
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tip kalian buatku, karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin. Selamat Membaca!🌹
#Warung depan Markas #
Setelah mendengar dan melihat semua isi rekaman itu, dan menyaksikan putranya yang terikat didalam ruangan yang gelap. Tubuh Kusuma melorot kelantai. Dia bersimpuh dikaki Nadya memohon ampunan dan belas kasihnya.
"Maafkan saya Bu, maafkan putraku juga." Hendak menyentuh kaki Nadya, namun dengan cepat Nadya berpindah.
"Anda dan anak anda hanya punya satu pilihan, masuk penjara atau segeralah pergi sejauh mungkin dari kehidupanku maupun putriku, sehingga aku tidak lagi bisa menemuimu," ucap Nadya tanpa senyum.
Wajah Kusuma sudah memucat, dia terdiam seolah kehabisan kata untuk bicara. Tak terbayangkan olehnya seorang Nadya yang kalem dan lembut punya sisi lain yang sangat kejam dan menyeramkan.
"Kenapa diam? Apa kamu berpikir kalau aku ini seorang yang lembut dan gampang kamu tipu? Kamu pikir aku diam selama ini karena aku lemah? You're wrong (kamu salah)." Tersenyum sinis pada Kusuma yang memandangnya tak berkedip.
"Tapi kamu jangan takut, aku sama sekali tidak mencelakai anakmu, Putra. Meski dia hampir saja merenggut nyawa putri kesayanganku," ucap Nadya tanpa menoleh pada Kusuma.
"Mon bawa anak itu kemari, pertemukan dia dengan ayah kesayangannya." Menoleh kearah Momon.
"Siap Bu!" Berangkat dari duduknya dan segera menuju kegudang belakang.
# Gudang#
Teriakan Putra sangat berisik sehingga terdengar keluar kamar.
"Heiiiiiii ... keluarin gueeeee!" teriak Putra sekuat tenaganya.
"Ada orang? Heiii apa kalian tuli hah? Saat ayah gue datang kalian akan tahu akibatnya," teriak Putra semakin kesal.
Namun penjaga yang menjaganya seperti orang tuli saja. Mereka Seolah-olah tidak mendengar apapun. Mereka terlihat santai berjaga didepan kedua pintu kamar. Sampai akhirnya Momon datang.
"Bawa anak itu kewarung depan!" perintah Momon.
"Siap laksanakan!" Segera menuju kekamar Putra disekap.
"Klek!" Pintu terbuka dan lampupun dinyalakan. Tanpa bicara keduanya berjalan menuju kearah Putra.
"Hei berhenti! Mau apa kalian?" tanya Putra namun tidak ada tanggapan sama sekali. Dengan cepat keduanya membuka ikatan Putra dan segera menyeretnya keluar kamar. Dengan sekuat tenaganya ia berusaha memberontak dan ingin kabur.
Kedua lelaki itu yang mirip bodyguard membawa Putra dengan paksa kehadapan Momon.
"Bawa dia!" Berjalan meninggalkan kamar menuju kepintu keluar.
"Lepasin gue, eh bandot tua, loe budeg ya hah?" teriak Putra sambil meronta.
"Kamu sebaiknya diem aja, nanti kamu juga akan tahu," ucap Momon sambil menyeringai.
Kini mereka telah tiba diwarung depan markas. Dan Putra sangat terkejut melihat pemandangan didepannya. Seorang Kusuma yang selalu menegakkan kepalanya dimana saja, dan semua orang harus menundukkan kepala saat bertemu dengannya. Dan hari ini disaksikan oleh anak kesayangannya ia harus bersimpuh didepan seorang wanita.
"A-Ayah ... apa gue nggak salah lihat hah,"
Kemudian Putrapun dipaksa berlutut disamping ayahnya.
"Itu semua karena kamu dasar anak tidak berguna," bentak Kusuma.
"Kenapa salah aku, lah aku juga bingung kenapa ayah dan aku bisa berurusan dengan wanita ular ini," ucap Putra tidak kalah kesal.
"Diam, kamu tahu semua karena ulahmu dan jangan pura-pura hilang ingatan."
"Hei wanita ular! Apa salah aku padamu?"
Nadya bertepuk tangan sambil mendekati Keduanya.
"Pok ... Pok ... pok ... kelakuan dan ucapan putramu itu sungguh sangat diluar dugaan, Kusuma. Makanya jika punya anak nafkahkanlah dengan yang halal. Dan kau bocah ingusan (Menunjuk muka Putra). Seharusnya kau sudah tidur beralasakan papan ditanah sana, kamu beruntung aku masih punya rasa takut terhadap Tuhanku."
"Tapi aku tidak mengenal wanita ular sepertimu, kenapa kau mau menghancurkan hidupku hah?" tanya Putra kesal.
"Kau memang tidak mengenalku, makanya kau bersikap semena-mena terhadap putriku."
"Siapa? Gladis? Ana? Siska? Adel? Lusi? Atau siapa? Ha ... ha ... gadis murahan," tawa Putra pecah dan ...." Plakkkk! Tamparan Nadya mendarat dipipi Putra.
"Cihh! Wanita ular." Memegang pipinya yang panas.
Sedang mengusap pipinya yang merah, datanglah kelima orang suruhannya tempo hari.
"Gadis yang loe suruh culik tempo hari, dia putri ibu itu. Kami susah untuk menculiknya jadi kami menabraknya lalu membuangnya kejurang." ucap Baron.
"Kalian? Dasar penghianat!" bentak Putra.
__ADS_1
*Awas kau Gladis, katamu mereka setia nyatanya penghianat juga, bagaimana Fatim gue sekarang apa dia selamat? Maafin gue Fatim*
"Bagaimana Kusuma, kalian pilih yang mana? Cepatlah sebelum aku berubah pikiran."
"Aku pilih opsi kedua, aku akan pergi dari kota ini."
"Maksud Ayah apa?"
"Kenapa main pergi saja? Aset dan perusahaan ayah?"
"Itu semua akan menjadi milikku untuk melunasi semua hutang ayahmu, kalau dihitung itu juga masih kurang. Dan aku sepertinya semakin yakin untuk berubah pikiran. Saat ini aku lebih suka kalian dikirim kehotel prodeo saja, dan nikmatilah hari-harimu disana." ucap Nadya dengan senyum sinisnya.
"Aku mohon Nadya, jangan lakukan itu. Biarkan aku pergi?" ucap Kusuma memelas.
Wajah Putra sudah memucat, ia baru tahu jika wanita yang dia panggil wanita ular adalah ibunya Fatim.
"Tante! Bagaimana keadaan Fatim?" ucap Putra gemetar.
"Untuk apa kau menanyakan keadaan putriku? Bukankah seharuanya kau bahagia sekarang?"
"Tidak Tan, aku sangat mencintai Fatim dan itu benar adanya, dan tidak menyuruh mereka membunuh Fatim, hanya meminta mereka menculiknya agar aku bisa menikah dengan Fatim."
"Dan aku tidak sudi punya menantu sepertimu yang tega menyakiti orang yang kau cintai bukan melindunginya."
"Dan aku semakin yakin untuk mengirim kalian kehotel prodeo yang jauh dari kota ini."
"Mon segera atur pertemuan kelima orang itu dengan keluarganya siang ini, dan malamnya segera kirim mereka ketempat yang seharusnya. Begitu juga dengan ayah dan anak itu. Soal istrimu aku akan menjamin kehidupannya selama kalian tidak ada. Kalian. cepat selesaikan masalah ini aku sudah muak Melihat mereka semua. Aku lebih baik kembali kerumah sakit sekarang, putriku lebih membutuhkan aku disana." Berkemas untuk meninggalkan tempat itu.
"Baik Bu, semua akan dilaksanakan sesuai prosedur, pihak kepolisian sudah kami hubungi dan semua bukti juga sudah kami serahkan."
"Baiklah aku pergi." Melambaikan tangan dan berjalan meninggalkan warung.
Kusuma dan Putra tak bisa berbuat apa-apa. Menyesalpun tiada guna saat ini. Namun satu yang pasti pemuda itu menyimpan dendam dihatinya.
# Rumah Sakit #
Ketiga sahabat itu tampak tertidur dengan nyenyak. Mereka tidak menyadari ada petugas medis yang datang untuk mengecek keadaan pasien. Karena merasa gemas dengan posisi tidur Yati dan Fatim, perawat itu mengambil foto mereka diam-diam. Namun dokter Haris melihat semuanya dan ia segera memarahi asistennya tersebut.
"Hei tolong hapus foto itu, kamu tahu itu melanggar privasi pasien, dan kamu bisa dituntut karenanya," ucap dokter Haris marah.
"Lain kali jangan diulangi apapun itu kondisi pasien."
"Baik Dok."
"Kalian keluarlah dulu, aku ingin berbicara dengan keluarga pasien sebentar."
"Iya Dok." Segera keluar kamar Fatim.
#Diluar Kamar#
"Hei loe lihatkan perubahan sikap dokter Haris terhadap pasien yang bernama Fatim itu?"
"Iya loe bener, masak memyuruh kita keluar dengan alasan mau berbicara dengan keluarga pasien, sedangkan semua penghuni kamar tertidur."
"Iya kamu benar."
Keduanya tertawa sambil menutup mulutnya.
Sementara didalam kamar ....
Dokter Haris hanya berdiri ditepi tempat tidur Fatim. Ia berdiri sambil memandang wajah cantik Fatim yang terpejam, dengan nafas yang teratur. Perlahan dia mengeluarkan dua batang cokelat dari kantongnya dan meletakkannya ditepi bantal Fatim. Dengan harapan saat terbangun Fatim akan segera melihat cokelat pemberiannya.
*Aku semakin menyukaimu Fatim*
Kemudian dia segera keluar. Seketika kedua perawat yang sedang ngerumpi tersebut terdiam. Mereka bersikap Seolah-olah semua normal.
"Ayo kita cek pasien yang lain." Berjalan menuju kekamar lainnya.
#Dipondok Pesantren#
Abas tampak gelisah pasalnya dia baru diberi tahu Hanif kalau orangtua Sahidah ingin memintanya untuk menjadi calon menantunya.
"Antum yang sabar, kita tunggu keputusan Abi dan Umi antum."
"Iya ana tahu tapi perasaan ana tetap nggak enak."
"Sebaiknya Antum sholat saja biar tenang."
__ADS_1
"Iya terimakasih akhi Firdaus." Segera beranjak untuk berwudu dan sholat.
Kini semua ikut sholat bersama Abas sambil menunggu waktu zuhur. Sedang berzikir sehabis sholat, seorang santri asuhan mereka mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, kenapa Salman?"
"Ana menyampaikan pesan pak Ustad Rahmat agar Kak Abas segera pulang kerumah."
Semua mata tertuju pada Abas, dan yang ditatappun menghela nafas besar.
"Ana permisi semuanya, assalamualaikum."
Semua menjawab salam Abas, dan mengiringi kepergiannya dengan untaian doa semoga Abas tidak dijodohkan dengan Sahidah karena mereka tahu Abas menyukai Fatim, gadis berhati malaikat.
Bersambung.....
Terimakasih sudah membaca.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
* Almaira My Secret Wife
My Love My Babysitter
* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu
Kembar Tidak Identik
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
* Sudrun
Samudra
Penjelajah Malam
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
*Cindy Elvira
Ketika Muslimah Jatuh Cinta
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*Laura V
Sang Pengoda
*Bintun Arief
Keteguhan Hati
*Kauma
I Love My Army Wife
__ADS_1