
🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. Selamat Membaca.🌻
#Masih dirumah sakit#
"Ya Allah selamatkanlah bidadari syurgaku," ucap Abas hampir tak terdengar oleh siapapun, dan segera melaju membelah keheningan malam menuju Bandung.
Sementara mobil ambulan yang membawa Fatim dan Nadya telah melaju kearah yang berlawanan dengan mobil Abas menuju kerumah sakit Pelita Harapan.
# Rumah Sakit#
Selama menuju kerumah sakit, Nadya merasa perjalanan kali ini sangat lama, tak jarang beberapa kali ia meminta sopir ambulance untuk lebih cepat.
"Pak tolong lebih cepat, kasihan putriku." Memegang tangan Fatim yang dingin.
"Iya Bu, ini mobil kita juga sudah cepat kok, Ibu yang sabar ya, takutnya nanti kalau lebih cepat dari ini kita akan kenapa-napa," ucap salah satu team medis yang mendampingi didalam ambulance.
Nadya terdiam, ia segera beristiqfar, karena ketidak sabaran ia menjadi egois, hanya mementingkan keselamatan putrinya tanpa memikirkan keselamatan orang lain.
"Iya, maafkan ibu ya, ini semata-mata karena ibu terlalu khawatir pada putri ibu yang sedang tak berdaya ini." Mengusap wajah Fatim yang sangat pucat dan dingin.
"Iya Bu, semoga dek Fatim bisa bertahan," ucap perawat.
Kini mobil mereka sudah memasuki halaman rumah sakit, di IGD tim medis yang bertugas sudau siap, karena memang sudah ditelepon sejak diperjalanan.
Setelah mobil berhenti didepan IDG dengan cepat para petugas memindahkan tubuh Fatim ke atas brankar, dan segera mendorongnya kedalam ruangan pemeriksaan.
Setelah diperiksa secara detil, dokter jaga segera menelpon dokter bedah, dokter tulang, dan ahli syaraf.
"Bagimana kondisi pasien?" tanya dokter bedah.
"Sangat parah Dok, lukanya cukup dalam, dan pasien kehabisan banyak darah," ucap dokter jaga.
"Oke siapkan darah secepatnya, kita tangani dulu yang itu, kalau darah siap, kita segera operasi dan periksa secara detil," ucap dokter bedah lagi.
"Siap Dok."
"Oke kami segera meluncur." Menutup telepon.
Dengan cepat dokter jaga menyuruh perawat untuk mengecek stok darah O yang dibutuhkan Fatim.
"Bagaimana sus, darah siap?"
"Maaf Dok, stok darah O kita tinggal 3 kantong."
"Waduh, kita butuhnya 10 kantong untuk tahap pertama ini, cepat hubungi keluarganya, agar bisa membantu kita mencukupi kekurangan darah ini," ucap dokter jaga.
"Baik Dok, saya permisi." Keluar ruang IGD.
Perawat itu berjalan menuju kearah Nadya. Bersamaan dengan datangnya rombongan Jefry. Namun Nadya belum menyadari kehadiaran mereka.
"Keluarga Fatim!" seru perawat.
"Iya saya Sus." Berjalan mendekat.
"Begini Bu, kondisi anak ibu agak serius, kemungkinan saat ini sedang memasuki masa kritis karena kehabisan banyak darah, untuk itu kami membutuhkan 7 kantong darah O segar, karena yang 3 kantong sudah ada dirumah sakit ini, hanya saja stok kami tinggal 3 itu," ucap suster serius.
"Iya Sus, saya akan usahakan secepatnya." Tersenyum kecut.
"Kalau sudah cukup kita akan segera melakukan operasi Bu," ucap suster lagi.
"Iya Sus, saya mengerti, pokoknya lakukanlah yang terbaik untuk putriku." Menyeka air matanya.
Suster segera berlalu meninggalkan Nadya yang tampak kalut. Melihat semuanya, Jefry segera mendekat.
"Assalamualaikum, Bu!" sapa Jefry.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, Nak Jef!" Terkejut melihat Jefry.
"Ibu nggak usah khawatir, tuh lihat aku sudah menghubungi beberapa teman, dan mereka semua hadir untuk mendonorkan darahnya pada Dek Fatim." Menunjuk kearah Rombongan belasan orang laki-laki yang gagah dan tampak berwibawa.
"Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah menjawab semua kegundahan hatiku," ucap Nadya terharu.
"Ayo Nak Jef, ajak mereka semua untuk tes keruangan sana." Menunjuk sebuah ruangan bernuansa putih yang tampak terpisah dari ruangan lainnya.
Mereka semua berjalan menuju keruangan tranfusi darah, untuk mengecek kecocokan darah pendonor dengan darah pasien.
Para tim medis pun segera keluar melihat banyaknya kerumunan orang
"Maaf ini ada apa ya ramai-ramai?" tanya perawat jaga di unit transfusi.
__ADS_1
"Mereka semua ini mau donor darah untuk pasien yang bernama Fatim," ucap Jefry tersenyum.
"Ooh Subhanaallah banyak sekali, tapi harus antri ya sekali masuk boleh tiga orang dulu," ucap perawat pun ikut tersenyum.
Selagi semua antri untuk donor darah, Nadya mendekati Jefry.
"Nak Jef, apa ibu boleh bertanya?"
"Iya Bu, tentu saja boleh, ibu mau tanya apa?"
"Tapi maaf sebelumnya kalau nanti pertanyaan ibu akan membuat Nak Jef tersinggung." Tersenyum ketir.
"Iya Bu, nggak apa-apa kok, tanya aja," ucap Jefry penasaran.
"Begini, apa yang donor buat Fatim itu bukan para peminum khamar kan?" Menatap Jef ragu.
Mendengar pertanyaan Nadya tentu saja membuat Jefry tersenyum, dan iapun maklum, karena seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
"Ibu nggak usah khawatir, mereka semua orang-orang masjid, aku sengaja memilih mereka yang taat beribadah pada Gusti Allah Bu," ucap Jefry.
"Alhamdulillah kalau begitu Nak, ibu benar-benar sangat bersyukur pada Allah, dan berterimakasih banyak pada Nak Jef atas bantuannya," Menatap Jefry dengan senyumannya.
"Yang kami lakukan hari ini bukanlah apa-apa Bu, jika dibandingkan dengan yang telah Dek Fatim lakukan pada kami selama ini," ucap Jefry.
"Dan perlu ibu tahu, bahwa malam ini semua anak panti, anak jalanan yang sering disantuni Dek Fatim, teman-teman preman yang ada dibahwa pimpinan saya, dan juga orang-orang masid, sekarang sedang berkumpul dimasjid untuk sholat hajad, memohon kesembuhan dan keselamatan untuk Dek Fatim," ucap Jefry yang juga telah menitikkan air mata haru.
Nadya yang mendengar semua itu kembali meneteskan air mata, ia tak kuasa menahan rasa haru yang menyeruak dalam hatinya.
"Subhanallah, walhamdulillah, walaillaha illaullah waullahu akbar, terimakasih ya Allah atas segala kasih sayangMu untuk putriku," ucap Nadya menyeka air matanya.
Sementara itu...
Dari hasil yang di tes semua sampel darah cocok sehingga Fatim akan dapat dioperasi secepatnya. Dengan cepat perawat diunit transfusi menghubungi dokter jaga.
"Malam Dok, semua darah sudah siap."
"Alhamdulillah, sekarang pasien akan segera kami bawa keruang operasi."
"Baik Dok."
Menutup telepon dan menghampiri Nadya.
"Iya Sus, lakukanlah yang terbaik untuk putriku," ucap Nadya sedih bercampur haru.
"Inshaa Allah Bu, doakan saja keselamatan dan kelancaran segalanya," ucap suster sambil berlalu menuju ruang operasi.
#Ruang Operasi#
Kini Fatim telah dibawa menuju ruang operasi, dan didepan ruang operasi tampak Nadya yang sedang gelisah.
"Bu sebaiknya Ibu duduk saja biar lebih tenang," ucap Jefry.
"Iya, tapi ibu sangat takut," ucap Nadya.
Sedang berbicara dengan Jefry rombongan dari My Cafe sudah datang semua.
"Tan, bagaimana Fatim?" tanya Wawan.
"Fatim sedang didalam, operasinya sudah dimulai," ucap Nadya semakin gelisah.
"Apa tante sudah menghubungi Yati, temannya Fatim?"
"Belum, tante panik jadi nggak ngabarin siapa-siapa."
"Ya sudah, biar Wawan aja yang telepon." Merogoh celananya mengambil Hp.
"Tut ... tut ...."
Berulang kali Wawan menelpon tapi belum diangkat juga sama Yati.
"Angkat dong Yat, loe udah tidur kali ya," gumam Wawan.
Setelah belasan kali menelpon akhirnya diangkat juga.
"Halo, siapa nih, kenapa malam-malam telepon," ucap Yati serak karena memang sudah tidur.
"Yat, ini gue Kak Wawan, Fatim Yat."
Mendengar nama Fatim dengan cepat Yati bangun dari rebahannya, dan segera duduk ditepi ranjangnya.
__ADS_1
"Halo Kak Fatim kenapa? dia baik-baik aja kan? Fatim nggak meninggalkan? Kak, Halo?"
"Yati, loe mendingan cuci muka dulu deh biar nyambung," ucap Wawan kesal.
"Iya Kak, tunggu." Berlari menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.
"Halo Kak, ini gue udah cuci muka," ucap Yati tanpa beban.
"Pulang dari rumah loe, Fatim kecelakaan Yat, kondisinya kritis, sekarang sedang operasi, dirumah sakit Pelita Harapan," jelas Wawan.
Mendengar penjelasan Wawan Yati segera berteriak histeris, dan terduduk dilantai.
"Fatimmmmmm! loe harus kuat, loe nggak boleh ninggalin gue, cuma loe sahabat yang gue punya. Gue akan berkorban untuk loe Fatim, meskipun nyawa gue taruhannya, tapi loe harus hidup Fren," ucap Yati dengan air mata yang tak terbendung.
"Fatimmmmmm!" teriak Yati histeris karena kesedihannya yang membeludak sambil memeluk kedua lututnya.
Mendengar teriakan putrinya kedua orangtua Yati terbangun, dan segera berlari kekamar putrinya.
"Kamu kenapa ndok?" tanya ibu Yati.
"Fatim Bu, Fatim kecelakaan sewaktu pulang dari sini," ucap Yati terisak.
"Yo wes, sekarang kamu siap-siap, kita kerumah sakit sekarang," ucap Ayah Yati.
Dengan cepat Yati bersiap untuk berangkat kerumah sakit. Keluarga Yati berangkat dengan motor yang biasa dipakai ayahnya untuk bekerja, mereka berbonceng tiga karena ayah Yati tidak mau membuat rusuh tetangganya.
Disepanjang jalan menuju rumah sakit Yati tak hentinya berdoa agar Fatim dapat diselamatkan.
"Fren kamu harus bertahan untuk aku dan orang-orang yang mencintaimu," gumam Yati.
Ikuti terus kisahnya ya love you readers loversku😍
Bersambung....
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Nyanyian Takdir Aisyah.
dan karya apik author yang lain :
Fit Fithree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Shohibul Ikhsan
Putih Abu Abu
Kembar Tidak Identik
*Sudrun
Samudra
*Ergina Putri
My Heart Only For You
Melawan Rasa Takutku
*Sisca Nasti
Mafia In Love
*Almaira
My Secref Wife
My Love My Babysitter
*Envy Yo WesBen
MY Princes OG
*Cindyelvira
Ketika Muslimah Jatuh Cinta
__ADS_1
Istri Sholehah