
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
Mushala Sekolah ....
"Eitt! Ingat kita bukan mahram, dan kita sudah dewasa kini bukan anak-anak lagi. Pada siapapun lelaki yang bukan mahramnya kamu jangan main peluk-peluk aja, itu dosa." Anak lelaki itu tersenyum menatap Fatim.
*Alhamdulillah yaa Allah, Engkau pertemukan kami dengan cara yang indah, semoga Engkau juga berkenan untuk menautkan hati kami hingga ke hubungan yang halal nantinya, batin anak lelaki itu.*
"Iya maaf, Kak. Gue reflek aja pengen meluk abisnya kangen banget." Fatim terlihat bicara tanpa beban.
Keduanya terdiam kini, mereka saling pandang dengan debaran yang bergemuruh di dada masing-masing. Namun dengan cepat anak lelaki itu beristiqfar.
"Dek! Tundukkanlah pandanganmu, istiqfar. Kita belum halal untuk saling memandang seperti ini." Abas segera membuang pandangannya. Yah anak lelaki yang bertemu Fatim di mushala adalah Abas, lelaki yang mulai Fatim sukai sejak kecil.
"Iya maaf," ucap Fatim sembari ikut menunduk. Namun keduanya tersenyum.
"Besok hari kedua, lusa ketiga, dan besoknya lagi keempat, dihari kelima itu yang terakhir buat kakak, bisa kita bertemu lagi?" tanya Abas masih membelakangi Fatim. Kini keduanya duduk saling membelakangi yang dibatasi sebuah lemari.
"Inshaa Allah. Tapi gue belum bisa pastikan, soalnya di hari terakhir biasanya di sekolah kita akan ada class meeting, semacam pertandingan olahraga gitu." Fatim memainkan ujung jilbabnya.
"Usahakan kita bisa bertemu ya, Dek. Soalnya di hari terakhir itu kakak akan langsung di jemput untuk pulang ke Bandung." Abas menghela nafasnya yang terasa berat.
"Nanti gue usahain ya," ucap Fatim dengan sedikit kurang bersemangat.
"Dek, kakak balik ke kelas ya. Kasihan Hanafi sepertinya ia belum selesai, soalnya dia belum duha," ucap Abas dengan sedikit melirik ke arah Fatim.
"Ehmm," jawab Fatim singkat.
Belum lagi keduanya berangkat dari luar sudah terdengar teriakan sahabatnya, Yati.
"Fren! Assalamu'alaikum! Loe di dalam nggak?" teriak Yati dengan kencang.
"Temen kamu udah datang, kakak pergi ya. Takutnya jadi fitnah. Assalamu'alaikum," pamit Abas dan segera berjalan keluar mushala.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warhamatullahi wabarakatuh," jawab Fatim yang juga di dengar oleh Yati, namun ia berpikir kalau Fatim benar-benar menjawab salamnya.
"Alhamdulillah ternyata loe beneran di dalam. Kita ke kantin yuk, laper," teriak Yati masih dari luar mushala.
Fatim berjalan menuju pintu keluar mushala, tak lupa ia memarahi sahabatnya itu.
"Loe ya, nggak ada sopan-sopannya, main teriak aja, emang loe pikir gue tembok? Nggak punya kuping," omel Fatim yang di sambut senyum manis Yati.
"Sensi amat, lagi dapet ya?" Ledek Yati pada sahabatnya.
"Iya nih gue lagi dapet sandal pengen nimpuk orang," jawab Fatim sambil membuka sandalnya.
"Eitt jangan dong, nanti ilang cakepnya. Ayang Wawan nanti nggak mau lagi ngelirik gue jadinya," ucap Yati dengan wajah sedih yang membuat Fatim tak kuasa menahan tawanya.
"Udah ah, yuk ke kantin! Nanti keburu masuk kita nggak jadi makan, kalau laper nanti jawab ulangannya nggak konsen," Fatim menarik tangan sahbatnya itu untuk menuju kantin.
Suasana kantin benar-benar adem, gelak tawa anak-anak memenuhi ruangan. Sejak kepergian Gladis Cs dari sekolah Unggulan, semua siswa merasa lega. Kini tak ada lagi yang akan mencari keributan ataupun perhatian saat di kantin atau dimana saja.
Setelah kenyang dua sahabat itu pun kembali ke kelas. Sebentar lagi bel panjang akan berbunyi tanda ulangan sesi kedua akan segera dimulai. Semua anak juga telah kembali ke kelas masing-masing dan siap kembali berjibaku dengan soal-soal.
Fatim tampak sedang menyalakan mesin motornya saat seseorang menepuk pundaknya.
"Tim! Tunggu! Gue mau ngomong sama loe, please!" Pinta Rangga sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Kenapa?" tanya Fatim sambil memakai helmnya.
"Setelah tamat ini, gue akan keluar negeri. Sekarang gue ingin ngungkapin perasaan gue ke loe. Gue udah suka sama loe sejak pandangan pertama kita ospek dahulu. Gue ingin kita ngedate nanti pas malam perpisahan. Bagaimana?" Rangga memasang wajah penuh harap.
"Maaf, Kak! Gue nggak bisa karena satu alasan yang nggak bisa gue jelasin saat ini." Fatim mulai menyalakan mesin motornya dan bergerak meninggalkan Rangga yang kesal.
*Gue harus bisa memiliki loe Fatim, kalau gue nggak bisa maka orang lain juga nggak akan bisa, batin Rangga menyesali kebodohannya yang terlalu takut untuk menyatakan perasaannya.
Sementara itu Fatim langsung pulang kerumahnya karena saat ini sedang ujian, maka ia lebih fokus untuk belajar. Ia tak ingin mengecewakan Mamanya, Nadya. Dia ingin mempersembahkan hasil yang terbaik untuknya. Termasuk menerima perjodohan yang telah di atur mamanya.
*****
__ADS_1
Tak terasa kini ujian kebaikan kelas sudah memasuki hari kelima. Sesuai yang telah mereka sepakati bersama. Ia dan Abas akan bertemu di mushala.
Fatim sengaja ingin menyelesaikan ujiannya dengan cepat, ia takut terlambat. Setelah selesai Fatim segera ngacir ke tempat janjian mereka. Ia langsung berwudu dan salat duha, setelah selesai ia langsumg mengintip ke shaf laki-laki, namun tampak kosong. Tak ada siapapun di mushala.
Fatim masih setia menunggu meski satu persatu siswa dan siswi SMA Unggulan meningglkan gedung sekolah mereka. Kini sudah hampir empat jam Fatim menunggu namun sosok Abas tak juga muncul.
*Yaa Allah, apa kak Abas sudah pergi? Kenapa dia tak menemui gue dulu. Kenapa ia ingkar janji bukankah melanggar janji sendiri itu dosa? Apa sekarang ia tak lagi takut dosa? Batin Fatim sedih.
Suasana yang tadinya cerahpun kini sudah mendung. Alampun seolah ikut merasakan kesedihan Fatim. Rintik hujan mulai turun membasahi bumi pertiwi, mengiringi langkah gontai Fatim. Ia membiarkan hujan membasahi tubuhnya, ia menangis sejadi-jadinya. Rasa sedihnya semakin dalam karena ia tahu sehabis ini cintnya akan benar-benar hilang. Lelaki pujaan hatinya akan bertunangan bahkan mungkin akan menikah diusia muda.
Tubuh Fatim mulai menggigil karena dingin namun ia tak menghiraukannya. Ia terus berjalan menuju motor kesayangannya. Dengan kasar ia menyeka air matanya, tak ada yang tahu kehancuran perasaannya. Ia benar-benar kecewa. Peristiwa masa kecilnya kini terulang. Dulu kejadian yang sama ia alami, janjian bertemu dengan kak Pop dibawah pohon jambu namun sejak itu mereka tak lagi bertemu hingga sekarang baru bertemu lagi.
"Kak Pop! Mengapa loe tega membuat gue ngerasain apa yang belasan tahun lalu gue rasa. Loe meninggalkan gue tanpa kabar berita, gue sayang loe, Kak. Sampai akhir hayatpun gue akan tetap menempatin loe di tempat terindah di hati gue, meski nanti loe atau gue menjadi milik orangain."gumam Fatim lemah.
Fatim mulai menyalakan mesin motornya dan perlahan bergerak meninggalkan parkiran, meningglkan kenangan terindahnya disana meski hanya sesaat. Dan pada saat itu juga muncul seseorang dengan peluh yang membasahi kemejanya dibawah naungan payung hitam. Dari kejauhan ia masih dapat melihat Fatim yang mulai meninggalkan sekolah.
Dengan cepat ia melepaskan payungnya berlari menembus hujan demi memenuhi janjinya namun ia terlambat.
"Fatimmmmmm!" teriaknya dalam linangan air mata.
"Aku datang, Dek! Aku tak pernah ingkar janji, sama seperti belasan tahun lalu aku juga datang ke bawah pohon jambu. Namun kau selalu pergi, dulu kau yang datang terambat. Kini aku yang terlambat. Abi sudah datang menjemput namun kakak membuat alasan agar bisa menemuimu, namun kini kau telah pergi membawa cinta pertama dan terakhirku untukmu," gumam Abas sedih.
Dalam guyuran hujan Abas berjalan meninggalkan sekolah yang memberinya mimpi terindah, bisa bersama cinta pertamanya. namun takdir entah kapan akan pada cinta mereka.
Dalam kesedihannya Abas mendoakan kebahagiaan gadis pujaannya, semoga ia selalu dalam lindungan Allah, SWT.
Keduanya berharap akan dapat bersama, meski kini mereka telah terpisah oleh ruang dan waktu, kesempatan untuk bertemu dan mengucapkan salam perpisahan terlerai begitu saja. Dalam diam saling mencinta dalam do'a saling meminta.
Bersambung ....
Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula sudah setia membaca novel remahanku juga untuk Tap jempol serta komennya!
Maaf ya cuma bisa Up segini besok inshaa Allah aku up lagi. mataku udah nggak kuat ngantuk berat.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah ya dibawah ini:
__ADS_1