
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
*****
Kediaman Fatim ....
Wajah dokter Haris tampak kecewa namun ia sangat pandai memyimpan rasa.
"Oh dek Fatim sudah di jodohkan ya? Sayang sekali aku terlambat. Tapi tidak apa lah, aku tidak bisa menjadi calon suaminya tapi apa boleh aku meminta dek Fatim untuk menjadi adik perempuanku?" tanya dokter Haris.
Nadya tersenyum dalam benaknya ia sangat bangga dengan kebesaran jiwa dokter Haris.
"Tentu saja boleh karena jodoh, rezeki, bala, dan juga maut semua sudah di atur oleh Allah SWT, kita manusia hanya bisa berencana saja," ucap Nadya lagi.
"Ia, Bu Nadya benar. Setidaknya saya masih boleh berharap meski dengan kemungkinan yang sangat kecil, namun jika Yang Maha Kuasa berkehendak tidak ada yang tidak mungkin." Dokter Haris tersenyum dengan tulus yang menampakkan deretan giginya yang putih. Sebersih hati dan pemikirannya.
"Baiklah, Bu. Saya mohon pamit karena ada pesan masuk, ada pasien yang harus segera di tangani. Sampaikan salam saya buat Dek Fatim." Haris berangkat dari duduknya dan menyalami Nadya, tentu saja hal ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi setiap orang tua yang punya anak gadis. Dokter Haris salah satu contoh calon menantu ideal tentunya. Selain tampan, pintar, dan sopan tentu saja ia juga rajin beribadah.
Nadya mengantar kepergian dokter Haris sampai kedepan pintu, kemudian tersenyum dan melambaikan tangan sampai tamunya hilang di ujung gerbang kediamannya. Setelah dokter Haris benar-benar tidak lagi kelihatan ia segera masuk untuk menuju keruang kerjanya. Namun baru memegang handle pintu, Fatim menyapanya.
"Ma!" Fatim berjalan mendekat. Nadya pun urung membuka pintu ruang kerjanya.
"Iya, Sayang! Ada apa?" tanya Nadya memandang lembut putrinya sambil tersenyum.
"Apa Fatim boleh bicara sesuatu?" Berdiri canggung di depan Nadya.
"Iya, Sayang. Katakanlah! Apa yang mau kamu sampaikan?" Nadya balik bertanya.
"Masalah perjodohan." Fatim berdiri sambil memilin ujung jilbabnya dengan perasaan ketir.
"Kenapa tiba-tiba menayakan masalah perjodohan? Apa kamu sudah punya pilihan sendiri?" tanya Nadya menyelidik.
"Eng-enggak kok, Ma. Fatim belum punya pacar." Menggaruk kepalanya yang tertutup hijab, dan sebenarnya memang tidak gatal.
"Trus?!" Nadya semakin penasaran. Kemudian dia berjalan mendekati putrinya.
" Kita ngobrolnya di taman aja yuk! Sambil menikmati indahnya langit malam ini yang begitu cerah." Nadya menarik tangan Fatim menuju bangku di taman samping rumahnya, di depannya ada kolam ikan yang di hiasi aneka bunga di sekelilingnya. Sungguh sangat indah di bawah kilauan sinar rembulan yang terang. Keduanya sudah duduk berdampingan. Fatim bergelayut manja di pundak sang mama.
"Ayo sekarang kamu boleh tanya sepuasnya tentang apa yang mau kamu tahu masalah perjodohanmu." Nadya membelai kepala putrinya yang masih tertutup hijab.
"Apa Fatim boleh tahu siapa lelaki yang mama jodohkan sama Fatim, anaknya om Rahmat itu? Apa dia seorang dokter?" tanya Fatim mulai berani mengungkapkan isi pikirannya.
"Yang jelas dia lelaki yang saleh, dan dia juga masih sekolah bukan seorang dokter," terang Nadya tersenyum. Dalam hatinya ia sudah menduga jika putrinya mengira dokter Haris adalah lelaki yang di jodohkan dengannya.
"Jadi bukan dokter Haris?!" Fatim mengangkat kepalanya dari pundak sang mama dan menatapnya lekat.
Nadya tersenyum dan menggelengkan kepalanya."Kenapa? Kamu mengira dia dokter Haris?" Nadya balik bertanya.
"Iya, habisnya pas kita di dapur tadi mama bilang dia calon Fatim." Fatim memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Nadya tertawa lepas mendengar perkataan putrinya." Lantas kalau ia dokter Haris apa kamu mau menolak?" Nadya memancing jawaban putrinya.
"Ya enggak sih, cuma entah kenapa Fatim nggak klik aja rasanya sama dokter Haris." Fatim kembali berbaring di pundak Nadya.
"Kamu nggak usah terbebani dengan masalah perjodohan ini, yang terpenting sekarang kamu harus banyak makan asupan yang bergizi dan jaga kesehatan biar cepat pulih dan bisa kembali kesekolah." Nadya mencium pucuk kepala putrinya.
"Iya, Ma. Fatim udah rindu sekolah, rindu si Oneng dan si me ...." ucapan Fatim terpotong karena Nadya sudah mencelanya.
"Untuk si Merah sementara T-I-D-A-K." Nadya menekankan kata tidak pada putrinya.
"Tapi, Ma!" Fatim terdiam karena jari telunjuk Nadya sudah menempel di bibirnya.
"Mama masih sayang kamu, mama trauma, mama tidak mau kehilangan kamu sayang. Hanya kamu milik mama satu-satunya di dunia ini. Kamu adalah harta terindah yang mama dan papa miliki. Meskipun papa sudah tiada namun kasih sayangnya tetaplah akan menjadi kenangan terindah buat kita berdua." ucap Nadya serak menahan tangis yang sudah mengenang di pelupuk matanya.
Dengan cepat Fatim segera bangun dari pundak Nadya, ia merengkuh tubuh sang mama dengan erat.
"Ma, maafin Fatim ya. Fatim juga sayang mama, hanya mama satu-satunya orang yang ingin Fatim lindungi dan bahagia in. Sekali lagi maafin Fatim." Fatim memeluk Nadya semakin erat.
Kedua insan itu terhanyut dalam kesedihan sesaat. Hubungan keduanya memang sangat dekat, mereka lebih dari hubungan ibu dan anak. Setelah merasa tenang keduanya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan beristirahat.
*****
Ponpes Al Barokah ....
Malam ini Abas tampak sedikit gelisah pasalnya besok adalah hari kepindahannya ke sekolah unggulan di Jakarta. Semua teman-teman dan murabbi nya sudah berkumpul. Mereka ingin menghabiskan malam ini bersama Abas dan Hanif yang akan berangkat besok.
"Bas, sesampainya kalian ke Jakarta jangan lupa kasih kabar kita ya," ucap Bukhori teman seangkatan Abas.
"Iya, Bas. Jangan sampai ente lupa sama kita-kita, atau nanti ente berubah jadi gaul kayak anak-anak muda kebanyakan," celetuk Rojak.
"Aamiin," jawab mereka semua serentak. Malam ini mereka memutuskan untuk tidur berjama'ah di aula masjid agar dapat tidur beramai-ramai dengan Abas serta Hanafi.
*****
Menjelang tengah malam Abas terbangun. Dilihatnya satu persatu teman-teman pondoknya yang masih tertidur. Ada rasa sedih yang menyeruak, untuk sementara waktu ia tidak akan bersama mereka lagi. Ia akan bertemu teman-teman yang baru, teman-teman yang penuh dengan berbagai karakter dan tabiat yang sangat jauh berbeda dengan anak-anak pondok. Dalam hatinya Abas berharap segala perlindungan dan pertolongan dari Allah, agar ia kuat menjalani semua dan menjadi ladang dakwah untuknya.
Setelah puas dengan pikirannya, Abas segera bangkit dan menuju tempat wudu. Dia mulai membasuh wajahnya dengan dinginnya air wudu, kemudian kedua tangannya, baru lanjut mengusap kepalanya, daun telinga, serta yang terakhir kakinya. Seketika hati dan pikirannya merasa sangat tenang.
Abas mulai membentangkan sajadahnya, ia memulai salat tahajud di sepertiga malam. Dalam kesyahduan malam menjelang pagi ia bermunajat kepada sang pemilik jiwa. Memasrahkan segala kegelisahannya dan segala yang akan dijalaninya, semoga menjadi barokah untuk dirinya. Karena hanya Dia-lah tempat sebaik-baiknya untuk mengadu bukan pada makhluk atau yang lainnya.
bersambung.....🌹
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa
__ADS_1
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
Ceo dingin dan Gadis Kampung
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Ceo Somplak
*Laura V
Sang Pengoda
*Bintun Arief
Keteguhan Hati
*Novi Wu
Bos Come Here Please!
*Ricky Wijaksono
Api Dibumi Majapahit
*Samar
Cinta Di antara Dendam
* Syala Yaya
Istri kedua tuan Krisna
* Cherin Kauma
l Love My Army Wife
__ADS_1
*Oktavia Tresiani
Pacarku Hantu