Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
CBDM2. 6


__ADS_3

Mobil pasangan pengantin baru sudah mendekati area bawah jembatan, Abas segera mematikan lampu mobilnya agar sorotan lampu tak menyilaukan adik-adik panti.


Keduanya menepi dan segera turun, semua tampak sudah menanti dengan wajah gelisah, mereka tidak menyadari jika itu Fatim yang turun dari mobil.


Fatim dan Abas mulai berjalan mendekat dan menyapa semuanya dengan ramah.


"Assalamu'alaikum." Fatim melambaikan tangan yang mengundang beliakan mata dari adik-adiknya yang tinggal di bawah jembatan.


"Kakakkkkk," teriak mereka semua dan menghambur menuju pelukan Fatim.


"Kenapa terlambat?" tanya seseorang dengan suara bariton yang sudah tak asing di telinga gadis itu.


"Maaf aku eh gue telat karena nyasar." Fatim tersenyum yang membuat Jefry mengernyitkan alisnya.


Segera kerumunan adik-adik itu membubarkan diri dengan menarik tangan Fatim untuk segera menuju ke tempat acara yang telah mereka siapkan sejak sore.


Selagi Fatim sibuk dengan adik-adiknya, Jefry mendekati Abas yang juga berjalan perlahan menuju ke tempat acara.


"Loe yang bawa mobil?" Jefry menatap Abas lekat.


"Iya, Mas." Abas terlihat sedikit nerves berhadapan dengan Jefry.


"Pantas saja nyasar, apa kita pernah bertemu ya? Wajah loe kayaknya nggak asing." Jefry menelisik wajah Abas.


"Mungkin saja, Mas." Abas menganggukkan kepalanya.


"Kamu mungkin lelaki spesial bagi Fatim, buktinya kamu adalah lelaki pertama yang bisa berboncengan dengannya." Jefry menghela napasnya kasar.


*Oh ternyata Dek Loli benar-benar bisa menjaga dirinya, biar pun terlihat sangat tomboy.*


"Benarkah?" tanya Abas dengan ekpresi yang serius.


Jefry tidak menjawab pertanyaan Abas, namun tiba-tiba memegang pundaknya dengan sedikit mencengkram yang membuat lelaki tampan itu sedikit meringis.


"Tolong kau katakan dengan jujur, kau siapanya Fatim? Aku tak bisa kau bohongi!" Jefry menatap tajam pada Abas.


"Aku suaminya," jawab Abas pelan, bersamaan dengan memelannya cengkraman tangan Jefry saat ini.


"Su-suami," ucap Jefry terbata," Ini bohongkan?" tanyanya lagi.


"Tidak aku tidak berbohong, ini sebenarnya kami juga tidak tahu jika kami akan dinikahkan. Hal ini sengaja belum diresepsikan mengingat Fatim masih sekolah demikian juga aku. Jadi memang masih dirahasiakan." Abas tersenyum dan menghentikan langkahnya lalu menoleh sebentar karena Fatim meneriakkan namanya.


"Jadi syukuran yang waktu itu dikediaman Fatim adalah ...." Jefry sengaja menghentikan perkataannya.


"Iya," jawab Abas singkat.


"Syukurlah kalau begitu, semoga kalian 'samawa' maaf baru mengucapkan sekarang karena aku baru tahu." Jefry berusaha untuk tersenyum untuk menutupi luka hatinya.


"Terimakasih." Abas segera mengikuti langkah kaki Jefry menuju tempat acara.

__ADS_1


Abas duduk di kursi deretan belakang, ia ingin menikmati manisnya wajah Fatim dari kejauhan, wajah yang akan sangat ia rindukan nanti saat dirinya sudah jauh di negeri seberang.


Acara demi acara telah mereka lalui tak terasa kini sudah sampai di penghujung kegiatan akhir di mana Fatim di minta untuk tampil di depan dan ikut bersama membacakan sebuah puisi yang telah adik-adik itu tulis sebagai ungkapan rasa syukur mereka.


Sang Dewi ....


Kala itu hujan rintik-rintik


Aku berlari dalam bingung


Namun kau datang dan memetik


Sebuah daun lebar untukku bernaung


Sang Dewi ....


Ketika aku terpuruk


Kau kembali hadir membawa harap


Untuk aku tak lagi membungkuk


Agar dapat kembali berdiri tegap


Sang Dewi ....


Kini aku telah hampir mencapai puncak


Agar saat di masa itu datang kelak


Kau akan tetap melangkah bersamaku


Sang Dewi ....


Tak bisa aku ucapkan


Sebuah rasa yang mungkin ingin kuungkapkan


Hanya doa yang terus terpatri


Agar kau bahagia di dunia dan akhirat nanti


Semua saling merangkul haru, perjuangan mereka tuk menapaki masa depan tidak akan pernah terwujud, tanpa andil seorang Fatim yang telah membiayai pendidikan dan kehidupan mereka. Bahagia telah menaungi mereka semoga akan tetap bahagia hingga bisa kembali menjadi sang Dewi baru bagi orang lain.


Semua rangkaian acara sudah selesai, dua sejoli itu pun sudah mohon pamit untuk pulang. Mereka sudah berada di dalam mobil tetapi Jefry kembali melambaikan tangannya sebagai isyarat agar Abas kembali turun.


"Kenapa Bang Jef menyuruhmu turun kembali?" Fatim terlihat heran.


"Entahlah mumgkin ada yang ingin beliau sampaikan. Aku turun dulu ya." Abas kembali melepas sitbeltnya dan turun.

__ADS_1


Kini dua lelaki itu sudah saling berhadapan, bibir Jefry terasa kelu, ia bingung harus memulainya dari mana.


"Apa ada pesan yang ingin kau katakan untuk dek Fatim?" Abas membuka suara agar tak terlalu canggung.


"Bukan ini bukan untuk Fatim, melainkan untukmu." Akhirnya Jefry dapat bicara dengan lancar kembali setelah berjuang untuk menenangkan hatinya.


"Untukku?" Abas menunjuk dirinya sendiri.


"Aku tahu ini mungkin terdengar konyol bagimu, tapi ... aku ingin meminta satu hal darimu, tolong kau jaga Fatim dengan baik, jangan membuatnya menangis, dia ... dia ... seperti malaikat tak bersayap untukku dan juga anak-anak yang ada di bawah jembatan. Sekali lagi jagalah gadis malaikat itu." suara Jefry tampak bergetar. Sebagai lelaki Abas memahami perasaan yang dialami oleh lelaki bertubuh kekar didepannya ini.


"Inshaa Allah, aku akan berusaha semampuku. Doakan saja semoga kami bisa tetap bersama dan bahagia hingga ke janahNya." Abas menjabat tangan Jefry yang terasa berkeringat.


"Aamiin."Jefry mencoba tuk tersenyum kemudian dia merangkul Abas sebagai tanda ia mengikhlaskan semua yang telah Allah gariskan untuk kehidupannya.


Abas mengucapkan salam pada Jefry yang ia yakini menaruh hati pada istrinya, namun ia bangga pada lelaki itu yang bersikap seperti lelaki sejati selayaknya. Dalam hatinya ia pun mendoakan semoga ia bisa menemukan bidadari tanpa sayap yang lain, yang akan menemani perjalanannya dalam mengarungi bahtera kehidupan.


Suara deru mobil telah menjauh meninggalkan basecamp bawah jembatan. Penghuninya pun terdiam, tak ada yang berbicara hanya sesekalu mencuri pandang, dan saat itu tertangkap oleh salah satunya akan melahirkan senyum yang tersembunyi.


Sesekali tangan Abas mengenggam jemari kekasih halalnya lalu mengecupnya lembut. Dia akan melepaskannya saat jalanan mulai padat.


"Kak Pop, kita bisa menepi sebentar nggak di ujung persimpangan depan." Fatim menunjuk ke arah yang dia maksud.


"Kamu mau apa? Kebelet?" Abas bertanya khawatir, namun hanya dibalas dengan bibir Fatim yang mancung, tentu saja itu membuat suaminya gemas.


"Terus mau apa?" Abas mulai mengerti maksud istrinya.


"Nggak usah banyak nanya, berhenti aja kenapa?" Fatim mulai terlihat jutek karena merasa suaminya nggak peka.


Mobil pun menepi, Fatim segera membuka pintu dan keluar. Ia bersandar pada badan mobil sambil mendongkak ke atas. Abas juga sudah berdiri tepat disamping istrinya. Kemudian tiba-tiba ia menaikkan tubuh kekasihnya itu untuk duduk di atas bagian depan mobilnya yang membuat gadis itu terpekik kaget.


"Stttt! No komen." Lalu Abas pun duduk dan kemudian berbaring. Ia meminta istrinya untuk ikut berbaring dilengannya.


Mereka menatap langit malam yang cerah, dipenuhi dengan taburan bintang yang berkedap kedip. Bulan pun seakan tak mau kalah. Ia menyembul dari balik awan yang membuat suasana romantis malam itu begitu sempurna.


"Kak!" sapa Fatim lembut dengan pandangan masih menatap langit luas.


"Hemm," jawab Abas sambil mengecup kepala istrinya yang tertutup hijab.


"Saat kau pergi nanti, aku pasti akan merindukan masa-masa ini." Buliran bening menggenang di sudut matanya.


"Aku juga, kenapa perpisahan harus selalu menggoreskan luka? Andai aku tahu akan seperti ini, rasanya aku lebih baik tidak usah pergi." Abas mengusap lembut air mata yang mulai meluruh dari sudut mata kekasihnya.


"Aku ingin membuat banyak kenangan bersamamu sebelum kita berpisah." Fatim berbalik menatap wajah kekasihnya.


Abas mencium kening istrinya, lalu kedua matanya, hidungnya, dan bibirnya sekilas." Aku akan selalu mengingat semua lekuk wajahmu, dan semua kenangan kita. Meski ragaku berada jauh di negeri seberang tetapi hatiku akan tetap tertinggal di sini, dihatimu."


Angin malam membelai lembut dua insan yang sedang menikmati indahnya malam di sudut kota Jakarta. Setiap perpisahan pasti menggoreskan luka, namun semua akan terobati saat perjumpaan itu tiba.


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa tap jempolnya, syukur-syukur mau memberikan hadiah untuk Fatim dan Abas.

__ADS_1


Aku doakan semoga yang baca, yang like, yang komen, dan yang kasih hadiah akan dilimpahkan kemudahan rezeki, nikmat sehat, dan keberkahan dalam hidup dunia dan akhirat. Aamiin.


Bersambung ....


__ADS_2