
Semua siswa menunduk haru, dan menangis. Mereka semua bersalaman dengan Bu Intan sambil meminta maaf. Saat bersalaman dengan Fatim Bu Intan berbisik.
"Terimakasih Fatim, Ibu bangga memiliki anak sepertimu." Memeluk Fatim erat.
Acara haru - haruan akhirnya selesai, semua. anak kelas 10 IPA 1 diperbolehkan masuk kekelas. Karena mulai senin ini sekolah mereka sudah menerapkan pembelajaran dengan sisitem Fullday. Artinya anak - anak akan pulang sampai dengan jam 16.00 WIB, belajar dengan sistem ini akan belajar selama lima hari saja yaitu hari Senin dampai dengan hari Jumat, dan nanti dihari Sabtu mereka akan diliburkan.
Semua kini berjalan normal, aktivitas disekolah Unggulan tidak ada yang terganggu meski ada kelas atau anak yang dihukum, karena peraturan disini dilarang mendekati anak atau kelas yang sedang dihukum.
Setelah Ishoma semua kembali belajar, dan sekarang adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Anak - anak kelas 10 IPA 1 tampak sedikit ketir karena mereka baru saja bermasalah dengan Bu Intan.
"Ketak ... ketuk ... ketak ... ketuk ...." Suara sepatu Bu Intan.
"Fren kok gue merasa nggak enak hati ya dengar suara sepatu Bu Intan," bisik Yati.
"Itu karena loe ngerasa bersalah sama beliau, sebaiknya loe bersikap tenang dan biasa saja, biar semuanya bisa kembali normal," jawab Fatim mengeluarkan buku pelajarannya.
Yati tidak menyahuti ucapan Fatim tetapi ia ikut mengeluarkan buku pelajarannya.
"Assalamualaikum semua," ucap Bu Intan lembut.
"Waalaikumussalam Buuuuu," jawab semua kompak.
"Oke kita mulai aja pelajaran hari ini adakah yang masih ingat tentang apa RP yang ibu kasih kemarin?"
Hening ...
Fatim celingak - celinguk melihat teman - temannya namun nggak ada yang jawab.
"Saya Bu." Mengacungkan jari.
"Iya silahkan Fatim jawab!"
"Tentang Novel Bu, mulai dari pengertiannya, penulisnya, bagian - bagiannya, jenisnya, dan judul novel sama pengarangnya," jawab Fatim dengan lancar karena ia mengerjakan PRnya sendiri otomatis ia akan ingat apa saja yang ia tulis.
"Oke sangat bagus Fatim, jelas dan komplit. Ada lagi yang bisa jawab?"
"Silahkan kalian tulis ulang PR yang kemarin sekarang dan kumpulkan juga sekarang, untuk Fatim silahkan kamu baca - baca buku diperpustakaan ! Ibu kasih waktu satu jam dari sekarang ! Fatim silakan ke perpustakaan!"
"Siap, iya Bu." Berjalan keluar kelas menuju perpustakaan.
Semua tampak tegang mengerjakan tugas dari Bu intan, beliau duduk didepan sambil mengoreksi tugas anak kelas lainnya.
*****
Perpustakaan ...
Fatim berjalan sendiri menuju perpustakaan, suasana memang agak sepi karena sekarang waktunya jam pelajaran bukan jam istirahat.
Fatim masuk dan segera memilih buku yang akan dia baca, kali ini Fatim memilih buku Ensiklopedi wanita. Fatim memilih duduk dikursi dekat pintu tidak jauh dari rak. buku yang ia ambil supaya enak nanti mengembalikan buku yang ia baca.
"Ehmmm sepi rupanya, hanya gue sendiri," gumam Fatim.
Saat sedang asyik membaca, perasaan Fatim menjadi tidak enak, ia seolah - olah mendengar suara tangisan yang tak lazim, sangat pilu dan menyedihkan dari deretan rak buku dilorong ujung yang memang sangat sepi. Karena penasaran Fatim pun mencari asal suara.
Perlahan Fatim berjalan namun setelah sampai dia tidak menemukan siapapun yang menangis siujung lorong rak buku.
"Ah tidak ada siapapun disini, apa ini hanya perasaan gue aja kalik ya," ucap Fatim pada dirinya sendiri dan berjalan menjauhi lorong rak buku itu.
Saat keluar Fatim terkejut karena Bapak yang menjaga perpustakaan tiba - tiba saja sudah ada didepannya.
"Astagfirullah haladzim !" Teriak Fatim dan Bapak Soleh bersamaan sambil mengusap dadanya karena terkejut.
"Haduhhhh Bapak kok ngagetin Fatim sih, tiba - tiba aja udah nonggol," ucap Fatim masih terkejut.
__ADS_1
"Yeee kamu juga buat Bapak kaget, ngapain kamu dari lorong itu?" Menunjuk lorong yang tadi Fatim datangi.
"Nggak ngapa - ngapain Pak, cuma ngecek aja soalnya tadi Fatim denger suara perempuan nangis gitu, disana!" Menunjuk lorong yang tadi dia datangi.
"Beneran kamu denger?"
"Iya Pak, masak bohong sih."
"Alhamdulillah artinya Bapak masih normal," tersenyum senang.
" Maksudnya Pak?" Dengan wajah binggung.
"Selama ini semua orang sering menganggap Bapak suka halu, karena sering bertanya apa mereka mendengar suara perempuan menangis, selama ini belum ada yang dengarnya selain Bapak dan kamu, makanya Bapak sangat bahagia sekarang, artinya bapak nggak halu," jelas Pak Soleh senang.
"Ooo begitu ya Pak, apa ada cerita misterinya ya pak?"
"Iya katanya dulu ada siswa yang meninggal dilorong itu, dan sepertinya dia masih penasaran gitu?"
"Apa mungkin dia mau minta tolong pak ya?"
"Ihh kamu jangan ngomong yang enggak - enggak ah, Bapak jadi serem, yuk kita kembali saja, dan kamu jangan kelorong ini lagi ya." Mengajak Fatim menjauhi lorong sepi itu.
Mereka berdua akhirnya menjauhi lorong itu dan kembali ketempat mereka masing - masing.
Tak terasa sekarang sudah satu jam Fatim berada diperpustkaan dan sekarang dia hendak keluar dari perpustakaan.
"Tunggu!" Ucap sebuah suara.
Fatim berbalik namun tidak mendapati siapapun.
"Loe siapa?"
"Gue ada disini."
"Lorong."
Perasaan Fatim sedikit meremang, namun Fatim bukanlah anak yang penakut. Fatim berjalan mendekati lorong yang kosong.
"Oke, gue udah dilorong, apa yang bisa gue bantu buat loe?" Mencari - cari asal suara.
"Sekian tahun gue menunggu akhirnya ada juga yang bisa mendengar suara gue, tolong gue."
"Loe emang nggak bisa lihat gue tapi loe bisa dengar gue, gue nggak bisa tenang karena gue masih terikat janji dengan emak gue, emak gue belum ikhlas atas kepergian gue, karena saat pergi gue masih menanggung hutang emak gue pada seseorang, gue tulang punggung keluarga gue, dan gue berjanji pada emak untuk ngelunasin hutang emak pada orang itu." jelas suara itu.
"Loe siapa, dan loe mau gue lakuin apa?"
"Gue Marni, gue terbunuh dua tahun lalu, gue kemari untuk mencari orang yang bisa bantu gue, loe tolong cari ibu gue, minta dia mengikhlaskan gue yang sudah pergi dan sampaikan maaf gue masalah hutang itu. Gue nggak bisa tenang karena masih menanggung hutang."
"Oke kemana gue harus cari emak loe?"
"Lembang, nama emak gue Bu Darmi rumahnya dekat SDN.5 Lembang, loe harus cepat gue sangat tersiksa terjerat diantara dua dunia, tolong minta keikhlasan orang yang gue utangin ya, gue nggak diterima karena masih berhutang dan orangnya belum ikhlas."
"Baiklah gue akan coba bantu loe, tapi gue nggak bisa berangkat sekarang karena Lembang itu jauh, gue akan berangkat Sabtu atau Minggu, dan utang loe gue yang akan bayar."
"Terimakasih Fatim, cepatlah selesaikan urusan gue didunia, gue tersiksa."
Fatimpun bergegas meninggalkan perpustakaan, dia nggak habis pikir kok bisa dia bicara dengan mahluk astral.
*Aneh kok bisa ya gue bicara dengan makhluk astral gitu, apa yang dia ucapkan benar ya, gue harus buktiin ini nanti Sabtu ataU Minggu, haduh seberat itukah hukumam orang yang mati meninggalkan hutang, bahaya bangettt loe hutang ternyata, batin Fatim.*
Fatim sudah memasuki kelas, dan disana Bu Intan masih setia duduk dengan manis menunggu teman - temannya mengerjakan PR.
"Tok ... tok ...." Fatim mengetuk pintu.
__ADS_1
"Masuklah Fatim," ucap Bu Intan tersenyum.
"Sudah datang, buku apa yang kamu baca?"
"Ensiklopedi Wanita Bu."
"Tentang apanya?"
"Pertumbuhan dan Perkembangan Wanita dan Pria saat dewasa Bu," jawab Fatim lancar.
*Untung gue baca beneran, kalau nggak habisss gue, Bu Intan kalem - kalem kilerrrr, batin Fatim.*
"Bagus Fatim silahkan duduk, yang ngerjain PR waktunya setengah jam lagi." Melihat anak - anak tanpa senyum.
"Fren loe udah beres." Melihat Yati.
"Bantuin gue Frenn belum beres, gue nggak ada HP buat Googling." Wajah memelas.
Akhirnya Fatim membantu Yati untuk membuat PR Yati sahabatnya.
"Teeeeeetttttt"
Suara bel panjang berbunyi tanda jam pelajaran telah habis dan berganti dengan pelajaran berikutnya.
"Alhamdulillah, pas bel pas tugas gue selesai, makasih ya fren gue yang cantik dan super baik," ucap Yati memeluk Fatim.
"Apaan sih loe Oneng, mulai dah kambuh lebaynya," ucap Fatim dengan ekspresi yang sengaja dibuat seperti orang lagi jijik.
Yati tertawa melihat wajah temannya yang lucu.
"Oke Class semuanya ,tugasnya kumpulin pada Ikhsan mau selesai atau nggak," ucap Bu Intan datar.
"Ikhsan! Ibu tunggu dikantor." Berjalan meninggalkan kelas.
Semua menarik nafas lega setelah hampir dua jam merasa tegang, kini mereka akan rileks karena pelajaran terakhir adalah kesenian dan mereka akan belajar diaula musik.
Semua anak telah berjalan meninggalkan kelas menuju aula, saat sedang berjalan tiba - tiba Dimas menyapa.
"Fatim, jangan lupa pulang sekolah kakak tunggu digerbang," teriak Dimas.
Fatim hanya menoleh sebentar dan kembali fokus berjalan.
"Fren loe janjian apa sama Kak Dimas?"
"Mulai dah kepooo." Menoel pundak Yati.
"He ... he ... kan gue penasaran, apa Fren gue dah jatuh cintrong ama Kak Dimas, kadi kan gue bisa dapetin Kak Rangga."
"Kak Dimas mau ngajakin gue jengguk pacar loe Kak Rangga, sakit tapi gue nggak mau," jelas Fatim.
"Pliss Fren mau ya, gue juga mau ikut nebeng jengguk ayang beb gue." Melihat Fatim dengan wajah memelasnya.
"Loe beneran mau nyuruh gue pegi? Kalau nanti loe dikacangin gimana?"
"Nggak akan, secarakan Ayang Beb gue itu baik dan perhatian."
"Oke kalau begitu nanti loe gue anterin kerumah calon mertua loe."
Keduanya tertawa sambil bergandengan tangan menuju aula musik.
Bersambung....
Terimakasih ya sudah membaca karyaku ,jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.
__ADS_1
Jangan lupa Mampir juga ke Karyaku Nyanyian Takdir Aisyah dan novel favoritku Arsitek Cantik, Cinta Untuk Dokter Nisa dan My Secret Wife. Aku tunggu ya 😍