Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
MENJENGGUK CALMAN 1


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tip kalian buatku, karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin. Selamat Membaca!🌹


*****


Rumah Penemu Dompet ....


"Sekarang sampean(kamu) ngerti kan Pak?"


"Iya Bu, maafkan bapak. Soalnya bapak kasihan sama ibu kalau nggak makan hari ini." Menyeka air matanya.


"Ibu lebih baik tidak makan Pak, dari pada kita makan sesuatu yang tidak halal."


"Kita balikin dompetnya dan makanan ini juga," ucap istrinya, dan sang suami mengangguk tanda setuju. Jadilah kedua lelaki dan perempuan paruh baya tersebut hendak mencari alamat Nadya.


Dengan tertatih-tatih keduanya mulai berjalan keluar rumah untuk mengembalikan dompet yang hendak mereka kebalikan.


*****


Sementara itu di Pondok pesantren Al Islam ....


Pagi ini sesuai janjinya pada pak Komar, hari ini ustad Rahmat akan mengajaknya untuk menjengguk calon menantunya. Dan mereka merahasiakan ini semua dari Abas.


Perjalanan kali ini akan sedikit berbeda karena ustad Rahmat akan membawa sendiri mobil operasional pondok, yang biasanya akan dibawa oleh Abas atau santri kepercayaan lainnya.


"Bagaimana Pak Komar? Sudah siap?"


"Iya ustad, inshaa Allah. Siap!"


"Oke kita berangkat, soalnya perjalanan kita cukup jauh. Jangan lupa bawa perlengkapan salat juga."


"Iya, Tad." Merapikan tas bawaannya.


Kali ini istri Rahmat-Maryam tidak turut serta, pasalnya ia merasa tidak enak karena tamunya adalah laki-laki, makanya dia memutuskan untuk tidak ikut.


"Oke, kalau sudah siap, kita berangkat!" Mengambil kontak mobil.


"Umi! Kami berangkat!" seru Rahmat pada istrinya, sedangkan Komar sudah duduk didalam mobil.


Dengan tergopoh-gopoh, Maryam segera berlari ketempat suaminya, pasalnya ia sedang membantu masak untuk sarapan para santri.


"Iya Bi, hati-hati!" Mencium punggung tangan suaminya. Kemudian melambaikan tangan saat mobil ustad Rahmat dan Komar sudah mulai melaju.


Kini mobil yang mereka tumpangi mulai melaju dengan kecepatan sedang, sambil mendengarkan kaset ceramah ustad Abdul Somat.


*****


Dipanti Al Barkah ....


Semua anak-anak panti telah besiap sejak pagi. Karena hari ini mereka akan ikut kerumah sakit untuk menjenguk Fatim, namun karena banyak yang mau ikut akhirnya bu Wati terpaksa memesan bus tambahan agar semua dapat pergi serentak.


Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya bus jemputan merekapun tiba, dengan tertib mereka semua berbaris dan masuk kedalam bis, tidak ada yang saling sikut atau dorong. Mereka semua sudah mengerti bahwa tempat duduknya inshaa Allah pasti muat. Setelah membaca doa bersama kedua bus yang membawa 60 orang anak-anak pantipun segerea bergerak menuju kerumah sakit.


*****


Rumah Sakit ....


Sejak sore kemarin kondisi Fatim semakin membaik, dan pagi ini untuk pertama kalinya Fatim kembali membuka matanya setelah terpejam selama dua hari.


"Ma ...." sapa Fatim serak sambil mengerjapkan matanya.


"Alhamdulillah ya Allah, kamu sudah bangun Nak." Beranjak dari duduknya dan mencium kening putrinya. Air mata haru merembes juga dari mata indah Nadya, ia tak kuasa menahan haru, akhirnya setelah dua hari Fatim bisa kembali menyapanya.


"Yati mana Ma?" Berusaha menggerakkan badannya.


"Kamu jangan terlalu memaksakan Nak, istirahatlah dulu." Membantu Fatim untuk merubah posisi seperti setengah duduk dengan menaikkan tempat tidurnya.


"Yati dan Wawan baru saja pulang, kasihan dari kemarin mereka berdua tidak pulang." Membantu Fatim memperbaiki posisinya biar nyaman.


"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah baikan? Atau masih ada yang sakit?" tanya Nadya khawatir.


"Alhamdulillah udah nggak ada yang sakit sih Ma, cuma masih sedikit pusing dan lemas saja ... hmm-Ma! Sebenarnya kenapa aku bisa tiba-tiba sakit sih? Atau memang karena ada infeksi dibekas luka operasi Fatim?"


"Nggak Sayang, bekas lukamu baik-baik saja, hanya saja kamu keracunan."


"Kok bisa?" Fatim merasa heran dan penasaran.


Akhirnya Nadya pun menceritakan semua kronologi yang menyebabkan Fatim keracunan, dan dia mendengarkannya dengan seksama.


Setelah mendengarkan cerita Nadya, Fatim pun merasa iba pada Nany dan putrinya, tidak ada rasa marah sedikitpun dalam diri Fatim.


"Sekarang bagaimana keadaan anaknya suster Nany, Ma?"


"Kamu nggak marah sayang?" Merasa tidak percaya dengan reaksi putrinya.


"Enggak Ma, Fatim justru kasihan pada suster Nany dan putrinya, seandainya mama ada diposisi dia, mungkin mamapun akan melakukan hal yang sama seperti suster Nany, demi putri mama."


"Terimakasih sayang, kamu memang anak papa Bram, yang selalu sabar dan pemaaf." Memeluk putrinya dengan linangan air mata haru.

__ADS_1


*****


Sementara itu dua buah mobil bus telah memasuki lapangan parkir rumah sakit, yang membuat satpam rumah sakit menjadi bingung dan terkejut. Pasalnya baru kali ini ada mobil bus yang ikutan parkir dihalaman rumah sakit, dan itu tidak tanggung-tanggung langsung dua mobil.


Setelah mobil terparkir puluhan anak-anak kecil dan remaja turun dengan rapi, dan mereka juga berbaris dengan seragam yang sopan dan rapi pula. Yang membuat satpam rumah sakit menjadi takjub, pasalnya dalam benaknya pasti akan repot mengurusi anak-anak ini agar tidak ribut dirumah sakit.


"Maaf Bu, kalau boleh tahu kalian ramai-ramai ini mau menjengguk siapa atau ada acara apa?" tanya pak satpam.


"Kami ingin menjengguk ananda Fatimah Ananbra, bisakah tolong sekalian antarkan kami?" ucap bu Wati.


"Ooo Fatim, iya ... boleh, mari saya antar tapi nanti masuknya bergiliran ya, nggak boleh ramai-ramai," ucap pak Satpam ramah.


"Iya Pak, kami mengerti kok," jawab bu Wati.


Dan rombongan anak panti pun sudah bergerak menuju ruangan Fatim dengan diantar oleh pak Satpam.


*****


Ditempat Lain ....


Begitu juga dengan Rahmat dan Komar, tidak lama lagi mereka akan sampai dirumah sakit, namun saat akan menjalani mobilnya dilampu merah yang baru berubah menjadi hijau, tiba-tiba menyeberanglah dua orang pasangan suami istri yang hampir saja tertabrak oleh Rahmat.


"Creiiiiiiit." suara rem mobil Rahmat berdecit karena mengerem mendadak dan membuang stir kekanan badan jalan.


"Astagfirullah haladzim." ucap Rahmat dan Komar bersamaan.


Keduanya segera turun dari mobil untuk mengecek keadaan kedua pasutri tersebut.


"Maaf saya kaget, apa kalian baik-baik saja?" tanya Rahmat sambil membantu pria baruh baya tersebut berangkat.


Makanan yang mereka bawa sudah berhamburan dijalan.


"Kami yang harus minta maaf, karena terlambat melintas keduluan lampunya hijau, ini bukan salah bapak," ucap lelaki itu. Itu sambil berusaha bangun dengan dibantu Rahmat dan Komar.


"Maaf ya makannya jadi tidak bisa lagi dimakan, nanti akan saya ganti." ucap rahmat.


"Sebenarnya kami mau mengembalikan makanan itu, tapi biarlah kalau sudah terjadi begini."


Akhirnya kedua pasutri itu menceritakan maksud mereka untuk mengembalikan dompet dan makanan yang mereka bawa. Mendengar niat tulus keduanya, membuat Rahmat tergerak hatinya untuk membantu keduanya. Saat membuka dompet yang hendak dikembalikan itu Rahmat tersenyum.


"Bapak-Ibu, saya akan bantu kalian untuk mengantar dompet ini, kebetulan kita searah dan tujuan kita sama."


"Maksud Pak Ustad?"


"Iya kami juga akan bertemu pemilik dompet ini, sekarang beliau ada dirumah sakit yang tidak jauh dari sini," jelas Rahmat.


"Bukan dia yang sakit, tetapi anaknya. Baiklah mari kita semua naik kemobil biar tidak kesiangan." Mengajak keduanya ikut naik kemobil.


Kini mobil Rahmat dan Komar pun segera melaju menuju kerumah sakit.


*****


Rumah Sakit Harapan Pelita ....


Suasan didepan ruang perawatan Fatim sangat ramai dengan anak-anak dan remaja yang duduk rapi. Sehingga membuat heran dokter Haris yang baru datang untuk mengontrol keadaan Fatim.


"Sus! Kenapa ada banyak anak-anak dan remaja disini? Apa ada kegiatan amal atau apa gitu dirumah sakit kita?"


"Oh ini Dok, bukan ada acara amal kok, tetapi mereka semua datang untuk menjengguk Fatim."


"Semuanya? Sebanyak ini?" Terkejut melihat kearah suster yang menemaninya kontrol.


"Iya Dok, karena banyak dari anak-anak ini mogok makan kalau belum bertemu Fatim, jadi terpaksa ibu pantinya mengajak mereka kemari," jelas suster tersebut.


Dokter haris tampak mangut-mangut tanda mengerti, dan dia menjadi semakin penasaran dengan Fatim dan ibunya.


Belum habis keterkejutannya dengan kehadiran para pengunjung Fatim dari panti asuhan, kini ia juga dikejutkan dengan kehadiran belasan preman yang membuatnya dan para suster juga ketakutan.


"Kalian siapa? Tolong jangan buat onar dirumah sakit?" ucap dokter Haris dengan nada yang sedikit meninggi karena para suster sudah ketakutan, namun berbeda dengan anak-anak panti yang terlihat tenang-tenang saja.


"Jangan takut Dokter tampan, kita nggak akan buat onar kok, kita kemari buat jengguk bos kita, Fatim!" ucap Jefry sentai.


Dokter Haris sedikit pucat wajahnya, dan dia semakin binggung.


*Siapa Fatim sebenarnya? Kenapa dia jadi bosnya para preman? Dan apa pula hubungannya dengan anak-anak panti ini?*


Haris semakin binggung dan semakin penasaran juga, dalam hatinya ia bertekat untuk mencari tahu lebih banyak info tentang Fatim. Dalam kebingungannya ia pun melanjutkan misi utamanya untuk bertugas dan ia segera menuju keruangan Fatim.


"Tok ... tok ... tok ....!" Mengetuk pintu.


Nadya segera membukakan pintu." Eh Dokter, silahkan masuk!" Membuka lebar pintu kamar Fatim.


Dokter Haris tersenyum ramah."Pagi Ibu, bagaimana keadaan Fatim hari ini?" Berjalan menuju ketempat tidur Fatim.


"Alhamdulillah Dok ... Fatim sudah bangun." Ikut berjalan disamping dokter Haris.


"Syukurlah, saya ikut senang." Mendekati Fatim.

__ADS_1


"Selamat siang Fatim! Bagaimana perasaanya hari ini? Apa masih ada keluhan?" mengeluarkan stateskopnya.


"Masih sedikit pusing dan lemas saja Dok," jawab Fatim dengan senyum terpaksa.


"Syukurlah kalau begitu, tapi kamu harus banyak istirahat ya, jangan kecapean!"


"Iya Dok." Merapikan jilbabnya.


"Tamu kamu hari ini banyak sekali, anak-anak panti dan para preman, apa semua beneran kamu kenal?"


"Iya Dok," jawab Fatim malas.


*Mau apa nih Dokter, kayak detektif saja, banyak tanya, rutuk Fatim.*


"Baiklah saya akan kepasien yang lain, jangan lupa minum obatnya dan istirahat, aku tidak mau melihat kamu lemas karena kecapean atau malah dapat keluhan baru karena kontak dengan orang-orang nggak jelas gitu."


"Iya."*Dia kira siapa dia, kenal aja nggak sok mau ngatur gue mau ketemu siapa, lagian berani-beraninya bilang adek-adek dan sahbat gue orang nggak jelas, yang ada loe yang nggak jelas, omel Fatim dalam hatinya.*


Sepeninggalan dokter Haris, adik-adik panti bergiliran untuk bertemu Fatim. Dan Nadya keluar kamar untuk memberikan kesempatan pada mereka bersama Fatim. Sedang menuju pintu keluar ponselnya berdering dan itu dari Momon. Sementara mobil ustad Rahmat baru memasuki area parkir rumah sakit.


Apa yang akan disampaikan Momon pada Nadya?


Bagaimana reaksi Rahmat dan Komar saat sampai dirumah sakit?


Bagaimana juga pertemuan Nadya dan kedua pasutri yang menemukan dompetnya?


Tunggu di next episode ya!


🌹Bersambung.....🌹


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa


Mengejar Cinta Ariel


Tabib Cantik Bulan Purnama


* Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


* Sudrun


Samudra


Penjelajah Malam


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*Laura V


Sang Pengoda


*Bintun Arief


Keteguhan Hati


*Kauma

__ADS_1


I Love My Army Wife


__ADS_2