
Dua sejoli yang sedang kasmaran itu pun turun dari mobil, beruntungnya semua santri sedang berada di kelas dan asrama sehingga tidak ada yang melihat kedatangan mereka.
Umi Maryam dan abi Rahmat sudah menunggu sejak tadi, keduanya sengaja beristirahat di rumah saja hari ini. Tentu saja ini untuk menyambut anak dan menantunya.
Fatim seolah terpesona melihat keindahan dan kerapian penataan susana pondok. Ia sudah berdecak kagum, dalam benaknya ia yakin kalau ia akan betah berlama-lama di sini. Ternyata pondok pesantren itu tak seseram yang ia bayangan selama ini.
"Ehmm." Abas sengaja berdehem untuk mengingatkan istrinya agar mereka segera masuk agar tak menjadi tontonan para santri yang sebentar lagi akan istirahat.
"Pelit." Fatim mencibirkan mulutnya dan ikut melangkah dibelakang suaminya.
Sampai di depan pintu keduanya berdiri bersisian dan mengucapkan salam secara bersamaan.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabatakatuh," jawab umi Maryam." Ciee barengan niye ngucapin salamnya." Wanita itu tersenyum ramah.
"Umi udah pandai ngegombal ya." Abas tak mau kalah mencandai uminya.
"Sudah-sudah hayuk kita masuk dulu." Abi Rahmat menengahi agar semua bisa masuk.
Fatim merasa takjub, rumah mertuanya terlihat sederhana tetapi didalamnya sungguh nyaman dan adem, dinding bernuansa putih tanpa pajangan foto memfoto atau lainnya, benar-benar bersih, kursi kayu jati yang berukir seperti bambu menambah kesan alami. Disetiap sudut rumah ada bunga hidup yang menghijau dan rimbun. Dengan tirai polos berwarna coklat muda sangat kontras dengan kusennya yang berwarna coklat kayu.
Kini mereka masuk keruang tengah, Fatim kembali dibuat takjub, deretan lemari berbaris rapi isinya buku-buku dan kitab. Lengkap dengan kursi baca yang langsung menghadap ke taman samping yang benar-benar asri dengan aneka bunga yang berwarna warni dipercantik oleh gemericik air terjun yang tumpah ke kolan ikan.
Saat masuk ke ruang keluarga ini lebih seru semuanya tanpa kursi hanya ada karpet bernuansa timur tengah berwarna hijau pupus terhampar bak permadani. Dengan setiap sudut ada meja segitiga yang atasnya berisikan album foto keluarga.
"Bas, bawa Fatim ke kamar kamu dulu. Nanti setelah capek kalian hilang baru kita lihat-lihat pondok." Abi Rahmat tersenyum pada anak dan menantunya." Umi tolong siapin makan buat kita semua ya, abi mau ketemu ustad Ali dulu di masjid." Rahmat segera menuju ke pintu keluar untuk menuju ke masjid.
Maryam menyuruh anak mantunya untuk beristirahat sementara dirinya akan menyiapkan makan malam untuk mereka nanti.
__ADS_1
*****
"Kak, apa tidak sebaiknya aku bantu umi dulu?" tanya Fatim sembari mengikuti langkah suaminya.
Bukannya menjawab Abas malah menarik tangan istrinya dan membisikkan sesuatu.
"Kamu jangan kaget saat nanti masuk ke kamarku, kamu adalah wanita kedua yang boleh memasukinya karena yang pertama itu adalah umi." Ia menatap lekat netra istrinya yang membuat empunya mata jantungnya berdegub hebat serasa mau loncat dari tempatnya.
"Tapi kenapa?"
"Tak usah banyak bertanya lihat saja isinya." Abas menarik istrinya dalam dekapannya, ia sengaja memeluk Fatim agar tak langsung bisa menatap isi kamarnya sebelum ia membalikkan badannya
"Gimana liatnya wong dibekap kaya gini?" Fatim mengajukan protes pada suaminya.
"Udah diem, pokoknya nurut aja." Ia terus membawa istrinya masuk." Oke sekarang berbalik." Abas melepaskan pelukkannya.
Hiasan rambut yang belum sempat Abas berikan kepada Fatim saat mereka menjadi pengantin boongan, dasi kupu-kupu yang ia berikan sebagai hadiah terakhir sebelum mereka berpisah.
Dan akhirnya Abas memberikan sebuah album yang tertulis gadis kecilku where are you? Di sana tersimpan rapi semua foto masa kecil keduanya. Surat-surat yang pernah lelaki itu buat untuk dirinya, Fatim sangat terharu. Ia salah ternyata selama ini menganggap kak Pop lelaki yang tega melupakannya.
"Jangan menangis, aku akan selalu bersamamu dalam suka dan duka, ku ingin menua bersamamu, dan ingin sejanah dengamu. Bidadari syurgaku, setiap hari selalu aku lalui dengan mencari tahu keberadaanmu hingga hari itu aku tak sengaja berjumpa dengamu, gadis berkepang dua yang dermawan. Aku memgikuti ke bawah jembatan, namun hatiku belum sepenuhnya yakin hingga kita berjumpa di sekolah itu." Abas mencium kepala istrinya yang masih terbalut hijab.
Fatim berbalik dan memeluk erat suaminya," maafkan lah aku."
Cukup lama keduanya bernostalgia dengan masa kecil mereka, hingga azan asar berkumandang. Keduanya salat berjamaah di rumah. Maryam dan Rahmat tentu saja memakluminya.
Seusai salat keduanya rebahan untuk mengistirahatkan fisik keduanya.
"Kenapa aku nggsk boleh tidur?" Fatim sedikit cemberut.
__ADS_1
"Itu karena tidur sehabis salat asar itu membawa penyakit diantaranya bisa menurunkan daya tahan tubuh, menurunkan daya ingat, menaikkan kadar gula dan kolesterol juga. Memang tidak ada hadis yang kuat untuk melarang hal tersebut tapi apa Dek Loli mau seperti itu?" Abas membelai rambut panjang istrinya.
"Enggak lah, entar kalau aku penyakitan kamu kawin lagi pastinya." Wajah Fatim terlihat jutek.
"Astaqfirullah, Dek. Kamu gitu sih ngomongnya, mau kamu jelek, mau cantik, mau sehat atau sakit inshaa Allah aku akan tetap bersamamu." Abas mencubit hidung istrinya gemas.
"Ya Allah betapa beruntungnya aku dan betapa buntungnya lelaki yang kini bersamaku. Dapat istri jutek, tukang kebut-kebutan di jalan, malas bangun pagi, nggak bisa masak, manja dan ...." ucapan Fatim terputus karena sudah disambut oleh suaminya.
"Dan pintar mengaji, rajin salat, dan rajin membantu sesama, nurut sama orang tua, yang pasti dia setia." Abas tertawa yang mendapat cubitan mesra diperutnya.
*Sungguh aku sangat bahagia ya Allah, terimakasih untuk segalanya. Satukanlah kami dunia dan akhirat. Batin Fatim.*
*Alhamdulillah ya Allah telah menyatukan kami dalam ikatan suci ini, tautkan lah cinta kasih kami seperti khadijah dan Rasulullah, seperti Beliau dan Aisyah. Batin Abas.*
Fatim tersenyum melihat suaminya begitu juga dengan Abas, seolah matanya tak ingin lagi melihat yang lain hanya gadis shalihah didepannya ini lah yang ingin dia lihat. Sedang asyik pandang-pandangan suara ketukan pintu membuyarkan keduanya, mereka merasa seperti kepergok sedang berbuat sesuatu saja.
Tok ... tok ...!
"Bas ajak Fatim bersiap-siap gih, kita salat berjamaah bentar lagi." Tanpa menunggu sahutan putra dan menantunya Maryam segera berlalu, ia juga sangat tahu apa yang diinginkan pasangan baru menikah seperti mereka.
Dengan cepat gadis itu berlari menuju kamar mandi yang membuat Abas ingin tertawa karena merasa lucu melihat tingkah istrinya. Ia mengambil album yang tadi Fatim lihat lalu ia melihat foto mereka jadi pengantin sewaktu masih kecil, diciumnya penuh rasa bahagia dan senyumnya pun mereka.
Setelah siap keduanya segera keluar untuk menuju ke mushala kecil yang ada di taman belakang rumah mertuanya, Maryam dan Rahmat sengaja melakukannya agar mereka tidak jadi bahan perhatian para santri. Besok baru lah keduanya akan membaur bersama para santri.
Rahmat dan Maryam menangis haru saat keduanya menyalami mereka, sudah sangat lama mereka memimpikan hari ini. Bisa mempunyai anak dan menantu, meski belum bisa menimang cucu. Keluarga kecil bahagia itu pun melanjutkan tilawah dan makan malam bersama. Tak lupa Fatim menelpon mamanya, bagaimana pun ia sangat merindukannya.
Malam ini rencananya Abas akan mengajaknya berkencan di taman belakang rumah mereka, begitu lah indahnya pacaran setelah menikah tidak akan khawatir akan dosa karena semua sudah halal, kita senang orang tua pun tenang.
Bersambung ....
__ADS_1