Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
KENAGAN MASA LALU


__ADS_3

🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. Selamat Membaca🌻


🌻Masih dirumah sakit 🌻


Air mata sedih dan juga bahagia berbaur menjadi satu, menuntun ibu dan anak itu untuk saling menguatkan dalam menjalani kehidupan yang kadang penuh dengan misteri.


Setelah semua asa mereda akhirnya Nadya dan Fatim segera pamit undur diri pada Pram, dan mereka sepakat untuk berangkat ke kampung halaman ayah Fatim di Yogyakarta.


Disepanjang perjalanan menuju ke kediaman mereka Nadya hanya diam tanpa sepatah katapun, dan Fatim sangat mengerti perasaan Mamanya. Karena itu Fatim juga sengaja tidak mengajak Nadya untuk berbicara.


Dalam pikirannya Nadya sungguh sangat bersyukur atas kekuasaan dan kasih sayang Allah terhadap dirinya dan Fatim, ia tidak dapat membayangkan jika waktu itu dia sampai berhubungan fisik dengan Pram, jelas itu adalah dosa besar.


Sebenarnya Nadya juga sudah merasakan perbedaan dari sikap suaminya waktu itu hanya saja ia tidak menyangka jika itu benar - benar bukan suaminya.


Waktu itu kehamilannya memasuki usia tujuh bulan, sikap suaminya sangat jauh berbeda, biasanya Mas Bram bersikap sangat lembut dan telaten dalam mengurusi semua kebutuhannya, namun kini yang dituntutnya hanyalah kebutuhan fisik saja, bersyukurnya dokter waktu itu melarang hubungan fisik sampai waktu lahiran tiba, kalau tidak ia pasti sudah melakukan dosa besar yang tidak akan termaafkan oleh Allah.


Sungguh indah cara Allah menjaga dan mencintai ummatNya pikir Nadya, dan ia sangat bersyukur atas segala yang telah Allah anugerahkan padanya.


Tak terasa perjalanan yang penuh keheninganpun telah membawa mereka memasuki sebuah garasi yang mewah dan luas.


Perlahan mobil diparkirkan dan Nadya masih betah duduk didalam mobil.


"Ma ... kita sudah sampai, turun yuk !"


Nadya masih terdiam, seolah masih larut dalam pikirannya, sehingga ia tidak merespon ajakan Fatim.


"Mama ...." menggoyangkan pundak Nadya.


"Eh iya sayang, maafkan Mama, kita udah sampai ya, yuk kita turun." Melepaskan sitbelt.


Fatim tersenyum, ia sangat memahami kegalauan pikiran Mamanya, pasti tidak akan mudah bagi Mamanya untuk memerima kebenaran ini setelah 16 tahun berlalu.


Perlahan Fatim mengandeng tangan Nadya memasuki rumah mereka.


"Ma ... kita makan dulu atau Mama mau langsung kek kamar?"


"Mama sepertinya langsung ke kamar saja sayang, sepertinya Mama butuh sendiri untuk saat ini, kejadian hari ini sungguh membuat Mama shock." Menundukkan kepalanya.


"Mama yang sabar ya, Fatim yakin beginilah cara Allah menyayangi Mama dengan menjaga kesucian Mama dari hal yang dilarang, menjaga hati Mama untuk selalu tenang dan memaafkan, dan Fatim yakin kalau Ayah juga sangat merindukan kita." Memeluk Nadya.


"Terimakasih sayang, Mama sangat bersyukur punya putri sepertimu." Mencium kening Fatim.


"Fatim juga bangga mempunyai orangtua seperti Mama, yang sangat setia dan penyanyang." Memeluk erat Nadya.


"Yah sudah, sekarang kamu juga istirahat ya, sekarang rasa penasaranmu terhadap sosok lelaki itu sudah terjawab sayang, semoga esok kita siap untuk bertemu Papamu."


"Ma boleh Fatim panggil dia Ayah saja bukan Papa?"


"Terserah kamu saja sayang, tapi kalau kamu manggil Mama temannya ya Papa, bagi Mama kamu mau menerima Papamu itu yang utama. "


"Makasih ya Ma nanti Fatim coba panggil Papa deh." Tersenyum melihat Nadya.


Nadya mengantar Fatim sampai kedepan pintu kamarnya.


"Selamat malam sayang, love you," ucap Nadya.


"Love you too Mama." Melambaikan tangan.


Keduanya berpisah memasuki kamarnya masing - masing.


🌻Kamar Nadya 🌻...


Nadya memasuki kamarnya ia masih belum mengganti pakainnya. Ia duduk ditepi ranjangnya pikirannya kembali terusik akan kenangannya dan dia membandingkan perlakuan suami dan pacarnya kala itu, memang sangat jauh berbeda.


Dalam hatinya Nadya bersyukur ditakdirkan Allah untuk bersama Bram bukan Pram, tak terasa air matanya mengalir membayangkan semua yang terjadi dalam garis kehidupannya.


Nadya berangkat dari tempat tidurnya, ia membuka lemari pakaian yang ada dikamarnya, semua pakaian Bram masih tertata rapi disana, dan album kenangan mereka masih tersimpan rapi. Perlahan Nadya meraih album itu dan membukanya.


"Ya Allah, mengapa aku tidak bisa membedakan wajah mereka yang sangat mirip, tak ada celah sama sekali, namun aku tahu sifat mereka berbeda, kenapa kala itu aku tak menyelidikinya, dan aku percaya begitu saja atas semuanya, kasihan Mas Bram dia yang teraniaya, dia yang menderita, bahkan lebih menderita dari pada aku," gumam Nadya pada dirinya sendiri.


Air mata Nadya sudah tak terbendung, tiba - tiba ia merindukan suaminya.


"Mas aku merindukan sikapmu yang mengayomi, yang membimbingku untuk terus bersyukur akan semua yang Allah berikan padaku, dan semua itu yang membuat aku kuat hingga saat ini, entah bagaimana aku harus bersikap terhadapmu besok," isak Nadya.


Karena terlalu larut dalam kenangannya yang sangat membingungkan, akhirnya Nadya tertidur dimeja dekat samping lemari pakaian Bram sambil memeluk album kenangannya bersama Bram.


🌻Kamar Fatim 🌻...

__ADS_1


Setelah kepergian Nadya, Fatim segera mengganti pakaiannya dan membersihkan dirinya, kemudian segera mengecek Hp nya. Banyak sekali notif pesan masuk di Hp nya dan salah satunya dari sahabat tercintanya Yati.


Pesan Yati ...


*Fren loe kemana aja kok nggak ngabarin gue, ibu gue sakit jadi gue nggak ke Cafe maaf ya ,memasang emoji tersenyum*


*Fren bantuin gue ngerjain tugas ya, gue ngga bisa dengan emoji tertawa*


* Fren ... halooo loe kemanaaa, gue kok ngomong ama tembok ya nggak ada yang nyahut ! Kerik ... kriek haloooooo*memasang emoji Menagis.


*Fatim Ananbraaaaa ...loe dimanaaa, jawab gue dong ,apa loe marah ya karena gue maruk cowok ganteng????? Dengan emoji tertawa*


* Fren tolongin gue, ibu gue ....*


Awalnya Fatim tertawa membaca pesan - pesan Yati, namun saat membaca pesan terakhirnya membuat tawa Fatim berubah menjadi rasa khawatir. Dengan cepat Fatim mendeal nomor Yati.


"Tuuuuut."


"Tuuuut."


"Halo Assalamualaikum Fren," ucap Yati.


"Waalaikumussalam, Yati bagaimana ibu loe apa yang terjadi, udah loe bawa kerumah sakit belum, dimana sekarang?" Tanya Fatim khwatir.


"Fren ... tarik nafas dulu atau loe minun dulu gih, loe nggak capek udah ngomong kayak motor yang rem nya blong gitu?"


"Yati ! Gue serius kok loe malah bercanda sih, " ucap Fatim kesal.


"Iya ngerti gue, tapi nanya udah kayak kereta api, gue aja binggung mau jawab yang mana dulu."


"He .. he ... iya maaf, habisnya gue khawatir gitu."


"Iya tadinya ibu sempat sesak waktu gue lagi chat ama loe, tapi sekarang udah baikan, udah gue sama ayah bawa ke Puskesmas terdekat, ibu cuma lagi kumat aja maagnya karena telat makan," jelas Yati.


"Oh syukur alhamdulillah kalau begitu, sekarang kalian dirumah ya?"


"Iya, ngomong - ngomong loe kemana seharian nggak bisa dihubungi, nggak balas chat gue, buat orang khawatir aja." Wajahnya cemberut meski Fatim tak bisa melihatnya.


"Iya Maaf, habis dari rumah sakit gue ke Cafe, truss kepala gue pusing, jadi deh Kak Wawan neleponin Mama, tahu sendirikan Mama kalau tahu gue sakit paniknya kayak gimana, dan gue bertemu seseorang yang mirip dengan lelaki yang ada dimimpi gue tempo hari sewaktu kita di Lembang, loe ingat kan?"


"Iya gue ingat, trus loe udah ketemu sama tu lelaki?"


"Loe serius, jadi loe udah ketemu Bokap loe?"


"Belum, rencananya besok gue sama Mama mau ke Yogyakarta untuk beberapa hari, karena Bokap gue disana, katanya beliau sakit."


"Bagaimana perasaan loe Fren?"


"Perasaan gue nggak bisa diceritakan Yat, ada rasa sedih, ada rasa senang, semua bercampur baur menjadi satu."


"Gue turut senang Fren, semoga semua ini dapat menjadi awal yang baik untuk kehidupan loe dan Mama loe, hati - hati ya Fren, jangan lupa besok kabarin gue lagi ya."


"Makasih ya Fren,loe emang yang terbaik."


"Assalamualaikum," pamit Yati.


"Waalaikumussalam," jawab Fatim.


Perasaan Fatim sedikit lega, ia sangat bersyukur punya sahabat seperti Yati. Setelah teleponan dengan Yati, Fatim hendak tidur namun ia teringat Mamanya. Dan Fatimpun berinisiatif untuk melihat keadaan Mamanya.


Fatim berjalan menuruni anak tangga menuju ke kamar Mamanya. Perlahan Fatim membuka pintu dan dilihatnya Mamanya tertidur didekat meja disamping lemari yang selama Fatim ingat selalu dikunci oleh Mamanya.


Fatim terpana melihat isi lemari yang selalu dikunci oleh Mamanya selama ini, deretan pakaian Papanya masih tergantung rapi, foto pernikahan Mamanya, dan sebuah album foto yang dipeluk Mamanya. Ada air mata haru mengalir disudut mata Fatim.


"Ya Allah serapi ini ternyata Mama menyimpan semua kenangan Papa, begitu besar cinta Mama pada Papa, apa selama ini Mama begitu tersiksa ya? Apa selama ini Mama menderita dalam batinnya? Mama ... Fatim bangga pada Mama," gumam Fatim.


Perlahan Fatim menutup lemari itu dan mengambil album dari pelukan Mamanya, dan perlahan membangunkan Mamanya.


"Ma ... pindah yuk, jangan tiduran disini nanti badan Mama pegal." Menepuk pundak Nadya lembut.


Perlahan Nadya membuka matanya.


"Eh sayang, maafin Mama ya, Mama ketiduran disini." Berangkat menuju ke ranjangnya.


"Ma ... kita ganti baju dulu ya, biar tidurnya enak." Membantu Nadya membuka baju dan menggantinya dengan yang baru.


"Makasih sayang, Mama jadi ngerpotin kamu."

__ADS_1


"Nggak kok Ma, nggak ada orangtua yang ngerepotin, yang ada juga kami yang anak ini selalu ngerepotin orangtua." Memeluk Nadya.


"Makasih sayang, udah ah yuk bobok," ucap Nadya.


"Met bobok Mamaku sayang."


"Met bobok juga putri cantikku."


Setelah membantu Mamanya, Fatim segera kembali ke kamarnya untuk tidur.


🌻Keesokan Hari 🌻...


Seperti biasa azan subuh sudah berkumandang namun Fatim sayang selalu melewatkannya, dan seperti sudah menjadi rutinitas Nadya harus membangunkannya.


Kali ini Nadya membangunkan Fatim dengan membawa sebuah bulu ayam yang sengaja Nadya buat untuk menjahili Fatim.


Perlahan Nadya memasuki kamar Fatim dan memulai aksinya.


"Kilik ... kilik ..." Menggosokkan bulu itu dihidung Fatim.


Karena merasa geli hidung Fatim kembang kempis. Merasa Fatim belum bangun, Nadya kembali memainkan bulu itu kini dipipi Fatim.


Merasa ada yang berjalan dipipinya reflek Fatim menepuk pipinya sendiri.


"Pok ! Aduhhhh sakittt." Mengusap - usap pipinya dan mulai bangun.


"Ih yang tadi apaan ya Ma, sakit pipi Fatim," ucap Fatim.


"Kecoa kali makanin pipi orang yang malas bangun subuh." mengerling pada Fatim.


"Mama kok gitu sih." Cemberut.


"Ha ... ha ... anak Mama jelek kalau cemberut."


"Udah gih sholat dulu, kita kan mau ke Yogyakarta hari ini."


"Eh iya, oke siap Mamaku sayang." bergegas untuk berwudhu.


🌻Bagaimana reaksi Bram saat bertemu belahan jiwanya, next episode ya🌻


Bersambung.....


Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Nyanyian Takdir Aisyah.


dan karya apik author yang lain :


* Fit Fithree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


* Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


My Heart Is Only For You


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Sudrun


Penjelah Malam


Samudra


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.

__ADS_1


*Sisca Nasty


Mafia In Love1 w


__ADS_2