
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
SMA Unggulan ...
*Yaa Allah, gadis itu? Benarkah dia bidadari tak bersayapku? Benarkah itu Fatim? Kenapa jantungku berdetak kuat sekali? Bagaimana jika dia tahu aku pindah kemari? Apa yang akan dia katakan? Yaa Allah terlalu banyak pertanyaan yang memenuhi rongga hatiku. Fatim akhirnya aku bisa mengenalmu lebih dekat, tapi perjodohan itu? Yaa Allah ....*
Abas merasa khawatir saat akan bertemu Fatim, sehingga saat kedua sahabat itu semakin mendekati mushala Abas memutuskan untuk mengajak Hanafi masuk ke dalam mushala.
"Fi! Kita masuk yuk! Sebentar lagi masuk waktu zuhur, mending kita baca Qur'an saja, ya?" Abas mengajak Hanafi masuk ke mushala karena sebenarnya ia sedikit ragu untuk bertemu Fatim.
Akhirnya Hanafi mengiyakan ajakan Abas karena memang sudah mendekati waktu salat zuhur.
Fatim dan Yati pun melewati mushala dan berlalu menuju warung depan sekolah mereka, untuk makan siang bersama.
"Fren, nanti kita salat zuhur bareng ya sehabis makan nanti," Fatim menepuk pundak sahabatnya.
"Ehmm maaf Fren, gue lagi nggak salat. Tamu bulanan gue baru datang tadi malem." Yati nyengir kuda melihat sahabatnya.
"Yaaa, gue salat sendiri dong." Fatim memasang wajah sedih.
"Maaf ya!" Yati ikutan sedih melihat sahabatnya bersedih.
"Nggak apa-apa lagi, Fren. Itu sudah kodratullah kita sebagai perempuan kali." Fatim tersenyum tulus pada sahabatnya.
Tak terasa keduanya sudah sampai warung langganan baru mereka, dan segeralah keduanya memesan menu makanan kesukaan masing-masing. Fatim memesan nasi soto ayam sedangkan Yati memesan bakso mercon kesukaannya.
Tak menunggu lama pesanan mereka sudah datang, karena hari ini orang-orang kantor yang biasa makan di warung ini pada belum datang. Tanpa menunggu keduanya langsung mengeksekusi makanan yang telah terhidang di depan mata dengan lahap.
Sedang melahap makanannya tiba-tiba keduanya berhenti sejenak, karena keduanya mendengar lantunan suara azan yang sangat merdu. Dan ini pertama kalinya ada lantunan suara azan yang sangat merdu dari SMA Unggulan. Biasanya hanya suara cempreng sang guru agama yang terkesan dicuekin oleh anak-anak penghuni sekolah SMA Unggulan.
Biasanya hanya seperempat anak saja yang salat zuhur ke mushala, itu pun hanya beberapa yang ikut berjama'ah termasuk Fatim. Sejak bersekolah di sini, ia hampir tidak pernah absen untuk salat berjama'ah kecuali sedang berhalangan.
Tak terasa air mata Fatim menetes mendengar merdunya lantunan azan dari mushala sekolahnya.
"Fren! Gue tinggal dulu ya. Sudah waktu zuhur." Fatim tersenyum pada sahabatnya sambil menyeka air mata harunya.
"Loe nggak apa-apa kan? Apa ada yang sakit, Kok loe nangis?" Yati merasa khawatir terhadap sahabat kesayangannya.
"Gue nggak apa-apa kok, hanya tiba-tiba gue pengen nangis aja dengerin tuh suara azan, perasaan sangat menyentuh kalbu." Fatim tersenyum pada sahabatnya.
"Syukurlah kalau begitu, gue jadi tenang. Nggak khawatir takut loe sakit." Yati tersenyum manis.
"Ya udah, gue cabut ya." Fatim beranjak dari duduknya dan berjalan tergesa menuju mushala.
Tenyata bukan hanya Fatim yang terkejut mendengar merduanya suara azan kali ini. Satu sekolahan pun ikut terheran-heran. Pasalnya sekolah SMA Unggulan selalu unggul dalam segala hal kecuali bidang keagamaan. Guru agama mereka sangat merasa terlupakan dan sedih, semua anak-anak SMA Unggulan tidak ada yang mau berkecimpung dan repot dalam hal keagamaan.
"Alhamdulillah yaa Allah, akhirnya penantianku selama puluhan tahun di sini terwujud. Aku bisa mendengar azan yang sangat merdu dari siswaku." Pak Amrul merasa sangat bahagia. Beliau adalah guru agama di sekolah SMA Unggulan yang seperti terlupakan, karena hanya pada bidang agama ini lah sesuatu yang tidak pernah menonjol dari SMA Unggulan selama bertahun-tahun.
Dengan cepat pak Amrul berjalan menuju mushala, ia sangat ingin bertemu siswa yang bisa melantunkan azan semerdu hari ini. Banyak anak-anak lain yang juga penasaran, namun mereka bukan mau ikut salat melainkan hanya ingin tahu saja.
Fatim juga telah sampai di mushala, ia segera berwudu di area khusus perempuan, dan setelah selesai segera masuk ke mushala. Fatim sangat tercenggang dari sekian banyak anak lelaki dan perempuan yang berjubel di luar, hanya lima orang saja yang ikut salat berjama'ah.
*Huh masih saja sama, kira in kali ini bakalan ramai, batin Fatim.*
__ADS_1
Shalat zuhur berjama'ah pun segera di mulai. Tidak butuh waktu lama salatpun selesai. Semua sudah keluar, dan pak Amrul meminta Abas dan Hanafi untuk tinggal.
"Kalian tolong tinggal dulu ya, bapak mau ngobrol sebentar," ucap pak Amrul.
Abas dan Hanafi tersenyum dan mengangguk. Kemudian keduanya duduk disamping pintu keluar tempat salat perempuan, karena mereka pikir tidak ada lagi siswa yang tertinggal sambil menunggu pak Amrul.
"Bas! Aku ke toilet bentar ya, kebelet buang air kecil," ucap Hanafi pada sahabatnya.
"Iya, jangan lama-lama ya. Nggak enak sama pak guru," jawab Abas seraya tersenyum.
"Oke!" Hanafi berlari kecil menuju ke toilet.
Sedang asyik menunggu pak Amrul, Abas yang semua duduk kini berdiri tepat di depan pintu kamar salat perempuan, tiba-tiba seseorang yang keluar dari pintu perempuan menabraknya.
Brakkk!
Dengan reflek Fatim menangkap tubuh seseorang yang hampir jatuh karena ditabraknya.
"Astagfirullah haladzim, maaf-maaf. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Fatim panik.
Begitu juga dengan Abas, mendengar suara Fatim jantungnya seolah berhenti berdetak.
*Yaa Allah, suara ini. Bagaimana ini, apa yang harus aku bicarakan padanya.*
Fatim masih memegang tangan lelaki itu, dan masih bertanya karena khawatir. Abaspun segera berdiri dan menarik tangannya yang dipegang oleh Fatim, namun ia masih menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
"Maaf, apa loe ada yang merasa sakit? Gue nggak sengaja nabrak loe, habisnya loe kok berdiri di depan pintu sih? Kayak nggak ada tempat lain aja. Eh loe dengar nggak sih?" tanya Fatim sedikit kesal karena dicuekin.
"Kenapa loe diem? Apa loe nggak bisa ngomong? Hei ... haloo! Ihhh loe bikin gue gemes aja, Loe denger nggak sih? Gue udah minta maaf tapi kok kamu nggak jawab? Ya udah kalau nggak mau jawab terserah loe aja, yang penting gue udah minta maaf. Gue permisi, assalamu'alaikum!" Fatim hendak berlalu menuju keluar mushala.
"Fatimmmmm! Tunggu!" pak Amrul memanggilnya.
Fatim segera berhenti dan berbalik."Kenapa Pak?" Fatim memasang senyum indahnya.
"Kamu jangan pergi dulu, bapak mau kamu kenalan dengan andalan baru yang bapak pilih untuk berjuang bersama kita memajukan kegiatan keagamaan di sekolah ini." Pak Amrul berjalan mendekat.
"Oh ya, siapa pak. Alhamdulillah Akhirnya kita punya pasukan tambahan." Fatim tampak gembira.
"Sini!" Pak Amrul menarik tas Fatim agar mengikutinya.
Fatim merasa kaget karena pak Amrul mengajaknya untuk bertemu anak lelaki yang tadi ditabraknya namun sekarang mereka berdua. Mereka semakin dekat dan dada Fatim mulai berdesir melihat sosok didepannya.
*Yaa Allah, anak lelaki ini? Kenapa postur tubuhnya mirip Abas, tapi rambutnya berbeda. Apa dia Abas? Tapi tidak mungkin lah secara kan dia anak pondok!*
Hayoooo gimana reaksi keduanya saat benar-benar bertemu? Penasarankan yuk kepo in di next episode!
Bersambung.....🌹
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
__ADS_1
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
Ceo dingin dan Gadis Kampung
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Ceo Somplak
*Laura V
Sang Pengoda
*Bintun Arief
Keteguhan Hati
*Novi Wu
Bos Come Here Please!
*Ricky Wijaksono
Api Dibumi Majapahit
*Samar
Cinta Di antara Dendam
* Syala Yaya
Istri kedua tuan Krisna
* Cherin Kauma
l Love My Army Wife
*Oktavia Tresiani
__ADS_1
Pacarku Hantu