
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
Rumah Fatim ....
"Motor itu hasil patungan adek-adek bawah jembatan, adek panti, dan juga Kak Jef bersama teman-temannya juga sedikit sumbangan dari calon mertuamu." terang Nadya yang membuat senyum manis Fatim sedikit memudar.
Seketika pikirannya melayang pada Abas, ada segores luka tertoreh di relung hatinya. Dalam benaknya ia masih berharap agar Yang Maha Kuasa mempersatukan mereka kelak suatu hari.
"Yaa Allah, aku sungguh terharu. Terimakasih semuanya atas hadiah yang tak ternilai ini." Fatim bersuka cita menerima sebuah kunci yang berhiaskan inisial namanya huruf "FA" yang berarti Fatimah Ananbra, meskipun sebenarnya Nadya memesan inisial "FA" itu untuk Fatim Abas.
"Terimakasih semuanya, sungguh ini hadiah terindah yang pernah gue terima. Bukan karena harganya tetapi lebih kepada nilainya," ucap Fatim dengan wajah berbinar meski dalam relung hatinya ia sedih mengingat perkataan Nadya mengenai calon mertua.
Semua tampak bergembira bersama menikmati semua hidangan makan malam yang telah Nadya siapkan tak lupa mereka salat magrib bersama juga.
Setelah selesai salat isya kediaman Fatim mulai sepi. Semua satu persatu mulai kembali ke kediaman masing-masing. Fatim juga tampak lelah setelah bermain bersama adik-adik panti serta adik-adik bawah jembatan.
"Sayang! Kamu tampak lelah sebaiknya segera istirahat ya, tetapi jangan lupa ganti dulu pakaiaanmu." Nadya tersenyum menatap putrinya.
"Iya, Ma." Fatim yang merasa sangat kelelahan segera beranjak menuju kamarnya di lantai dua.
Sampai di dalam kamarnya ia segera menggantikan bajunya dan merebahkan diri di atas kasurnya yang empuk. Fatim sengaja kali ini memasang spray berwarna hijau bermotif bunga-bunga mawar kecil lengkap dengan pangharum ruangannya yang beraroma bunga mawar. Saat berbaring tubuh akan sangat rileks seolah benar-benar tidur dihamparan bunga-bunga mawar.
Baru beberapa menit saja ia memejamkan matanya, suara ponselnya berdering. Dengan malas ia meraih gawainya yang berada di atas nakas di samping tempat tidurnya.
Tanpa melihat siapa yang menelpon ia langsung saja menerimanya.
"Halo! Siapa nih?" tanya Fatim masih dengan mata terpejam.
"Halo ini gue, Yati. Loe udah tidur jam segini? Katanya mau belajar buat persiapan ulangan yang tinggal beberapa hari lagi." Yati mencoba untuk mengingatkan sahabatnya.
"Iya nanti abis tidur gue belajar, sekarang gue tidur dulu ya, ngantuk soalnya." Fatim benar-benar mengantuk saat ini dan ia mematikan sambungan teleponnya secara sepihak yang membuat Yati kesal.
Tut ... tut ...!
Suara telepon dari Yati namun tidak Fatim angkat. Suara telepon sahabatnya itu benar-benar tidak berhenti sehingga membuat yang punya gawai merasa kesal dan terganggu.
"Ada apalagi sih,Fren! Maaf gue benar-benar ngantuk," ucap Fatim lemas.
"Gue mau curhat," ucap Yati manja.
"Hemm, apa?" ucap Fatim meski sebenarnya ia sangat kesal.
"Ini soal kak Wawan, ia barusan telpon gue ... dia ... dia mau ajak gue tunangan kalau nanti gue udah lulus, menurut loe gimana? Apa nggak kemudaan gitu kalau gue langsung di lamar? Gue kan masih pengen kuliah juga, masa sambil nikahan gitu, kan nggak seru." Yati menumpahkan isi hatinya, namun yang di ajak bicara tak kunjung merespon.
"Fren! Haloo! Loe masih denger gue kan atau loe tidur." Yati mulai kembali kesal.
__ADS_1
"FATIMMMMMMMM!" teriak Yati sekenceng-kencengnya karena kesal yang membuat Fatim melompat dari posisi tidurnya yang memang tertidur sambil meletakkan gawainya di telinga.
"Astaqfirullah halazdim, Onenggggg!" teriak Fatim yang ikutan kesal pada sahabatnya itu.
"Habisnya loe tidur dan nggak dengar curhatan gue," ucap Yati sengit membela diri.
"Loe harus tanggung jawab kalau sampai gendang telinga gue rusak atau rumah siputnya pecah dan hancur berantakan," ucap Fatim kesal.
"Test! Test! Haloo," ucap Yati tak beraturan.
"Loe apaan sih Fren, tas tes tas tes, pusing gue dengernya," teriak Fatim dari seberang ponselnya.
"Alhamdulillah ternyata teman gue masih normal pendengarannya." Yati nampak senang sedangkan sahabtnya masih sedikit kesal.
"Ya udah sekarang mau curhat apa? Ayo gue dengerin!"pinta Fatim pada sahabatnya.
"Nggak ah, nggak jadi curhatnya dah basi juga." Yati menutup ponselnya yang membuat Fatim bengong sendiri dengan kelakukan sahabatnya itu.
"Hadehhh dasar Oneng, tadi mau curhat aja maksa-maksa, giliran gue udah siap dianya yang matiin telepon. Udah ah mending gue bobok aja lagi." Fatim menarik selimutnya dan mulai kembali rebahan.
Baru saja akan terbang ke alam mimpi sayup-sayup ia mendengar suara ponselnya.
*Ini pasti si Oneng lagi, ganggua aja. Nggak bisa apa dia biarin sahabatnya yang cantik dan shalihah ini tidur dengan nyenyak, rutuk Fatim dalam hatinya.*
"Halo! Kenapa lagi? Ya udah terima aja kalau loe suka, kalau nggak suka kan tinggal bilang aja, gutu aja kok repot," ucap Fatim tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Assalamu'alikum, Dek!" Suara seseorang di seberang telepon.
"Dek, ini aku. Kak Pop!" Jelas Abas yang bingung dengan cerocosan Fatim.
"Apa?! Ja-jadi ini kak Pop, emmm Abas?" Fatim menjadi salah tingkah.
"Iya ini aku, kamu kenapa ngoceh nggak jelas kayak tadi. Terus siapa yang kamu suruh bilang terima atau nggak, siapa yang suka sama siapa?" tanya Abas penasaran.
"Oh itu Yati sahabat gue, soalnya dari tadi dia gangguin terus dengan ocehannya di telepon. Dia mau curhat tapi guenya ngantuk jadi deh dia nya marah, makanya tadi kakak gue kira masih dia yang telepon," jelas Fatim pada Abas.
"Kamu apa kabar? Kakak inshaa Allah akan balik ke Jakarta pas hari minggu, jadi Senin sudah bisa ikut ujian," ucap Abas yang terdengar sedih.
"Alhamdulillah gue sehat, kok lama sih baliknya baru Minggu kan jadinya kita nggak bisa main atau ketemuan gitu soalnya udah fokus untuk ujian." Suara Fatim terdengar sedikit protes.
"Ya semua sudah di atur oleh Abi kakak, nanti selepas ujian kakak juga akan langsung pulang ke Bandung lagi, sepertinya ini juga akan menjadi teleponan kita yang terakhir, makanya kakak usahakan untuk bisa menelpon malam ini. Kakak nggak mau kehilangan kesempatan ini." Abas menghentikan ucapannya.
"Kenapa begitu, Kak?" Suara Fatim terdengar sedih.
"Fatim! Apa kakak boleh jujur padamu?" tanya Abas penuh harap.
Jantung Fatim berdetak cepat seperti sedang lari marataon puluhan mil jauhnya, ia merasa sangat bahagia sekaligus sedih juga. Entah apa yang akan Abas katakan tetapi sesungguhnya ia sangat berharap itu kabar bahagia.
__ADS_1
"Dek!"sapa Abas karena belum mendapat jawaban dari Fatim.
"Eh i-iya boleh kok, Kak. Katakan saja gue siap mendengarnya." Akhirnya ia bisa juga menjawab pertanyaan Abas.
"Kakak menyukai seorang gadis yang sejak kecil sudah mencuri hati kakak, dan setelah belasan tahun akhirnya kakak bertemu lagi dengannya. Ia masih sama seperti gadis kecil itu hanya saja sekarang ia semakin cantik. Dalam hati kakak yang terdalam ingin menjadikannya pengantin masa kecil itu menjadi pengantin kakak dimasa sekarang. Dulu kami pernah berjanji akan menjadi sepasang pengantin yang saling menyayangi dan mengasihi sampai mau memisahkan. Apakah kakak salah jika berharap seperti itu?" tanya Abas yang dadanya sudah sesak, perasaanya selama belasan tahun akhirnya bisa terungkap malam ini.
Fatim yang mendengarnya sudah dipenuhi dengan linangan air mata sedih bercampur bahagia. Ia bahagia ternyata perasaanya tidak bertepuk sebelah tangan, namun sedihnya karena mereka tak akan pernah bersama karena ia sudah terikat sebuah perjodohan.
"Dek!" sapa Abas serak.
"Hemm," jawab Fatim singkat.
"Kamu menangis?"
"Iya." Fatim mengangguk meski Abas tak bisa melihatnya.
"Ana uhibbukifillah," ucap Abas pelan tetapi cukup di dengar oleh keduanya.
"Makaudnya apaan itu, Kak?" tanya Fatim polos yang memang tidak mengerti artinya.
"Aku mencintaimu karena Allah, dan kakak akan selalu berdo'a agar Yang Maha Memiliki hati dapat menyatukan kita dalam ikatan suci nantinya," ucap Abas akhirnya.
"Aamiin, tapi ...." Fatim tak meneruskan ucapannya.
"Kakak tahu, kamu sudah dijodohkan dan begitu juga dengan kakak. Namun apa salahnya jika kita berusaha dan berdo'a untuk bisa bersama. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendakinya. Kakak berharap kamu tetap semangat dan bahagia dengan siapapun nanti kamu bersama mengarungi kehidupan ini." Abas menahan sesak yang semakin membuncah.
"Iya, Kak." Jawab Fatim sedih.
"Gue sangat sedih saat ini, andaikan kita masih bisa mengulang masa lalu, gue ingin kita seperti dulu. Saat gue menangis maka kakak akan memeluk ku dan memberikanku permen lolipop," ucap Fatim serak.
"Kamu yang sabar ya, tetaplah berharap dan berdo'a. Terimakasih sudah membuka hatimu untuk kakak, ingat jika nanti kamu telepon nggak aktif itu artinya kakak nggak pegang ponsel lagi. Kata Abi kakak nanti selepas ujian ini kakak akan segera melangsungkan pertunangan sekaligus pernikahan. Sebab setelahnya kakak akan berangkat ke Arab Saudi untuk belajar di sana." Abas tak bisa lagi manahan tangisnya yang kini mengalir deras di pipinya.
Fatim tak lagi dapat berkata-kata air mata kini benar-benar telah membasahi kedua pipinya. Keduanya masih memegang ponsel masing-masing namun saling diam. Tak ada yang mampu untuk berbicara hanya isakan yang terdengar dari keduanya.
"Dek, ini sudah larut malam sebaiknya kamu istirahat ya," suara Abas terdengar serak.
"Tapi gue nggak ingin malam ini berakhir, ini teleponan kita yang terakhir," suara Fatim tak kalah serak.
"Aku tahu,Dek. Tapi kesehatan dan tujuan utamamu sebagai pelajar itu jauh lebih penting. Pesan kakak jangan lupa untuk salat malam, memohonlah di sana. Inshaa Allah do'a yang kita panjatkan akan lebih mudah untuk di dengar dan di ijabah oleh Allah. Dek! Dengarkanlah sekali lagi aku mencintaimu karena Allah. Assalamu'alaikum." Abas mengakhiri pembicaraan mereka.
Fatim memeluk ponselnya dengan mata terpejam. Tak pernah terbayangkan olehnya semua ini akan terjadi. Semua ia pasrahkan pada pemilik jiwa dan raga.
La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim disebut lafadz hauqalah. Artinya: “Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah yang Maha Luhur dan Maha Agung."
Bersambung ....
Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula sudah setia membaca novel remahanku juga untuk Tap jempol serta komennya!
__ADS_1
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah ya dibawah ini: