
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
*****
Setelah bertemu Fatim, akhirnya Kusno memutuskan untuk pulang. Dia sangat berterimakasih pada Fatim dan mamanya. Baru kali ini, ia bertemu dengan orang-orang yang baik, menolong tanpa pamrih. Kusno pun bertekad ingin seperti mereka, menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain.
"Baiklah Neng Fatim, saya mohon pamit. Semoga Neng segera sehat dan bisa kembali seperti dulu, pulang kerumah, sekolah dan membantu orang-orang yang membutuhkan," ucap Kusno yang tulus mendo'akan Fatim.
"Aamiin, terimakasih banyak, Pak! Semoga Allah segera mengijabah do'a, Bapak." Fatim tersenyum dan melambaikan tangan sebagai tanda perpisahannya dengan pak Kusno.
*****
Setelah kepergian Kusno, dokter Haris segera meminta untuk memeriksa keadaan Fatim.
"Maaf ya, Dek. Kita periksa dulu, sekalian ambil darah untuk sampel uji Lab, nanti sore hasilnya baru akan keluar.
Fatim tidak menjawab, ia merasa malas menanggapi dokter Haris, entah mengapa ia merasa kurang respek meskipun sebenarnya dokter Haris orangnya baik dan tampan.
Melihat Fatim yang diam saja, Nadya segera mendekatinya."Ayo Sayang, berikan tanganmu." Meraih tangan putrinya.
Dokter Haris tersenyum melihat tingkah Fatim. Karena dia memang sangat dewasa, dan terbiasa melihat tingkah laku pasien yang kadang cuek atau bahkan sksd, ada yang tahu? Yap itu adalah sok kenal sok dekat.
Setelah selesai memeriksa keadaan Fatim dan mengambil sampel test, dokter Haris segera permisi dan tidak lupa, dia meninggalkan lima batang coklat silver queen untuk Fatim.
"Oke, semua sudah beres. Selamat beristirahat, Adek cantik," ucap dokter Haris. Dia menganggukan kepalanya pada Nadya sebagai tanda permisi, dia sengaja meninggalkan Fatim dengan wajah juteknya. Dia tahu Fatim tidak suka di panggil adek olehnya.
Nadya membukakan pintu untuk dokter Haris dan mengucapkan terimakasih. Sebelum dokter Haris pergi Nadya sempat meminta maaf.
"Dok, maafkan putriku," ucap Nadya sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya tahu Fatim tidak suka disapa dengan panggilan adek, tapi itu malah membuat saya bersemangat," ucap dokter Haris sambil tertawa.
"Terimakasih, Dok. Anda sudah memahami putri saya," ucap Nadya sambil tersenyum pula.
Dokter Haris segera berlalu menuju keruangan pasien lainnya. Sedangkan Nadya segera kembali pada putrinya.
*****
Sementara itu di My Cafe, Wawan lah yang bertanggung jawab sekarang termasuk mengantar jemput Yati, perempuan yang disukainya. Seperti kali ini, keadaan My Cafe sedang ramai. Namun Yati malah sibuk berfoto selfi dengan gaya yang aneh-aneh, ia bermaksud mengirim hasil jepretannya pada Fatim, agar sahabatnya itu tidak merasa bosan. Namun karena situasi yang tidak cocok membuat Wawan harus menegurnya.
"Yati! Apa kamu sudah tidak mau lagi bekerja?" bentak Wawan kesal. Selama bekerja di My Cafe baru sekarang lah Yati melihatnya marah.
Karena terkejut ponsel yang dipegang oleh Yati terlepas hingga jatuh kelantai dan berserakan. Air mata Yati sudah ikut jatuh kelantai, perasaannya ikut hancur seperti ponselnya. Pertama ia takut karena Wawan akan memberhentikannya, yang kedua ia sayang pada ponselnya karena itu adalah hadiah ulang tahunnya dari Fatim yang kini telah berderai.
"Hiks ... hiks ...." Isakan Yati mulai terdengar.
"Loh, kok malah nangis sih? Harusnya kamu itu kerja, karena kita disini semua mau dapat gaji, bukan makan gaji buta," omel Wawan yang kesal pada Yati.
Disela isakannya Yati berkata." Ternyata gaji juga bisa buta ya, Kak. Gue kira manusia aja yang bisa buta atau hewan gitu," ucap Yati sambil terus terisak.
Wawan yang semua kesal berusaha menahan senyum. Melihat kekonyolan Yati membuatnya teringat pada Fatim. Pantas saja Fatim suka berteman dengan Yati. Dia gadis yang benar-benar masih polos.
"Kak!" sapa Yati yang membuyarkan lamunan Wawan.
"Kenapa?" jawabnya jutek.
"Ma-maafin gue ya!" Menunduk dengan buliran bening yang masih menganak sungai disudut matanya, dan sesekali ia menyemprot cairan yang keluar dari hidungnya.
Melihat Yati yang menangis membuat Wawan tidak tega, ia segera menyodorkan tisue pada Yati.
"Nih!" Memberikan tisue.
"Kakak nggak marah lagi?" tanya Yati masih dalam isakannya.
"Masih!" jawab Wawan singkat, meski dalam hatinya ia ingin tertawa.
"Kalau masih marah, nih tisuenya nggak jadi gue ambil."Menyodorkan tisue yang Wawan kasih.
"Ambil aja," Menolak pemberian Yati.
__ADS_1
"Nggak mau!" Bersikeras mengembalikan tisue.
"Udah ambil aja, gue nggak marah lagi," ucap Wawan kesal.
"Makasih." Langsung menggunakan tisue untuk menyeka air matanya dan hidungnya.
"Kak!" panggil Yati serak.
"Kenapa lagi?" tanya Wawan.
"Jangan pecat aku ya!" ucap Yati memohon.
"Kamu kalau tidak mau dipecat kenapa sibuk berselfi?" tanya Wawan lagi.
"Gue selfikan buat Fatim, kalau-kalau dia bosan dan kesepian. Biasanya Fatim akan tersenyum kalau melihat foto selfi gue," ucap Yati penuh rasa percaya diri.
"Tapi ...." Yati menggantungkan ucapnnya.
"Tapi apa?" tanya Wawan penasaran.
"Kakak sudah membuat ponsel kesayangan gue hancur berkeping-keping, sama seperti perasaan gue," ucap Yati sambil menyemprot cairan hidungnya.
"Lah, kok salah gue sih?" Wawan merasa bingung.
"Ya iya lah itu karena loe, Kak! Coba kalau Kakak nggak bentak gue, pasti gue nggak kaget dan ponsel gue pasti tidak akan jatuh," ucap Yati membela diri.
"Ya sudah, sekarang loe masih mau kerja apa nggak?" tanya Wawan makin kesal.
"Mau," jawab Yati sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah, cepat layani para pembeli," perintah Wawan tegas.
Dengan menghentakkan kedua kakinya Yati pergi ketempat para pelanggan. Sedangkan Wawan mengambil serpihan ponsel Yati yang sudah hancur.
*Gue akan ganti ponsel loe Yati, tapi tidak hari ini. Aku tidak mau hatimu ikut hancur seperti ponsel ini, aku akan menjadi lem perekat buat hatimu.* batin Wawan.
Keduanya kini sedang berjibaku dengan para pelanggan yang semakin hari semakim ramai.
*****
Rombongan Rahmat dan Komar sudah sampai dipondok. Mereka di sambut dengan lantunan salawat dari para santri yang sudah bersiap salat magrib.
"Bagaimana, Pak Komar. Apa anda mau mampir kerumah atau langsung keasrama anak-anak?" tanya Rahmat dengan senyum khasnya.
"Saya langsung kepondok aja, Ustad. Terimakasih untuk membawa saya pada calon bidadari syurga yang Tampak di dunia ini. Tadinya saya merasa kalau putriku adalah yang terbaik. Namun setelah bertemu calon mantu pak Ustad semuanya berubah. Aku hanya merasa seperti serpihan reginang," ucap Komar penuh suka cita.
"Saya juga mengucapkan terimakasih, karena sudah mau belajar dari orang lain, meski itu orang yang lebih muda sekalipun. Yang namanya belajar dapat dimana saja dan kapan saja," jawab ustad Rahmat.
"Baiklah, saya permisi. Assalamualaikum," ucap Komar.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Rahmat dengan tersenyum.
Kemudian Ustad Rahmat segera mengetuk pintu dan memberi salam pada istrinya. Dengan segeran Mariam menjawab salam suaminya dan membukakan pintu.
"Alhamdulillah sudah sampai, Abi!" ucap Mariam senang.
"Iya, Um. Alhamdulillah." Dududk di kursi teras sambil melepaskan sepatu.
Mariam datang tidak dengan tangan kosong, dia telah membawa teh melati kesukaan suaminya.
"Sryuuup!" Rahmat menyeruput teh hangat yang dibuat istrinya.
"Alhamdulillah nikmatnya, teh buatan umi memang nomor satu," puji Rahmat pada istrinya.
"Terimakasih, Abi. Jangan memuji Umi, nanti malah jadi dosa buat umi karena merasa sombong," ucap Mariam tersipu.
Keduanya tertawa renyah, sambil membicarakan kejadian yang mereka alami dirumah sakit, sampai dengan Komar yang mengikhkaskan Abas untuk Fatim. Keduanya kaget saat Abas tiba-tiba datang.
"Assalamu'alaikum, Abi-Umi." Menyalami kedua orangtuanya.
Keduanya tampak saling pandang, mereka khawatir kalau-kalau Abbas sudah mendengar semuanya.
__ADS_1
"Abi-Umi! kok bengong sih?" ucap Abbas lagi.
"Eh iya, anu ... kamu udah lama?" Tanya Abinya.
"Nggak kok, Bi. Barusan datangnya."
"Alhamdulillah," ucap keduanya serentak. Yang membuat Abbas penasaran.
"Apaan sih, Umi!" tanya Abbas bingung.
Dan keduanya kompak membawa." Ada aja, mau tahu aja atau mau tahu banget?" tanya keduanya yang membuat Abbas makin penasran.
🌹Bersambung.....🌹
Terimakasih sudah membaca.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*Laura V
Sang Pengoda
*Bintun Arief
Keteguhan Hati
*Kauma
I Love My Army Wife
*Novi Wu
Bos Come Here Please!
*Ricky Wijaksono
Api Dibumi Majapahit
*Samar
Cinta Di antara Dendam
__ADS_1
* Sylala Yaya
Istri kedua tuan Krisna