Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
INSIDEN


__ADS_3

🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tip kalian buatku, karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin. Selamat Membaca!🌻


#Kamar Perawatan Fatim#


"Fatim ... Mama keluar sebentar ya, nggak apa-apa kan kalau kamu sama Yati dan Wawan lagi?" Menatap putrinya mersa.


"Iya Ma, nggak apa-apa kok, Mama hati-hati ya," ucap Fatim sambil tersenyum.


"Yati ... Wawan kalian nggak usah ke Cafe dulu ya, tante mau titip Fatim," ucap Nadya menatap keduanya.


"Iya Tan, siap!" ucap keduanya.


Nadya pun tersenyum dan segera meninggalkan rumah sakit menuju markas Momon.


Dengan tergesa Nadya segera menuju keparkiran rumah sakit, dan menaiki mobilnya. Perasaan Nadya yang penasaran membuatnya ingin segera sampai ditempat Momon, sehingga tanpa sadar dia telah melewati batas kecepatan normal.


Sehingga hampir saja Nadya menabrak seseorang yang sedang menyeberang jalan, dengan cepat ia segera membanting stir kekiri badan jalan sehingga mobilnya dapat berhenti setelah menabrak pohon.


"Astagfirullah haladzim ya Allah," ucap Nadya yang merasa khilaf.


Lelehan cairan hangat mengalir dari dahinya yang terbentur stir mobil, meski terasa sangat sakit Nadya berusaha tegar. Dengan cepat ia mengambil tisue dan membersihkan darah yang mengalir didahinya.


Tak lama berselang datanglah rombongan orang-orang yang hendak menolongnya. Sebelum mereka sampai Nadya sudah lebih dulu keluar dari mobilnya.


"Nyonya anda baik-baik sajakah?" tanya seseorang lelaki paruh baya yang hampir renta membantu Nadya keluar dari mobilnya.


"Iya Pak, alhamdulillah saya tidak apa-apa, terimakasih," ucap Nadya.


Orang-orang itu membawa Nadya menjauh dari mobil dan menduduknya didekat sebuah pohon.


"Apa Nyonya mau kami bawa kerumah sakit?" tanya seseorang itu lagi.


"Oh tidak usah Pak, terimakasih. Tolong ambilkan tas dan ponsel saya saja didalam mobil itu ya," ucap Nadya.


"Iya Bu." Meninggalkan Nadya menuju mobil.


Hanya sebentar saja lelaki itu kembali membawakan tas dan ponsel Nadya.


"Ini Bu ... tas sama ponselnya." Menyerahkan tas berikut ponsel ketangan Nadya.


"Apa tidak sebaiknya ibu beristirahat dulu digubuk saya, kebetulan saya tinggal didekat sini. Nanti kalau sudah baikan baru ibu pergi," tawar lelaki itu.


Nadya yang memang merasa kepalanya pusing akibat benturan tadi akhirnya mengiyakan penawaran lelaki paru baya yang hampir renta tersebut.


"Baiklah saya numpang istirahat sebentar ya Pak," ucap Nadya.


"Oh iya Bu, mari!" Membantu Nadya berdiri.


Jilbab Nadya telah berbau amis karena basah terkena darah kepalanya yang banyak mengalir, demikian juga dengan baju kesayangannya.


"Alhamdulillah kita sudah sampai Bu, mari silahkan masuk, tapi maaf rumah saya hanya gubuk," ucap lelaki itu.


Nadya tersenyum miris melihat bangunan rumah yang akan dimasukinya. Sebuah pondok yang menggunakan atap daun nipah yang sudah terlihat rapuh, dengan dinding kayu yang ditutupi dengan karung bekas dan kardus agar tidak dingin saat malam.


Dan didalamnya hanya ada dua kursi kayu yang sudah lusuh termakan usia, dan sebuah tempat tidur yang jauh dari kata layak.


"Bu ...."sapa lelaki itu.


"Jadi masuk nggak atau kalau ibu nggak nya ...." ucapan lelaki itu terputus karena Nadya sudah memotongnya.


"Jadi kok Pak, lagian saya sudah biasa berada dirumah seperti ini, dulu saya juga berasal dari rumah seperti ini." Menjabat tangan lelaki paruh baya yang mulai renta tersebut, yang membuat Nadya teringat almarhum ayahnya.


Keduanya melangkahkan kaki masuk kedalam rumah yang seharusnya tak layak disebut dengan rumah.


Nadya duduk dikursi itu dengan hati-hati, karena saat diduduki kursinya sudah berbunyi.


"Kreeeet," bunyi kursi yang diduduki Nadya. Saat hendak berdiri dengan cepat lelaki itu mengurungkannya.


"Enggak apa-apa kok Bu, biarpun berbunyi inshaa Allah nggak akan roboh," ucap lelaki itu.


Kemudian dia segera menyapa seseorang yang tak lain adalah istrinya.


"Bu Ne ... ada tamu ini, tolong bawakan minuman teh manis hangat," ucap lelaki itu.


Tak lama dari balik tirai yang sudah sobek-sobek itu muncullah sosok wanita yang juga sudah mulai renta, dengan membawa secangkir teh hangat yang asapnya masih mengepul. Aroma melati keluar dari kepulan asap tersebut, yang setidaknya dapat membuat pikiran Nadya yang kalut sedikit tenang.


"Ini Nak ... teh nya silahkan diminum mumpung masih hangat," ucap wanita itu tersenyum, masih nampak jelas terlihat sisa-sisa kecantikannya dari kerutan yang mulai terpahat diwajahnya.


"Jangan panggil Nak to Bu Ne, panggil dia ibu," ucap lelaki itu melihat pada istrinya.


"Nggak apa-apa kok Pak, saya lebih nyaman dipanggil nak dari pada ibu," ucap Nadya tersenyum.


Kemudian wanita tua itu kembali kedalam bilik namun tidak lama dia membawa sebuah baskom yang berisi air hangat kuku dengan sebuah kain juga baju daster lengkap dengan sebuah jilbab.


"Pak Ne, kamu tolong keluar dulu yo. Aku mau membersihkan luka cah ayu ini," ucapnya pada sang suami.

__ADS_1


Lelaki itupun tersenyum dan segera keluar rumah menuju kesamping rumah. Setelah suaminya pergi ia segera mendekati Nadya.


"Sini Nak, biar ibu bersihkan lukamu." Meletakkan baskom air diatas meja.


Dengan hati-hati ia membasuh luka didahi Nadya dan melepaskan jilbabnya. Pikiran Nadya seakan bernostalgia, dia seolah terbayang saat dirinya masih kecil dan terjatuh. Dengan telaten sang ibu mengobati lukanya meski sambil mengomeli kenakalannya. Asyik dengan khayalannya tanpa terasa wanita itu sudah selesai membersihkan luka Nadya.


"Sudah Nak, sekarang kamu ganti baju ya." Memberikan baju daster berwarna hijau dengan bermotif bunga-bunga kecil.


Dengan ragu-ragu Nadya menerima pemberian wanita itu.


"Sekarang masuklah kebilik itu, ganti bajumu!" perintahnya. Dan Nadya benar-benar merasakan wanita itu mirip sosok ibunya.


Dengan tersenyum kecil Nadya melangkahkan kakinya masuk kedalam bilik sederhana milik kedua orang tua yang berhati malaikat menurut Nadya.


Hanya butuh waktu lima belas menit Nadya sudah berganti pakaian. Nadya tersenyum sendiri melihat dirinya sekarang, ia tampak seperti emak-emak dikampungnya dulu yang suka pake daster.


Setelah dirasa selesai Nadya segera keluar bilik, untuk menemui wanita itu, namun Hp nya kembali berdering.


"Halo!" sapa Nadya.


"Bu lagi dimana? Kenapa belum sampai juga?" tanya Momon.


"Mon kamu bisa jemput aku, tadinya aku sudah berangkat namun karena merasa tidak sabar aku kehilangan kendali dan menabrak pohon," ucap Nadya.


"Apa ibu terluka?" tanya Momon panik.


"Sedikit tapi ini sudah diobati, sekalian juga kamu telepon orang bengkel untuk memgambil mobik saya dijalan Sudirman," ucap Nadya lagi.


"Sekarang posisi ibu dimana?" tanya Momon lagi.


"Aku masih diSudirman, tidak jauh dari tempat mobil menabrak pohon, dan tolong kamu bawakan juga sembako untuk stok enam bulan," ucap Nadya.


"Siap Bu," ucap Momon dan segera meluncur.


Setelah menerima telepon Nadya kembali duduk.


"Bu kalau boleh tahu nama ibu dan bapak siapa ya?" tanya Nadya.


"Nama ibu Aniah dan bapak Saidi," ucap wanita itu.


"Apa ibu dan bapak punya anak?" tanya Nadya penasaran.


"Dulu punya sekarang sudah nggak ada, anak kami semata wayang telah meninggal karena sakit, sebab kami tidak punya biaya untuk berobat," ucap wanita itu berkaca-kaca.


"Apa ibu dan bapak mau ikut tinggal dirumah saya," tanya Nadya penuh harap.


"Nggak tahu Nak ... tanya bapak aja, kalau ibu ikut apa kata bapak," ucapnya.


Nadya sungguh terharu, benar-benar wanita yang sholehah pikirnya.


Tidak butuh waktu lama Momon sudah datang ketempat kejadian dan dia segera menemui posisi Nadya.


"Assalamualaikum," ucap Momon.


Tampak wajah bu Aniah seperti ketakutan.


"Nggak apa-apa Bu, dia anak buah saya. Dia kemari mau jemput saya." Memegang pundak bu Aniah.


Dengan hati-hati Nadya membimbing bu Aniah keluar rumah menuju pintu keluar untuk menemui Momon.


Momon sangat terkejut melihat penampilan Nadya yang mengenakan daster rumahan.


"Ibu ... anda?!" Menunjuk pakaian Nadya.


"Iya Mon, nggak apa-apa kok kamu tunggu bentar ya." Menatap Momon dengan kode mata agar tidak merisaukan pakaian Nadya.


"Bu ... bagaimana? Mau ikut saya pulang?" tanya Nadya lagi.


"Tidak usah Nak, kami disini saja," ucap pak Saidi yang entah sejak kapan telah berada dibelakang Nadya dan Aniah.


"Baiklah Pak saya tidak akan memaksa tetapi izinkan saya memberikan sesuatu untuk kalian berdua yang sudah saya anggap seperti orangtua saya sendiri," ucap Nadya.


"Iya Nak kami terima," ucap Saidi.


"Mon bawa masuk semua sembako yang tadi saya pesan," ucap Nadya.


"Baik Bu." Berjalan keluar menuju kemobil untuk mengangkut sembako yang tadi sudah dibelinya.


Kini semua sembako telah memenuhi kediaman Aniah dan Saidi.


"Baiklah Pak ... Bu, saya akan pamit. Besok akan ada orang yang akan membongkar dan membangun kembali rumah bapak dan ibu, serta akan membuatkan rumah tenda yang akan menjadi tempat tinggal sementara kalian selama satu minggu kedepan. Saya juga akan mengirimi bulanan untuk bapak dan ibu, saya tidak mau bapak dan ibu hidup susah dimasa tuanya." Memeluk Aniah.


Sesaat sebelum menaiki mobil Momon Nadya kembali turun.


"Maaf Pak-Ibu, apa kalian mau berhaji atau umroh?" tanya Nadya serius.

__ADS_1


"Ya Nak kami mau sekali, itu cita-cita kita sejak lama," ucap Aniah.


"Baiklah minggu depan bapak dan ibu akan umroh, tetapi hajinya harus nunggu dulu ya sampai bulan haji nanti akan saya berangkatkan pake yang plus supaya bisa langsung berangkat tidak pake daftar tunggu," ucap Nadya tersenyum.


"Ya Allah terimakasih, kami berasa mimpi akan memenuhi panggilan kerumahMu," ucap keduanya.


"Baiklah Pak-Bu, saya pamit. Assalamualaikum," ucap Nadya.


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," ucap keduanya.


Keduanya perlahan menghapus air mata haru disudut mata rentanya. Tak pernah terbayangkan oleh keduanya Allah akan membahagiakan dimasa tuanya, yang selama ini selalu dalam kekurangan. Dan memberikan mereka rezeki dari pintu yang tidak disangka-sangka.


Terkadang orang berfikir bahwa dengan bekerja itu satu-satunya cara untuk mendapatkan uang, padahal Allah memberikan rezeki dari arah manapun yang tidak kita ketahui dan tidak disangka-sangka. Allah sudah memberikan jatah masing-masing individu, dan kita tidak tahu seberapa banyak karena itu qadha Allah. Terkadang manusia menghitung rezeki itu menggunakan kalkulator manusia, padahal Allah kan yang menetapkan? Bekerja hanyalah sebagian cara.


Siapa yang dikehendaki oleh Allah, diberi rezeki, ia akan mendapatkannya. Jadi ingat Firman Allah yang artinya:


“Kami (Allah) tidak meminta rezeki kepada engkau, Kamilah yang memberi engkau rezeki. Dan akibat (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Thaha:132).


“Dan makanlah dari apa yang Allah rezeki kan kepada kamu yang halal dan baik. dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu imani itu.” (QS. Al-Maidah:88).


“Allah Maha Lembut kepada hamba-hambaNya. Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Asy-Syuara:19).


Dari ayat-ayat Alquran diatas menunjukkan bahwa Allah swt adalah Maha Pemberi rezeki. Dialah yang memberikan rezeki kepada siapa yang dikehendaki olehNya dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Ini adalah perintah Allah swt. untuk diyakini.


Bersambung.....


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik :


*Fit three fitri


- Cinta Untuk Dokter Nisa


-Arsitek Cantik


-Mengejar Cinta Ariel


*Almaira


- My Secret Wife


-My Love My Babysitter


*Putri Tanjung


-OB kerudung Biru


*Sohibul Ikhsan


-Putih Abu Abu


-Kembar Tidak Identik


*Sudrun


-Samudra


-Penjelajah Malam


*Ergina Putri


-My Love Is Only For You


-Melawan Rasa Takutku


*Envy YoWes Ben


MY Princes OG


*Sisca Nasty


-Mafia In Love


*CindyElvira


-Ketika Muslimah Jatuh Cinta


-Tulang Rusukku AZahara


*Karlina Sulaiman


-Mencintaimu Dalam Diam

__ADS_1


__ADS_2