
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
My Cafe ....
Setelah mendengarkan pesan Abas dan nasihat dari kak Wawan, Fatim segera menyeka air matanya. Ia berusaha tegar dan ikhlas dalam menerima takdirnya seperti yang telah Allah takdirkan dalam garis kehidupan seseorang.
Gadis itu segera bangkit dari duduknya, ia tersenyum pada Wawan. Kini keceriaannya sudah kembali. Ia memutuskan untuk kembali bekerja dan menjalani aktifitasnya seperti biasa.
"Terimakasih, Kak." Fatim berlalu sambil membawa nampannya menuju ke dapur untuk kembali mengantarkan pesanan para pelayan.
Sementara itu Wawan merasa senang karena pemikiran Fatim semakin dewasa, dan ia sangat bangga memiliki adik seperti dirinya meski mereka bukan saudara kandung.
Pada jam istirahat Fatim segera melaksanakan kewajibannya, dan setelah itu ia pamit untuk pergi ke panti dan bawah jembatan, ia sangat merindukan adik-adiknya di sana.
*****
Sampai di panti Fatim segera turun dan masuk kedalam panti.
"Assalamu'alaikum!" sapa Fatim pada semuanya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab mereka semua.
"Kak Fatimmmm!" Adik-adik itu berhamburan dan memeluk Fatim karena mereka juga sangat merindui sosok Fatim.
"Kalian apa kabar? Yuk kita bermain dilapangan belakang." Fatim segera berlari kecil mengikuti adik-adik panti menuju lapangan kecil yang ada di belakang panti. Tak lupa ia membawa oleh-oleh untuk mereka.
Mereka bermain caklingking bersama hingga tak terasa sekarang sudah semakin sore dan Fatim segera pamit, tak lupa ia memberikan buku-buku dan bahan makanan untuk persediaan selama mereka liburan.
"Oke sekarang kakak pamit ya, semuanya selamat liburan semunya." Fatim melambaikan tangannya sebelum ia menyalakan motor kesayangannya.
"Dadaa," teriak adik-adik panti ikut melambaikan tangannnya.
Mereka sangat menyayangi Fatim yang selalu perhatian dan menyayangi mereka dengan tulus. Kini gadis dengan motor sport merah itu telah meninggalkan panti, ia melaju menuju ke bawah jembatan.
Tidak butuh waktu yang lama dia pun sudah sampai. Namun ia merasa aneh karena suasana di bawah jembatan sangat sepi. Fatim turun dari motornya dan berjalan mendekati basecamp bawah jembatan.
"Assalamu'alaikum!" ucap Fatim dengan sedikit kuat.
"Wa'alaikumussalam," jawab seseorang dari dalam dan membuka pintu.
"Kok sepi adik-adik yang lain mana, May? Kak Jef dan John juga nggak kelihatan?" Fatim menyapu pandangannya ke sekeliling area camp.
"Kak Jef dan kak John sedang pergi mencari Amir, anak yang kemarin baru bergabung bersama kita di sini, sedangkan adik-adik yang lain sedang diajak belanja oleh seorang ustad, katanya untuk menghadiri acara nikahan besok biar semua seragam." jawab Maya, gadis tanggung yang tinggal di camp bersama seorang adik laki-laki yang masih berumur tiga tahun.
__ADS_1
"Amir itu siapa dan dari mana?" tanya Fatim bingung.
"Amir itu bocah yang ditemukan kak Jef kemarin di ujung jembatan, katanya ia kabur dari para preman yang memaksanya untuk nyopet. Jadi Kak Jef sama kak John khawatir kalau-kalau ia di culik kembali oleh para preman itu.
"Oh gitu, kasihan juga si Amir itu ya, semoga ia segera ditemukan. Nah kalau pak ustad yang ngajakin adik-adik belanja siapa?" tanya Fatim lagi.
"Wah kalau itu May kurang tahu, Kak.Tapi pak ustad itu tidak sendiri, ia ditemani banyak anak lelaki tampan bersama dengannya tadi." jelas Maya pada Fatim.
"Alhamdulillah kalau begitu sudah mulai ada yang perduli dengan kalian sekarang, Ya udah deh, kalau gitu kakak juga nggak bisa lama ya, nih kakak titip makanan sama oleh-oleh buku buat kalian baca selama liburan semester." Fatim menyerahkan bingkisan dan paket makanan yang dia bawa.
Sementara itu mobil Rahmat hampir sampai ke basecamp bawah jembatan, ia segera mengehentikan mobilnya. Dari kejauhan Rahmat memperhatikan apa yang Fatim lakukan, dan ia sangat bersyukur punya calon mantu yang sangat perduli dengan orang-orang yang membutuhkan di sekitar mereka.
Motor merah milik Fatim telah melaju menuju ke rumahnya, kini wajahnya tampak ceria seperti biasanya. Diperempatan jalan tiba-tiba motor Fatim dihentikan oleh sebuah mobil lamborgini berwarna silver, hingga membuat ia terpaksa mengerem mendadak.
Seorang laki-laki tampan turun dari mobil itu dia mirip keturunan raja dari Arab Saudi, ia berjalan mendekati Fatim dengan gayanya yang cool.
"Hei!" sapanya pada Fatim.
"Hai hei hai hei, ngapain loe berhenti tiba-tiba di depan gue hah?" Fatim membuka kaca helmnya.
"Manis," ucap lelaki itu spontan.
"Emang gue gula kali manis." Fatim mencibirkan bibirnya.
"Lucu juga kalau lagi marah-marah," Lelaki itu membuka kaca matanya, tampak bola mata ya yang abu kebiruan sungguh sangat indah.
*Gadis yang unik, aku akan cari informasi tentang kamu, meski keujung dunia sekalipun. Baru kali ini aku bisa merasa takjub terhadap seorang gadis, dia juga berhijab sungguh pas dengan kriteriaku, batin lelaki keturunan Arab Saudi itu yang hanya ke Indonesia karena urusan bisnis.
Lelaki itu kembali ke mobil dan meminta supirnya untuk kembali melaju menuju hotel tempat tinggalnya di Indonesia.
Sementara itu Fatim kembali fokus menatap jalan, ia tak ingin ceoboh yang akan merugikan dirinya sendiri. Tak butuh waktu lama ia sudah sampai dirumahnya. Ada beberapa mobil terparkir dihalaman rumah mereka, hal ini tentu saja membuat Fatim bingung.
"Kenapa ada banyak mobil? Tumben banget!" gumam Fatim pada dirinya sendiri. Ia memilih untuk masuk lewat pintu garasi saja.
"Assalamu'alaikum!" ucap Fatim memberi salam.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, masuk Neng!" Bi Ijah membuka pintu.
"Tumben ramai, Bi. Di depan juga banyak mobil? Mobil siapa?" Fatim menatap bi Ijah serius.
"Itu mobil ehmm apa ya namanya? EO- OC ahh nggak tahu lah bibi tapi yang pasti mereka itu datang untuk menghias rumah kita katanya begitu pokoknya." Bi Ijah terlihat serius dengan ucapannya.
"Menghias rumah untuk ...." Fatim tampak saling pandang dengan bi Ijah yang di jawab dengan anggukan oleh sang bibi yang mengerti maksud majikannya.
"Oh My God! Jadi mama serius dengan ucapannya?" Fatim menepuk keningnya sebagai ungkapan rasa tidak percayanya.
__ADS_1
Fatim dan bi Ijah berjalan beriringan menuju ruang tamu yang sudah dihiasi sedemikian rupa.
"Bagaimana, Neng? Indah ya?"Bi Ijah dan Fatim dibuat takjub akan ke indahan ruangan rumahnya yang sudah disulap bak istana bunga.
"Indah pake banget, tapi mama dimana?" Belum bi Ijah menjawab Nadya telah berjalan mendekat.
"Mama di sini sayang." Nadya tersenyum manis.
"Mama serius ini semua-?" Fatim menggantungkan ucapannya.
"Iya lah sayang masa mama boongan, yuk kita kekamar kamu untuk mencoba bajunya." Nadya menarik Fatim menuju ke lantai dua.
Lagi-lagi Fatim dan bi Ijah dibuat terkagum-kagum akan dekor kamarnya yang indah dan megah.
"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Nadya pada putrinya.
"Ehmm," jawab Fatim singkat.
"Kenapa? Kamu sedih?" Nadya sangat tahu isi hati putrinya.
"Nggak kok, Ma. Fatim bahagia asalkan bisa membuat mama bahagia." Fatim memeluk Nadya erat.
*Sungguh mulia hatimu putriku, kamu rela menutupi kesedihan hatimu untuk kebahagiaanku, dan aku berjanji akan menukar rasa sedihmu itu dengan kebahagiaan yang engkau impikan sejak dirimu masih kecil, batin Nadya.*
Setelah melepas pelukannya, Nadya mengajak putrinya untuk mencoba baju pengantin yang akan dia gunakan besok di hari terpenting dalam hidupnya.
Ada kurang lebih sepuluh baju yang akan Fatim coba meski jika suka ia boleh memilih semuanya, namun karena ini hanya acara akad saja maka ia hanya akan memilih satu baju saja yang akan dia gunakan nanti.
Setelah menemukan satu baju yang dirasa cocok Fatim meminta Nadya dan yang lainnya untuk keluar kamarnya, karena ia ingin beristirahat. Seluruh tubuhnya terasa lengket dan lelah. Setelah selesai membersihkan dirinya Fatim segera merebahkan dirinya. Ia memejamkan matanya yang terasa panas karena lelehan air matanya.
*Maafin Fatim kak Abas sebentar lagi aku akan dinikahkan entah dengan siapa, meski dalam hati kecilku ini masih sangat berharap kita akan berjodoh dan bisa menua bersama, batin Fatim.*
Ia mengusap air matanya yang masih terus saja mengalir, sampai akhirnya ia benar-benar tertidur. Berharap esok akan ada sebuah keajaiban.
Bersambung ....
Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula sudah setia membaca novel remahanku juga untuk Tap jempol serta komennya!
Maaf ya cuma bisa Up segini besok inshaa Allah aku up lagi. Ini episode mendekati detik-detik End. Semoga suka
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah, sudah TAMAT ya, aku tunggu kunjungannya.
__ADS_1