Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
YOGYAKARTA 2


__ADS_3

🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. Selamat Membaca🌻


🌻Rumah Sakit 🌻


Air mata mengalir dari sudut mata Bram yang terpejam, entah apa yang dia alami saat ini, namun tubuhnya bereaksi sangat baik.


"Alhamdulillah masa kritis pasien baru saja lewat," ucap dokter.


Semua mengucapkan syukur terlebih Fatim, hatinya sangat hancur melihat lelaki kurus dengan sedikit uban yang telah memutih dikepalanya, terbaring tak berdaya di bed rumah sakit. Ingin rasanya ia memeluk lelaki itu dan berharap lelaki itu segera membuka matanya.


Kini tim medis sedang melepaskan beberapa alat yang tadinya menempel ditubuh Bram, dan segera memasang selang oksigen dihidungnya agar ia dapat bernafas normal.


"Ibu ... sekarang kondisi pasien sudah mulai stabil, namun jika terjadi sesuatu atau butuh sesuatu kalian tinggal tekan bell yang ada didinding tepatnya diatas kepala pasien," ucap dokter.


"Iya Dok, terimakasih banyak," ucap Nadya tersenyum.


"Kami permisi dulu," pamit dokter.


"Silahkan." Mengantarkan tim medis keluar kamar Bram.


Setelah kepergian tim medis, Nadya segera mendekati Bram dan duduk dikursi disamping tempat tidurnya. Begitu juga dengan Fatim ia segera ikut duduk diujung kaki Bram dan mulai memijiti kakinya, ada rasa aneh yang menyeruak saat menyentuh kaki lelaki itu.


Pram pun mendekat dan berdiri diujung ranjang Bram.


"Dek !" Menyentuh kaki Bram yang satu lagi, karena kaki yang satu sedang dipijit Fatim.


"Aku datang, aku telah menepati janjiku untuk membawa anak dan istrimu, bukalah matamu Dek," ucap Pram dengan hidung yang sudah memerah karena menahan tangisnya.


Namun tidak ada reaksi tubuh yang Bram tampakkan, hanya ada rembesan air mata yang keluar dari sudut matanya. Kata dokter kondisi pasca kritis biasa seperti ini, dikarenakan pasukan oksigen ke otak pasien berkurang sehingga pasien bisa mendengar tetapi belum bisa merespon.


Mendengar Om Pram bicara membuat buliran kristal bening mengalir disudut mata Fatim, ia terharu karena akhirnya ia memiliki seorang ayah meski masih terbaring dan belum bisa memeluknya.


"Mas ... maafkanlah aku yang baru datang menemuimu hari ini, belasan tahun aku lewati dengan keegoisanku, belasan tahun aku mengabaikanmu, tak terhitung dosa yang telah secara tak sengaja aku gores dalam takdirku, kini aku datang memohon maaf dan ridhomu, Mas bukalah matamu, lihatlah aku, aku masih seperti yang dulu, aku masih menjaga hati dan cintaku untukmu, tempatmu masih sangat luas dihatiku, tak ada seorangpun yang aku izinkan untuk menempatinya selain dirimu, mas ...." Menyentuh tangan Bram dan menangis karena tak lagi sanggup meneruskan ucapannya.


Fatim bangkit dari duduknya dan memeluk Nadya dengan erat untuk menguatkan Mamanya yang terlihat sangat rapuh saat ini.


"Ma ... yang sabar ya, Fatim juga sangat menyanyangi Mama dan Papa, namun saat ini kita hanya bisa berdoa buat Papa semoga beliau segera siuman dan bisa kembali berkumpul bersama kita." Mengusap air mata Nadya.


Keduanya saling merangkul untuk saling menguatkan dalam menghadapi kenyataan saat ini.


"Nad ... Fatim ... Om izin pulang dulu ya, nanti Om kembali lagi kesini dengan membawa anak dan istri Om, sekalian nanti membawa makanan untuk kalian, ini nomor ponsel Om, siapa tahu nanti kalian membutuhkannya." Menyodorkan selembar kertas berisi nomor ponselnya.


"Terimakasih Kang Mas, sebaiknya minta Pak Mamat saja untuk mengantarmu biar lebih cepat sampai." Mengambil selembar kertas tersebut.


"Baiklah terimakasih, dan sekali lagi maafkanlah aku dengan semua kesalahanku." Menagkupkan kedua tangannya didepan dada.


"Sudahlah Kang, aku sudah memaafkan dan mengikhlaskan semuanya, mari kita buka lembaran yang baru," ucap Nadya yang mulai bisa mengontrol dirinya.


"Terimakasih Nadya ... Fatim ... kalian sungguh berhati mulia, aku merasa bangga atasnya." Berjalan menuju pintu keluar kamar Bram.


Kini Pram telah meninggalkan rumah sakit bersama Mamat menuju kerumahnya.


Sementara Fatim segera memesan gofood untuk dirinya dan Nadya juga Momon yang masih stay dirumah sakit bersama mereka.


Selagi menunggu makannya Fatim duduk diluar kamar Bram yang tampak asri dengan bunga - bunga kecil aneka warna bermekaran membuat hati Fatim sedikit terhibur. Sedang menikmati keindahan taman bunga tersebut posel Fatim berdering.


Mulia indah cantik berseri


kulit putih bersih merahnya pipimu


Dia Aisyah putri Abu Bakar


Istri Rosulullah ....


"Halo Assalamualaikum," ucap Fatim.


"Waalaikumussalam Fren," jawab Yati.


"Maaf ya Fren gue belum sempet nelpon loe, alhamdulillah gue udah sampai nih."


"Loe gitu deh tegaan sama gue yang udah kering garing kayak ikan asin nungguin kabar loe," sunggut Yati kesal.

__ADS_1


"Iya deh maaf gue salah, soalnya pas datang Bokap gue lagi kritis."


"Eh gitu ya ... hemmm gue juga minta maaf ya, nggak bisa nemenin loe disana."


"Nggak apa - apa kok Fren gue ngerti, gimana ibu loe udah sehatkah?"


"Alhamdulillah ibu dah sehat, nih gue lagi nemenin ibu metikin daun singkong tetangga baru gue buat lauk ntar sore."


"wah enak tuh, gue jadi rindu masakan daun singkong ibu loe."


"Nanti gue paketin ya, tapi aromanya doang," ucap Yati sambil tertawa.


Fatimpun ikut tertawa perasaannya sedikit terhibur setiap kali berbicara dengan Yati yang kadang tingkahnya lucu.


"Fren ... fakultatif kita tinggal besok ya, loe bagaimana? Mau absen sekolah?"


"Belum tahu gue Yat, semoga aja kondisi bokap gue cepat membaik jadi nanti kami bisa balik ke Jakarta secepatnya."


"Aamiin ya Allah, loe yang sabar ya, terus berdoa karena doa anak yang sholehah akan makbul kata ibu gue."


"Inshaa Allah, makasih ya Fren maaf nih telepon gue tutup ya soalnya pesanan gofood gue udah datang nih, mau ngajakin Mama makan dulu."


"Iya nggak apa - apa, salam buat Tante ya, Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Fatim segera mengambil pesananya dan membayarnya, kemudian segera masuk kedalam kamar Papanya untuk mengajak Nadya dan Momon makan.


"Ma ... Pak Mon ... kita makan dulu ya."


"Sayang ... Mama belum lapar kalian saja yang makan ya."


"Tapi Bu ...." Momon tak melanjutkan ucapannya karena Nadya mengisyaratkannya untuk diam.


"Mama sayang ... Mama harus makan biar sedikit, kasihan Papa nanti kalau siuman melihat wajah Mama yang pucat dan lemas, lagian kalau Mama lemas siapa yang akan merawat Papa nanti."


"Tapi sayang Mama belum lapar."


Nadya makan dengan disupai Fatim, air matanya mengalir ia teringat saat awal kehamilan Fatim dengan telaten Bram menyuapinya makan nasi, persis seperti yang Fatim lakukan saat ini.


*Ya Allah Mas Bram, sifatmu sangat menurun pada putri kita Fatim, kejujuran, kebaikan, kepedulian,dan kasih sayangnya semua milikmu ada padanya, makanya aku tak pernah melupakanmu, setiap melihat putri kita aku seolah melihatmu juga, cepatlah buka matamu lihatlah putri kita yang cantik dan sholehah,batin Nadya.*


"Ma ... kok nangis sih, jangan sedih terus nanti Fatim juga ikut mewek ini," ucap Fatim sambil menghapus air mata Nadya.


"Terimakasih sayang, atas semuanya." Memeluk Fatim.


Saat sedang berpelukan itulah tiba - tiba mata Bram perlahan terbuka.


"Ma ... lihat." Menunjuk ke arah Bram.


"Subhanaallah Mas." Berdiri dan berjalan mendekati Bram.


Dengan cepat Nadya menekan bell untuk memanggil dokter. Tak perlu lama tim dokterpun tiba.


"Dok suami saya sudah membuka matanya."


"Baik Bu, kamu periksa dulu ya."


Dokter segera memeriksa kondisi Bram saat ini.


"Alhamdulillah Bu, kondisi pasien stabil dan pulih lebih cepat dari perkiraan kami yang seharusnya pasien akan sadar dalam waktu tiga hari paling cepat."


"Dok ... ehmm apa boleh pasien kami pindahkan kerumah sakit di Jakarta, karena kami tinggal disana," ucap Nadya.


"Kalau kondisi pasien tetap stabil, bisa kok Bu, nanti kita pantau dulu kesehatan beliau hari ini."


"Terimakasih Dok."


"Sama - sama Bu, kami permisi." Berlalu keluar kamar.


Perlahan Nadya mendekati suaminya. Tak ada kata yang terucap diantara keduanya hanya saling tatap dengan penuh kerinduan diantara keduanya.

__ADS_1


Nadya menggenggam tangan Bram, air mata telah mengalir disudut mata keduanya, batin mereka yang saling bicara lewat tatapan mata.


Fatim juga tak kuasa menahan tangisnya, dan ia sangat mengerti kondisi kedua orangtuanya, ia segera keluar kamar untuk memberikan ruang dan waktu untuk kedua orangtuanya menumpahkan rasa yang telah 16 tahun terpendam dalam jiwanya masing - masing.


"Mas ... maafkanlah aku, izinkan aku memelukmu Mas."


Perlahan tangan Bram terangkat, dia merentangkan tangannya seolah meminta Nadya untuk segera memeluknya. Dengan segera Nadya meraih tangan suaminya dan segera mendekap suaminya.


Kedua mata Nadya terpejam, seolah melepaskan kerinduan yang selama ini ia simpan, ia mendekap erat suaminya, seolah tak ingin lagi terpisah.


"Maafkanlah aku."


"Maafkanlah aku."


"Dosaku terlalu besar terhadapmu Mas."


Meski belum bisa mengeluarkan suara tetapi anggukan kepala dan pelukan yang Bram berikan telah cukup bagi Nadya untuk merasakan ketulusan suaminya.


Setelah dirasa cukup perlahan Nadya melepaskan pelukkannya.


"Mas ... aku akan membawamu pulang ke Jakarta, apa Mas mau?"


"Biarkan aku merawatmu Mas, setelah hasil lab mu keluar baru lah nanti kita akan tahu kamu harus aku bawa kerumah sakit mana."


Dengan telaten Nadya merawat Bram yang baru saja siuman, ia menggantikan bajunya, membersihkan tubuh suaminya yang sangat kurus, tanpa rasa jijik sedikit pun.


Fatim melihat kesetiaan dan ketelatenan ibunya dalam merawat Papanya, membuat Fatim tersenyum bahagia, ia membayangkan nanti kehidupannya akan sempurna dengan kehadiran sosok Papa dalam hidupnya. Sedari kecil ia mengiginkan sosok lelaki yang akan dia sapa setiap pagi dan sekarang Allah telah mengabulkannya.


"Terimakasih ya Allah untuk semua ini, ampunilah kami jika terkadang kami lalai untuk bersyukur padamu dalam keadaan sulit ataupun senang," ucap Fatim tersenyum.


Bersambung.....


Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Nyanyian Takdir Aisyah.


dan karya apik author yang lain :


* Fit Fithree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


* Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


* Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


My Heart Is Only For You


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Sudrun


Penjelah Malam


Samudra


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


*Sisca Nasty


Mafia In Love

__ADS_1


__ADS_2