Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
KUNJUNGAN DOKTER HARIS


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹


Selamat Membaca!


*****


Kamar Fatim ....


Fatim merasa sesuatu telah terjadi pada hatinya, entah mengapa ia senang dengan wajah pangeran dalam mimpinya yang mirip Abas, namun ia tidak suka karena pangeran itu terlihat genit, berbeda dengan karakter Abas.


*Ya Allah, gue sepertinya udah benar-benar gila, kenapa selalu terbayang wajahnya Abas, senyumnya, tingkah lakunya. Akhhhh! Gue harus bisa membuang rasa suka ini, karena gue nggak mau kecewa dan mengecewakan mama, tolong aku ya Allah.*


*****


Dalam kebimbangannya Fatim segera berwudu dan menunaikan salat magrib. Selesai salat ia segera turun untuk makan bersama keluarga besarnya, pasti bingungkan? Karena Fatim hanya punya Nadya saja, tapi itu salah. Fatim punya keluarga besar yang menyenagkan, siapa lagi kalau bukan para asisten rumah tangga dan sopir mereka.


Fatim mau pun Nadya tidak pernah menganggap mereka atasan dan bawahan. Oleh karena itu hubungan mereka semua sudah selayaknya keluarga.


"Malam, Bik-Pak Mamad ... Mama ku tersayang, maaf ya aku telat." Fatim menarik kursi di samping bi Ijah yang masih kosong.


"Kita juga baru datang kok, Non." Bi Ijah tersenyum melihat kearah Fatim.


"Oke, semua sudah komplit. Setelah tiga minggu akhirnya kita bisa kembali makan bersama, alhamdulillah," ucap Nadya.


"Ayo Pak Mamad, baca do'a sekarang! Kita udah laper nih," pinta Nadya pada Mamad, lelaki paruh baya yang menjadi supir mereka.


Pak Mamad pun mulai membaca do'a makan, agar mereka mendapat keberkahan atas segala rezeki yang telah mereka dapatkan.


Setelah Pak Mamad membaca do'a Fatim segera menyendokkan makanan kesukaannya kedalam mulut dengan Lahab sampai Nadya harus mengingatkannya.


"Sayang, makannya pelan-pelan saja. Tidak ada yang akan melahap semua makanan ini dengan cepat," ucap Nadya pada putrinya.


"He ... he ... he ... iya, Ma. Maaf habisnya Fatim udah rindu masakan Mama sama bi Ijah, jadi deh kebawa nafsu." Fatim membersihkan mulutnya yang belepotan makanan.


"Sayang, kamu biar pun kangen masakan mama atau bi Ijah makannya nggak gitu juga dong, kamu tetap harus ingat cara makan yang baik. Kalau makan terburu-buru seperti tadi maka kamu bisa tersedak makanan, kedua perutmu akan kembung karena saat menyendok terburu-buru angin juga ikut masuk ke dalam perutmu. Dan yang terakhir akan menganggu pencernaanmu, karena makanan yang kamu kunyah kurang lembut, sehingga akan sulit untuk di cerna," jelas Nadya panjang lebar.


"Iya, Maaf." Fatim tersenyum sambil mengacungkan dua jarinya. Saat sedang makan ponsel Fatim berbunyi, mata Fatim langsung melirik kearah Nadya.


"No, phone!" ucap Nadya singkat. Dan Semua sudah tahu, kalau saat di meja makan tidak boleh menyentuh ponsel.


Fatim tersenyum dan melanjutkan makannya yang terasa sangat nikmat di lidahnya. Karena sudah tiga minggu ia tidak memakan masakan rumah, selain di larang oleh dokter Haris. Nadya juga sengaja mendietkan Fatim karena khawatir dengan luka bekas operasi Fatim.


*****


Selesai makan Nadya dan Fatim bersama bi Ijah membawa piring kotor ke belakang dan mencuci piring bersama. Mereka tertawa dan bercanda sambil mencuci piring. Kedekatan mereka memang patut di acungi jempol.


Sedang asyik mencuci piring bel pintu utama berbunyi. Dengan cepat Nadya meminta bi Mimin untuk membuka pintu.


"Bi Min! Tolong dong! Lihat siapa yang datang," teriak Nadya dari ruang dapur.


Yang empunya nama pun segera berlari kecil menuju ke ruang tamu utama.


"Assalamu'alaikum," ucap sang tamu.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab bi Mimin.


*Waduh, ganteng tenan. Siapa yo, apa pacar Non Fatim?*


"Maaf, aden siapa? Dan mau bertemu siapa?" tanya bi Mimin lagi.


"Kenalkan saya Haris, mau bertemu bu Nadya. Apa. Beliau ada?" tanya Haris sopan, ia tidak mau mengatakan langsung niatnya untuk bertemu Fatim.


*Kok cari bu Nadya. Apa pacar bu Nadya, yo? Sejak kapan tapi bu Nadya suka brondong? Aku kok bingung ini.*


"Bi!" sapa Haris.


"Eh iya, ada kok orangnya. Mari silahkan masuk." Membuka pintu dengan lebar.

__ADS_1


"Silahkan duduk dulu ya, saya panggilakan bu Nadya nya." Berlalu meninggalkan dokter Haris sendiri di ruang tamu, menuju keruang dapur.


"Bu!" sapa Mimin.


"Siapa, Min?" tanya Nadya sambil mengeringkan tangannya karena sudah selesai mencuci piringnya.


"Anu, Bu. Calonnya ibu," ucap Mimin sambil senyam senyum.


"Apa?!!! Calon Mama?!!" ucap Fatim terkejut.


"Kamu yang benar saja, Min. Aku belum berniat mau menggantikan mas Bram di hatiku," ucap Nadya dengan raut wajah yang sedikit kesal.


"Maaf, Bu. Saya nggak maksud membuat ibu marah, soalnya lelaki tampan itu mencari ibu," ucap Mimin sambil menunduk. Ia menyesal telah mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan Nadya.


"Emang tamunya siapa?" tanya Nadya lagi.


"Namanya Haris," ucap bi Mimin masih tertunduk.


"Ohhh, dokter Haris! Itu bukan calon saya Bi Mimin, tapi calon Fatim," canda Nadya.


Fatim yang menganggap serius ucapan mamanya, berpikir kalau dokter Haris lah yang di jodohkan dengan dirinya.


*Hmmm ternyata dokter itu, pantesan aja selalu caper saat ngurusin gue di rumah sakit, ganteng sih, baik juga tapi ... kenapa fill gue nggak suka ya? Bagaimana pun gue harus belajar menyukinya. Apa pun itu pilihan mama gue, mau suka atau nggak. Gue akan berusaha untuk nyenengin mama.*


"Kamu kok bengong sih, Sayang! Siap-siap gih. Temuin dokter Haris. Kasihan dia udah jauh-jauh bela-bela in datang bertamu kerumah kita." Nadya segera mengajak Fatim untuk bersiap.


Meski malas, Fatim menuruti permintaan mamanya. Ia segera merapikam pakainnya.


"Nggak nganti baju?" tanya Nadya.


"Nggak usah, Ma. Ini juga bagus kok. Yang penting itu tidak ketat dan menutup aurat," ucap Fatim.


"Ya sudah, yuk kita temuin dokter Haris.


Nadya menggandeng tangan putrinya menuju ke ruang tamu. Dan benar saja. Dokter Haris sudah duduk manis di kursi tamu. Dengan kemeja hijau daun polos di padu dengan celana jeans hitam, dengan dasi yang senada membuat aura ketampanannya terpancar. Tapi itu tidak membuat hati seorang Fatim bergetar.


"Nggak lama kok Bu, aku baru saja tiba. Nih oleh-oleh buat dek Fatim." Menyerahkan parsel berisikan coklat semua.


Meski pun suka, tapi mata Fatim tampak tidak berbinar, hatinya sedih. Entah apa yang terjadi pada hatinya. Ia sendiri bingung. Meski berusaha untuk bahagia tetapi hasilnya tetap sama. Hatinya seolah tergores, ada rasa nyeri saat membayangkan kalau nanti ia akan hidup bersama dengan orang yang saat ini ada di hadapannya.


"Sayang, kamu kok melamun? Di terima dong oleh-oleh nya," ucap Nadya.


"Eh iya, maaf." Fatim menerima pasel yang di bawa oleh dokter Haris.


Tak lama kemudian bi Ijah datang membawa baki berisi minuman dan camilan.


"Silahkan, Den Dokter!" Bi Ijah mempersilahkan dokter Haris untuk minum.


"Terimakasih, Bi. Pada hal nggak usah repot-repot begini. Saya cuma mampir sebentar aja kok," ucap dokter Haris berbasa basi.


"Nggak apa-apa kok, Dok. Ayo silahkan!" Nadya juga ikut berbasa basi.


"Maaf, Ma-Pak Dokter! Saya permisi ke dalam dulu, sepertinya tadi saya melupakan sesuatu di meja makan." Fatim segera beranjak dari duduknya. Nadya sangat mengerti dengan maksud putrinya, makanya ia membiarkan Fatim pergi.


Setelah Fatim pergi dokter Haris melanjutkan untuk mengobrol dengan Nadya.


"Maaf sesebelumnya, Bu. Apa saya boleh menanyakan sesuatu yang privasi tentang Fatim?" Dokter Haris diam sebentar menunggu jawaban Nadya.


"Iya, boleh. Doktet mau tanya tentang apa?" Nadya tersenyum.


"Apa dek Fatim sudah punya pacar?" tanya dokter Haris sambil tersenyum.


"Kalau pacar, Fatim belum punya tetapi calon suami sudah. Namun semua kami pasrahkan pada Allah. Semoga mereka berjodoh," ucap Nadya.


Wajah dokter Haris tampak kecewa namun ia sangat pandai memyimpan rasa.


"Oh dek Fatim sudah di jodohkan ya? Sayang sekali aku terlambat. Tapi tidak apa lah, aku tidak bisa menjadi calon suaminya tapi apa boleh aku meminta dek Fatim untuk menjadi adik perempuanku?" tanya dokter Haris.

__ADS_1


Nadya tersenyum dalam benaknya ia sangat bangga dengan kebesaran jiwa dokter Haris.


bersambung.....🌹


Terimakasih sudah membaca!


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa


Mengejar Cinta Ariel


Tabib Cantik Bulan Purnama


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


Ceo dingin dan Gadis Kampung


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


* Karlina Sulaiman


Ceo Somplak


*Laura V


Sang Pengoda


*Bintun Arief


Keteguhan Hati


*Novi Wu


Bos Come Here Please!


*Ricky Wijaksono


Api Dibumi Majapahit


*Samar


Cinta Di antara Dendam


* Sylala Yaya


Istri kedua tuan Krisna


* Cherin Kauma


l Love My Army Wife


*Oktavia Tresiani

__ADS_1


Pacarku Hantu


__ADS_2