggak sama kalian." Hanafi mulai merasa kesal. Dalam hatinya ia sangat merindukan susana pesantren. Di sana mereka tidak akan kenal yang namanya permusuhan atau kekerasan fisik.
Melihat tubuh sahabatnya yang di dorong tentu saja jiwa melindungi Abas langsung mengambil alih pikirannya. Dengan cepat ia menahan tangan anak lelaki yang hendak mendorong Hanafi kembali.
"Ohh loe mau jadi pahlawan rupanya, gue ingetin pada loe. Jauhin cewek yang bernama Fatim karena dia pacar teman kita. Itu kalau loe masih ingin melihat matahari esok." Seseorang itu mendorong tubuh Abas secara tiba-tiba, yang membuat Abas terhuyung karena tidak siap.
Dengan cepat Abas bangun, dan segera berdiri.
"Sudah lah hentikan semua ini. Semua masalah dapat diselesaikan tanpa kekerasan." Abas membersihkan pakaiannya yang kotor.
"Idiot seperti loe nggak bisa di ajak damai, loe terima aja nih es keprok dari gue." Lelaki yang tadi mendorong Abas mengayunkan bogemnya kewajah Abas.
Dengan cepat Abas menghindar sehingga pukulannya meleset.
"Kurang ajar! Rasakan ini!" teriak lelaki itu yang semakin kesal dan marah karena pukulannya berhasil dihindari oleh Abas.
Dengan cepat ia menerjang Abas, melihat temannya yang mulai diserang tentu saja Hanafi tidak tinggal diam, dia juga ikut membantu Abas. Namun karena mereka kalah jumlah hingga dengan mudah keduanya berhasil untuk dikepung.
"Pegang mereka berdua!" teriak lelaki yang sepertinya adalah pemimpin kelompok itu.
Saat itulah mobil Fatim melintas dan Fatim dapat dengan jelas melihat kejadian yang dialami oleh Abas dan Hanafi.
"Pak! Berhenti!" Fatim meminta pak Amat untuk berhenti.
__ADS_1
Bagaimana nasib Abas dan Hanafi?
Tunggu di next episode ya.
Hai pembaca setia Fatim. Kali ini spesial aku UP untuk kalian yang telah setia membaca novel recehanku. Aku sengaja meninggalkan semua kerjaan sekolahku untuk kalian. Ini sebagai wujud permintaan maafku pada kalian sekaligus ungkapan terimakasih ku. Aku menyayangi kalian semua. Sekali lagi terimakasih.
Bersambung.....🌹
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
Ceo dingin dan Gadis Kampung
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Ceo Somplak
*Laura V
Sang Pengoda
*Bintun Arief
Keteguhan Hati
*Novi Wu
Bos Come Here Please!
*Ricky Wijaksono
Api Dibumi Majapahit
*Samar
Cinta Di antara Dendam
* Syala Yaya
Istri kedua tuan Krisna
* Cherin Kauma
l Love My Army Wife
*Oktavia Tresiani
__ADS_1
Pacarku Hantu