Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
TAMU JAUH


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹


Selamat Membaca!


*****


"Piuhh, akhirnya bisa juga nyebutin perkakas antik perempuan. Huh ... bu Nadya, tega amat membuat martabat seorang Momon jatuh kelantai paling bawah." dengus Momon kesal.


Setelah mendapatkan apa yang dipesan bu Nadya, Momon segera meluncur menuju rumah sakit. Tanpa sadar disepanjang perjalanan Momon tersenyum puas. Misinya berhasil, meski banyak drama.


Tidak butuh waktu yang lama, kini Momon sudah sampai di rumah sakit. Ia segera turun, dan tidak lupa membawa barang antik pesanan Nadya. Dengan rasa percaya diri, Momon berjalan menuju ruangan Fatim. Kini suasana di depan kamar sudah sepi. Semua pengunjung sudah di suruh pulang, karena sekarang sudah masuk waktu istirahat untuk pasien.


Di sepanjang koridor rumah sakit yang dilewatinya, semua orang yang berpaspasan dengan nya akan tersenyum sambil menutup mulutnya. Hal ini membuatnya merasa heran.


"Kenapa ya, semua orang yang melihatku pasti tersenyum lalu menutup mulutnya? Apa ada yang lucu gitu?" Mulai memperhatikan penampilannya.


Sampailah pandangan Momon pada kakinya."Astaga ... astaga ... pantas saja mereka tertawa, ternyata ini biang keroknya." umpat Momon kesal.


Ternyata tanpa Momon sadari, ia turun dengan mengenakan sebelah sepatu dan sebelah lagi sandal jepit." Pantas saja dari tadi terasa nggak nyaman saat berjalan." Momon segera membuka sepatu dan sandalnya.


Masih banyak pasangan mata yang melihat kearah Momon." Apa loe lihat-lihat gue? Mau gue timpuk pake nih sepatu?" sewotnya kesal.


Dengan tergesa Momon berjalan. Keinginannya untuk segera sampai di kamar Fatim membuatnya tanpa sadar menabrak seseorang hingga terpelanting dan terduduk dalam tempat sampah.


"Kalau jalan pake mata dong, Mas! Nggak lihat apa gue yang segede karung kayak gini?" omel lelaki yang di tabrak Momon.


Dengan cepat Momon segera meminta maaf dan segera membantu lelaki itu untuk keluar dari tempat sampah. Namun yang terjadi malah membuat hampir semua orang tertawa. Pasalnya dia tidak bisa dikeluarkan dari tempat sampah yang didudukinya. Wajah lelaki itu sudah memerah karena menahan marah.


Melihat keduanya tampak kesusahan, barulah semua orang membantu keduanya. Ada yang membantu Momon menarik lelaki itu, ada pula yang membantu menarik tempat sampahnya. Setelah bergulat dengan tempat sampah hampir setengah jam, barulah mereka berhasil memisahkan lelaki itu dari tempat sampah.


"Mas, maafin gue ya." ucap Momon dengan wajah di tekuk karena merasa bersalah.


"Enak aja minta maaf, loe harus ganti rugi. Lihat nih, celana gue robek." Memegang bagian celananya yang memang sobek.


"Iya Mas, nih aku ganti." Mengeluarkan dompet dari saku celanya.


Momon mengambil dua lembar uang seratus ribu, dan memberikannya pada lelaki itu. Melihat uang yang di sodorkan Momon, sontak lelaki itu kembali mengomel."Enak aja, segitu mana cukup. Loe tahu harga celana gue? sepuluh kali lipat dari uang yang loe kasih ke gue, tahu!" oceh lelaki itu.


"Apa?!! Sepuluh kali lipat?! Yang bener aja, Loe. Mana ada celana harganya dua juta? Ohh gue tahu, loe mau malakin gue kan? Gue akan lapor loe ke polisi," sanggah Momon kesal.


"Silahkan aja, atas dasar apa loe mau ngelaporin gue hah? Yang ada nanti loe sendiri yang akan di penjara, bukan gue." Lelaki itu tidak mau mengalah.


Keributan keduanya mengundang perhatian semua orang yang sedang lewat di sana. Termasuk juga Nadya. Ia segera bergegas untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Saat tiba, Nadya terkejut. Ternyata Momon lah yang sedang terlibat dalam keributan itu.


"Mon! Apa yang sebenarnya terjadi?"


Akhirnya Momon pun menceritakan semua kronologi kejadian yang dia alami. Mendengar penuturan Momon, Nadya segera merogoh tasnya.


"Nih Pak, uangnya. Maafkan atas keteledoran asisten saya."


"Terimakasih banyak, Bu. Kalau begini kan, enak." Tersenyum hendak menerima uang dari Nadya. Namun dengan cepat Momon merebut uang itu. "Enak saja, loe nggak akan dapat uang sepeser pun dari atasan gue atau dari gue."


Lelaki itu merasa kesal dengan Momon. Ia memang terlalu melebihkan harga celananya tapi kalau nggak dapat ganti rugi sama sekali, apes itu namanya. Begitu yang dipikirkannya.


"Oke ... oke ... gue ngaku salah, tapi Tolong dong beri gue ganti rugi biar sedikit. Loe nggak kasihan gue pulang dengan celana robek begini?"


Momon menoleh kesamping kanan untuk melihat Nadya, dengan cepat dia mengeluarkan uang dua ratus ribu yang tadi diberikannya pada lelaki itu.


"Nih! Gue tahu celana loe itu beli di pasar loak, paling harganya lima puluh ribu. Jangan kira loe bisa menipu, gue."


Dengan cepat lelaki itu menerima uang dari Momon, dan meninggalkan tempat kejadian. Setelah lelaki itu pergi, Momon mendekati Nadya.


"Bu ... ini uangnya saya kembalikan." Menyodorkan uang tunai dua juta rupiah yang tadi hendak Nadya berikan pada lelaki itu.


"Kamu simpan aja uangnya, Mon. Anggap aja uang bensin untuk membeli pesanan saya yang tadi. Mana barangnya?" mengulurkan tangnnya.


"Ini, Bu." Menyerahkan kresek yang berisi pembalut pesanan Nadya.


"Makasih ya, Mon." Menerima kresek yang disodorkan Momon.


"Besok-besok jangan nyuruh beli yang gituan lagi ya, Bu." Momon cengar cengir sambil memainkan ujung tasnya.


"Kenapa? Kamu malu beli pembalut?"


"He ... he ... iya, Bu. Saya lebih baik ibu suruh berperang dengan penjahat kelas kakap dari pada perang dengan penjaga toko, gara-gara pembalut."

__ADS_1


Nadya tertawa mendengar pengakuan Momon yang jujur. Oleh karenanya ia sangat mempercayai Momon.


*****


Sementara itu ....


Sebuah mobil memasuki parkiran rumah sakit. Seorang lelaki turun dari mobil itu, tak lupa di tangannya ada secarik kertas yang tadi di kasih oleh salah seorang penjaga di My Cafe.


Lelaki yang bernama Kusno berjalan menuju keruang informasi.


"Maaf, Sus. Apa ada pasien yang bernama Fatim di sini?"


"Sebentar saya cek ya, Pak!"


Mengutak ngatik komputernya." Oh iya ada, Pak. Pasien ada di ruang observasi."


"Maaf, ruangan itu sebelah mana ya?"


"Ooo itu, dari sini bapak lurus saja, nanti pas di ujung pilih belok kekanan. Sampai di depan ruang lab, bapak belok kekiri. Nah nanti di depan ruang obat itu adalah ruang observasi. Selebihnya bapak tanya pada perawat yang jaga di ruangan itu ya."


"Oke, terimakasih banyak,Sus." Segera berjalan kearah sesuai petunjuk yang tadi suster itu berikan.


Hanya butuh beberapa menit, Kusno sudah sampai di ruangan observasi. Beliau segera menemui suster jaga.


"Selamat sore, Sus! Saya mau mencari ruangan pasien atas nama Fatim. Apa benar di sini?"


"Oh iya benar, tapi maaf Pak. Soalnya jam besuk sudah habis. Nanti jam lima sore baru buka lagi."


"Saya mohon, Sus. Izinkan saya masuk sekarang. Soalnya saya dari jauh, nanti jam lima sore saya sudah harus pulang. Saya cuma sebentar kok, nggak lama."


"Maaf, Pak. Ini sudah prosedurnya. Jadi kami tidak berani."Perawat itu berusaha menjalankan tugasnya dengan baik.


Sedang memohon pada suster jaga, melintaslah dokter Haris. "Kenapa, Sus?"


"Begini, Dok. Bapak ini minta diizinkan untuk bertemu Fatim. Sedangkan jam besuk sudah habis, akan buka lagi nanti jam lima sore."


"Tapi saya datang dari jauh, Dok. Nanti jam lima sore, saya sudah harua bertolak kekampung saya."


"Memang bapak ada perlu apa?"


"Oke kalau begitu, tapi sebentar saja ya?"


"Iya, Dok. Terimakasih banyak."


"Ayo saya antar keruangan Fatim."


*Siapa lagi bapak ini? Begitu banyak kejutan yang kau berikan hari ini, Fatim. Aku semakin menyukaimu.*


Keduanya berjalan menuju ruangan Fatim. Setelah sampai. di depan pintu dokter Haris menyapa lelaki itu.


"Oke, Pak. Ini ruangan Fatim. Bapak harus jaga kesehatan pasien ya."


"Iya, Dok. Terimakasih." Mengetuk pintu.


"Tok ... tok ...."


"Masuk!"


"Klek!" Daun pintu terbuka. Nadya dan Fatim menatap heran pada tamu yang baru datang.


"Maaf, anda siapa?" tanya Nadya penasaran.


Sejurus kemudian dokter Haris datang dan ikut masuk. "Maaf, Bu. Bapak ini mau bertemu Dek Fatim."


*Huekkk, geli gue. Pake panggil-panggil adek gitu, ihhh. Batin Fatim.*


Fatim segera mengubah posisinya menjadi bersandar, dengan di topang oleh dua bantal. Dengan kedua tangannya memeluk guling. Sedangkan Nadya segera berdiri untuk menyambut tamunya.


"Oh ayo, Pak. Silahkan duduk." Memberikan sebuah kursi kepada tamunya.


Lelaki tersenyum sambil menerima kursi pemberian Nadya. Kemudian dia segera menarik kursinya mendekati tempat tidur Fatim, yang membuat Nadya maupun dokter Haris semakin penasaran.


"Maaf, Pak. Kalau boleh tahu nama anda siapa, dan ada perlu apa," cerca Nadya.


"Sebelum saya memperkenalkan diri, izinkan saya bertanya pada, Neng Fatim. Apa masih ingat saya?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan lelaki itu, Fatim menatap wajahnya dengan seksama. Setelah beberapa menit, Fatim tersenyum dan menjawab pertanyaan lelaki itu.


"Hmm kalau nggak salah, bapak ini adalah suaminya dari ibu-ibu yang waktu itu sedang hamil tapi saya lupa namanya. Bapak di tangkap oleh kamtip," ucap Fatim sambil mengingat ingat.


"Iya, Neng betul. Saya Kusno, yang Neng jamin waktu itu. Sejak Neng membelikan kami rumah itu, lalu memberikan kami modal juga untuk dagang, alhamdulillah kehidupan kami berangsur membaik. Sekarang kami sudah punya warung pecel dan ketoprak sendiri. Maksud saya kemari untuk mengembalikan modal yang dulu neng kasih." Mengeluarkan sebuah amplop coklat yang cukup tebal.


Nadya dan dokter Haris di buat terngangga oleh perbuatan Fatim. Nadya sama sekali tidak pernah tahu jika putrinya pernah melakukan perbuatan yang sungguh berani dan mulia. Sedangkan dokter Haris, dia berdecak kagum dengan segala kejutan yang Fatim tunjukkan secara tidak langsung hari ini.


"Pak, saya mengucapkan banyak terimakasih karena bapak masih mengingat saya, namun uang modal ini sebaiknya bapak gunakan lagi untuk mengembangkan usaha bapak, misalnya membuka cabang baru. Selain dapat menambah omset, bapak juga sudah membantu memberikan lapangan kerja bagi orang lain."


"Jadi ....?!"


"Iya, uangnya ambil lagi buat Bapak, saya ikhlas. Kalau dikembalikan nanti saya nggak punya tabungan akhirat dong," canda Fatim.


Semua yang mendengar jawaban Fatim merasa semakin takjub dan bangga. Terlebih Nadya, ia sanggat terharu. Sifat almarhum suaminya begitu melekat pada diri putrinya, Fatimah Ananbra.


🌹Bersambung.....🌹


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa


Mengejar Cinta Ariel


Tabib Cantik Bulan Purnama


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*Laura V


Sang Pengoda


*Bintun Arief


Keteguhan Hati


*Kauma


I Love My Army Wife


*Novi Wu


Bos Come Here Please!


*Ricky Wijaksono


Api Dibumi Majapahit


*Samar


Cinta Di antara Dendam

__ADS_1


__ADS_2