
🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tip kalian buatku, karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin. Selamat Membaca!🌻
# Puskesmas #
Kini keduanya kembali kemobil untuk melanjutkan perjalannya menuju kemarkas Momon, untuk menemui kelima pemuda yang menjadi tersangka atas kecelakaan Fatim putrinya.
#Semenatara itu dirumah sakit#
Fatim, Yati, dan Wawan tampak asyik berbincang.
"Fren loe seneng nggak istirahat dimari?" tanya Yati sok imut.
"Seneng dong malah pake banget, gimana nggak seneng coba gue makan dilayani, minun dilayani, mau ini dan itu dituruti, dokter yang ngerawat tampan, perawatnya bening-bening dan ramah, pokonya sip lah," ucap Fatim kesal pada Yati yang nanya hal yang tentu saja jawabannya nggak enak.
"Loh kok loe seneng sih Fren? Nggak enak tahu! Badan sakit, mau pipis sudah, kebelet BAB susah, makan enak nggak bisa, makan itu nggak boleh, keluar nggak boleh, pokoknya susah deh nggak ada enak-enaknya," ucap Yati nggak kalah kesel.
"Fren loe udah pernah belum ngerasain bogem mentah?" tanya Fatim tersenyum penuh arti.
"Makanan apaan tuh bogem mentah, gue nggak suka yang mentah-mentah kecuali lalapan kencur sama kecipir," jawab Yati polos tanpa dosa.
Wawan yang mendengar percakapan keduanya sedari tadi tidak lagi sanggup menahan rasa ingin tertawanya.
"Bua ... haa ... haa ...." Akhirnya pecah juga tertawa Wawan yang ditahannya sedari tadi.
Melihat Wawan tertawa tentu saja Yati merasa heran, pasalnya dia merasa tidak ada yang lucu. Sedangkan Fatim juga ikut senyam-senyum.
"Kak kenapa tertawa, ada yang lucu?" tanya Yati dengan wajah bingung.
"Ya iyalah lucu, kamu nggak tahu bogem mentah itu apa?" tanya Wawan sambil menahan tawa.
"Nggak? Emang apaan? Bukan makanan?"
"Bukan lah Oneng, tapi ini nih," ucap Fatim sambil memamerkan tinjunya pada Yati.
"Ihhhh," teriak Yati sambil menutup wajahnya karena takut melihat tangan Fatim yang sudah meninju kearahnya meskipun posisinya jauh.
"Loe kok jahara (jahat) sih sama aku," ucap Yati cemberut.
"Gimana gue nggak jahara (jahat) sama loe, abisnya loe bikin keselll," ucap Fatim gemes.
"Kok gue sih, emangnya gue salah apa coba, perasaan gue nggak ngelakuin apa-apa juga," ucap Yati masih membela diri.
"Makanya nggak usah dipake tuh perasaan tapi pake tuh pikiran loe," ucap Fatim semakin gereget.
"Bingung gue!" Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Wawan kembali ikut nimbrung.
"Kesalahan loe itu ya tadi nanyain Fatim senang nggak disini, padahal loe udah tahu kalau disini itu nggak seneng, begitu," jelas Wawan.
"Ooooo itu to yang buat loe mau kasih gue apaan tadi dugem apa yaa ...." ucapan Yati terputus karena ia benar-benar lupa apa istilahnya tadi.
Dengan keras Fatim dan Wawan menjawab bersama.
"BOGEM," teriak keduanya.
"He ... he ... iya maaf, gue lola banget ya." Cengar-cengir.
Wawan dan Fatim sama-sama menepuk jidatnya.
"Markas Momon#
Mobil Momon dan Nadya sudah sampai di depan markas yang tampak sepi.
"Mari Bu, silahkan turun." Membukakan pintu untuk Nadya.
Dengan cepat Nadya segera turun, keanggunannya tetap masih terpancar meski mengenakan daster rumahan.
"Dimana?"
"Sebelah kanan Bu, ikuti saya." Berjalan mendahului Nadya.
Dengan cepat Nadya mengikuti Momon. Kini sampailah mereka disebuah pintu yang dijaga oleh dua orang.
"Siang Bos," sapa keduanya.
"Siang jawab Momon, bagaimana apa mereka sudah mau buka mulut," tanya Momon serius.
"Belum Bos," jawab keduanya.
"Apa kalian sudah mengantongi kelemahan mereka?" tanya Nadya.
"Sudah Bos besar," jawab keduanya.
"Dua orang ini masih bujangan, memang dari keluarga broken home, dan tidak punya tujuan hidup, merampok, membunuh, bahkan berbuat asusila adalah hobinya." Menyerahkan dua lebar foto pada Nadya.
__ADS_1
"Sedangkan yang dua ini punya anak dan istri, pada dasarnya dulu mereka orang baik-baik karena di PHK tanpa pesangon akhirnya nekat menjadi penjahat bayaran." Menyerahkan dua foto lagi.
"Dan yang terakhir cukup memperihatinkan karena dia masih bujangan, dan dia mantan santri yang melarikan diri karena tidak mau mondok tetapi dipaksa oleh orangtuanya sehingga kabur dan ditolong oleh dua orang yang sudah berkeluarga tadi." Menyerahkan selembar foto.
Saat menerima foto dan latar belakang mereka masing-masing perasaan Nadya yang tadinya dipenuhi dengan emosi dan ambisi untuk menghabisi kelimanya menjadi surut.
"Baiklah ... antarkan saya kedalam," ucap Nadya mantap.
"Ibu beneran mau masuk?" tanya Momon kurang yakin.
"Iya Mon, inshaa Allah aku siap." Melihat Momon serius.
"Baikah kita masuk." Memegang handel pintu.
"Klek." Daun pintu terbuka.
Saat pintu terbuka aroma anyir darah begitu menusuk, ditambah dengan aroma keringat yang membuat sakit indera penciuman orang-orang normal tentunya. Tampak lima orang yang sudah Nadya lihat melalui foto terduduk dikursi dalam posisi terikat.
"Katakan siapa yang menyuruh kalian melukai putriku?" tanya Nadya serius.
"Cih, kami nggak akan buka mulut, jadi percuma saja kalian memaksa," ucap salah satu dari mereka.
"Ha ... ha ...." Kelimanya tertawa lepas.
"Aku tanya baik-baik, aku harap Kalian dapat bekerja sama, sebelum kalian menyaksikan apa yang akan aku putarkan, sebuah tontonan gratis buat kalian." Memegang remot.
Tawa kelimanya berhenti seketika menjadi hening.
"Jika kalian dapat bekerjasama, maka aku akan menjaminkan sesuatu buat kalian," tawar Nadya dengan tersenyum sinis.
"Cepat katakan siapa yang menyuruh kaliannnn!" Bentak Nadya.
"Tidak akan!" teriak tiga orang yang masih bujangan.
"Oke kita lihat apa setelah menonton tayangan ini kalian akan berubah pikiran atau tidak, aku akan melakukan semuanya dengan senang hati.
"Mon ... putar!" perintah Nadya.
Dengan cepat Momon menyetel sebuah video yang menayangkan penangkapan dan penyekapan anggota keluarga mereka masing-masing, meski tanpa kekerasan namun sempat diwarnai adu mulut.
Kelimanya tampak tegang, apalagi yang sudah berkeluarga. Melihat perubahan ekspresi kelimanya Nadya mempunyai secercah harapan.
"Bagaimana? Apa kalian mau bicara sekarang?" tanya Nadya menatap tajam kearah kelimanya tanpa senyuman.
"Hei Baron loe nggak usah berkhianat," teriak kedua pemuda broken home.
"Diam loe, aku belum tentu setuju dengan penawarannya," ucap pria yang diteriaki Baron.
"Cepat katakan apa penawaran kamu?" teriaknya keras. Keringat telah mengucuri sekujur tubuhnya, dan bekas luka disudut bibirnya yang mengeluarkan darah tampak telah mengering.
Nadya berdiri, dan berjalan mendekat.
"Pertama aku akan membebaskan keluarga kalian." Tersenyum sinis.
"Kedua aku akan menjamin kehidupan seluruh keluarga kalian selama kalian ditahan." Memainkan ujung jilbabnya.
"Kalau kami menolak?" ucap Baron.
"Semua tamat, tanpa sisa ... termasuk kalian," Memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Bagaimana?"
Kelimanya tampak saling pandang, berbagai ekspresi mereka tampakkan, ada anggukan dan juga ada gelengan.
"Oke, aku akan beri kalian waktu. Kita keluar." Melangkah keluar pintu yang diikuti Momon dan anak buahnya.
#Diluar Kamar Gudang#
Momon segera memerintahkan anak buahnya untuk mengambil handsanitizer untuk Nadya, agar tangannya tidak terkontaminasi oleh kuman atau bakteri.
"Cepat ambil antiseptik yang disana," perintah Momon.
"Siap Bos!" Berlari menuju ke toilet.
Tidak butuh waktu lama, anak buah Momon telah kembali dengan sebotol antiseptik, dan menyerahkannya pada Nadya. Dengan santai Nadya mencuci tangannya di washtaffle.
Setelah selesai handphone Nadya berdering.
"Halo ... assalamualaikum," ucap Nadya.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, Nad ini aku Maryam," ucap seorang wanita diseberang telepon.
"Eh Maryam, tumben ada apa?"
"Aku ingin tahu kabar putrimu, bagaimana calon mantuku?"
__ADS_1
"Alhamdulillah dia sudah baikan, dan kondisinya sekarang sudah stabil, sudah dalam tahap pemulihan."
"Syukurlah kalau begitu, sebenarnya kami ingin mengirim Abas kesana tapi binggung mau cari alasan apa?"
"Ohh begitu, pake aja alasan medical cekup."
"Tapi dia tahu kalau jadwal checkup ku minggu depan."
"Apa ya, apa tidak ada jadwal para santri buat keluar arah Jakarta gitu?"
"Nggak ada, kan mereka baru pulang saat Fatim kecelakaan."
"Emmm ... apa ya?" Memegang dagunya.
"Aku tahu," teriak Maryam senang.
"Apa?" tanya Nadya penasaran.
"Mengantarkan kami bersilaturahmi pada teman lama, yang akan berlangsung dicafe atau resto dekat rumah sakit putrimu, Bagaimana?"
"Boleh juga," ucap Nadya.
Keduanya tertawa senang, Karena ingin mempertemukan Abas dan Fatim namun seolah bertemu tak sengaja. Sedang tertawa, Momon mengisyaratkan untuk kembali ke gudang.
"Baiklah Maryam aku pasti menunggu kedatangan kalian," Ucap Nadya senang.
"Nad kayaknya kamu melupakan sesuatu deh, " ucap Maryam.
"Apa Mar?" tanya Nadya.
"Kalau kamu menjanjikan sesuatu harus mengucapkan inshaa Allah, karena itu sangat penting dalam agama kita, begini penjelasannya," ucap Maryam.
Biasanya kalau ada teman yang mengundang secara lisan untuk datang keacara atau hajatan yang akan diadakannya, kita selalu mengatakan Inshaa Allah.
Ada yang tidak mempermasalahkan ucapan itu tapi ada juga yang memprotesnya. "Jangan bilang Inshaa Allah-Inshaa Allah, pokoknya harus datang, titik." begitu kata teman yang memprotes itu.
Ada sebagian orang menganggap perkataan "Inshaa Allah" adalah perkataan untuk menghindari secara halus sebuah undangan atau ajakan. Atau bisa juga perkataan itu diartikan kita masih ragu-ragu apakah bisa datang atau tidak.
Anggapan itu memang tidak sepenuhnya salah. Kita sering menggunakan perkataan Inshaa Allah untuk menolak atau menghindari sebuah undangan. Menolak undangan secara langsung kepada teman yang megundang, kita merasa sungkan atau tidak enak hati, maka secara diplomasi kita selalu mengatakan Inshaa Allah.
Padahal perkataan Inshaa Allah itu janji kita pada seseorang untuk mengabulkan hajatnya tampa mendahului kehendak Tuhan. Ucapan inshaa Allah sejatinya bukanlah cara bagi kita untuk menghindar atau alasan untuk tidak menepati janji. Sebagai seorang muslim, janji adalah hutang yang mesti kita bayar.
Ucapan ini juga bukan kalimat alternatif untuk menolak secara halus permintaan pihak yang ingin kita jaga hati dan perasaannya. Inshaa Allah lebih difahami sebagai kata-kata jaminan bahawa janji yang telah kita ucapkan akan terlaksana dengan baik. Sebab siapa yang berjanji dengan niat sungguh- sungguh untuk menepatinya, maka Allah akan membantu untuk mewujudkan janji tersebut.
Tapi kita sebaiknya jangan juga dengan sok yakinnya menyanggupi atau berjanji akan menyanggupi permintaan orang yang mengundang kita. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita sejam yang akan datang. Apakah kita masih dikaruniai badan yang sehat atau tidak, atau jangan-jangan kita hanya tinggal nama saja. Jadi jangan sok yakin kita bisa menepati janji yang telah kita ucapkan. Islam mengajarkan kepada umatnya apabila berjanji kepada seseorang maka berkatalah Inshaa Allah yang artinya kalau Allah mengijinkan.
Karena kita memang tidak mempunyai daya upaya untuk melakukan apapun kecuali atas ijin Allah. Disamping itu kita juga tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada kita pada waktu yang akan datang. Kalimat inshaa Allah telah digunakan oleh nabi-nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad Saw.
Ketika Nabi Ibrahim menyampaikan perintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail berkata, "Wahai bapaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Inshaa Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar." (Qs Al-Saffat ayat 102).
Allah memerintahkan kepada Nabi untuk selalu mengucapkan inshaa Allah setiap kali berjanji akan melakukan sesuatu. Allah berfirman: "Dan jangan sekali-kali engkau (Muhammad) mengatakan Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok kecuali dengan menyebut Inshaa Allah" (Qs Al-Kahfi ayat 23-24).
Seorang mukmin yang baik menyadari hakikat dirinya sebagai hamba yang lemah dan tidak pernah berjanji melainkan dengan menyebut Insya Allah. Tapi kita juga tidak boleh bermain-main dengan kalimat ini untuk berbohong atau menggunakan kalimat Inshaa Allah untuk berjanji kepada seseorang yang kita tahu janji itu tidak bisa kita tepati.
Kalau memang tidak bisa memenuhi undangan, ajakan atau permintaan seseorang, berkatalah terus terang walaupun itu membuatnya kecewa.
"Kamu fahamkan Nad?"
"Iya maafkanlah aku, inshaa Allah aku akan menunggu kedatangan kalian," ucap Nadya tulus.
"Tapi aku nggak bisa lama mengobrol, maaf ya karena aku masih ada urusan," ucap Nadya mengakhiri panggilan telepon keduanya.
Kini mereka telah kembali berjalan menuju gudang.
Apakah kelima lelaki itu mau bekerjasama?
Bagaimana pertemuan Abas dan Fatim?
Temukan jawabannya besok yaaaa
Bersambung.....
Terimakasih sudah membaca.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik :
__ADS_1