
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
Kediaman Fatim ....
"Ma, Fatim berangkat ya." Gadis itu mencium Nadya lembut.
"Iya hati-hati di jalan ya." Nadya melambaikan tangannya.
Sepeninggalan anak gadisnya, mereka kembali sibuk untuk mempersiapkan kejutan buat Fatim, gadis shalihah ke sayangan Nadya.
Nadya segera menghubungi Momon.
"Mon bagaimana? Apa semua sudah siap?" tanya Nadya sambil melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan jam tujuh pagi kurang lima belas menit.
"Sudah saya beli, Bu. Hanya saja pengirimannya baru bisa sebelum zuhur," jawab Momon lancar.
"Wah sebenarnya itu terlalu siang Mon, apa nggak bisa lebih cepat?"
"Maaf, Bu. Sepertinya tidak bisa." Momon menegaskan pada Nadya, sang majikan.
"Oh ya sudah sebaiknya hal itu benar ya, soalnya takut Fatim pulang cepat tanpa kita tahu, dia naik angkot soalnya hari ini." Nadya menjelaskan pada Momon.
Sementara itu di angkot Fatim sudah duduk manis, tak ada yang akan menyangka kalau ia bisa berlari secepat kijang dan bertarung sehebat Anita Mui.
"Kiri Pak!" Fatim meminta mobil angkot yang ditumpanginya untuk menepi. Ia akan ke kosan Abas yang memintanya untuk mengambil surat izin karena dirinya pulang ke pondok bersama Hanafi.
Fatim sudah turun, ia membayar angkotnya dan sangat terkejut karena ternyata ongkosnya sangat murah.
"Berapa Pak?"
"Tiga Rebu aja Dek, tadi naiknya dari komplek elit itu kan?" tanya sopir angkot sambil melihat Fatim.
"Iya, Pak." Fatim merogoh saku bajunya dan menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.
"Wah uangnya gede amat, mana ada kembaliannya Dek, ini masih pagi." Sopir angkot terlihat kesal.
"Udah nggak usah bayar aja, dasar cari kesempatan," rutuk sopir angkot kesal.
Fatim tersenyum melihat ekspresi sang sopir, dengan santai ia menundukkan kepalanya di jendela angkot.
"Uangnya simpan aja buang bapak, saya nggak minta bapak memberikan kembalian." Fatim berlalu meninggalkan angkot yang di tumpanginya.
Merasa tak enak karena sudah memaki dan salah faham, sopir itu memilih turun dengan mengejar Fatim.
"Dek!"
__ADS_1
"Dek! Tunggu!" Lelaki bertopi pet dengan handuk kecil yang tersangkut dilehernya berlari kearahnya.
"Kenapa Pak?" Fatim berhenti dan membiarkan lelaki itu mendekat.
"Anu ... sa-saya mau minta maaf karena sudah salah sangka sama adek." Lelaki itu menunduk.
"Nggak apa-apa,Pak. Hanya saja lain kali jangan suka merendahkan atau berprasangka pada orang lain, dan kalau bapak mau bersedekah ya sedekahlah dengan ikhlas jangan pakai embel-embel apapun." Fatim mengatakan isi hatinya pada lelaki itu yang tampak mangut-mangut.
"Sekali lagi terimakasih, Dek. Soalnya banyak yang pakai trik ini agar bisa naik angkot gratis apa lagi para pelajar macam adek ini." Lelaki itu menyatakan alasannya.
"Oh begitu ya, Pak. Pantesan aja bapak jadi begini. Ini ada tambahan sedikit buat bapak sebagai ganti kerugian bapak yang sudah-sudah meski mungkin ini belum cukup." Fatim memberikan lima lembar uang seratus ribuan pada sopir angkot itu.
"Nggak usah Dek, bapak hanya menjelaskan saja bukan minta ganti." Lelaki itu berusaha menolak.
"Saya ikhlas memberi bukan berniat yang lain, saya harap bapak juga sudah mengikhkaskan sedekah bapak pada anak-anak yang suka membohongi bapak, sehingga itu bisa jadi pahala buat bapak sendiri." Fatim tersenyum, dengan bergetar lelaki itu menerima uang pemberian Fatim.
"Terimakasih banyak Dek." Lelaki itu tersenyum dan melihat Fatim yang berjalan menjauhinya.
*Ternyata masih ada di dunia ini orang yang benar-benar tulus membantu, semoga Gusti Allah membalas semua kebaikanmu cah ayu.*
Lelaki itu kembali pada angkotnya, banyak penumpangnya yang ngedumel karena merasa diabaikan, sedangkan mereka sudah kesiangan. Sopir itupun meminta maaf pada mereka semua sebelum kembali menjalankan mobilnya.
Sedangkan Fatim kini sudah berdiri tepat di kosan Abas. Ia mencari kunci yang telah disimpan sesuai arahan sahabatnya itu.
"Mana ya katanya di sini tapi kok nggak ada," gumam Fatim pada dirinya sendiri.
"Yes akhirnya ketemu juga." Fatim mengambil kunci itu kemudian bergegas masuk kerumah.
Ia berjalan menuju kamar Abas yang mengatakan kalau suratnya ada di dalam laci meja dalam kamarnya.
"Kamarnya ada tiga, yang mana kamarnya Abas?" Fatim menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apa gue masuk atu-atu aja ya." Fatim bicara pada dirinya sendiri.
"Tapi tiap pintu ada tulisan arabnya gitu, apa bacaannya ya coba gue eja." Fatim mendekat ke arah pintu dan mulai membaca tulisan arab yang ada di pintu.
"A-b-i, oh ini kamar abi." Fatim berjalan ke pintu satunya.
"H-a-n-a-f-i, ah ini punya Hanafi so pasti yang tengah ini kamar Abas.
Klek!
Fatim mulai masuk dan membuka pintu, kemudian ia menyalakan lampu. Dengan cepat ia menuju meja yang ada di kamar lelaki yang mulai disukainya secara diam-diam.
Krettt!
Fatim mulai membuka laci dan ia mengambil amplop yang ada didalamnya.
__ADS_1
*Ada dua amplop, surat izinnya yang mana? Dasar Abas nggak ngasih tahu amplopnya warna apa, apa gue buka dulu ya dua-duanya tapi nanti nggak sopan, kalau nggak di buka nanti salah kasih. Ya udah ah gue buka aja.*
"Maafin gue ya Bas, surat loe gue buka." Fatim mengambil amplop putih yang pertama dan mulai membukanya.
"Untung nggak pakai lem, kalau tidak bisa-bisa gue harus ganti nih amplop." Fatim tersenyum sendiri.
Fatim langsung terbelalak saat melihat isi amplop yang ada ditangannya. Entah dari mana tiba-tiba saja air matanya mengalir deras, padahal ia bukanlah tipe gadis yang cengeng.
"Foto ini, kenapa ada sama Abas? Dari mana dia mendapatkannya?" Fatim mendekap foto yang hampir buram terbingkai indah dengan lis hitam sama persisi seperti yang dia punya.
Fatim menemukan foto kenangan masa kecilnya bersama seorang laki-laki yang sedang duduk, tampak mereka saling merangkul tangan dipundak masing-masing dengan tangan satunya sedang memegang permen lolipop.
*Apa jangan-jangan Abas adalah kak Pop, tapi kalau ia mengapa gue tak mengenalinya dan dia juga tak mengenalin gue, pantas saja setiap didekatnya serasa nggak asing gitu. Yaa Allah akhirnya gue bisa nemuin kak Pop.*
Fatim tersenyum disela tangisnya, dengan cepat ia menyimpan kembali foto kesayangnnya yang juga terbingkai indah di dalam kamarnya. Ia memgambil ampop yang satu lagi kemudian mengeceknya, ternyata benar itu surat izin Abas.
Fatim segera keluar dan mengunci kembali pintu kosan Abas. Pikirannya saat ini hanya terfokus pada Abas, jika benar ia kak Pop maka akan ada banyak hal yang ingin dia bicarakan bersamanya.
"Aku akan menghubungi Abas sepulang sekolah atau nanti malam, harus!" Fatim berangkat menuju sekolah.
*****
Sementara itu di pondok pesantren Abas dan Hanafi yang sudah tiba sejak kemarin masih menunggu apa yang akan disampaikan oleh abinya.
Entah kenapa hati Abas merasa gelisah, ia juga teringat akan foto kenangannya yang tertinggal.
Sehabis subuh Rahmat meninta Abas untuk tetap tinggal di rumah karena ada yang akan di sampaikannya. Sedangkan Hanafi juga ada di asramanya.
"Umi, sebenarnya apa yang ingin abi sampaikan?" tanya Abas yang penasaran, ia yakin hal kali ini sangat penting sehingga abinya meminta waktu khusus untuk bicara.
"Kita tunggu saja ya, Nak. Hanya abimu yang berhak untuk menyampaikannya bukan umi." Maryam menata putranya sambil tersenyum.
Abas hanya bisa menghela napas sebagai ungkapan perasaanya yang kesal karena merasa penasaran, dan saat ini ia merasa sangat khawatir kalau- kalau sang ayah memintanya untuk segera bertunangan, sedangkan ia menyukai gadis lain.
Hmm Kira-kira makin bagaimana kelanjutannya ya? wkwkwk selamat menunggu ya
Bersambung ....
Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula sudah setia membaca novel remahanku juga untuk Tap jempol serta komennya!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah ya dibawah ini:
Selain itu kalian boleh intip juga novel-novel yang menjadi favorit aku, cerita mereka juga nggak kalah seru lo, kalau nggak percaya coba aja untuk membacanya. ini nih novelnya.
__ADS_1
Dan satu lagi yang ini, juga novel favorit aku pokoknya seru abisss.