
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
Jalan Raya ....
Dengan cepat ia menerjang Abas, melihat temannya yang mulai diserang tentu saja Hanafi tidak tinggal diam, dia juga ikut membantu Abas. Namun karena mereka kalah jumlah hingga dengan mudah keduanya berhasil untuk dikepung.
"Pegang mereka berdua!" teriak lelaki yang sepertinya adalah pemimpin kelompok itu.
Saat itulah mobil Fatim melintas dan Fatim dapat dengan jelas melihat kejadian yang dialami oleh Abas dan Hanafi.
"Pak! Berhenti!" Fatim meminta pak Amat untuk berhenti.
Pak Amat segera menepikan mobilnya.
"Non jangan berantem ya, non baru sembuh." Pak Amat menatap anak majikannya itu.
"Fatim nggak berantem kok, Pak. Cuma mau menegahi saja." Fatim segera membuka pintu mobil dan berlari secepat yang dia bisa karena tangan kekar lelaki yang ada dihadapan Abas sedang melayangkan bogem mentahnya tepat menuju wajah Abas yang telah dipegangi oleh dua orang remaja laki-laki.
"Tap!
Tangan Fatim segera menangkap bogem mentah yang sedikit lagi akan menyentuh hidung Abas. Tangan Fatim dapat merasakan hangatnya hembusan nafas Abas.
"Sialan! Loe siapa hah? Apa sudah bosan hidup?" teriak lelaki itu marah karena pukulannya berhasil di tahan oleh Fatim.
"Loe nggak perlu tahu gue siapa, yang jelas lepasin teman-teman gue." Fatim terlihat santai tidak ada tanda-tanda menunjukkan rasa takut.
"Bedebah! Cih!" Lelaki itu meludah sebagai ungkapan rasa marahnya.
"Kalian urus gadis aneh ini!" perintah lelaki itu. Mereka tidak tahu kalau gadis yang sedang mereka hadapi ini adalah Fatim, gadis yang di suruh untuk dijauhi oleh Abas.
Perkelahian pun tidak dapat dihindari, meski sudah lama tidak berduel fisik tetapi karena Fatim sering berlatih fisik membuatnya bisa bergerak dengan lincah.
"Hiatttttttt!"Terjangan dua remaja laki-laki yang berambut panjang dan ikal menuju kaarah Fatim.
Whussss!
Fatim menghindar dengan melompat kesamping kanan kemudian balas menerjang.
Pakkk!
Tendangan Fatim tepat mengenai pantat salah satu dari kedua ramaja yang tadi menyerangnya, hingga remajaa yang berambut ikat itu tersungkur.
"Kurang Asem! Rasakan ini!"
Plakkk!
Bretttt!
"Akhhhhh," erangan remaja lelaki berambut panjang karena Fatim berhasil melumpuhkannya. Dengan memblok tangannya serta menginjak tubuhnya yang sudah terkapar.
Melihat dua anak buahnya terkapar lelaki itu semakin geram, ia meminta semuanya untuk menyerang Fatim dan melepaskan Abas dan Hanafi.
"Serangggg!" teriak lelaki itu.
Kini delapan orang sudah mengkitari Fatim. Melihat Fatim yang terkurung tentu saja Abas dan Hanafi tidak tinggal diam tetapi belum sempat mereka maju untuk menyerang mereka dibuat kaget oleh Fatim yang telah membabat lima orang sekaligus hanya dalam hitungan menit.
Brakk!
Bukkk!
Tap ... tap ...!
Bammmm!
Dua orang kembali terkapar sekarang hanya tersisa satu orang lelaki kekar yang sepertinya adalah pemimpin mereka.
Dengan cepat Fatim meringkusnya dan mencekik lehernya sambil menarik tangannya kebelakang.
"Katakan siapa yang sudah membayar kalian?!" bentak Fatim.
Mendengar suara bentakan Fatim yang menggelegar membuat Abas dan Hanafi ikut terkejut. Keduanya tak menyangka bidadari selembut Fatim bisa setangguh beruang.
Keras!
Fatim menginjak kaki lelaki itu.
__ADS_1
"Akhhhhh!" erangnya.
"Katakan kalau kau masih ingin melihat matahari esok hari!" suara Fatim meninggi.
Namun lelaki itu masih diam dan memilih kesakitan.
"Fine! Jika itu mau loe." Dengan cepat Fatim membalikkan tubuhnya dan menendang perut lelaki itu dengan lututnya yang membuat lelaki itu seketika terkapar tak bernyawa.
Brukkk! Tubuh itu ambruk ke tanah.
"Dek! Dia mati?" tanya Abas gemetar karena takut lelaki itu mati.
"Nggak Kak, dia cuma tidur bentar." Fatim mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi pihak yang berwajib.
Hanafi menatap takjub pada Fatim, selama ini ia sangat memimpikan punya gadis yang pandai berkelahi dan shalihah. Begitu juga dengan Abas, ia tampak sangat terlejut melihat Fatim yang sangat piawai dalam bertarung. Ia merasa sangat malu lada Fatim karena tak bisa menjaga diri sendiri apa lagi mau menjaga Fatim.
*Yaa Allah, anadai Fatim belum punya Abas. Dia gadis impian aku banget. Semoga nanti aku bisa nemu gadis yang seperti Fatim.Batin Hanafi.
*Yaa Allah, sungguh sempurna gadis ini. Jantungku serasa mau melompat keluar. Jantungku tolonglah normal kembali. Fatim kau sungguh gadis berhati malaikat. Semoga kami berjodoh yaa Allah. Batin Abas yang memandang Fatim tanpa berkedip yang membuat Fatim menjadi salah tingkah.
"Woiii, Kak! Tuh mata dosa lo." Fatim membuyarkan lamunan Abas dan Hanafi.
"Astagfirullah halazim, maaf Dek Fatim. Maaf!"Abas segera beristiqfar dan memalingkan wajahnya kesembarang arah.
Tidak lama datangkah mobil polisi yang kemudian menggiring kesepuluh lelaki itu untuk diamankan. Setelah mendapatkan semua informasi dari Abas, Hanafi, dan Fatim.
"Kak! Kalian mau bareng gue naik mobil?" tanya Fatim berbasa basi.
"Terimakasih Dek Fatim, tapi kami berjalan saja. Kebetulan rumah kami tidak jauh lagi, tuh ada dipersimpangan." Abas menunjukkan telunjukknya kearah persimpangan yang diikuti oleh tatapan Fatim.
"Dek! Terimakasih banyak, maaf membuatmu terlibat." Abas menunduk malu.
"Santai aja lagi Kak, oke kalau beneran nggak mau ikut. Gue cabut dulu ya! Assalamu'alaikum!" Fatim meninggalkan Abas dan Hanafi.
Keduanya memandang kepergian Fatim dengan rasa yang berkecamuk antara malu dan bangga.
Fatim berjalan sedikit tergesa kearah mobil pak Amat, pasalnya perutnya terasa sakit dan perih. Ternyata benar baju seragam sekolah Fatim mengeluarkan bercak darah.
"Yaa Allah, perih banget. Pasti bekas luka operasiku kambuh soalnya ini belum satu bulan. Bisa-bisa dimarahin sama mama ini." Fatim bergumam pada dirinya sendiri.
"Pak! Kita ke rumah sakit Pelita Hati dulu ya bentar." Fatim menutupi rembesan darah diseragamnya dengan tasnya.
Hanya memakan waktu kurang lebih setengah jam mereka sudah sampai tanpa menunggu Fatim segera turun.
"Pak kalau nanti mama telepon jangan bilang ya kita kerumah sakit, bilang aja lagi kemana gitu ya." Fatim berjalan meminggalkan pak Amat diparkiran rumah sakit.
*Non Fatim kenapa ya? Tidak biasanya dia menyuruh aku untuk berbohong pada bu Nadya. Batin pak Amat bingung.*
Sementara itu Fatim segera menuju ke ruang informasi.
"Sus! Ruangan dokter Haris mana ya? Apa saya boleh bertemu, bikang saja nama saya Fatim," tanya Fatim ragu akan tindakannya apa sudah benar ia mendatangi dokter Haris karena masalah ini.
"Tunggu bentar ya mbak saya telpon dulu." Menekan beberpa digit nomor.
*Ehmmm salah nggak ya gue kemari, takutnya nanti dokter Haris merasa gue manfaatin, dia kan tahu kalau gue nggak suka sama dia, tapi?! Apa gue balik aja ya? Luka gue?! Batin Fatim berkecamuk dan akhirnya ia memutuskan untuk pulang saja.
"Nggak jadi deh Sus." Fatim segera memutar tubuhnya, ia memutuskan untuk membeli obat di apotek saja.
"Mbakkk! Tunggu! Kenapa nggak jadiiii?" teriak suster yang jaga karena ia telah menghubungi dokter Haria.
Fatim terus berlari tanpa menghiraukan panggilan suster jaga, karena berlari tidak konsen Fatim menabrak seseorang yang tidak lain adalah dokter Haris. Ia juga berjalan tergesa saat perawat jaga bilang ada gadis bernama Fatim mencarinya.
Brukk!
"Aw." Dengan cepat keduanya saling memegang agar tidak terjatuh.
"Maaf-maaf !" Fatim segera melepaskan pegangannya.
"Saya juga minta maaf karena buru-buru," Ucap dokter Haris. Dan saat keduanya salung tatap mereka sama-sama terkejut.
"Dek Fatim!"
"Dokter!" Fatim memutar badannya hendak pergi.
"Tunggu!" Dokter Haris menghentikan Fatim.
"Kamu kenapa mencariku?" Dokter Haris menatap Fatim.
__ADS_1
*Yaa Allah dek wajah mu ayu tenan. Batin dokter Haris.*
"Nggak apa-apa, nggak jadi." Fatim hendak kembali berjalan sampai dokter Haris menarik tangannya.
"Tunggu Dek! Kamu pasti ada alasannya sehingga mau repot-repot datang kerumah sakit ini," ucap dokter Haris.
"Lepasss, apaan sih main pegang-pagang aja." Fatim menarik paksa tangannya hingga terlepas. Saat itu lah dokter Haria melihat rembesan darah di seragam sekolah Fatim.
"Ini apa?!" Dokter Haris menunjuk kearah perut Fatim yang mulai memerah.
"Itu ...." Fatim terdiam tak bisa menjawab.
Bersambung.....🌹
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
Ceo dingin dan Gadis Kampung
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Ceo Somplak
*Laura V
Sang Pengoda
*Bintun Arief
Keteguhan Hati
*Novi Wu
Bos Come Here Please!
*Ricky Wijaksono
Api Dibumi Majapahit
*Samar
Cinta Di antara Dendam
* Syala Yaya
Istri kedua tuan Krisna
* Cherin Kauma
l Love My Army Wife
*Oktavia Tresiani
__ADS_1
Pacarku Hantu