
Sehabis dari My Cafe, dua sejoli itu memutuskan untuk mampir dulu ke bawah jembatan dengan bingkisan makanan untuk adik-adik di sana, setelah itu baru akan segera pulang agar mereka tidak kemalaman di jalan saat nanti pergi ke Bandung.
Disepanjang jalan mereka hanya saling diam, sesekali senyam senyum sendiri. Hanya suara detakan jantung mereka yang berbicara. Basecamp adik-adik bawah jembatan terlihat ramai, sepertinya mereka ada acara.
Abas memarkirkan motor mereka tidak jauh dari sana, sebab mereka tak bisa mendekat, terlalu ramai dengan pernak pernik kagiatan mereka.
"Assalamu'alaikum," sapa Fatim ramah seperti biasanya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab mereka serentak.
Mereka berlari berhamburan untuk memeluk Fatim tetapi mereka tidak memeluk Abas karena dianggap sebagai orang asing atau tamu.
"Kalian tidak memeluk Abang itu?" tanya Fatim pada adik-adik penghuni camp.
Semua menggeleng lalu Fatim membisikkan sesuatu pada mereka dengan mengucapkan janji jika itu rahasia di antara mereka, dengan segera adik-adik itu pun memeluk Abas yang membuatnya merasa haru.
Kemudian mereka menarik tangan Abas dan Fatim untuk mendekat. Semua tampak sibuk dengan berbagai kegiatan dan ada sebuah panggung sepertinya.
Fatim dan Abas semakin takjub melihat indahnya kreasi adik-adik bawah jembatan, kemudian mereka membentangkan sebuah spanduk yang bertuliskan 'TERIMAKASIH KAK FATIM KAMI TERSAYANG' tentu saja hal ini membuat keduanya makin terkejut.
"Apa ini?" Fatim menatap adik-adiknya untuk meminta jawaban.
"Kami sengaja membuat acara ini untukmu, sebagai ungkapan rasa terimakasih mereka, sebagian dari adik-adik dan juga ada dua orang yang sebenarnya lebih tua darimu ini ada yang sudah lulus SD, SMP, dan SMA. Mereka semua lulus dengan peringat pertama terbaik. Seperti Kamil dan Fredi mereka lulus ujian masuk perguruan tinggi di UI tanpa test, itu semua juga karena jasamu yang membiayai sekolah mereka." Kak Jefry tiba-tiba muncul dengan senyum diwajahnya yang tampan, namun tampak segurat sedih di manik matanya dan Fatim melihat itu.
Fatim tampak tersenyum sebagai ungkapan rasa harunya meski ia menyimpan tanya dalam hatinya.
"Bagaimana? Kau bersedia datangkan malam ini? Ajak dia juga dan ibu Nadya." Jefry seolah bisa membaca pikiran Fatim yang membuat gadis itu kembali mengukir senyum di wajah cantiknya.
Kemudian ia menoleh pada Abas yang dijawab anggukan oleh lelaki tampan itu, kemudian Fatim mengedipkan matanya yang membuat jantungnya berdebar hebat.
"Oke inshaa Allah kami akan datang," jawab Fatim sambil mengajungkan jempolnya.
Sorak sorai adik-adik itu membuat Fatim dan Abas ikut larut dalam kegembiraan mereka, hingga menjelang asar baru mereka pulang.
Kini keduanya sudah di atas motor, Fatim memeluk erat perut Abas dari belakang yang membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. Ini pertama kali untuk keduanya.
*Apa Dek Loli merasakan detak jantungku yang ritmenya tak beraturan, batin Abas.*
__ADS_1
*Hmm Kak Pop tahu nggak ya, jantungku sedang maraton.*
Keduanya diam, tak ada yang berani buka suara. Mereka menikmati kemesaraan yang tercipta lewat diam.
Kini keduanya telah sampai di kediaman mereka, namun mereka melihat ada mobil lain yang terparkir di depan rumah.
"Mobil siapa ya?" gumam Fatim pelan.
"Tidak tahu, bukan punya Mama Nadya?" Abas balik bertanya.
Fatim menggeleng kemudian mengajak suaminya masuk lewat belakang agar tidak mengganggu tamu yang datang.
Mereka masuk lewat pintu garasi, Abas meminta izin untuk ke kamar terlebih dahulu sedangkan Fatim masih kepo pada tamu yang datang, jadi dia pergi untuk mengintip siapa yang datang.
Baru saja akan sampai ke pintu pembatas antara ruang keluarga dengan ruang tamu ia dikagetkan oleh mamanya yang tiba-tiba saja muncul di pintu.
"Astaqfirullah haladzim," teriak keduanya sambil memegang dada.
"Mama ngagetin tahu," rutuk Fatim kesal.
Keduanya tertawa mengingat tingkah kaget mereka. Ibu dan anak ini selalu akur dan seperti layaknya sahabat.
"Siapa tamunya? Calon papi?" Canda Fatim pada ibunya.
"Adu ... dududuuuh, sakit! Mama ... Ma ... aduhhh," teriak Fatim karena lengannya dicubit Nadya dengan kuat.
"Makanya jangan nyeplok sembarangan." Nadya melepaskan cubitannya.
"Kayak telor ayam aja main ceplok," sunggut Fatim sambil mencebikkan bibirnya.
"Habisnya kamu bilang papi segala, dalam hidup mama hanya ada dua pria saja yang pertama kakekmu dan yang kedua ayahmu, selama hayat dikandung badan tidak akan bisa mama ganti dengan yang lain." Kini balas Nadya yang mencebikkan bibirnya.
"Ohh so sweet mamaku, aku juga mau seperti mama hanya ada kakek, ayah, dan kak Pop di hatiku." Fatim memeluk dirinya sendiri seolah sedang memeluk tiga lelaki yang dicintainya.
Namun itu tak berlangsung lama karena Nadya menepuk pundaknya.
"Gih temuin tamunya, spesial loh." Nadya berlalu menuju dapur sedang Fatim mencoba untuk memgintip tamunya.
__ADS_1
*Dokter Haris, ngapain dia kemari? Apa bi Ijah sakitnya serius?*
Fatim masih betah berdiri disamping pintu, ia ragu mau bertemu atau tidak. Sedangkan Nadya sudah kembali melewatinya dengan empat cangkir teh hangat dengan satu toples kue kering 'iris benang" yang dikirimi oleh saudara bi Ijah di kampung.
"Ya ampun masih di sini, ayo bawa camilannya!" Nadya memberikan bakinya pada Fatim yang masih saja betah berdiri disamping pintu.
Dengan terpaksa ia menuruti kehendak mamanya. Di sana ia melihat dokter Haris bersama seorang wanita.
*Siapa wanita yang bersama dokter Haris? tanya Fatim dalam hatinya.*
"Ini loh putriku yang Nak Haris ceritakan itu." Nadya memperkenalkan Fatim pada mamanya dokter Haris.
"Wah sangat cantik, tapi sayang sudah ada yang punya. Andai Haris selangkah lebih cepat betapa beruntungnya aku." Wanita cantik itu tersenyum manis pada Fatim.
Dokter Haris bergeming, ia fokus menatap Fatim tanpa kedip, seolah ia ingin melukis setiap pahatan yang ada pada gadis itu, sampai pegangan tangan mamanya membawa dia kembali ke alam nyata.
"Tim, panggil Abas gih." Nadya menepuk tangan putrinya yang mendapat kerlingan tajam dari gadis itu.
Nadya yang mengerti maksud putrinya hanya mengangguk tanda anaknya tak usah khawatir. Dengan sopan Fatim mohon pamit pada dokter Haris dan mamanya.
Fatim telah sampai dikamarnya, ia mengetuk dan memberi salam, baru lah ia membuka pintu. Dilihatnya sang Suami baru selesai salat, ia meminta maaf karena tidak ikut berjamaah. Lalu ia menyampaikan pesan mamanya untuk Abas.
"Kamu salat lah dulu nanti baru menyusul ke bawah ya. Aku duluan." Abas mencium lembut kening istri. Setelah itu ia berlalu menuju keluar kamar yang diikuti pandang mesra kekasihnya sampai siluetnya hilang dibalik pintu.
Ruang Tamu ....
Abas muncul dengan memberikan salam yang disambut ketiganya dengan hangat, kemudian Nadya menanyakan putrinya Fatim yang dijawab Abas dengan sopan kalau istrinya itu sedang salat asar.
Merasa canggung dokter Haris mengajak Abas untuk berbicara di taman. Dan sebagai tuan rumah yang baik, Abas tentu saja menyanggupinya.
Keduanya mohon pamit pada dua wanita yang sangat mereka hormati untuk pergi mengobrol di taman tanpa menunggu Fatim. Karena ini adalah momen yang pas untuk berbicara antar dua lelaki yang sudah boleh dikatakan dewasa.
Kira-kira apa yang ingin dokter Haris sampaikan? Bagaimana reaksi Abas atas pertanyaan itu? Tunggu di next episode ya.
Terimakasih sudah membaca jangan lupa tap like dan lovenya, juga kirim hadiah untuk Fatim dan Abas .
Bersambung ....
__ADS_1