
🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tip kalian buatku, karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin. Selamat Membaca!🌻
#Markas#
"Bos ikut kita atau ...." Melihat Momon.
"Gue sendiri aja, biar lebih enak gerakan kita," ucap Momon.
"Sip!" Mengajungkan jempol.
Merekapun segera berangkat untuk menjalankan misi.
Perjalanan rahasia mereka kali ini menuju ke Jakarta Selatan, karena kelima orang pemuda yang akan mereka jemput ada disana, disebuah club malam yang tersembunyi.
Mobil pejero hitam itu segera meluncur dan dibelakangnya diiukuti mobil jeep Momon, mereka melaju dengan kecepatan yang lumayan kencang.
Perjalanan mereka tidak mengalami hambatan karena selain sopirnya sudah profesional, jalanan yang mereka lalui juga lumayan sepi karena mereka bisa melewati jalur tikus yang biasa mereka lalui agar tidak menganggu alur lalu lintas normal.
#Club Rahasia#
Setelah hampir satu jam perjalanan mereka sudah sampai di tempat tujuan, dengan segera salah satu dari tim pasukan bawah tanah membuka laptop, dan mulai membuka aplikasi pelacakan yang telah mereka siapkan. Hanya dalam waktu lima menit target utama mereka telah ditemukan, hal ini menjadi lebih mudah karena identitas para pelaku telah mereka kantongi.
Setelah target utama terkunci dengan santai kelima orang pasukan bawah tanah serta Momon turun memasuki club yang cukup ramai itu. Suasananya sangat sesak penuh dengan aroma minuman keras, dan para pria hidung belang.
Melihat kedatangan tamu yang tidak biasa seorang pelayan club segera menghampiri.
"Maaf tuan-tuan, ada yang bisa kami bantu? Sepertinya tuan-tuan semua orang baru ya," melihat dengan menyelidik.
"Iya, kami butuh satu kamar yang privasi," ucap Momon.
"Apa tuan-tuan semua membutuhkan teman perempuan?" tanyanya basa-basi.
"Oh tidak, karena kita tidak lama," ucap Momon.
"Baiklah, ikuti saya," ucap pelayan itu.
Mereka semua mulai menyebar, hanya Momom dan anak buahnya yang membawa laptop yang masuk ke kamar yang tadi mereka pesan.
Pelacakan dimulai, dengan salah satu target utama yang sedang berada dikamar bersama seorang perempuan. Dengan mudah salah satu anak buah bawah tanah memasuki kamar target. Tampak seorang wanita sedang memijat seorang pria yang tertidur. Untuk memudahkan pekerjaannya ia meminta perempuan itu untuk pergi dengan memberikan isyarat pada si perempuan. Setelah perempuan itu pergi dengan cepat ia menggantikan si perempuan untuk memijat.
"Uhh Dek, tanganmu kok berubah kasar sih dan tenagamu juga kuat," ucap sang target.
Lelaki itupun merubah suaranya seperti suara perempuan.
"Masak sih Bang, adek cuma pake sarung tangan kok, kasar ya?"
"Oohhh iya Dek, tapi enak kok pijitannya biar kenceng, dan ehh tunggu kok sakit ... akhhhhh," erang lelaki itu karena dibokongnya telah mendarat sebuah suntikan yang langsung membuatnya tidak sadarkan diri.
Dengan segera salah satu anggota pasukan bawah tanah melapor bahwa taget satu sudah selesai.
"Halo ... lapor Bos! Target pertama aman." Mengirim foto target.
"Sip, segera pindahkan kemobil!" perintah Momon.
Selanjutnya terget kedua dan ketiga karena keduanya berada ditempat yang sama yaitu toilet. Dan sepertinya ini lebih gampang.
Segera tim bawah tanah masuk, dan pura-pura kebelet buang air kecil. Dan sengaja memgambil posisi disamping target. Target yang sedang menikmati kegiatannya tidak menyadari bahaya yang mengintai. Dengan cepat keduanya bertindak membius keduanya, hanya dalam hitungan detik keduanya berhasil dilumpuhkan.
"Lapor target kedua dan ketiga sudah aman," ucap salah satu dari kedua anggota pasukan bawah tanah.
"Ok clear, angkut!" perintah Momon lagi.
Selanjutnya terget keempat, sepertinya yang ini agak susah karena dia sedang berada dilantai dansa, dan disana sangat ramai. Kerjasama tim sangat dibutuhkan, dan inilah saatnya sipenembak jitu harus beraksi. Dua orang turun kelantai dansa mendekati korban, dan mereka harus memperkirakan gerakan yang tepat bersamaan dengan tembakan obat bius yang akan diluncurkan.
Dalam hitungan detik sang target yang sedang bergoyang ria tiba-tiba terhuyung, dan dengan sigap ditangkap oleh kedua rekannya yang bertugas.
"Akhh ...." Teriakan dilantai dansa
"It's ok dia hanya kecapean, akan segera kita urus,"ucap keduanya sambil tersenyum dan memapah terget ketempat yang telah ditentukan.
Situasi kembali normal, hanya tinggal seorang target kelima. Namun target sepertinya masih keluar karena sinyal keberadaanya sangat lemah.
Ternaya benar target terakhir bukanlah orang sembaragan, dia juga seorang agen. Menyadari teman-temannya hilang satu persatu, dia segera mencari perlindungan yang aman. Dia mengganti penampilannya menjadi seorang perempuan.
Namun sesama agen tentu tidak akan mudah dikelabui, karena sinyal target yang telah mereka program menyala kuat saat seorang perempuan melewati pintu keluar club.
Dengan segera mereka memindai wanita tersebut dan tentu saja data seratus persen akurat.
"Oke bersiap, target terakhir sudah keluar zona," ucap Momon.
Semua paksukan segera terfokus keluar clup, dan menyebar mengepung daerah sekitar clup. Sepertinya kali ini baku hantam akan terjadi, namun senjata yang mereka gunakan sudah punya peredam sehingga tidak akan terdengar menghebohkan.
"Oke kelinci mendekat, siapkan perangkap," teriak Momon.
"Oke kami sudah siap, posisi sudah aman," ucap semua anggota pasukan.
"Lihat target sepertinya sudah menyadari kehadiran kita, dia bersiap meminta bantuan," ucap Momon.
"Target mendekat ... target mendekat," ucap Momon.
Dengan sigap para amggota berusaha membekuk target namun diluar dugaan target mempunyai ilmu beladiri yang tak boleh diremehkan.
"Akhhh ...buckkk ... Buckkk!" baku hantam tak bisa dielakkan.
Ternyata target membawa sajam.
"Whussss ... whussss," suara sabetan kelewang terget.
__ADS_1
Dengan sangat hati-hati penembak jitu membidik target karena takut salah sasaran. Dan setelah hampir setengah jam baku hantam. Akhirnya terget dapat dilumpuhkan.
"Jlep," peluru bius menembus paha terget dan hanya dalam hitungan detik terget segera tumbang.
"Oke clear," teriak salah satu anggota pasukan bawah tanah.
"Oke sip, segera bereskan!" perintah Momon.
Kelima terget sudah dilumpuhkan kini Momon beserta anak buahnya segera meluncur kembali ke Jakarta. Selama diperjalanan Momon segera menelpon Nadya.
"Halo assalamualaikum Bu, maaf mengganggu," ucap Momon.
"Waalaikumussalam Mon, nggak kok ini ibu baru mau ke kamar Fatim habis menebus obat, ada apa?" tanya Nadya.
"Alhamdulillah misi berhasil, sekarang kami dalam perjalanan menuju gudang," jelas Momon.
"Alhamdulillah, kamu urus dulu nanti kalau sudah sampai kabari aku lagi, kalian hati-hati dijalan." ucap Nadya sambil jalan.
"Oke Bu, assalamualaikum," pamit Momon.
"Waalaikumussalam," ucap Nadya sambil mematikan sambungan telepon.
Rombongan Momon segera melaju membelah keramainan lalu lintas yang kian padat dan ramai.
#Sementara itu dikamar perawatan Fatim#
Suara bercerita para sahabatnya membuat Fatim segera membuka matanya, dan ia sangat jengah karena yang dilihatnya Rangga dan Dimas, namun saat matanya sedikit bergeser kekiri dia tersenyum manis, dilihatnya kak Wawan yang sedang bercerita dan juga sahabat baiknya yang sedang makan seperti orang yang tidak makan selama dua hari saking lahapnya.
"Fren!" sapa Fatim.
"Uhuk ... uhukkk." Yati terbatuk karena mendengar suara Fatim memanggilnya.
Dengan cepat Wawan memberikan sebotol air mineral untuk Yati.
"Kamu kalau makan hati-hati Yati," ucap Wawan menyerahkan botol air mineral yag sedang dipegangnya.
"Makasih Kak." Meminum air yang Wawan berikan.
"Fatim loe udah bangun, ini gue Rangga dan itu Dimas," ucap Rangga tersenyum manis.
"Iya tahu gue, dan gue nggak amnesia kok," ucap Fatim kesal.
"Ngapain kalian kemari?" tanya Fatim asal.
"Ya jenggukin loe lah, gue bawa buket bunga kesukaan loe," ucap Rangga bangga.
"Iya makasih tapi itu nggak perlu, mubazir entar juga kering dibuang, mending uamgnya loe beli makanan atau buku biar manfaat," ucap Fatim sewot.
"Gue ada kok bawain loe buah-buahan, biar loe cepat pulih." ucap Rangga lagi.
"Iya maksih udah kemari, tapi sebaiknya kalian segera pergi deh gue mau istirahat," ucap Fatim menarik selimutnya.
"Hmmm," sahut Fatim pelan, namun masih dalam balutan selimutnya.
"Semoga cepat sehat kembali ya, pasti kamu kangen sekolahkan?" tanya Dimas lagi yang dapat sikutan dari Rangga karena cemburu.
"Hmmm," jawab Fatim lagi.
Yati dan Wawan yang melihat tingkah sahabatnya hanya bengong, karena mereka tahu Fatim tidak menyukai lelaki yang menyukainya.
Karena merasa dicuekin akhirnya Rangga dan Dimas mohon pamit. Bersamaan dengan itu Nadya pun masuk kekamar Fatim.
Klek," pintu kamar perawatan Fatim terbuka.
"Eh banyak tamu rupanya, udah berdiri mau kemana?" tanya Nadya basa-basi.
"Iya Tan, kita udah mau pulang biar Fatim bisa istirahat," ucap Rangga dengan gaya yang dimanis-manisin.
"Hmmm bukannya kamu teman Fatim disekolah ya?" tanya Nadya lagi.
"Iya Tan, kenalin aku Rangga ketua Osis," ucap Rangga membanggakan diri.
"Saya Dimas Tan," ucap Dimas sopan.
"Oh jadi kalian kakak kelasnya Fatim, mohon buat peraturan yang tidak merugikan siswa baru ya untuk kamu khudusnys si Ketos dan perbanyak kegiatan rohani biar pada punya hati yang baik nanti," ucap Nadya.
"Iya Tan terimakasih masukannya, kita permisi," ucap Rangga dan Dimas segera keluar.
Sepeninggalan Rangga dan Dimas, Nadya mendekati putrinya yang menutupi wajahnya dengan selimut.
"Sayang, kok gitu sih ada temannya." Menyentuh tangan putrinya.
Fatim menurunkan selimut dari wajahnya.
"Mama ... habisnya Fatim sebel sama mereka berdua, selalu aja sombong. Kalau Kak Dimas sih masih mendingan nah kalau Rangga, uhhh sebel," omel Fatim.
"Udah ah nggak boleh gitu," ucap Nadya mencium kening putrinya.
"Wan ... Yati kalau kalian mau pulang udah boleh ya, biar tante yang jaga Fatim." ucap Nadya sambil tersenyum.
"Iya Tan, aku bentar lagi balik, entah Yati mau ikut apa tidak," ucap Wawan.
"Iya gue ikut ... kan gue mau kerja, nanti dipotong lagi gaji gue kalau nggak kerja," seloroh Yati dengan wajah cemberut.
Fatim tak kuasa menahan tawanya, melihat ekspresi Yati sahabatnya.
"Fren gue kangen senyum loe bukan bibir mancung loe," ucap Fatim.
__ADS_1
Dengan cepat Yati memamerkan senyum pepsodentnya yang membuat semua tergelak karena ulah Yati.
"Udeh nanti kering tuh gigi," ucap Wawan sambil mengebas bibir Yati dengan kresek.
"Ihhhh Kak Wawan jaharaa," ucap Yati kesal.
"Loh sejak kapan gue jadi gender Jaharaa," ucap Wawan tertawa diikuti oleh Fatim dan Nadya.
"Jaharaa itu maksudnya jahat Kak," ucap Yati semakin kesal.
"Sejak kapan bahasa Indonesia jahat berubah jadi jaharaaa," ledek Wawan.
"Kak Wawan nggak gaul," sunggut Yati marah, hatinya benar-benar dongkol.
"Uda deh Oneng, perut gue sakit," ucap Fatim.
"Alhamdulillah, akhirnya loe panggil gue dengan sapaan itu lagi, itu artinya bentar lagi loe bisa naik motor," ucap Yati tersenyum manis.
Semua kembali tergelak karena ulah Yati.
Sedang asyik tertawa, suara telepon Nadya berbunyi.
"Halo Bu, kami sudah digudang," ucap Momon.
"Oke aku segera meluncur." Menutup telepon.
"Fatim ... Mama keluar sebentar, nggak apa-apa kan kalau kamu sama Yati dan Wawan lagi," Menatap putrinya mersa.
"Iya Ma, nggak apa-apa kok, Mama hati-hati ya," ucap Fatim sambil tersenyum.
"Yati ... Wawan kalian nggak usah ke Cafe dulu ya, tante mau titip Fatim," ucap Nadya menatap keduanya.
"Iya Tan, siap!" ucap keduanya.
Nadya pun tersenyum dan segera meninggalkan rumah sakit menuju markas Momon.
Bagaimana nasib kelima tersangka? Akankah mereka mau buka mulut? Tunggu di kisah selanjutnya ya!
Bersambung.....
Terimakasih sudah membaca.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik :
*Fit three fitri
- Cinta Untuk Dokter Nisa
-Arsitek Cantik
-Mengejar Cinta Ariel
*Almaira
- My Secret Wife
-My Love My Babysitter
*Putri Tanjung
-OB kerudung Biru
*Sohibul Ikhsan
-Putih Abu Abu
-Kembar Tidak Identik
*Sudrun
-Samudra
-Penjelajah Malam
*Ergina Putri
-My Love Is Only For You
-Melawan Rasa Takutku
*Envy YoWes Ben
MY Princes OG
*Sisca Nasty
-Mafia In Love
*CindyElvira
-Ketika Muslimah Jatuh Cinta
-Tulang Rusukku AZahara
*Karlina Sulaiman
__ADS_1
-Mencintaimu Dalam Diam